
Daniel tertuju pada Wati yang tengah, berbincang dengan seorang pria. Mambuat Daniel menggeleng.
"Kalau suka bilang dong." kata Daniel, sembari menunjukkan, video call-nya bersama Angel, yang saat ini tengah tertidur pulas.
...
"Hm... iya iya yang lagi sayang sayang nya, tapi sayang doi nya belum." kata Roni kembali meledek Daniel.
"Oh ya? Setidaknya jadi laki laki gentle." kekeh Daniel, sontak membuat Roni benar benar terdiam.
Setalah makan malam, mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen. Daniel segera masuk dang men charger ponselnya. Dengan keadaan telfon yang masih menyala.
Daniel segera masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya sendiri. Kemudian segera kembali dalam waktu lima belas menit.
"Sayang bangun dulu, nanti kepala kamu sakit." kata Daniel mencoba membangunkan Angel, agar segera berpindah dari meja belajarnya. Karena saat ini Angel tengah tertidur di atas meja belajarnya.
Angel yang tengah tertidur pulas tak dapat mendengarkan panggilan dari Daniel. Daniel segera menelfon Aska, yang kebetulan saat itu masih bangun.
"Ha? Apa?" tanya Aska ketika mengangkat sambungan telfon tersebut.
"Aska tolong angkat Angel ke tempat tidur, soalnya dia ketiduran di meja belajar." kata Daniel sembari tersenyum.
"Oalah ok, bentar gue ke kamarnya." kata Aska kemudian mematikan sambungan telfonnya.
Aska segera masuk ke dalam kamar Angel, dan menemukan Angel dalam keadaan tertidur, di meja tidurnya. Aska segera mengangkat Angel ke atas tempat tidur, dan kemudian memindahkan ponsel Angel, seperti biasanya di samping Angel, Agar Daniel lebih leluasa untuk melihat wajah Angel.
__ADS_1
"Udah pas?" tanya Aska sembari menanyakan penampakan dari luar sambungan telfon sana.
"Pas." kata Daniel, membuat Aska mengangguk.
Aska kemudian mengambil charger dan segera mencharger ponsel Angel. Setelah itu Aska segera meninggalkan kamar Angel.
Setelah melihat Angel dari jauh, yang kini sedang terlelap, Daniel segera ikut membaringkan badannya di depan ponsel miliknya.
"Selamat tidur sayang, semoga tiga bulan ke depan kamu setuju, untuk menjadi istri saya." kata Daniel sembari tersenyum ke arah ponsel Angel. Daniel kemudian menutup matanya, menyusul alam mimpi Angel.
Keesokan paginya Angel bingung, bagaiman mungkin ia berpindah tempat, sementara semalam ia merasa tertidur di atas meja belajar. Namun Angel lebih bingung lagi, melihat posisi ponselnya, dan keadaannya yang sudah ter charger.
Tak ingin ambil pusing, Angel segera mematikan sambungan telfonnya. Kemudian beranjak dari tempat tidurnya, sembari menguap. Setelah itu Angel segera menuju kamar mandi, dan membersihkan dirinya.
"Loh kalian di sini?" tanya Angel, sembari menunjuk ke arah Daniel dan Roni.
"Iya kita berangkat samaan aja." kata Daniel sembari tersenyum ke arah Angel.
Angel hanya mengangguk mendengar permintaan Daniel, kemudian ikut mendudukan diri disamping denil. Angel segera mengambil makanan untuk dirinya, kemudian duduk dan memakan makanannya.
Setelah mereka usai sarapan, Angel, Daniel dan Roni segera bergegas ke kantor. Sementara Aska juga segera bergegas ke rumah sakit, tempat ia magang.
Angel, Danie dan Roni telah sampai di kantor, dan segera turun dari mobil. Semua mata tertuju kepada mereka, karena mereka tengah turun dari mobil yang sama. Gosip semakin bertambah, ketika melihat Wati turun dari mobil, dan di antar oleh seorang pria. Daniel segera mendekati Wati, dan menjabat tangan lelaki tersebut.
"Ah Anton selamat pagi." sapa Daniel sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Anton.
__ADS_1
Ternyata selama ini yang mengantar dan digosipkan, kekasih dari Wati adalah Anton, sahabat baik dari Daniel.
"Daniel... Aku tak tahu kalau Wati bekerja di perusahaan mu." kata Anton segera menyambut jabat tangan dari Daniel.
"Jadi kapan kapan kita makan bersama." kata Daniel, sembari tersenyum.
"Iya..." kata Anton, membalas senyuman Daniel.
"Oh ya saya harus ke kantor, pagi ini ada rapat." kata Anton segera beralih ke Wati.
"By gue ke kantor dulu ya." kata Anton sembari memeluk dan mengecup puncak kepala Wati, sebelum masuk ke mobil.
"Ia hati hati." kata Wati, sembari sedikit kaku, karena tak enak di depan bosnya.
"Hm pasti..." kata Anton, segera menghidupkan mobilnya.
"Dan, titip Wati ya." katanya sembari berlalu, membuat Daniel tersenyum.
Sebenarnya sejak tadi Daniel memperhatikan wajah Roni, yang benar benar berbeda. Roni terlihat sedikit kesal, namun tetap tersenyum, meski Daniel tahu itu di paksakan.
Setelah kepergian Anton, mereka segera masuk, dan berjalan beriringan. Dengan Wati yang berada berada di belakang Roni.
Kali ini Roni memilih naik, di lift khusus CEO, karena tidak mau satu ruanagan berdua dengan Wati. Roni tak mengerti keadaannya akhir akhir ini.
Maaf teman teman up nya cuman sedikit, dan terlambat soalnya autor lagi ga enak badan, ini pun di paksa nulisnya. 🙏🙏
__ADS_1