
Hari semakin larut, dokter Aldi pun datang bersama dengan Willi, Ternyata di dalam masih ada Rakara, Daniel dan Angel. Mereka tampak lelah terutama Rakara, yang bahkan belum melepas jas kerjanya, sepertinya Rakara belum pernah pulang ke kediaman mereka.
"Assalamualaikum," dokter Aldi mengapa mereka, membuat seisi ruangan memandang ke arah dokter Aldi dan Willi.
Dokter Aldi segera menurunkan Willi dari gendongannya, membuat Angel tersenyum senang melihat Willi.
"Walaikum salam, loh Aldi kamu ke sini lagi? Bawa Willi lagi," kata Angel segera membawa Willi ke dalam gendongannya.
"Iya Bun soalnya mau nemenin Raya," kata dokter Aldi tersenyum.
"Nina mama kenapa?" tanya Willi kepada Angel.
^^^*Not: Nina adalah nenek*^^^
"Mama kecapean," jelas Angel mengusap kepala Willi.
"Yaudah bunda sama ayah sama Raka balik aja, biar saya dan Willi yang di sini," kata dokter Aldi tersenyum ke arah yang lain.
"Eh ga apa apa? Willi nanti sakit," kata Angel merasa tidak enak.
"Engga apa apa, nanti Willi bisa tidur di samping mama kok Nina, kan tempat tidurnya besar," kata Willi membuat yang lainnya tersenyum.
Setelah berbincang bincang akhirnya Rakara, Angel dan Daniel pun kembali ke kediaman mereka untuk beristirahat, sementara Willi dan dokter Aldi kini tengah berada di dalam ruang rawat inap Rayana.
"Papa Willi ngantuk," Willi mengatakan sembari menguap, membuat dokter Aldi tersenyum. Dokter Aldi segera membaringkan Willi di sebelah kanan Rayana, yang tidak tertancap jarum infus.
"Willi jangan banyak gerak ya, soalnya mama masih sakit," dokter Aldi menepuk nepuk lengan Willi.
__ADS_1
"Pah, kok mama bisa sakit ya?" Willi bertanya di sela sela kantuknya.
"Mama kecapean sayang," kata dokter Aldi sembari memandang wajah Rayana yang masih saja tertidur. "Sayang tidur ya, kasihan mama."
Tak lama kemudian Willi tertidur dengan nyenyak nya, sementara dokter Aldi kini membenarkan selimut untuk menutupi tubuh Rayana dan Willi.
Sejenak dokter Aldi memperhatikan raut wajah Rayana, kemudian memeriksa sejenak denyut nadinya, ternyata keadaan Rayana sudah normal, namun terlihat masih setia pada tidurnya.
Saat dokter Aldi akan berbalik dan mengambil air putih untuknya, tiba tiba terdengar suara dari mulut Rayana, ia terdengar seperti bergumam. Sontak dokter Aldi segera memandang ke arah Rayana, dokter Aldi dapat melihat pergerakan kecil dari tangan Rayana, membuat dokter Aldi segera mendekati kembali Rayana.
Dokter Aldi memeriksa kembali keadaan Rayana melalui pergelangan tangan, dan memandang Rayana dengan seksama. Tak lama kemudian Rayana membuka matanya pelan pelan, dan melihat ruangan yang bernuansa putih, kental dengan rumah sakit.
Tiba tiba Rayan teringat sat berada di dalam mobil, pandangannya berlahan kabur dan akhirnya semua berubah menjadi gelap, setelah itu Rayana tak tahu kejadian selanjutnya, bahkan Rayana tak tahu jika dirinya di bawa ke rumah sakit.
Pelan pelan Rayana membuka matanya dan memandang sekeliling, tampak dokter Aldi tersenyum ke arah Rayana, membuat Rayana berfikir jika itu hanya mimpi, mana mungkin duda genit anak satu itu memiliki waktu, bukan kah sekarang masih jam kerjanya?
"Pelan pelan sayang, nanti bisa berdarah," dokter Aldi tampak memperbaiki posisi Rayana.
Rayana segera memandang ke arah lain, dan menemukan Willi tengah tertidur pulas di sampingnya, Rayana yang merasa kasihan sekaligus terharu, berusaha membenarkan posisi tidurnya agar Willi merasa lebih nyaman.
"Bunda sama ayah mana?" Rayana memandang sekeliling.
"Udah balik, mereka tadi dari sore sampai jam sepuluh di sini nungguin kamu," kata dokter Aldi menyodorkan air putih untuk Rayana. "Jadi tadi aku suruh pulang, biar kamu aku yang jaga, soalnya tadi capek banget mereka apalagi Raka."
Rayana mengangguk kemudian menyambut air putih dari tangan dokter Aldi, kemudian meneguknya. Setelah air tersebut habis, Rayana segera menyodorkan kembali gelas kosong tersebut.
"Raya udah berapa lama di sini?" Rayana memandang ke arah dokter Aldi.
__ADS_1
Dokter Aldi segera mendekat ke arah Rayana, kemudian segera mengusap kepala Rayana dengan lembut, Rayana memejamkan matanya merasakan lembutnya usapan dari dokter Aldi.
"Dari sore tadi sekitar jam lima-an dan sekarang hampir jam dua belas malam," kata dokter Aldi mengecup puncak kepala Rayana.
"Kamu ga tidur?" tanya Rayana memandang dokter Aldi, merasa tidak enak.
Rayana tahu bahwa besok pagi dokter Aldi harus bertugas sebagai dokter kandungan kembali, namun jika harus menemaninya, maka besok ia tak akan maksimal.
"Nih bentar lagi, kamu juga gih tidur dulu, atau kamu mau makan sesuatu? Kantin di bawah buka dua puluh empat jam," tawar dokter Aldi, segera naik ke atas tempat tidur Rayana, Dokter Aldi memposisikan dirinya di samping Willi.
"Engga kok, aku ga lapar, besok pagi aja, kamu tidur gih, aku juga mau tidur lagi nih," kata Rayana tersenyum ke arah dokter Aldi.
Dokter Aldi tersenyum dan membaringkan dirinya di samping Willi, kemudian memeluk Willi dan menyentuh tangan Rayana yang dengan berada di atas perut Rayana.
Kini posisi mereka sudah seperti keluarga utuh, dengan kehadiran anak laki laki di tengah tengah mereka. Dokter Aldi sedikit menepuk nepuk tangan Rayana, agar Rayana segera tertidur.
Tak lama kemudian mereka tertidur bersama dengan Rayana yang menggenggam tangan Willi.
Saat pagi hari, Aska dan keluarga tengah menjenguk Rayana, berencana untuk melihat keadaan keponakannya. Alangkah terkejutnya ketika pintu terbuka dan mendapati Rayana, Willi dan dokter Aldi tengah tertidur dengan pulas.
"Astaghfirullah, pasangan mesum di rumah sakit, langsung menghasilkan anak sebesar itu," kata Aska pura pura terkejut, sukses mendapatkan Capitan panas dari istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....
__ADS_1