Duda Genit

Duda Genit
Tanda Kepemilikan


__ADS_3

Daniel dan Angel melangkah kan kaki menuju ruangan Daniel seperti biasanya. Beberapa orang terus memandang Angel sejak dari parkiran kantor. Memang biasanya Angel menjadi pusat perhatian, tapi entah kenapa hari ini berbeda.


Angel bingung, segera memandang Daniel, namun Daniel tampak biasa saja.


"Dunit ada yang salah ya dari wajah gue?" tanya Angel memandang Daniel sembari mengerucutkan bibirnya.


Daniel tersenyum dan menghentikan langkahnya tepat di depan lobi, membuat Angel juga ikut berhenti. Angel menggerak gerakkan kepala kesana kemari, membuat Daniel tersenyum.


"Coba pejamkan mata kamu," kata Daniel sembari tersenyum.


Angel mengikuti permintaan Daniel, tampa berfikir panjang. Daniel kemudian mengecup bibir Angel, membuat beberapa orang yang berlalu lalang, dan menjadi terhenti. Mereka terkejut dengan aksi Daniel yang mengejutkan.


"Manis tidak ada yang aneh," kata Daniel, sembari terkekeh.


Sementara Angel terkejut bukan main, bagaiman mungkin Daniel melakukan hal itu di depan umum.


^^^Dasar dunit jab*lai tak tahu malu. Maki Angel di dalam hati.^^^


Angel yang termenung, kemudian kembali sadar dan mengejar Daniel, yang telah masuk terlebih dahulu ke dalam lift.


Angel berhasil mengejar Daniel, dan sukses memukul lengan Daniel dengan tasnya. Daniel terkekeh melihat tingkah Angel, kemudian segera memeluk Angel. Angel yang masih kesal dengan hal tersebut, segera mencubit perut Daniel.


"Ah sayang sakit," keluh Daniel manja, sembari mengedipkan mata kearah Angel.


"Dasar duda genit, tak tahu malu," teriak Angel semakin membuat Daniel tertawa. "Dunit, aku lagi marah loh."


Daniel yang gemas mendengar Angel, segera mengecup bibir Angel. Angel lagi lagi terkejut dengan sikap Daniel. Melihat kondisi tersebut, Daniel segera menekan tombol pause pada lift tersebut. Daniel kemudian menarik tengkuk Angel dan me*lu*mat bibir Angel dengan lembut.


"Ah penyemangat saya memang sangat manis, membuat saya candu," kata Daniel setelah melepas pa*ngu*tan bibir mereka berdua.


"Ih... dasar duda genit," Angel berteriak sembari memukul dada Daniel.


"Sayang, pelan pelan dong sakit ini," keluh Daniel sembari memegang dadanya yang dipukul Angel.

__ADS_1


"Bodoh amat," seru Angel tak perduli.


Angel meninggalkan Daniel di dalam lift, sembari menghentak hentakkan kakinya. Daniel terkekeh melihat tingkah Angel yang menggemaskan di matanya. Daniel segera melangkahkan kakinya mengikuti Angel.


"Sayang tunggu dong, jangan ngambek," pinta Daniel dengan nada manja, membuat seluruh anak buahnya memandang kearah Deniel.


Ya Daniel adalah bucin akut, yang rela melakukan apapun meski harus mengesampingkan rasa malunya. Seperti saat ini yang Daniel lakukan, padahal biasanya Deniel tidak pernah melakukan hal itu.


Roni yang melihat bosnya, segera menyusul Daniel dan menyamakan langkah mereka. Roni mengajak Daniel ke tempat lain, yang di mana hanya mereka berdua.


"Bos sadar tidak, tadi ada paparazi," kata Roni memperingati bosnya.


Bukannya panik, Daniel justru tersenyum dengan hal itu. "Saya tahu, dan saya memang sengaja."


Roni terkejut mendengarkan kata kata bosnya, Roni sedikit mengerutkan keningnya, seolah meminta penjelasan kepada bosnya.


"Maksudnya?" tanya Roni yang masih bingung dengan maksud bosnya.


"Iya untuk apa disembunyikan, kan kedua belah pihak keluarga sudah setuju," kata Daniel meninggalkan Roni sendirian di dalam ruang rapat, sembari terkekeh kecil.


Daniel memasuki ruangannya, dan tidak menemukan Angel. Daniel segera keluar dari ruangannya, dan menemui anak buahnya yang bekerja di luar ruangan.


"Calon istri saya kemana?" tanya Daniel dengan menekankan calon istri, karena Daniel tahu anak buahnya satu ini suka sekali mencuri pandang dengan Angel.


"Sepertinya sedang pergi fotocopy pak," kata anak buahnya sembari tertunduk.


Daniel mengangguk kemudian meninggalkan anak buahnya tersebut, kemudian kembali mengerjakan berkas berkasnya.


Tak lama kemudian Angel masuk sembari membawa beberapa berkas, yang telah di fotokopinya. Angel segera meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja Daniel.


Seperti yang Daniel duga, Angel sedang marah kepadanya. Saat Angel ingin kembali ke mejanya, Daniel diam diam berdiri, dan segera menggendong Angel ke dalam pelukannya. Daniel segera pergi ke tempat duduknya, sembari memangku Angel.


"Sayang, jangan marah ya, saya cuman mau menegaskan kepada lelaki yang sering memandang kamu, dengan pandangan yang membuat saya kesal," terang Daniel membuat Angel sedikit bingung. "Mereka memandang kamu dengan pandangan seolah ingin memiliki."

__ADS_1


"Tapi tidak seperti itu juga dunit," protes Angel kepada Daniel.


"Tapi saya takut kehilangan kamu," kata Daniel menyandarkan kepalanya dipundak Angel. "Makanya saya melakukan itu semua."


"Iya tapi jangan lakukan lagi ya," kata Angel, dengan nada yang sedikit lembut.


Mendengar hal itu, membuat Daniel berfikir bahwa Angel tidak lagi marah kepadanya. "Angel saya sangat menyayangi kamu," kata Daniel sembari mengecup leher jenjang Angel.


Angel merasa geli dengan perlakuan tersebut, segera turun dari pangkuan Daniel.


"Mau kemana sayang?" tanya Daniel mengerutkan keningnya, ketika Angel turun dari pangkuannya.


"Mau buat minuman," kata Angel gugup sembari meninggalkan Daniel.


Daniel terkekeh melihat kepergian Angel, membuat Daniel membayangkan ekspresi orang orang yang akan dilawati Angel.


"Maaf sayang, saya tidak bisa menunggu kamu lebih lama," guman Daniel saat melihat Angel melangkah meninggalkan ruangannya.


Sementara Angel merasa bingung, kenapa semua orang terus memandanginya. Mulai dari saat ia keluar dari ruangan Daniel, hingga Iya berada di kantin.


"Bu maaf bisa tolong buatin jus jeruk hangat?" kata Angel tersenyum kearah ibu ibu tersebut.


"Ah iya neng gelis," kata ibu tersebut tersenyum ke arah Angel.


Setelah sekian lama akhirnya jus jeruk hangat Angel jadi, membuat Angel melangkahkan kakinya meninggalkan kantin tersebut. Sebelum hasil melangkahkan kakinya, ibu tersebut bertanya kepada Angel.


"Ih neng segitu cintanya ya sama tuan Daniel?" tanya ibu tersebut sembari tersenyum senyum ke arah Angel.


"Lah kenapa buk? Maksudnya?" Angel bingung.


"Iya itu ada tulisan Angel Lalika Pradana tunangan dari tuan Daniel Mark Rosyid," kata ibu tersebut sembari menunjuk punggung Angel.


Angel segera memeriksa punggungnya, kemudian menemukan sesuatu yang mengejutkan. Angel menarik sebuah kertas yang tertempel di punggungnya. Kertas tersebut bertuliskan.

__ADS_1


"Angel Lalika Pradana tunangan dari tuan Daniel Mark Rosyid," membuat Angel melototkan matanya.


"Dasar dunit..." geram Angel sembari meremas kertas tersebut kemudian melemparkannya ke dalam tong sampah. "Awas ya dunit."


__ADS_2