Duda Genit

Duda Genit
Dukun kampung dan drama Korea.


__ADS_3

Sudah hampir empat minggu atau lebih tepatnya satu bulan kehamilan Angel, Daniel semakin ketat menjaga Angel. Daniel juga semakin aneh aneh saja dengan permintaannya. Seperti sekarang Daniel menginginkan rujak dengan di dominasi oleh mangga muda. Sementara Angel terlihat lebih bijak sana, Angel bahkan lebih sering menasihati, dan menghibur Daniel ketika sedang moody's.


Melisa hanya menggeleng karena memang peran mereka tertukar, Melisa terkadang berfikir untuk membawa anak dan menantunya kepada seorang paranormal. Terlebih lagi ketika sehabis membaca novel berjendere fantasi, tentang pertukaran jiwa, semakin membuat Melisa berfikir yang tidak tidak.


"Bee belum datang ya rujaknya?" tanya Daniel sembari memainkan jari istrinya, sesekali menggigitnya dengan gemas.


Saat ini mereka sedang berada di ruang tengah, sedang menunggu rujak pesanan Daniel, membuat Melisa harus tahan melihat kelakuan anaknya yang aneh. Ingin pergi pun kemana? Terlebih lagi saat ini tengah kebijakan lockdown besar besaran. Jadi Melisa tak ada pilihan lain, selain menikmati kelakuan aneh dari anaknya, dan bersyukurnya Melisa karena menantunya kini semakin bijaksana.


"Bee periksa kandungan yuk," tiba-tiba Daniel memberikan sebuah ide kepada Angle.


Angel bingung menanggapi pertanyaan dari suaminya, di satu sisi Ia juga ingin memeriksa kandungannya. Di sisi lain Angel juga takut karena penyebaran virus semakin meninggi. Apalagi saat ini di Jakarta, berita telah menyatakan di mana-mana tentang penyebaran yang semakin meluas. Apalagi menurut berita-berita, bahwa ibu hamil lah yang juga salah satu sebagai rentan terkena virus.


"Di mana? Memang sekarang bisa?" tanya Angel ragu kepada Deniel, sembari memandang ke arah Deniel dengan pandangan bingung.


Daniel tampak sedikit berfikir, Ia baru mengingat bahwa hanya untuk membawa istrinya keluar, ia juga harus berhati-hati karena kekacauan virus saat ini. Namun Daniel tidak ingin menyangkal, bahwa dirinya penasaran tentang keadaan bayinya saat ini.


"Ih iya ya," kata Deniel dengan sedikit cemberut.


"Sini ibu periksa," tawar Melisa, karena menurutnya ia bisa memeriksa kandungan jika mengikuti panduan dari dukun beranak.


"Ibu bisa?" tanya Angel dengan antusias.

__ADS_1


Sementara Daniel hanya menggeleng, karena Daniel tahu ibunya akan menggunakan sistem dukun beranak. Daniel ingat betul bagaimana kakeknya dulu bercerita saat ia dilahirkan, neneknya menolak untuk dipanggil kan dokter, karena ia lebih percaya dengan dukun beranak. Alhasil Daniel merupakan hasil dari dukun beranak, meskipun ayahnya kaya raya namun tak kuasa menolak perintah dari ibu mertuanya.


"Ga Daniel mau dokter," kata Deniel menolak keinginan ibunya.


Melisa mendecak kesal melihat kelakuan anaknya, yang memang terkadang tidak percaya dengan dukun beranak. Daniel ingat betul dulu orang-orang sering mengejeknya, dengan sebutan anak dukun beranak. Daniel tak ingin hal itu terjadi pula kepada anaknya.


"Eh ingat kamu itu hasil dari dukun beranak, emangnya kenapa kamu bisa sehat sekarang kalau bukan hasil dukun beranak," sarkas Melisa melihat anaknya dengan kesal.


Melisa kemudian mengalihkan pandangannya kepada menantunya, dengan pandangan lembut. "Tenang saja Angel, dulu Ibu juga kadang membantu persalinan tetangga ibu di kampung, kalau Ibu pergi liburan ke kampung, dan kebetulan ada yang mau lahiran," kata Melisa menjelaskan. "Jadi ibu bisa di bilang kalau di kampung itu, asisten dari dukun kampung," kata Melisa membanggakan diri.


"Ibu sudah lama sekali, lagian kemarin saja ibu tak tahu kalau Angel hamil, bagaiman bisa ibu bisa di sebut asisten dukun beranak," perotes Daniel tak ingin anaknya di periksa secara manual oleh ibunya.


"Itu kemarin karena kamu yang ngidam, terus kelakuannya aneh, sampai sekarang kayak perangko," kata Melisa memandang Daniel dengan jijik, apalagi posisi Daniel saat ini seperti tengah menindih bagian atas Angel, sembari menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Angel, dan tangannya di perut Angel. Satu tangan lainnya sibuk dengan rambut Angel.


Melisa langsung melotot mendengarkan permintaan anaknya, sungguh tak masuk akal. Namun memang benar Melisa sadari, para dukun kampung memang belum memiliki sertifikat. Padahal menurut Melisa dukun kampung lebih mujarap dalam urusan kandungan. Memang dokter dengan alat yang canggih mampu memperlihatkan keadaan di dalam kandungan, tapi para dukun kampung pun tidak kalah.


"Memangnya kamu fikir mempelajari dukun beranak itu ada di balai pelatihan desa?" kesal Melisa memandang anak satu satunya, yang kebiasaan durhakim nya terkadang di luar jangkauan.


Daniel hanya menggeleng mendengar pertanyaan ibunya, bukan tak bisa menjawab. Karena jika menjawab pun akan tetap di ocehi oleh ibunya, yang pasti tak akan mau mengalah.


"Sini Angel sayang," kata Melisa segera memeriksa denyut nadi Angel, kemudian mengusap lembut perutnya. "Ini normal kok sayang, nanti tinggal minum susu yang banyak, dan buah buahan ya."

__ADS_1


Daniel mendelik mendengarkan kata kata ibunya, benar benar seperti dokter. Entah di mana dia mengambil kata kata itu, benar benar berbeda dari biasanya. Membuat Daniel tiba tiba teringat tentang drama Korea yang sering mereka tonton di tv. Membuat Daniel membuat kesimpulan, tentang bagaimana ibunya mampu mengatakan hal itu.


"Ibu nonton film the doctors ya?" tanya Deniel penuh semangat kepada ibunya.


Melisa mendengar judul yang disebutkan Daniel, berbinar mendengarnya. Melisa tak menyangka ternyata anaknya tahu tentang drama Korea tersebut. "Iya, kamu juga kan sayang?" tanya Melisa kepada Angel.


"Iya Bu, soalnya sunit minta temenin terus nonton, padahal kadang Angel udah ngantuk tapi sulit masih minta temannya aja," Aduh Angel kepada Ibu mertuanya, kesempatan untuknya mengeluarkan unek-unek.


"Maaf bee soalnya keren banget, alurnya bagus banget nggak bisa ditebak," terang Deniel dengan penuh rasa bersalah kepada istrinya.


Angel mengangguk, kemudian mengusap wajah suaminya dengan lembut. Tak mungkin bagi dirinya untuk marah kepada suami genitnya ini. "Ga apa apa kok."


"Oh... jadi kamu juga nonton toh, ya udan nanti malam kita nobar aja," kata Melisa mengeluarkan bahasa gaulnya, sontak membuat Deniel mengerutkan kening karena tidak mengerti bahasa ibunya


Seolah mengerti dengan wajah anaknya, Melisa segera menjelaskannya. "Nobar, nonton bareng."


Daniel mengangguk setuju dengan permintaan ibunya, setidaknya walaupun istrinya tak ikut menonton namun Ia memiliki teman. Ibu nya ini memang gaul, meskipun terpaut nenek-nenek, namun gayanya, serta pemikirannya seperti para anak muda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Maaf gaes cuman sedikit, soalnya author yang merasa cants ini tidak enak badan, badannya emang ga enak soalnya bah ketek wkwkwk (Chanda ya ketek), jadi... kesimpulan nya adalah ga bisa sampai 2000 seperti biasanya, tapi ini 1000 lebih kok. Mohon maaf sekali lagi....

__ADS_1


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....


__ADS_2