Duda Genit

Duda Genit
Pagi yang menghebohkan.


__ADS_3

Pagi ini bunyi alarm yang berasal dari ponsel Angel, bahkan tak membuat kedua sejoli ini bangun, keduanya masih nyenyak dalam pelukan masing masing. Entah mungkin karena kemarin terlalu lelah akibat pekerjaan kantor, atau terlalu nyaman dan hangat di dalam pelukan mereka. Namun yang pasti hingga saat ini mereka belum terbangun.


Sementara di ruang makan Melisa telah duduk manis di meja makan, ia bersiap siap untuk menyantap sarapannya, namun anak dan calon menantunya, belum juga nampak batang hidungnya.


Melisa yang penasaran, segera melangkah ke kamar Daniel, untuk membangunkan anaknya. Setelah sampai di kamar anaknya, Melisa tak menemukan anaknya. Yang di temukan hanyalah tempat tidur yang begitu rapi.


Bahkan Melisa menyentuh tempat tidur tersebut, dan ternyata tempat tidur itu begitu dingin. "Jangan jangan anak itu tidur di kamar Angel."


Melisa segera melangkah menuju kamar Angel. Melisa membuka pintu kamar Angel. Mata Melisa terbelalak melihat anaknya, yang tengah bertelanjang sedang memeluk Angel. Melisa bahkan mengira bahwa Angel juga bertelanjang, karena selimut yang tertarik hingga ke bagian leher.


"Dasar anak tak sabaran, kalau begini aku akan mendapatkan cucu lebih cepat," guman Melisa sembari menggeleng kepala. Melisa mengambil ponselnya kemudian memotret Daniel dan Angel, yang dalam keadaan terlelap.


Melisa cekikikan, melihat maha karyanya yang benar benar sangat estetik. Melisa kemudian membangunkan anaknya dan juga calon menantunya. Melisa mengambil ancang ancang berpura pura terkejut.


"Ya ampun... apa yang kalian lakukan?" teriak Melisa pura pura terkejut.


Kedua orang yang tengah terlelap, mendengar teriakan Melisa, tersentak kaget, dan terbangun.


"Sayang kenapa kau berisik sekali," racau Daniel, memeluk Angel dengan erat.


Sementara Angel yang terbelalak kaget melihat Melisa di kamarnya, segera berusaha mendorong Daniel. Angel menduga bahwa Melisa tengah salah paham.


"Dunit, ayo bangun..." kesal Angel, sembari terus berusaha melepaskan pelukan Daniel.


"Ya ampun Daniel, dasar anak durhaka," teriak Melisa berpura pura syok.


"Daniel ada ibu," kata Angel sembari mencubit perut Daniel yang polos.


Daniel seketika langsung membuka matanya, dan melihat ke arah Angel. Daniel mengeratkan pelukannya, sembari memandang Angel. "Nanti saja ya sayang," Daniel belum juga sadar kehadiran ibunya.


"Hei dasar anak ga ada akhlak, mau ku kutuk jadi meja makan," teriak Melisa sekali lagi, menyadarkan Daniel dan segera melepas Angel.


Daniel memandang Melisa dengan wajah yang benar benar terkejut. Wajah Daniel kini seperti orang yang tengah tertangkap basah melakukan, yang tidak tidak.


"I... ibu," Daniel tergagap melihat ibunya.


"Apa? Dasar kalian ya..." kesal Melisa hendak keluar dari kamar Angel.


"Ibu ini tidak seperti yang ibu fikirkan, Angel masih pakai baju kok," jelas Angel membuat Melisa kembali memandang ke arah Angel.


Angel segera menyingkap selimut, dan menampakkan tubuhnya yang masih lengkap. Sontak membuat Melisa sedikit kecewa. Padahal ia telah berharap mereka melakukan yang tidak tidak, agar mendapatkan cucu lebih cepat. Bahkan berencana untuk menikahkan mereka secepat mungkin.


"Ya sudah bu, Angel ke kamar mandi dulu ya," kata Angel meninggalkan Melisa dan Daniel.


Melisa memandang Daniel dengan pandangan kesal, karena tidak melakukan apa apa dengan Angel.


"Dasar kau ini, apa yang kau lakukan?" tanya Melisa memandang anaknya yang masih terduduk di tempat tidur, dengan bertelanjang dada.


"Ibu lihat kan hanya tidur," kata Daniel memandang ibunya, dengan pandangan masih mengantuk.


"Lalu untuk apa foto ini?" kesal Melisa sembari melemparkan ponselnya, di ke arah Daniel.


Daniel terbelalak melihat foto tersebut, sungguh sangat sempurna, untuk membuat orang lain salah paham.


^^^Ais kenapa tidak dari dulu sih aku meminta ibu untuk memotretnya, jika begini sungguh sangat sempurna. Gumam Daniel sembari tersenyum.^^^


Daniel mengirim foto tersebut ke ponselnya, kemudian tersenyum dengan semangat.


"Terimakasih ibu sayang," kata Daniel sembari mengecup pipi Melisa.


Melisa menggeleng, segera meninggalkan Daniel, sendirian di kamar Angel. "Dasar aneh," desisinya.


Daniel dengan semangat meninggalkan kamar Angel, dan menuju ke kamarnya. Sungguh hari yang sempurna.

__ADS_1


Daniel kemudian membersihkan diri, Daniel menambah aroma terapi yang ada pada bak mandinya, dan segera berendam di dalam air.


"Ah... sungguh sebuah rileksasi yang sangat bagus untuk hari yang sempurna," gumam Daniel, semabari menyenderkan kepalanya, di bak mandi.


Sementara Angel turun dan menyapa Melisa, Melisa tersenyum melihat calon menantunya turun dari tangga.


"Selamat pagi sayang," sapa Melisa sembari menyuapi dirinya roti tawar dengan selai kacang.


"Pagi bu..." sapa Angel, sembari duduk di hadapan Melisa.


Kini Angel sudah tidak setegang kemarin malam, bahkan bisa di bilang lebih santai, apalagi semalam mereka sudah banyak berbincang, dan mengenal satu sama lain.


"Daniel pasti ngerepotin semalam, udah besar masih saja mau di kelonin," kekeh Melisa menggoda Angel, sukses menciptakan semburat merah di pipi Angel.


Angel tak menjawab, hanya tersenyum kikuk mendengar penuturan dari Melisa. Angel bingung harus menjawab apa, di satu sisi Angel tahu Melisa hanya menggodanya, di sisi lain Angel juga tak tahu bagaiman membalas perkataan Melisa.


"Selamat pagi semua..." sapa Daniel, kemudian mendudukkan dirinya di samping Angel. "Selamat pagi bu, selamat pagi sayang," kata Daniel, kemudian mengecup pipi Angel.


Angel spontan memukul lengan Daniel, Karen malu di hadapan Melisa. Daniel dan Melisa terkekeh melihat hal itu.


"Cie yang malu," goda Daniel, sembari merebut roti tawar yang telah di beri selai kacang tersebut. Dan dengan terpaksa Angel mengambil lagi untuknya.


"Ya... dasar calon suami apaan kamu?" kesal Melisa melihat kelakuan anaknya.


"Calon suami yang baik," jawab Daniel enteng, sembari mengunyah roti tawar tersebut.


"Tidak ada calon suami yang merebut makanan Istrinya," kesal Melisa kepada Daniel.


"Angel latihan menjadi calon istri yang baik Bu," kata Daniel santai.


"Calon istri yang baik, kamu itu terlalu manja," omel Melisa, kini Daniel harus tahan dengan Omelan ibunya. "Untung kamu bukan calon suami ibu, kalau iya, ibu jewer kuping kamu," kesal Melisa tak suka calon menantunya di suruh suruh.


"Ibu... lagian tidak akan mungkin, ibu menjadi calon istriku," kata Daniel santai, sembari meminum coklat hangat buatan maid di rumah mereka. "Ini ya Bu, dosa kalau Daniel menjadikan ibu calon istri Daniel."


Angel hanya diam menyaksikan pertengkaran ibu dan anak itu. Ternyata benar, tatapan dingin dan sikap cool yang terlihat dari depan, hanyalah sebuah topeng. Karena ketika bersama, Daniel berubah menjadi sosok yang menyenangkan, dan suka sekali menghangatkan suasana.


"Daniel ibu dengar si Anna sudah mau menikah," tiba tiba topik pembicaraan dari Melisa berpindah ke pada Anna, mantan istrinya Daniel.


Daniel melirik Angel, untuk melihat reaksi Angel. Namun lagi lagi ia kecewa, entah sudah yang keberapa kalinya ia kecewa dengan situasi yang ada. Angel tampak biasa saja menikmati potongan roti terakhirnya.


"Iya Bu memang kenapa?" tanya Daniel, sembari tersenyum ke arah Melisa. "Minggu depan kami akan pergi bersama."


Melisa terkejut mendengar pernyataan dari Daniel, Melisa memandang Angel yang kini tengah meminum minumannya. Dan tersenyum kecut. "Jadi Angel sudah tahu?"


Angel mengangguk mengiyakan, Angel tersenyum ke arah Melisa, membuat Melisa menganggukkan kepalanya. "Kapan?" tanya Melisa penasaran.


"Kemarin, dia datang ke kantor Daniel," kata Angel menjawab pertanyaan dari Melisa.


"Oalah... jadi kalian berdua akan datang kan?" tanya Melisa kembali.


Jiwa jiwa kepo kini telah melanda hati Melisa, ia penasaran setengah mati ekspresi calon menantunya itu, ketika bertemu dengan Anna. Mantan istri dari Daniel, yang telah berpisah selama dua tahun.


"Iya bu, acaranya di Singapura, ibu mau ikut?" tanya Angel bertanya ke arah Melisa. Angel terlihat polos ketika menanyakan hal itu, membuat Melisa sedikit gemas.


"Jadi kalian kapan nyusul?" tanya Melisa kini ke arah Daniel.


"Semalam udah kami bicarakan bu, tergantung dari Daddy aja lagi," kata Daniel menjawab pertanyaan dari Melisa. "Ini tumben ibu banyak tanya? Ibu akan pergi arisan ya?" tanya Daniel curiga kepada sang ibu. Daniel tahu betul kalau Melisa ini hanya ingin menjadikannya sebagai bahan omongan saja, apalagi wajah gosipnya kini sangat kentara di wajahnya.


Daniel takut jiwa jiwa gibah stadium gawat darurat ibunya menular, kepada calon istrinya. Karena selama ini Angel memang lebih cuek kepada urusan orang lain. Bagaiman mungkin, jika tiba tiba Angel berubah menjadi seperti ibunya? Sudah cukup pusing Daniel menghadapi sikap gibah, dan tingkah konyol ibunya.


^^^Sepertinya Angel harus di jauhkan dengan ibu. Gianna Daniel, memandang ibunya dengan pandangan curiga.^^^


"Hehehe tau saja kamu Dan... Kamu memang anak ibu yang paling tampan," kekeh Melisa, sembari tersenyum tengil ke arah Daniel.

__ADS_1


"Ibu jangan aneh aneh deh, Daniel dan calon istri Daniel bukan objek pembicaraan ya bu," kata Daniel tidak suka menjadi pembicaraan ibunya dan teman teman arisannya.


"Ibu aneh, kamu lebih aneh," kesal Melisa melihat putranya. "Ya sudah Angel ibu harus pergi, kalau dia macam macam putus kan sja," Lanjut Melisa tersenyum ke arah Angel. Kemudian memandang tajam ke arah Daniel.


"Sayang yang anaknya saya atau kamu sih?" kesal Daniel, karena merasa di anak torikan oleh ibunya sendiri.


"Menurut kamu siapa?" goda Angel sembari berdiri sembari mengambil tasnya, yang di letakkan di kursi sebelahnya.


"Sayang mau kemana?" tanya Daniel sembari mencekal tangan Angel.


Angel mengerutkan keningnya, memandang Daniel. "Mau ke kantor dunit, memangnya mau kemana lagi?" tanya Angel ke arah Daniel.


Daniel hanya bisa tersenyum sembari mengikuti Angel dari dari belakang. Daniel meraih handel pintu untuk Angel, kemudian membukakan pintu untuk Angel. Angel segera masuk, kemudian Daniel masuk ke dalam bangku pengemudi, di samping Angel.


"Dunit, kamu kemari dengan kak Anna juga seperti ini ya," tanya Angel, membuat Daniel segera menghentikn menghentikan aktivitasnya.


Daniel memandang Angel dengan sangat dalam, membuat Angel sedikit bingung. Menurut Angel ia hanya menanyakan, mengapa Daniel sampai sebegitu nya.


"Dunit ada yang salah ya?" tanya Angel bingung. "Kalau salah, ga usah di jawab deh."


Daniel masih tetap menatap Angel dengan seksama. Daniel melayangkan tangannya untuk menyentuh wajah Angel.


"Saya memang dulu tak begini, namun saat ini saya tak ingin kehilangan kamu." kata Daniel sembari terus mengusap lembut wajah Angel. "Sayang sayang kepada kamu, kamu bagian dari hidup saya sayang, jangan pernah meragukan saya."


Angel tersenyum mendengar penuturan Daniel, entah kenapa mendengar kata kata Daniel, membuat hatinya sedikit menghangat.


"Iya, maaf ya. Bukan maksud aku buat ngeraguin kamu, tapi aku cuman penasaran," jelas Angel merasa bersalah kepada Daniel.


Bukan bermaksud membuka luka lama Daniel, namun Angel hanya penasaran. Apakah Daniel melakukan hal yang sama dengan mantan istrinya.


Daniel mengangguk mengerti, dan segera mengecup puncak kepala Angel, yang telah menunduk merasa bersalah.


"Ngga papa kok, jangan sedih gitu dong mukanya," kata Daniel sembari mengusap kepala Angel. Angel mengangguk, sembari tersenyum.


Daniel kembali menghidupkan mesin mobil yang tertunda tadi. Sepanjang perjalanan Angel hanya diam, bahkan lagu yang di putar Daniel tak ditanggapi oleh Angel. Daniel melirik Angel yang tengah memandang ke arah jalan. Daniel merasa sedikit bersalah, segera menggenggam tangan Angel.


Angel terkejut ketika tangan kokoh tengah memeluknya, membuat Angel segera memandang ke arah Daniel. Daniel tampak mengecup punggung tangan Angel, sembari terus fokus ke jalanan.


"Sudah jangan pikirin yang tadi terus, nanti saya sedih loh sayang," ungkap Daniel, sembari menaikkan sudut bibirnya, ketika Angel membalas genggamannya.


"Sudah tenang kan sayang?" kembali Daniel menggenggam mengecup tangan punggung tangan Angel.


"Hm... terimakasih," kata Angel merebahkan kepalanya, di pundak Daniel.


Daniel tersenyum ke arah Angel, kemudian berhenti di lampu merah. "Jadi ceritanya tadi kamu cemburu ya dengan saya," kata Daniel sontak membuat Angel segera mengangkat kepalanya dari pundak Daniel.


"Iya kan sayang jujur saja, nah saya rasa kamu mulai takut kehilangan saya," kata Daniel sembari tersenyum menggoda ke arah Angel.


"Dasar nyetir sana, suka banget ngegoda orang," kesal Angel sembari memukul pundak Daniel.


Daniel terkekeh, sembari membelokkan mobilnya ke arah area parkiran kantor. "Saya cuman suka goda kamu sayang, nanti kalau kamu ga sering saya goda, kamu bisa tergoda dengan yang lain."


Angel terkekeh mendengar hal itu, kemudian kembali tersenyum ke arah Daniel. "Memangnya saya apaan, gampang tergoda."


"Kamu itu ga gampang tergoda sayang, buktinya saya kesulitan untuk mengejar kamu," jujur Daniel. "Kamu ingat tidak, saya harus melakukan pemaksaan dengan kamu."


Angel kembali terkekeh mendengar pernyataan dari Daniel, yang memang benar adanya. Dulunya Daniel terus memaksa Angel, hingga akhirnya Angel menganggapnya ada. Dan mulai belajar mencintainya.


"Tapi masalahnya sayang, yang suka kamu itu terlalu banyak, membuat saya kesal sayang, jadi saya akan memastikan kamu cuman milik saya," kata Daniel, sembari keluar dari mobilnya.


Daniel berjalan ke arah pintu penumpang, kemudian membuka pintu penumpang tersebut untuk Angel. "Silahkan my future wife."


"Dasar duda genit kamu," kata Angel sembari terkekeh memeluk lengan Daniel.

__ADS_1


"Tapi kamu suka kan?" goda Daniel sembari mengedipkan mata, membuat Angel menggelengkan kepalanya.


__ADS_2