Duda Genit

Duda Genit
S3 (Pembasmi serangga)


__ADS_3

Aiyla hari ini kembali ke kantor untuk mengerjakan kembali tugas tugas kantor, yang harus dilakukan selaku karyawan, dan melihat setiap laporan, untuk rapat evaluasi awal bulan, yang selalu di lakukan pada tanggal lima.


"Pak kan yang lain pada terima gaji nih, Ai may juga dong," Aiyla mengutarakan keinginannya ketika mereka keluar untuk makan siang.


"Hm, berani ya minta gaji dengan saya, kamu baru masuk dua hari yang lalu, kamu lupa apa kemarin yang kamu lakukan?" Rakara memandang Aiyla dengan sangat tajam.


"Yah kan bapak yang mulai, bapak enak aja main hukum hukum, salah aja ga punya," Aiyla benar benar protes.


"Kamu ngga sadar salah mu di mana?" Rakara memicingkan matanya.


"Ya dari segi mana pun Ai ga punya salah sama bapak," Aiyla berkacak pinggang, membuat Rakara segera memukul kepala Aiyla sebelum keluar dari ruang bergerak tersebut.


"Tu kan bapak tu kepala di pukul pukul terus, udah ga bayar gaji, sekarang kepala di pukul," Aiyla protes kesal.


"Kamu baru kerja berapa hari sih Ai? Baru dua hari," Rakara menghentikan langkahnya memandang Aliya.


Semua orang mulai diam diam menghentikan aktivitasnya, sembari memandang ke arah bos mereka dan sekertarisnya yang di gosipkan masuk melalui jalan pintas.


"Lima puluh ribu kan bisa pak," Aiyla mencoba bernegosiasi kembali.


"Kamu part time?" Rakara justru mengejek Aiyla.


"Is pak pelit banget sih," ketus Aiyla.


"Kamu yang perhitungan," jawab Rakara


Semua karyawan mulai berani memasang telinga tajam tajam, demi mendengarkan pertengkaran keduanya. Karyawan baru yang berani adu mulut hanya karena uang gaji.


"Kan bapak kaya," Aiya mulai mengungkit kekayaan Rakara.


"Memangnya Ahmed sama om Chandra ga kaya?" Rakara juga ikut mengungkit kekayaan Ahmed dan Chandra.

__ADS_1


"Mereka yang kaya bukan Ai," bantah Aliya, karena terus saja di jawab.


"Tapi kan sama aja Ai," Rakara tersenyum melihat wajah kesal Aiyla, sepertinya gadis itu akan kalah.


"Beda dong pak, kasih lima puluh ribu aja coba," Aiyla kini semakin kesal di buatnya.


"Kalau ga mau gimana?" Rakara masih tak mau mendengarkannya.


"Pak pelit banget jadi orang, baik dikit kenapa sih pak, anggap berbuat baik dengan adik sendiri," Aiyla sangat kesal di buat Rakara, ingin sekali Aiyla menjambak rambut rapi Rakara. "Ingat ya kak pelit kuburan sempit."


"Kamu bukan adik saya," bantah Rakara kesal.


"Ya udah calon istri bapak," kesal Aiyla membuat Rakara menggeram kesal, berani sekali dia mengatakan hal tersebut di depan semua orang. "Tapi dalam mimpi," Aiyla menjulur lidahnya, tanda kemenangan.


Semua orang tercengang bingung apakah wanita itu tadi mengaku adik sekarbag calon istri, sebenarnya yang mana yang benar.


"Kamu gila ya?" Rakara membantah dengan kesal.


"Di rumah kamu ga ada WiFi? Pasti adalah secara Ahmed dan om Chandra kaya gitu kok," Rakara tersenyum remeh.


"Iya tapi beda, kalau di luar pasti butuh kuota," Aiyla semakin kesal di buatnya.


"Kuota apa? Biar saya telfon om Chandra," Rakara tersenyum menantang Aliya.


"Ihhhh ngeselin gemes Ai lama lama sama kakak, berani telfon papa, Ai juga bakal nelfon ayah kakak, om Daniel," Rakara segera mengangkat ponselnya bersiap menelfon Daniel.


Melihat pertengkaran tersebut membuat semua karyawan mulai terkejut, karena ternyata mereka terlihat sangat mengenal satu sama lain, bahkan mengenal orang tua masing masing.


"Kamu mau ngadu apa?" Rakara sedikit kesal dengan ancaman tersebut.


"Mau ngaduin kalau anaknya ini menganiaya karyawannya, sekaligus sepupunya," Aiyla mengutarakan apa yang akan di adukannya.

__ADS_1


Semua karyawan kembali di buat bimbang, ternyata Aiyla sepupu dari CEO mereka, yang saat ini tengah bertengkar dengan Aiyla.


"Jadi kamu berani?" Rakara kesal dengan hal tersebut, kini terpancing emosi.


Rakara ingin sekali menutup mulut ember dari Aiyla, membuat Rakara segera mengalihkan pandangannya ke arah sekitar, ternyata mereka saat ini menjadi tontonan seluruh anak buahnya. Ah, gadis di hadapannya ini benar benar membuat wibawanya.


"Bapak kira Ai ga berani?" Aiyla tersenyum kemenangan.


"Aduh pusing saya lama lama dengan kamu," Rakara semakin kesal di bautnya.


"Bapak yang bikin Ai pusing, gemes Ai lama lama," Aiyla mengepalkan kedua tangannya di depan Rakara.


"Coba aja," Rakara menantang Aiyla.


"Ih," Aiyla menginjak kaki Rakara.


"Ai apa apaan kamu?" Rakara semakin kesal di buat Aliya, bahkan kini gadis tersebut berani menginjak kakinya.


"Bapak ga punya mata, ga punya rasa? Nginjak kaki kaki bapak lah, puas!" Aiyla memandang Rakara dengan sinis.


"Ai cepat kamu balik sini, saya hukum kamu. Saya juga bakalan bilang buat blokir kartu kredit kamu sama papa kamu," Rakara mengancam Aiyla dengan kelemahan terbesarnya.


"Ih kakak jangan ngelunjak ya, sudah ga mau bayar gaji sekarang gini lagi," Aiyla kini berteriak kesal.


"Kamu yang ngelunjak, saya semprot kamu lama lama," Rakara ikut geram dengan lawan bicaranya.


"Semprot pakai apa?" Aiyla ikut menantang.


"Pembasmi serangga," celetuk Rakara, kemudian mengode resepsionis untuk di ambilkan sesuatu.


"Bapak tu yang harus di basmi penyakit pelitnya," balas Aliya.

__ADS_1


Rakara segera mengambil alih barang yang di bawa sang resepsionis, Rakara kemudian menutup mulut cerewet Aiyla dan menariknya ke parkiran. "Diam saya pusing dengan kamu."


__ADS_2