
Daniel segera menyenderkan kepalanya di bahu Angel, kemudian mengecup leher jenjang Angel.
"Dunit... gue lagi nyetir ni," kesal Angel, karna terus di ganggu Daniel.
"Biar rasa sakitnya teralihkan sayang," kata Daniel, membuat Angel kesal.
"Iya sabar sebentar lagi kita sampai rumah sakit," kata Angel, yang baru saja keluar dari sumpeknya kemacetan.
...
Setelah sampai di rumah sakit, Angel segera membawa Daniel ke ruang periksa dokter.
Entah kesialan apa yang menimpa mereka, ternyata pasien yang sedang mengantri juga banyak. Sehingga mereka harus mengantri lama, Daniel merebahkan kepalanya di pundak Angel. Angel hanya membiarkan nya saja, toh Daniel sedang sakit, Angel tak tega memarahinya.
"Dunit lo lapar ga?" tanya Angel kepada Daniel, yang hanya di angguki oleh Daniel.
"Lo mau makan apa?" tanya Angel kepada Daniel.
"Terserah..." kata Daniel memejamkan matanya.
"Ya udah kamu tunggu di sini, aku ke kantin rumah sakit dulu," kata Angel, kepada Daniel.
"Iya sayang jangan lama lama ya..." kata Daniel memegang perutnya, sembari meringis.
"Iya jangan cengeng," kata Angel, kemudian pergi menuju kantin rumah sakit.
Tak lama kemudian, Angel kembali dengan makanan dan minuman untuk mereka, serta snacks Daniel dan Roni dari seminar tadi. Angel tak tega meninggalkan Daniel sendirian.
"Ini..." kata Angel menyodorkan makanan ke arah Daniel, membuat Daniel memandang Angel dengan cemberut.
"Kenapa? Ga bisa makan? Mau di suapin?" tanya Angel, membuat Daniel tersenyum mengangguk.
^^^Perasaan yang sakit perutnya deh, kok tangannya ikutan ga bisa nyuap? Mana mulutnya tiba tiba ga bisa ngomong lagi. Kata Angel dalam hati.^^^
__ADS_1
Angel dengan telaten menyuapi Daniel, dan juga dirinya. Beberapa orang yang melihat hal tersebut, menjadi tersenyum senyum sendiri, melihat keromantisan mereka.
Setelah selesai makan, antrian pun kini berkurang banyak. Angel memutuskan untuk, membawa Daniel ke bangku panjang. Karna Angel melihat Daniel sedikit memejamkan matanya, mungkin saja kali ini Daniel merasa mengantuk, itu yang di pikirkan Angel.
Kini mereka duduk di bangku panjang tampa sekat, Daniel merebahkan kepalanya di paha Angel, sementara Angel hanya membiarkannya sembari mengusap lembut kepala Daniel. Angel melirik nomor antriannya, sepertinya masih enam belas nomor lagi.
Angel memakan snacks untuk mengusir rasa bosannya, sembari sekali kali memainkan ponselnya. Jangan lupa, tangan Angel yang selalu mengusap lembut kepala Daniel.
Daniel yang di bawah sana menjadi tersenyum senang, karna di perlakukan sebegitu manisnya dengan Angel.
Tak lama kemudian, kini giliran mereka. Angel segera membangunkan Daniel, dan menuntun Daniel ke ruangan pemeriksaan dokter.
"Selamat pagi Bu... suaminya kenapa?" tanya dokter kepada Angel, setelah mereka duduk. Dokter tersebut mengira Daniel adalah suami dari Angel.
Sebenarnya Angel ingin membantah, tetapi melihat wajah Daniel, membuat Angel tak tega untuk membantah kata kata dokter tersebut.
"Ga tahu dok, tiba tiba aja tadi," kata Angel menjelaskan, Angel tak tahu harus berkata apa, Ia juga tak tahu penyebab dari sakit perut Daniel.
Daniel dan dokter memasuki ruang pemeriksaan khusus, meninggalkan Angel sendirian. Angel membuka kembali chat yang belum di bukanya.
"Angel gimana keadaan calon suami?" tanya Zen di dalam chat membuat Angel sedikit kasal.
"Ni baru pemeriksaan," kata Angel malas berdebat dengan Zen, Angel tahu betul sikap Zen yang pasti semakin ia mengelak, maka Zen semakin meledeknya.
Angel menutup ponselnya setelah dokter datang, bersamaan dengan Daniel yang tengah memegangi perutnya.
"Tuan Daniel terkena mag jadi, nyonya harus menjaga pola makannya, dan makanan yang akan di sajikan untuk tuan Daniel," kata dokter tersebut, sembari menuliskan resep obatnya.
"Ini resepnya, silahkan di tebus," kata Dokter tersebut, menyerahkan resep obat.
"Makasih dok kami permisi dulu," kata Angel, sembari menuntun Daniel, keluar dari rumah sakit.
Angel membawa Daniel ke ruang apotik, dan menebus obat Daniel. Kemudian mereka kembali masuk ke mobil, dan melaju menuju apartemen Daniel.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen, Danil segera di minta untuk berbaring di kasurnya. Angel kemudian mengambil ponselnya, dan memesan makanan. Tak butuh waktu lama makanan mereka datang, dan Angel segera menyuapkan Daniel makanan, kemudian meminumkan Daniel obat.
Setelah itu Angel beranjak pergi, membuat Daniel menarik Angel ke dalam pelukannya.
"Hais... Dunit, lepasin," kesal Angel, membuat Daniel menggeleng.
"Engga gini aja dulu," pinta Daniel, sembari memeluk Angel dengan erat.
"Dunit, jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan ya," kata Angel kesal berusaha melepaskan pelukan Daniel, namun tenaga Daniel yang lebih kuat, membuat Angel tak bisa melepaskan dirinya.
"Kamu jangan jangan cuman pura pura sakit ya?" tanya Angel, membuat Daniel menggeleng.
"Tadi kita ke dokter sama sama sayang," ujar Daniel.
"Kamu temani saya tidur saja dulu," kata Daniel, sembari membalikkan tubuh Angel, agar menghadap ke arahnya.
Daniel memeluk tubuh Angel dengan erat, sembari menenggelamkan kepalanya, di dada Angel.
"Tolong usap kepala saya," pinta Daniel sembari memelas, membuat Angel segera mengusap kepala Daniel.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Angel tertidur, sementara Daniel, segera bangun. Daniel tersenyum melihat wajah Angel yang tertidur pulas.
Daniel tak percaya, ia akan melakukan tipuan seperti ini, agar bisa mendapat perhatian dari seorang wanita.
Ya Daniel hanya pura pura sakit, dokter yang di rumah sakit adalah sahabat, sekaligus dokter pribadi dari Daniel. Sebelum mereka ke rumah sakit, Daniel sudah menghubungi dokter tersebut, untuk bekerja sama dengan nya.
Sementara Roni, Ia sedang di kantor, menyelesaikan berkas, yang harusnya di selesaikan dengan bosnya, namun dengan terpaksa ia harus menyelesaikannya.
Daniel membuka ponselnya, dan mengirim pesan kepada Roni.
"Bonus kamu sudah saya kirim," kata Daniel dalam pesan tersebut, kemudian kembali merebahkan dirinya di samping Angel.
Daniel menurunkan suhu AC nya. Daniel menghujani ciuman dan wajah Angel, kemudian memeluk Angel dengan erat. Daniel pun ikut terlelap di samping Angel.
__ADS_1