Duda Genit

Duda Genit
S2 (Ratu Siluman Rubah)


__ADS_3

Rayana baru saja keluar dari ruangan pamannya yang baru saja mengatainya dongo. Rayana segera meninggalkan rumah sakit tersebut dengan kesal.


Rayana berencana memperbaiki mood nya dengan berjalan jalan ke arah salah satu mall yang ada di kota nya, namun tiba tiba ia teringat akan sesuatu.


Rayana teringat akan perkataan dari kakak calon kakak iparnya, bahwa hari ini mereka akan ada rapat di salah satu restoran ternama di kota ini. Dengan segala jiwa ke kepo_annya, yang kebetulan di turunkan oleh nenek Melisa kepadanya, akhirnya Rayana segera memutar balik kendarannya.


Sesampainya di restoran tersebut, tak lupa ia mengenakan topi dan kacaman agar tidak ketahuan oleh Rakara dan Rani. Sehingga acara mengintipnya berjalan dengan baik.


Rayana segera mengintip mereka dari meja yang tidak terlalu jauh, agar tetap dapat memperhatikan aktifitas mereka, meski tak dapat mendengarkannya.


Rayana segera meminta buku menu, dan memilih menu makan siangnya hari ini. Ah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Kampung tengah aman, dan pengamatan berhasil.


Hm... Sekarang Rayana merasa sangat jenius, dan seketika melupakan kata cado dari gelaran sang Om dokter.


Rayana sembari menunggu makam siangnya tak melepaskan pandangannya, dari arah Rakara dan juga Rani. Rayana menyunggingkan senyum ketika melihat Rani, sang calon kakak ipar impian kepalanya diusap lembut oleh kakaknya.


Kini makan sang sudah datang, sepertinya kedua sejoli yang tengah di mabuk asmara itu, benar benar tak menghiraukan sekitar, bahkan Rayana yang tengah makan dengan lahap saja tak ia sadari keberadaannya.


Setelah makanan tandas di dalam piring, Rayana segera mengambil beberapa foto untuk di kirimkan kepada Daniel, Rayana ingin memberi tahukan bahwa sebentar lagi sang kakak akan mendapatkan pendamping hidup.


..."Ayah... ayah tau tidak kalau saat ini kak Raka sedang bersama calon kakak ipar," kata Rayana di dalam Chat....


..."Hah? Dia kan sedang rapat," Daniel merasa tak percaya, terlihat jelas dari isi chatnya....


..."Ya ampun ayah seperti tak pernah muda aja, kan kakak sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," Rayana kembali lagi meyakinkan Daniel. "Tunggu Raya cantik ini ambil foto dan video nya."...

__ADS_1


Ah, ember jebol memang pantas untuk dirinya, yang saat ini bahkan dengan terang terangan memotret dan membuat video untuk di jadikan bahan bukti tentang kekasih kakaknya.


..."Tapi ada barang ada harga ya, ini susah payah loh ngambilnya, harus melakukan investigasi dan tugas mata mata yang susah." ...


Raya kemudian meletakkan ponselnya dan tersenyum. Rayana dapat melihat raut wajah Rani yang bersemi merah, bahkan kelakuan mereka membuat Rayana muak akan hal itu.


Rayana seolah tengah menonton Opera anak ABG yang tengah jatuh cinta. Ah, sungguh sangat menggemaskan.


Kelakuan malu-malu kucing yang ditunjukkan oleh Rani membuat Rayana semakin gemas, Ingin sekali rasanya Rayana datang dan menghampiri mereka.


Rayana segera memanggil seorang pelayan, dan meminta bilnya. Rayana tiba tiba tersenyum misterius sembari memandang kedua sejoli itu.


"Mbak makanan saya dia yang bayar, tu dua orang yang sibuk pacaran," Rayana menujuk Rakara dan Rani yang saat ini tengah membalas senyum, dengan mesranya.


Rayana kemudian mengambil ponselnya dan mengirim sebuah pesan singkat, kepada mereka berdua.


Rayana segera berjalan ke arah meja Rakara dan Rani, dengan di ikuti oleh pelayan wanita. Sementara Rakara dan Rani terkejut melihat kehadiran Rayana.


"Siang calon imam dan makmum," sapa Rayana sembari menaik turunkan alisnya, dengan senyuman yang mengembang, penuh kelicikan di mata Rakara. Sontak membuat wajah Rani yang di hadapannya itu memerah.


"Apaan sih dek, jangan gitu dong, kasian sama kak Rani nya," kesal Rakara.


Rakara jelas tahu senyum menyebalkan itu penuh arti, jelas jelas akan membuat Rakara merugi, sementara Rayana yang untung.


Ais... untung saja dia adalah adik, jika tidak mungkin sudah Rakara tendang jauh jauh.

__ADS_1


^^^Aduh, apa yang di rencanakan ember jebol plastik lima ribuan ini ya? Mampus aku kalau aneh aneh, aduh nasib punya adik ratu siluman rubah. Kata Rakara dalam hati, sembari memandang ke arah Rayana sang adik.^^^


"Aduh kak jangan mandangin Raya imut seperti itu dong, nanti calon kakak ipar malu," kata Rayana penuh makna. "Ah, bunda dan ayah udah setuju loh, tadi sudah ku kirim video dan foto nya."


Rani semakin salah tingkah dengan hal itu, sontak membuat Rayana semakin terkekeh geli. Jangan di tanya wajah Rakara, ia tampak begitu syok dengan penuturan sang adik.


"Ini video dan fotonya udah di kirim kok, mereka setuju banget," kata Rayana seolah sangat bahagia, meskipun memang begitu. Namun ia lebih ingin tertawa lagi ketika melihat wajah Rani, sang calon kakak ipar. "Ya udah tolong bayar ya udah makan tadi, mbak kasi bill nya ke mereka," Rayana menunjuk ke arah Rakara. "Bay guys..."


Ah... Rakara kehabisan kata kata, sungguh entah beruntung atau malapetaka memiliki adik seperti Rayana. Kepalanya pusing, sungguh saat pulang nanti ia akan di sidang.


Rakara tahu bahwa ayah dan bunda nya tak akan menilai seseorang dari harta, status ataupun yang lain. Tapi tetap saja, mereka selama ini hanya tahu Rani sebagai sahabat dan managernya. Ah... bahkan ayahnya memiliki sifat yang sama persisi dengan adiknya, pasti akan mengejeknya habis habisan. Ais, membayangkan nya saja sungguh sangat menakutkan. Belum lagi ternyata ia akan menghadapi kolaborasi adiknya dan ayahnya, hah, sepertinya ia harus menyimpan stok kesabaran yang banyak hari ini.


Rakara segera membayar makanan adiknya dan dirinya, kemudian menggandeng tangan Rani untuk keluar dari restoran. Rakara segera membukakan pintu untuk Rani, sontak membuat Rani bersemu merah di bagian pipinya. Rakara sudah tak dapat melihat motor Rayana, mungkin saja ia telah pergi ke kantor, mambuatnya menghela nafas berat. Karena tahu setelah pulang nanti sore pasti akan menjadi hari yang cukup berat untuknya.


"Kamu kenapa Rak?" Rani bertanya setelah Rakara masuk ke dalam mobil juga.


"Ga ga papa kok," Rakara menggenggam tangan Rayana sembari memandangnya.


"Rak kalau orang tua kamu ga setuju gi mana?" Rani tampak cemas, membuat Rakara menarik Rani ke dalam pelukannya.


"Mereka setuju kok," kata Rakara sembari mengecup puncak kepala Rani. Membuat Rani menjadi tenang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....

__ADS_1


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....


__ADS_2