Duda Genit

Duda Genit
S2 (Pengadilan)


__ADS_3

Hari ini adalah hari persidangan perebutan hak asuh Willi, antara dokter Aldi dan juga Agnes, mantan istri dari dokter Aldi.


Semua yang ada di ruangan tersebut tampak menegang, setelah palu pembukaan sidang di mulai.


Rayana yang awalnya yakin kini sedikit menegang di samping dokter Aldi, dokter Aldi saat ini masih berstatus sebagai orang tua dari Willi, sementara Rayana sebagai orang tua sambung.


Rayana dan dokter Aldi saling berpegangan tangan, mencoba menyakinkan saru sama lain. Sementara keluarga Rayana berada di kursi penonton.


"Baiklah kita akan mendengar pernyataan dari pihak penggugat," kata hakim meminta pihak Agnes memberikan kesaksian.


"Menurut hukum seharusnya hak asuh jatuh kepada nyonya Agnes, pertama tama Willi bukanlah anak kandung dari tuan Aldi, Willi murni anak dari nyonya Agnes dari laki laki lain," kata pengacara tersebut. "Terlebih lagi tuan Aldi kini sudah menikah, belum lagi tuan Aldi mengidap penyakit mental Prolonged grief disorder, yang sewaktu waktu takutnya akan melukai Willi."


Rayana dan dokter Aldi menegang seketika, meskipun mereka tahu pasti pihak Agnes akan menekan mereka dengan hal ini, namun entah kenapa mereka masih setakut ini.


"Baiklah hanya itu saja?" hakim bertanya kepada pihak penggugat.


"Iya, saya kembalikan kepada hakim," kata pengacara pihak Agnes.


Agnes tampak menyeringai ke arah Rayana dan juga dokter Aldi, Agnes tahu betul titik lemah dari dokter Aldi.


Dokter Aldi sedikit menitikan air matanya, ketakutannya kembali. Dokter Aldi benar benar takut akan kehilangan Willi, meskipun mereka memiliki tiga pengacara, namun dokter Aldi juga minder dengan penyakitnya.


"All is well," Rayana mengusap lembut air mata dokter Aldi, kemudian mengecup kepala dokter Aldi.


"Baiklah silahkan tim tergugat untuk pembelaannya," hakim memberikan kepada pihak tergugat.


"Baiklah kalau begitu, izinkan kami untuk mengajukan pertanyaan kepada pak Aldi terlebih dahulu," salah satu pengacara maju ke hadapan hakim.


Hakim hanya mengangguk dan memberi isyarat kepada para jaksa untuk mencatatnya.


"Baiklah kepada tuan Aldi, apakah beberapa tahun lalu nyonya Agnes pernah mengunjungi kediaman anda? Hanya untuk menjenguk Willi?" pengacara tersebut segera menghadap ke hadapan dokter Aldi.


Dokter Aldi menggeleng. "Tidak semenjak pengadilan memutuskan bahwa hak asuh anak jatuh kepada saya."


"Baikalah terimakasih, selanjutnya kapan pertama kali nyonya Agnes mengunjungi kalian lagi?" pengacara kembali lagi bertanya.

__ADS_1


"Sekitar enam bulan yang lalu," jawab dokter Aldi sedikit gugup. "Setelah itu beberapa kali hanya menyatakan untuk mengambil hak asuh Willi."


"Baiklah terimakasih, lalu apakah kemarin kalian melihat mobil nyonya Agnes mengalami kecelakaan lalu lintas akibat menenggak alkohol?" pengacara kembali lagi bertanya.


"Iya saat kami hendak melakukan bulan madu, tampa sengaja kami melihat mobil Agnes, mengalami kecelakaan," kata dokter Aldi jujur.


"Baiklah terimakasih atas jawabannya, sudah cukup yang mulia," kata pengacara tersebut segera duduk.


Mereka kemudian duduk, jika dilihat mereka memang tak melakukan pembelaan, namun pertanyaan pertanyaan tersebut dapat memojokkan Agnes dalam persidangan ini.


Rayana balas memandang Agnes dengan pandangan licik, Rayana bersyukur melakukan perjalanan bulan madu kemarin, dengan begitu ia dapat memojokkan Agnes.


"Yang mulia kami melakukan pembelaan," kata pengacara Agnes.


"Kemarin memang client kami melakukan kesalahan dengan mabuk, hingga menabrak trotoar, namun itu hanya kebetulan," kata pengacara tersebut berusaha membela Agnes.


"Lagian saat itu trotoar di daerah tersebut sedikit lebih kecil," bela pengacara Agnes.


"Oh ya?" Rayana tiba tiba bersuara, membuat semua orang memandang ke arah nya.


"Baik di daerah tersebut menurut dari yang kami lihat jalannya lebih sempit, dan trotoar juga lebih mepet ke jalan," pengacara tersebut membuat alasan.


Semua orang yang mendengarkan hal tersebut terkikik geli, menimbulkan sedikit keributan. Hakim segera meminta semu orang untuk diam. "Silahkan pihak tergugat."


Pengacara tersebut mengangguk membiarkan Rayana untuk berbicara.


"Bisa saya bertanya kepada pihak penggugat?" Rayana memandang mantap ke arah hakim, hakim mengangguk menyetujui.


"Baikalah, apakah pihak penggugat menyatakan bahwa itu kesalahan trotoar, dan atau kesalahan pembuat jalan tersebut?" Rayana memandang ke arah pihak Agnes.


"Tidak maksud kami bukan begitu," kata pengacara tersebut sedikit geram.


"Lalu? Apa maksudnya dengan 'lagian saat itu trotoar di daerah tersebut sedikit lebih kecil,' tolong jelaskan," Rayana kembali menanyakan pendapat sebelumnya.


"Maksud kami trotoar daerah tersebut lebih kecil dari yang lain," jelas pengacara tersebut.

__ADS_1


"Jadi maksudnya trotoar yang salah? Ah kasihan sekali bahkan tidak bergerak saja di salahkan," ledek Rayana sontak membuat pihak Agnes menggeram kesal.


Namun orang orang sedikit terkekeh mendengarkan pernyataan dari Rayana.


"Anda mengerti kata kata saya tidak sih?" pengacara sedikit terpancing membuat Rayana tersenyum senang.


"Saya yang tak mengerti atau kata kata anda yang terlalu tinggi, atau kata kata anda yang terlalu berbelit belit?" Rayana mengangkat alisnya sebelah.


"Begini maksud client kami itu hanya ingin mendengar kejelasan tentang pembelaan anda sebelumnya, terutama di bagian 'lagian saat itu trotoar di daerah tersebut sedikit lebih kecil' hanya itu, tolong di jelaskan lebih jelas lagi," pengacara tersebut mencoba mengembalikan kembali fokusnya.


"Kan saya sudah bilang bahwa trotoar itu lebih kecil dari yang lain, sehingga menyebabkan kecelakaan," kata pengacara tersebut berbelit belit.


"Jadi intinya anda menyalahkan trotoar tersebut atau bagaimana? itu yang di minta oleh client kami," jelas pengacara tersebut sedikit mengulum senyum.


Sejujurnya sejak tadi mereka ingin tertawa dengan pembelaan dari pihak Agnes.


"Tidak maksudnya itu, daerah tersebut jalannya lebih kecil, dan trotoar lebih mepet ke jalan," bela pihak Agnes.


"Lalu kalau tidak mepet bagaimana di bilang trotoar? dimana mana trotoar dan jalan memang mepet, kalau ada lubang itu namanya lubang aliran air, atau selokan," kata Rayana hampir tertawa.


"Anda tidak mengerti jalan," bela pengacara Agnes.


Rayana meminta pengacaranya untuk melanjutkan perdebatan ini, Rayana sudah tidak kuat, jika saja ini bukan di dalam ruang sidang, Rayana sudah tertawa terpingkal pingkal.


"Tu kan mereka lagi ngelawak di sini," kata Rayana berbisik, sembari mengusap lembut tangan dokter Aldi.


"Mereka pengacara lulusan mana sih? Apa lulusan karna sudah mau di do," dokter Aldi ikut berbisik di telinga Rayana.


Hi semua novel baru author udah ada nih, judulnya Mr. Gay Vs Colonel cantik, jangan lupa di baca dan di like ya, di tunggu kedatangannya di novel baru author.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Selamat hari raya idul Fitri semua, bagi teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏...


...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


__ADS_2