Duda Genit

Duda Genit
S3 (Kebersamaan)


__ADS_3

Iki hari ini sayang ke kantor Rakara membuat Aiyla bersemangat, Iki yang melihat Aiyla menyempatkan diri untuk menyapa Aiyla, Aiyla tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan yang tak dapat setiap hari.


"Kakak mau ketemu pak bos ya?" Aiyla berbasa basi memandang ke arah Iki.


"Iya nih, udah datang belum?" Iki memang sedikit lebih cepat datang sepuluh menit di banding janjinya bertemu dengan Rakara.


"Oh masih ada rapat," Aiyla tersenyum ke arah laki laki yang tengah menjadi incarannya ini, sungguh sulit untuk di taklukkannya.


"Lah kamu ga ikut rapat?" Iki sungguh penasaran kenapa Aiyla tak ikut.


"Ya engga lah, orang ada asisten nya kok," Aiyla tampak cuek mengerjakan berkas berkasnya.


"Lah kamu kan sekertaris nya," Chandra semakin bingung di buat oleh sistem perusahaan ini.


"Sekertaris tak di anggap, yang cuman mau di ajak susah, kalau ada yang bahaya aja baru ngajak aku," Aiya tiba tiba mengadakan curcol, Aliyas curhat colongan.


"Emang gitu?" Iki terlihat semakin penasaran.


"Emang kak, bos kelamaan jones emang gitu, suka sensi sama cewek cantik dan imut," kata Aiyla sontak membuat Rakara terkekeh. Sungguh gadis yang ada di hadapannya ini sangat lucu.


"Ada ada saja kamu Ai," Iki menggeleng melihat tingkah Aiyla.


"Lah emang bener kok, makanya jodoh dia itu masih jauh," kata Aiyla mengingat doa kejamnya untuk sang bos kejam pula.


"Emang kamu udah dekat?" Iki semakin penasaran dan ikut akur pembicaraan mereka.


"Udah dong, cuman jodoh aku nya aja yang belum nyadar," Aiyla tersenyum penuh arti ke arah Iki.


"Emang siapa," Iki tampaknya aga sedikit ragu. Iki sungguh penasaran, jika saja bukan karena posisinya, mungkin saja Iki bisa langsung mendekatinya.

__ADS_1


"Ada deh," Aiyla justru membuat Iki penasaran.


"Sedekat apa?" Ada sedikit rasa nyeri ketika menanyakan hal tersebut


"Dekat banget," Jawab Aiyla mendekatkan wajahnya membuat Iki menjadi sedikit salah tingkah.


"Siapa jangan buat penasaran dong," Iki semakin mendesak, mempersiapkan hatinya.


"Yang lagi ngomong," jawab Aiyla.


Seketika bunga bermekaran, ikan lumba lumba terbang di angkasa, matahari bersinar cerah, kupu kupu memenuhi rongga mulut Iki, bahagia itulah yang ia rasakan, namun posisinya saat ini membuatnya minder untuk bersama dengan Aiyla. Iki hanya terkekeh menanggapi perkataan dari Aiyla.


"Ada ada saja kamu Ai," wajah Iki telah memerah mendengar gombalan Aiyla.


"Mau minum kak?" Aiyla segera mengambil air ke dalam kulkas kecil ruangan tersebut.


"Boleh," Iki mengangguk setuju.


"Wah perasaan terakhir kesini ga ada yang ginian deh," Iki mengalikan perhatiannya.


"Emang, bosnya terlalu medit sama karyawannya, untung ada Ai karyawan baik nan dermawan," Aiyla kembali membicarakan bos meditnya.


"Ada ada aja kamu Ai," Iki memberanikan diri untuk mengusap kepala Aiyla.


"Ada lah kalau ga ada makhluk halus dong," Aiyla tersenyum manis ke arah Iki.


"Kelakuan kamu Ai, amajing," puji Iki, membuat Aiyla semakin senang.


"Iya amajingnya cuman buat kakak kok," ucap Aiyla membuat Iki terkekeh.

__ADS_1


"Kalau untuk yang lain?" Iki malah memancing Aiyla yang memang tak bisa di pancing.


"Lebih amajing mendekati absurt," ucap Aiyla cengengesan.


"Nih sambil makan," Aiyla kembali mengambilkan potongan kue red valved untuk Iki.


"Kamu buka toko Ai?" goda Iki, membaut Aliya tertawa renyah.


"Iya ini, nanti kakak bayar ya," kata Aiyla menaik turunkan alisnya.


"Berapa?" Iki tampak penasaran.


"Ga bisa di hitung pakai rupiah," kata Aiyla mulai tampak berfikir sekeras.


"Terus dolar?" Iki sedikit bingung.


"Ga ga ada nominalnya," tambah Aiyla.


"Jadi?" Iki semakin ke penasaran.


"bayarnya pakai hati kakak aja, eaaaa," Aiyla segera berseru, menghilangkan salah tingkahnya.


"Iya bentar kakak keluarin dulu," tawar Iki, membuat Aiyla semakin malu di buatnya.


Ah, tunggu sejak kapan Aiyla punya malu? Biasanya juga tak tahu malu anak itu.


"Sudah lama? Maaf saya baru selesai meeting," suara Rakata mengejutkan Aiyla dan Iki, mereka segera memandang ke arah Rakara.


"Ah tidak apa apa, sekertaris anda sangat menyenangkan," jawab Iki, berusaha bersikap profesional.

__ADS_1


"Ya sudah Ai aku masuk dulu ya," Iki tetap berusaha tersenyu.


"Asiap Kak jangan gitu banget nanti dedek meleleh."


__ADS_2