Duda Genit

Duda Genit
S3 (Duda Genit)


__ADS_3

Setelah selesai mandi Rakara segera keluar hanya dengan menggunakan handuk kecil di pinggangnya. Aiyla berjalan mendekati Rakara dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman yang telah di pesan tadi.


"Kak seksi banget sih, Ai juga manusia biasa, wanita normal, di terkam minta pertanggung jawaban," canda Aiyla sembari meletakkan nampan berisi makanannya.


"Terkam Abang dong dek," kata Rakara terkekeh geli, sembari menutup dadanya, menirukan gaya wanita. Aiyla terkekeh geli, Rakara kemudian mengenakan seluruh pakaiannya.


"Kak ayo makan," Aiyla tampak membawakan makanan dan minuman untuk Rakara dan dirinya. Rakara tersenyum melihat hal tersebut,


"Ai tolong kancingin baju kakak," kata Rakara seolah sibuk dengan hal lain.


Aiyla tanpa curiga segera berdiri dan mengancing baju Rakara, membuat Rakara tersenyum senang, karena merasa bahwa Aiyla seperti istrinya. Rakara segera melingkarkan tangannya di pinggang Aliya, membuat Aliya terkejut.


"Kakak ngapain?" Aliya bertanya sembari memandang Rakara dengan bingung.


"Jangan ge'er kakak cuman ngacingin lengan kakak," kilah Rakara, namun di dalam hati sangat tersenyum puas. Mengancing lengannya hanya sebuah modus untuknya. "Sekalian dasi Ai," pinta Rakara segera memberikan dasi kepada Rakara.


"Sebenarnya Ai ini sekertaris kakak atau istri kakak sih," omel Aiyla namun tangannya tetap memasangkan dasi kepada Rakara. Rakara tersenyum kemudian menarik pinggang Aliya hingga jarak mereka merapat.


"Kalau kamu mau, kakak ga keberatan kok, lagian kakak juga ga akan susah susah bayar kamu kan?" Rakara tersenyum menggoda Aiyla, membuat Aiyla memerah. Aiyla segera memundurkan kakinya ke bekang. Rakara semakin ingin menggoda Aiyla, dirinya segera memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Aiyla.


Aiyla semakin mundur. "Kak kakak mau apa, gue bilang tante Angel baru tau rasa. Atau kakak mau Aiyla tembak?" Ancam Aiyla tampak waspada menjauhkan kepalanya dari Rakara.

__ADS_1


"Au tembak abang dong dek," Rakara semakin menggoda Aiyla. "Abang terima kok, tapi langsung ke pelaminan ya."


"Dasar genit, bukan itu maksudnya," kesal Aiyla membuat wajahnya menjadi memerah, Aiyla segera menginjak kaki Rakara agar melepaskannya.


"Auh, sakit sayang," keluh Rakara, sembari memegangi kakinya. Wajar saja saat ini Rakara tak mengenakan alas kaki, sementara Aliya kini telah mengenakan sepatu formal miliknya.


"Udah duda genit lagi," omel Aiyla segera mendudukkan dirinya di sofa bersiap untuk makan. Rakara terkekeh mendengarkan ocehan Aiyla, dirinya segera mengenakan kaus dan sepatu formal, untuk segera berangkat meeting, di salah satu ruangan yang ada di restoran di bawah hotel tersebut.


"Kak ayo makan," tawar Aiyla untuk kedua kalinya segera memberikan makanan di hadapan Rakara.


"Hm," jawab Rakara, segera meraih makanan yang di berikan oleh Aiyla.


"Habis ini kita meeting dengan tuan Marka kemungkinan dua sampai tiga jam lamanya, menimbang apa yang akan kita bahas." kata Aiyla segera memberikan salah satu buku saku miliknya, kepada Rakara. "Habis itu kita juga ada pertemuan dengan tuan Paulo, di cafe dekat pantai Kuta."


Setelah sarapan pagi penuh ocehan Aiyla, dan penuh dengan tatapan mendamba Rakara untuk Aliya, yang terus membuatnya ingin menggigit bibir gadis tersebut. Kini mereka datang ke tempat yang telah di janjikan, untung saja mereka tidak terlambat. Tampak client mereka belum datang, karena memang saat ini mereka lima menit lebih cepat.


Rapat berlangsung selama hampir tiga jam, membuat Aiyla harus ekstra banyak mencatat, Aiyla juga tak lupa merekam semua percakapan mereka, agar dapat menyimpulkan lebih rinci lagi.


Setelah selesai, Rakara dan Aiyla segera ke pantai Kuta, mereka sama sama menuju cafe, mereka segera duduk sembari menunggu jadwal yang sebenarnya masih lima belas menit lagi.


"Kak Ai mau mesan makanan ya, soalnya lima belas menit itu lama loh," pinta Aiyla dengan wajah yang memelas.

__ADS_1


"Iya pesan aja, sekalian pesanin untuk kakak ya," kata Rakara, namun pandnagan nya tak pernah lepas dari berkas yang sebentar lagi akan ia meeting kan.


Tapi ketenangan Rakara terganggu kala dua orang wanita mendekati Rakara, Rakara tak suka itu, ia ingin mengusir wanita itu. Rakara tak suka di ganggu oleh wanita lain, yang jelas jelas tak ia kenal.


Aiyla datang membawa makanan, bisa di lihat dari wajah Rakara, bahwa dirinya begitu terusik oleh kedua orang tersebut. Aiyla tersenyum memikirkan ide gilanya.


"Baby dia siapa, kok bisa dekat dekat kamu sih?" Aiyla mendekat ke arah Rakara, sembari cemberut, mengeluarkan ekting manjanya.


Rakara yang melihat itu tersenyum, jika sudah begitu pikiran Rakara sudah ke arah yang lain, terlebih lagi mendengarkan nada manja, dan bibir manyun Aiyla. Rakara segera menarik pinggang Aiyla dan mengecup bibir Aiyla sekilas, sontak membuat Aiyla melotot tak percaya.


Niatnya ingin menolong Rakara dari para wanita centil di hadapannya, malah dirinya yang mendapat serangan mendadak, mana di daerah bibir lagi, ingin sekali Aiyla menembak bibir Rakara saat ini juga.


"Saya ga kenal mereka sayang, mereka aja yang kecentilan padahal kan saya cuman sayangnya sama kamu," Rakara menyelipkan anak rambut Aiyla, membuat kedua wanita itu merasa tidak enak, serta tidak di hargai. Terlebih lagi Aiyla lebih cantik dari pada mereka. Mereka segera beranjak dari meja Aiyla dan Rakara, membuat Aiyla segera melepaskan pelukan dari Rakara.


"Udah di tolongin malah kelewatan," gerutu Aliya memandang sinis ke arah Rakara.


"Kapan lagi kamu bisa merasakan bibir seksi keturunan ayah Daniel, bergelar CEO muda terkenal," kata Rakara enteng sembari memandang Aiyla sembari terkekh.


"Dasar genit, suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," kesal Aiyla memandang wajah Rakara.


"Cuman kamu yang saya geluti Ai," jawab Rakara.

__ADS_1


"Ya iyalah cewek lain ngacir ketakutan liat wajah kulkas kakak," kesal Aiyla, segera memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Jangan gitu, nanti kamu tersedak," kata Rakara segera mendekatkan minuman di samping Aiyla.


__ADS_2