
Dokter Aldi saat ini tengah memeriksa pasiennya, wajahnya tampak sumringah pagi ini karena Rayana sendiri yang memberinya semangat. Memang terkenal ramah kepada pasiennya, namun itu hanya untuk pasiennya tidak untuk rekan kerjanya seperti suster yang bekerja padanya.
Namun hari ini ada yang berbeda dengan dokter Ali, dokter Aldi tampak sangat ramah kepada para suster yang bekerja padanya, dokter Ali Bahkan tak segan untuk melontarkan senyum kepada mereka, membuat para suster tersebut senang bukan kepalang, karena duda beranak satu itu akhirnya mengeluarkan senyum menawannya kepada mereka.
Bagaimana tidak senang, pagi ini Rayana memberikan semangat kepadanya nya. "Semangat jangan kecapean," kata Rayana sembari mengusap kepala Willy yang masih tertidur. Dokter Adi memang siap siaga, ia bahkan membawa baju gantinya dan baju ganti Willy ketika akan menjenguk Rayana, sekaligus menjaganya.
Hanya kata semangat tersebut sungguh membuat dokter Aldi sangat bahagia hari ini, bahkan ia tak kehilangan senyumnya pagi ini, ketika seorang suster tak sengaja menabraknya.
Saat makan siang, dokter Aldi bergegas menuju kantin ia segera memesan tiga porsi makanan untuk ia santap bersama Rayana dan Willi. Dokter Aldi bahkan tidak menghiraukan panggilan temannya, yang memintanya untuk duduk di kursi yang sama.
Dokter Aldi bergegas menuju ruangan Rayana, sembari meminta petugas kantin untuk membantu nya membawakan makanan yang telah iya pesan. sesampainya di kamar inap Rayana, dokter Aldi segera membuka pintu dan mendapati Rayana tengah menggambar dengan Willi.
Saat pintu ruangan Rayana terbuka, Rayana dan Willi segera memandang kearah pintu. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat kedatangan dokter Aldi, dengan seorang lelaki berpakaian putih di belakangnya, lelaki itu sepertinya memegang dua nampan yang berisi makanan, sementara dokter Aldi membawa satu nampan sembari membuka pintu.
Rayana segera menyingkirkan peralatan menggambar dari atas overbed table, Rayana tahu itu adalah makan siang untuk mereka.
"Kalian berdua aja? Ayah sama bunda ke mana?" dokter Aldy bertanya kepada Rayana, sembari meletakkan makan siang mereka di atas Overbed table.
"Ke rumah sebentar, soalnya ada tamu di rumah jadi mereka nggak enak kalau nggak balik ke rumah," kata Rayana sembari tersenyum. "Untung ada Willi yang nemenin Raya jadi, Raya nggak kesepian di rumah sakit."
Rayana mengusap punggung Willi, membuat Willi tersenyum karena merasa disayang oleh seorang wanita yang sekarang ia panggil sebagai mama.
"Willi kan sayang mama," kata Willi memeluk pinggang Rayana.
Dokter Aldi yang melihat hal itu tersenyum, dokter Aldi kemudian menata makanan di atas overbed table. "Makan dulu, kalian belum makan kan?"
Rayana dan Willy mengangguk serentak, membuat dokter Aldi semakin gemas melihat calon istri dan anaknya yang semakin kompak.
__ADS_1
Ah, tak sia-sia rasanya iya bergadang menjaga Rayana, jika hasilnya sebagus ini. Dokter Aldi tak menyudahi senyumnya, saat melihat keakraban Rayana dan Willi.
Rayana menekuk kakinya, membiarkan dokter Aldi naik ke atas tempat tidurnya, sembari makan bersama diatas overbed table miliknya.
Ah, rasanya saat ini dokter Aldi tengah berkumpul dengan keluarga yang sesungguhnya, iya saat ini sudah mampu membayangkan jika Rayana menjadi istrinya.
Saat tengah makan siang, tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam kamar rawat inap Rayana.
"Loh Aldi kok di sini?" ternyata itu adalah dokter Ibnu, yang saat ini akan menangani Rayana.
Wajah dokter Adi yang tadinya terkejut, kini nampak memerah karena ketahuan dengan dokter Ibnu tengah makan bersama dengan pasien dokter Ibnu.
"Loh Aldi di sini juga toh?" tiba-tiba Aska masuk menyelonong dari arah pintu. "Wah lagi makan keluarga nih kayaknya."
Dapat mereka pastikan bahwa itu nada mengejek dari Aska, yang saat ini tengah menggoda dokter Aldi dan juga Rayana.
Sejak dulu memang dokter Ibnu sudah mulai mencurigai gerak-gerik dari dokter Aldi, namun ia tak berani menyimpulkannya karena ia belum punya bukti yang spesifik, dengan adanya hal ini membuat dokter Ibnu semakin yakin bahwa dokter Aldi memang memiliki perasaan terhadap Rayana.
"Wah keren nih, pantas aja nggak mau ngakuin dengan Pith, rupanya sudah punya pemilik hati toh," ledek dokter Ibnu memandang ke arah wajah Rayana yang saat ini tengah memerah padam. "Cocok nih, si tukang gombal dan si kutub es utara."
Dokter Ibnu dan Aska tergelak mereka terlihat puas menggoda Rayana dan juga dokter Aldi.
"Ih om, jangan suka ngejek mamanya Willi dong, mama kan lagi sakit," Willi membuka suaranya mencoba menghentikan ejekan dari dokter Ibnu dan juga Aska.
Mendengar kata-kata Willy, bukannya menghentikan mereka untuk tertawa justru hal itu semakin membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.
"Mama? Jadi sekarang dia mama kamu?" Dokter Ibnu bertanya di sela tawanya.
__ADS_1
"Iya Om, kata papa dia mamanya Willi, jadi kalau udah jadi mamanya Willi, Willi harus jagain, ga boleh ada yang ngejek," kata Willi polos, membusungkan dadanya seolah ia adalah superhero nya Rayana.
Mendengar hal tersebut diam-diam Rayana tersenyum senang, Rayana tak menyangka jika Willi akan mengatakan hal itu.
"Anak baik, jagain mama kamu dari papa juga ya, apalagi kalau malam, kadang papa suka nindih mama," kata dokter Ibnu tersenyum jahil ke arah dokter Aldi.
Rayana dan dokter Aldi sontak melotot serentak ke arah dokter Ibnu, dokter Ibnu yang merasakan tatapan horor tersebut, hanya tergelak kecil.
"Ih papa ga boleh, nanti Mama sakit lagi," kata Willi polos membuat Aska dan juga dokter Ibnu semakin terkelak.
"Udah sayang, jangan dengerin tuh om Aska sama om Ibnu," dokter Aldi mengusap lembut kepala Willi.
"Ya sudah nikmati keluarga kecil kalian ya, yuk kita ga di butuhkan di sini," dokter Ibnu segera menggandeng tangan Aska, dengan wajah yang dibuat seolah-olah sangat sedih.
"Idih jangan pegang pegang, gue normal, punya anak punya istri, masalalu gue juga cemerlang, jauh jauh lo," Aska segera menghapuskan tangan dokter Ibnu yang tengah menggandeng tangannya.
Bukannya kesal, dokter Ibnu justru terkekeh melihat ekspresi dari Aska. Dokter Ibnu bahkan semakin menggandeng tangan kokoh Aska, membuat Aska semakin ilfil di buatnya. Para suster yang sudah terbiasa dengan kelakuan aneh kedua orang tersebut, membuat mereka hanya menggeleng sembari tersenyum, karena mereka sungguh tak tahu tempat dan juga keadaan. Sementara para pasien menjadi sedikit aneh ketika melihat kelakuan dokter Ibnu, yang terus mencoba menggandeng tangan Aska.
"Jauh jauh lo, jijik gue," segah Aska dengan kesal.
"Ih ga suka gelay," dokter Ibnu tergelak, sembari meninggalkan Aska, karena melihat pacarnya yang baru saja masuk ke lobi rumah sakit tersebut. "Sayang... Kangen," kata dokter Ibnu dengan nada manja, yang membuat semua orang menggeleng.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....
__ADS_1