Duda Genit

Duda Genit
Acara tujuh bulanan.


__ADS_3

Hari ini adalah hari tujuh bulan dari Angel, sekaligus mereka mendoakan sepupu Melisa yang baru saja meninggal. Mereka sepakat untuk hanya mengundang pak ustad, dan istrinya untuk membacakan doa doa. Tentu saja Roni dan Wati di libatkan dalam hal ini, hal ini atas permintaan khusus dari Melisa, karena ingin mengenal calon dari Roni yang telah di anggapnya sebagai anak.


Angel tengah bersiap dengan mengenakan gamis baju berwarna silver dan biru muda, dan kemudian sedikit merias wajahnya dengan warna warna natural, semakin menampakkan wajahnya yang cantik. Daniel keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk kecil yang melilit di pinggang atletisnya.


Angel yang melihat hal itu, segera mengambilkan baju untuk suaminya yang telah di setrika. Angel kemudian membantu suaminya untuk mengenakan baju tersebut, sembari tersenyum ke arah Daniel.


Daniel juga ikut tersenyum kearah Angel, kemudian memeluk Angel. "Bee sebentar lagi junior keluar," kata denil kemudian mengusap perut Angel yang membuncit, menandakan ada sebuah nyawa yang tengah bersemayam di dalam perut Angel.


Angel terkekeh ketika merasakan sebuah respon dari perutnya, seolah dapat merasakan sentuhan yang di berikan ayahnya. Ah... sepertinya si junior tengah menendang perut ibunya.


Daniel yang merasakan tendangan dari dalam perut Angel, sungguh takjub di buatnya. Entah ini yang keberapa kalinya ia merasakan tendangan anaknya sebagai reaksi, namun Daniel terus saja merasa takjub. Tetapi dalam waktu yang bersamaan juga khawatir, Daniel tahu bahwa istrinya pasti merasa sakit saya anaknya menendang, namun tetap Angel tahan entah karena bahagia, atau tak ingin membuat Daniel khawatir.


"Anak ayah... baik baik ya di dalam, jangan suka nendang nendang ya di dalam, nanti kasihan ibu," kata Daniel, berbicara di depan perut istrinya, kemudian mengecupnya. "Nanti kalau kamu keluar, kita main tendang tendangan deh sepuasnya."


"Iya ayah..." Angel yang menyahut, namun di buatnya seperti suara anak kecil.


Daniel yang mendengar hal itu, di tambah mimik wajah istrinya yang begitu menggemaskan. Daniel segera memeluk tubuh istrinya, dari samping, karena takut istrinya akan kesakitan, ketika memeluknya dari arah depan.


"I love you, and thanks very much bee," bisik Daniel di tengah pelukan mereka.


Angel terkekeh, bukan karena ucapan suaminya, tapi pantulan dirinya di cermin. Membuat Angel tiba tiba teringat sebuah kartun legendaris yang tak terlupakan.


Ya... ia bahkan kini berpikir seperti member terbaru dari Teletubbies, dengan jenis baru. Ah... atau tidak, dirinya kini seperti Doraemon dengan versi berwarna silver dan biru muda.


Daniel sedikit mengerut mendengar kekehan dari istrinya, ia berfikir mungkin kata kata nya ada yang lucu, sehingga membuat Angel terkekeh.


Namun sayang nya acara peluk pelukan ini harus berakhir, ketika sebuah ketukan membuyarkan semuanya. Mereka berdua mengerti maksud dari tujuan ketukan tersebut. Daniel segera melangkah menuju pintu, sembari menggandeng tangan Angel.


Angel hanya mengikuti suaminya dengan pasrah, sembari tersenyum ke arah pak ustad dan yang lainnya ketika sedang di ruang tengah.


"Wah... Angel cantik banget ya kak," kata Wati memuji penampilan Angel di samping Roni. "Pantes pak Daniel jatuh cinta sama Angel, cantik banget sih."


'Iya kamu juga, tapi lebih cabtik menurut aku,' ingin rasanya Roni mengatakan hal itu, namun sesuatu di tenggorokan nya menahan kata kata itu untuk keluar. "Hm... mungkin," justru kata kata tersebut yang keluar dari bibir Mr. Thunders satu ini, yang saat ini asyik memandang ke arah Angel dan juga Daniel.


Wati mengkerut bingung maksud dari Roni, apakah maksudnya cantik? Atau engga cantik? Wati belum bisa menafsir kan kata kata mungkin. Mungkin saja maksudnya yang lain? Ah... menafsirkan kata mungkin dari mulut laki laki, sama halnya menafsirkan kata kata terserah dari mulut wanita. Sangat ambigu, terlalu banyak pengertiannya, dan sama sama sulit di mengerti, untuk setiap otak cerdas Wati, yang selalu memikirkan kemungkinan kemungkinan di dalam otaknya.


^^^Orang bilang kek kamu juga ga kalah cantik kok, dasar laki laki ga peka. gerutu Wati sembari memandangi Roni sebentar.^^^

__ADS_1


Wati memang masih belum mengerti sepenuhnya sikap dari Roni, terkadang ia merasa di cintai Roni, terkadang juga ia merasa tidak di cintai, ah... atau terkadang juga ia merasa bahwa Roni tidak perduli, bahkan cenderung jutek terhadapnya.


"Hm... mungkin," kata Wati kurang bersemangat.


Yah... Wati harus mengerti dan banyak banyak menyimpan stok kesabaran, karena Roni yang memang tidak peka, dan sama sekali tidak mengerti maksud dari Wati.


Acara tujuh bulanan dan doa untuk almarhumah pun di mulai. Semua orang khususnya mendengarkan doanya, namun Angel sedikit sedih karena keluarganya tak dapat hadir. Berhubung saat ini masih lockdown dan kelurganya saat ini tinggal di luar negri dan juga Aska yang masih terjebak di Belanda, padahal masa magangnya sudah habis beberapa bulan yang lalu. Mereka biasanya hanya berkomunikasi melalui telfon, ataupun video call untuk menghilangkan rasa rindu mereka.


Daniel yang menyadari kesedihan istrinya segera menggenggam tangan istrinya. Ia tahu bahwa istrinya sebenarnya memendam kesedihan, walaupun dari luar istrinya terlihat begitu bahagia. Daniel juga tak tega melihat keadaan istrinya yang sering bersedih, karena di kehamilan pertamanya ia tak bisa di dampingi oleh Daddy, papi dan mami nya. Karena itu, Daniel selalu ingin berada di dekat istrinya. Setiap kali Daniel melihat raut wajah istrinya yang sedikit bersedih, Daniel akan mencoba menghiburnya, dengan berbagai cara.


Daniel takut istrinya akan mengalami setres, di kehamilannya ini, karena sangat berpengaruh dengan anak mereka yang ada di dalam. Daniel bahkan pernah sekali diam diam memergoki istrinya, menangis di balkon kamar mereka, setelah melakukan video call dengan Daddy, Aska dan juga Brian. Angel terlihat begitu merindukan mereka, meski di sini Angel selalu di perhatikan.


Angel merasakan genggaman tangan hangat dari suaminya. Entah kenapa sentuhan tangan dari suaminya benar benar membuat hati Angel menghangat. Ya... suaminya adalah penyemangat baginya, tampa suaminya yang seperti sekarang ini, mungkin saja ia tak akan sekuat ini. Daniel yang terus berusaha memberikan senyum untuk Angel, berusaha membuat istrinya senyaman mungkin dengan caranya sendiri. Angel menyunggingkan senyum, untuk suaminya.


Daniel yang melihat senyum di wajah istrinya, kemudian ikut tersenyum. Daniel selalu berharap melihat wajah istrinya yang tersenyum manis seperti ini.


Setelah tiga puluh menit, akhirnya acara kecil kecilan mereka akhirnya selesai. Mereka telah membekali pak ustad dan istrinya dengan beberapa bahan baku sembako, karena ini memang kesepakatan mereka, agar mereka lebih mudah memberikan dan bagikan bahan sembako tersebut, ke semua orang yang membutuhkan.


Pak ustad beserta istri pamit undur diri dari kediaman mereka, kemudian di susul Roni dan Wati. Sementara Melisa yang sejak tadi merasa kelelahan akhirnya memilih untuk tidur. Angel dan Daniel kini beranjak untuk menuju ke kamar mereka. Daniel sejak tadi menggenggam tangan istrinya, berharap setiap genggaman yang ia lakukan mampu membuat Angel merasa hangat, tidak sendirian lagi dalam melakukan apapun. Meskipun Daddy, papi, dan maminya tidak ada di sampingnya.


Sesampainya di kamar Daniel membantu istrinya membersihkan diri, mulai dari melepaskan pakaian hingga mengusap mencuci muka Angel, Daniel selalu membantunya. Daniel tersenyum sembari mengusap lembut wajah istrinya, setelah mereka menukar pakaian.


Daniel memang lelaki yang peka terhadap istrinya, tampa kata pun Daniel telah tahu bahwa istrinya saat ini kecewa, dan sesikit setres. Memang saat berkonsultasi dengan dokter kandungan, mereka mengatakan bahwa sebenarnya ibu hamil memiliki hormon yang berlebihan, sehingga mudah setres meski dengan masalah sekecil apapun, terkadang mereka memikirkan-nya dengan cara yang berlebihan.


"Bee... nangis aja ya, saya di sini untuk kamu bee, dengerin kamu, dan selalu sayang dengan kamu," kata Daniel berusaha menghibur istrinya.


Setelah Daniel mengatakan hal itu, tak lama kemudian Angel menangis di dalam pelukannya. Daniel dapat merasakan betapa sedihnya istrinya, terdengar suaranya yang begitu pilu.


Daniel memang tahu bahwa istrinya itu, tipe pemendam. Angel suka memendam masalah yang ia hadapi. Seperti kata Tania, Angel itu suka sekali memendam semuanya untuk dirinya sendiri, Angel tak seceria kelihatannya, tak seterbuka kelihatannya. Angel lebih suka memendam semua kesedihan, dan masalah yang ia hadapi, tanpa harus melibatkan banyak pihak.


"Bee..." kata Daniel sembari mengusap lembut punggung istrinya, berusaha menyalurkan rasa kasih sayang nya kepada istrinya. Sesekali Daniel mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang.


Saat ini Daniel sadar dirinya bukan hanya suami dari Angel, namun juga harus bertindak sebagai sahabat, teman, dan keluarga, dalam waktu yang sama. Daniel sangat menyayangi istri nya, dan tak ingin membuat Angel memendam semuanya sendiri. Biarlah istrinya menangis malam ini untuk menumpahkan segala kesedihannya, yang penting setelah ini istrinya baik baik saja, dan mengumbar senyum bahagia ke padanya.


"Bee saya disini untuk kami, semua selalu mendoakan kamu, meski kita semua jauh, tapi kita semua menyayangi kamu bee," kata Daniel saat merasakan tangis istrinya sudah meredah. "Bee dengar ya? Anggap aja kita semua kita LDR, kalau kangen video call. Kalau rindu jangan... kata Dilan berat, biar aku aja."


Angel sedikit tersenyum mendengarkan banyolan suaminya, di tengah tangisannya. Angel tahu jelas maksud suaminya. Namun Angel memilih mengeratkan pelukannya. Merasakan hangatnya pelukan suaminya.

__ADS_1


"Bee kamu kuat kok, apalagi di dalam sini ada dedek baby yang aktif, terus sukanya main bola," kata Daniel berusaha menghibur Angel. "Bee tadi udah di kasih tau kan?" tanya Daniel sembari melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah sendu istrinya.


"Udah, emang kenapa?" tanya Angel memandang suaminya dengan tatapan bingung.


"Kalau udah, besok kita telfon lagi, biar kita minta hadiah dari mereka," kata Daniel terkekeh. "Kan buat cucu mereka juga," kata Daniel mengusap lembut perut istrinya.


"Emang kamu mau hadiah apa?" tanya Angel ikut terkekeh mendengar suaminya ingin meminta hadiah dari Daddy-nya.


"Mau minta setelah pandemi berakhir, mereka di rumah terus, terus kita ngumpul ngumpul bareng, biar utang mereka nemenin kamu terbayar lunas, sah..." kata Daniel panjang lebar sembari memandang wajah istrinya.


Angel tersenyum mendengarkan penuturan suaminya, sungguh suaminya dapat membuat mood nya kembali membaik. Daniel suka sekali menghiburnya, di saat sedihnya.


"Kita tidur ya, soalnya udah malam," bujuk Daniel, namun kali ini Angel menggeleng. Angel masih asyik bermanja dengan suaminya.


"Ya udah kita baring aja ya, ga usah tidur," kembali lagi Daniel membujuk istrinya.


Angel hanya mengangguk menyetujui permintaan suaminya, Angel dan Daniel kemudian segera berbaring. Daniel segera menjadikannya lengannya sebagai bantalan Angel. Daniel mengusap lembut kepala Angel sembari sesekali mengecup puncak kepala Angel.


"Sunit makasih ya kamu selalu ngertiin aku, selalu ada buat aku..." Angel tidak melanjutkan kata katanya namun memilih untuk memandang wajah suaminya. "Selalu ngehibur aku saat lagi sedih."


Daniel segera memeluk tubuh Angel, kemudian mengusap perut Angel. "Kan sudah saya bilang, saya akan selalu ada untuk kamu, selalu sayang sama kamu, selalu cinta sama kamu."


Angel kembali menangis mendengar kata kata suaminya, kali ini bukan tangis sedih lagi yang terdengar, namun kini tangis bahagia yang ia keluarkan. Angel benar benar bahagia memiliki suami seperti Daniel, selalu ada di sampingnya, saat keluarga nya tidak ada, selalu mencoba membuatnya bahagia saat ia merasa sedih.


Berada di situasi seperti saat ini, membuat Angel merasa bahwa ia mendapatkan impian masa kecilnya. Yang di mana suatu saat nanti akan datang seorang pangeran, yang menyayangi dan mencintainya, seperti seorang Cinderella yang di temukan pangerannya.


"Udah malam tidur saja lagi ya, ga baik untuk ibu hamil," kata Daniel menujuk istrinya. "Besok saya janji akan bawa kamu keliling keliling, kalau kamu mau tidur sekarang."


Angel mengangguk kemudian segera menutup matanya bersiap untuk segera tertidur. Sementara Daniel terus saja mengusap perut Angel, sambil bernyanyi. Daniel menyanyikan lagu favorit Angel, dengan sangat baik. Karen Daniel berusaha menghafal lagu tersebut, dengan baik saat mendekati Angel demi menarik simpati sang pujaan hati.


Setelah hampir lima belas menit, Angel telah tertidur menyisahkan Daniel yang belum bisa tertidur. Daniel memandang wajah istrinya dengan seksama, wajah yang begitu damai dan tenang ketika tidur, seolah harinya begitu bahagia, tampa sebuah kesedihan.


"Bee sedih atau apapun itu, kamu harus berbagi dengan saya, karena saya tak suka melihat kamu begitu," kata Daniel berbicara kepada Angel, seolah Angel dapat mendengarkan kata katanya.


Ah... jika ada laki laki yang bisa masuk survei mungkin Daniel akan masuk dalam kategori suami idaman, karena pengertian termasuk siap siaga dalam hal menghibur istrinya ketika sedang sedih. Namun jika siap siaga dalam hal ngidam istrinya, tentu saja Daniel tidak masuk, karena jujur saja yang ngidam itu Daniel bukan istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....


__ADS_2