Duda Genit

Duda Genit
Berkah kutukan ibu solehah.


__ADS_3

Angel baru saja masuk melakukan video call dengan keluarganya, menyampaikan berita kehamilannya. Angel menampilkan senyum bahagia, membuat Daniel ikut tersenyum bahagia.


Daniel mengecup pipi Angel sembari mengambil kesempatan untuk membaui Angel kembali. Daniel kira bau seorang ibu hamil memang sebegini enaknya, mungkin saja semua suami suka mengendus bau tubuh istrinya ketika hamil.


"Bee mulai sekarang kemanapun kamu, di mana pun kamu, saya akan selalu menjaga kamu," seru Daniel dengan semangat.


Angel hanya terkekeh sebenarnya Angel tahu betul maksud dari Daniel, Angel tahu jika Daniel memang ingin menjaganya, namun Daniel juga ingin lebih banyak membauinya. "Iya sunit ku sayang."


Daniel mendengarkan hal itu sangat senang, Daniel kemudian segera merebahkan kepalanya di pundak Angel, Daniel kembali lagi membaui Angel. Daniel menghirup aroma tubuh Angel dengan sangat hikmat, Ah... candu baru untuknya.


"Bee baring lagi yuk," ajak Daniel semabari menuntun Angel untuk berbaring.


Angel mengikuti keinginan suaminya, membuat Daniel tersenyum, setelah berbaring Daniel segera menutupi tubuh mereka dengan selimut. Daniel segera masuk ke dalam di dalam selimut, dan membaui Angel.


"Sunit ngapain sih di dalam," tanya Angel bingung.


"Lagi nyium badan kamu, enak banget," Kata Daniel, sembari membuka sedikit selimutnya.


Angel hanya menggeleng sembari pasrah, dengan kelakuan suaminya. Angel dapat merasakan tekanan sekali-kali suaminya mengecup perutnya.


"Sunit ga pengap ya?" tanya Angel bingung sembari membuka selimutnya sedikit.


"Engga bee ini enak banget bau nya," sekali lagi Daniel memuji bau tubuh Angel. Daniel kembali membungkus rubuh Angel bersama dirinya, di balik selimut.


Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Angel terkejut. Ternyata itu adalah Melisa, yang masuk ke kamar mereka.


"Loh Angel sayang kamu sendiri, si perangko kemana?" tanya Melisa ketika hanya melihat Angel sendirian di kamar. Melisa sedikit kesal dengan anaknya, karena membiarkan istrinya yang tengah hamil sendirian.


Namun bukan cuman itu, Melisa lebih terkejut lagi ketika melihat selimut, yang di kenakan Angel tiba-tiba sedikit bergerak. "Aaaa..." teriak Melisa panik, melihat selimut Angel bergerak.


Melisa berfikir itu adalah makhluk halus yang suka memakan janin, maklum saja Melisa merupakan korban mitos zaman dulu, di mana ia akan di larang untuk keluar magrib, takut akan ketempelan makhluk halus. Di tambah lagi Melisa sangat suka menonton film horor, membuat pola pikiran Melisa semakin cemas.

__ADS_1


Daniel yang mendengar teriakan menggelegar ibunya, segera membuka selimut untuk melihat kehebohan yang ibunya buat. "Ibu..." Daniel ikutan berteriak, membuat Melisa terdiam.


"Ja... jadi yang di dalam selimut itu kamu?" kata Melisa mendelik melihat anaknya.


"Lah terus siapa lagi?" kesal Daniel kegiatan yang haqiqi-nya di ganggu oleh ibunya.


"Dasar ya kamu, suami tidak pengertian, istri kamu itu masih hamil muda, minta jatah lagi," omel Melisa, tak ingin terlihat salah tingkah di depan anak dan menantunya.


Sekali lagi tebakan Melisa, Daniel hanya membaui Angel tak ingin lebih. Daniel mengerti akan hal itu, karena ia tadi bertanya kepada dokter kandungan, yang memeriksa Angel.


"Ibu... pikiran ibu kalau tidak mistis, me*sum," kesal Daniel ketika melihat Melisa yang suka sekali berfikiran aneh aneh.


Daniel ingat betul, bahwa kemarin yang mencetuskan dirinya kesurupan adalah ibunya. Mengingat hal itu, membuat Daniel semakin kesal.


Angel terkekeh melihat tingkah Daniel dan mertuanya. Angel dapat melihat keakraban antara anak dan ibu tersebut, meskipun mereka lebih sering bertengkar dari pada berbaikan. Namun Angel dapat melihat betapa dekatnya mereka.


"Terus kamu ngapain?" tanya Melisa sewot, tak ingin terlihat malu dengan kata kata nya sendiri.


"Ya sudah makan dulu sana, soalnya Angel belum makan siang," kata Melisa mengajak anak dan menantunya untuk turun kebawah.


"Iya Bu," kata Daniel segera berdiri, kemudian segera mengecup perut Angel. "Ayo bee."


Daniel menggenggam tangan Angel membantu istrinya untuk bangun, kemudian melangkah menuntun istrinya.


"Sunit... aku bisa sendiri," protes Angel, pasalnya saat ini, Daniel memperlakukannya seperti orang yang sedang sakit parah.


Daniel menggeleng, kemudian kembali menuntun Angel. "Bee aku ga mau terjadi apa apa dengan kamu," kata Daniel sembari tersenyum.


Angel pasrah dengan sikap suaminya, mau membantah pun, Daniel pasti lebih bisa mendebatnya dengan segala cara.


Sesampainya di ruang makan, Daniel memberikan tempat duduk untuk Angel, dan segera menempatkan dirinya di samping Angel. Sementara Angel segera berdiri di samping Daniel, kemudian mengambil makanan untuk mertuanya dan juga suaminya.

__ADS_1


Melihat hal itu Melisa sontak menghentikan tangan Angel. "Angel sayang, kamu duduk saja, biar ibu yang ngambil makanan untuk ibu sendiri, dan suami kamu, biar dia yang ngambil-in makanan untuk dirinya dan kamu," terang Melisa, tak ingin menantunya kelelahan.


"Tak apa bu, ini kan cuman ngambil-in makanan doang, ga berat berat amat," kata Angel merasa tak enak, karena Angel merasa dirinya baik baik saja, namun ibu mertua nya ini terlalu khawatir terhadapnya. Lagian Angel juga berfikir ini merupakan kewajibannya.


"Bee dengerin kata ibu, kami semua sayang kamu bee, jadi tolong dengerin kata kata kami ya sayang," bujuk Daniel akhirnya membuat Angel segera duduk di kursinya.


"Nah begitu dong sayang, dengerin kata suami perangko mu itu," kata Melisa tersenyum.


Daniel hanya melirik ibunya sebentar, Melisa bak pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Karena tadi Melisa tak hanya membenarkan kata kata anaknya, namun juga menghina anaknya.


Daniel diam yak menjawab, memilih untuk mengambil makanan untuk istrinya, Daniel kemudian meletakkan makanan untuk istrinya, lalu kembali lagi melanjutkan mengambil makanan untuk dirinya.


Setelah acara makan selesai, Daniel segera duduk di sofa panjang, dengan memeluk Angel, sembari kembali membaui Angel.


"Bu sempit ini, beli bad sofa ja lagi Bu," kata Daniel membuat Melisa memutar bola matanya dengan malas. "Ah warnanya biru, terus ada bulu bulunya gitu, sepertinya lembut kalau kita baring di situ," lanjut Daniel membayangkan halusnya bulu bad sofa yang menyapu kulitnya.


"Eleh... tinggal turunin yang di atas aja," kesal Melisa melihat anaknya, yang terkadang suka sekali bersikap boros.


"Ga... ga boleh," tegas Daniel, membuat Angel yang berada di sampingnya segera mengusap telinganya, karena sedikit berdengung ketika suaminya berbicara barusan.


"Biasa dong, jangan nge gas," sewot Melisa melihat Daniel dengan pandangan sinis. "Untung anak, lagian kamu harus bersyukur punya ibu seperti ibu, baik hati, pandai menabung, dan yang terpenting kalau mengutuk itu selalu yang benar."


"Mana ada orang ngutuk benar," kesal Daniel tak ingin kalah.


"Ada, bukti ha ibu, uang kemarin ngutuk kamu supaya cepat dapat anak," sombong Melisa, dengan hasil kutukannya yang benar benar memuaskan. "Ini namanya berkah kutukan ibu solehah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Maaf gaes cuman sedikit, soalnya akhir akhir ini aku zebok, jadi ga bisa sampai 2000 seperti biasanya, tapi ini 1000 lebih kok. Mohon maaf sekali lagi...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....

__ADS_1


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....


__ADS_2