
Setelah menghadiri beberapa rapat, Aiyla dan Rakara memutuskan untuk Kemabli ke hotel untuk beristirahat sejenak. Aiyla segera membaringkan tubuhnya, Rakara segera menyusul di samping Aiyla.
"Satu jam lagi kita jalan jalan ke pantai, kamu tidur aja dulu, kita di sana sambil makan malam," kata Rakara memandang Aiyla yang tengah terlentang di atas tempat tidur.
"Hm Ai tidur dulu," jawab Aiyla segera menutup matanya.
......................
Aiyla tengah duduk di tepi pantai, memandang matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Rakara yang sejak tadi memandang Aiyla dari arah belakang, kini mendekat ke arah Aiyla, Rakara segera memeluk Aiyla dari belakang.
"Ah, kakak kenapa? Bikin kaget aja," Aiyla terkejut ketika merasakan tangan kekar tiba tiba datang memeluknya dari belakang.
"Kamu bisa buka hati kamu ga?" Rakara tak perduli dengan protes dari Aiyla.
"Maksudnya?" Aiyla berusaha melepaskan Rakara, namun bukan Rakara kalau menyerah begitu saja.
"Iya kamu jangan sedih terus, banyak kok yang mau sama kamu," Rakara meletakkan kepalanya di bahu Aiyla.
"Bisa, pasti bisa, tinggal tunggu waktu aja," kata Aiyla akhirnya menyerah melepaskan pelukan Rakara.
"Kalau kamu ga berusaha, pastinya kamu ga akan bisa Ai," Rakara semakin mengeratkan pelukannya.
"Hm, iya kak," akhirnya Aiyla meletakkan kepalanya di kepala Rakara, yang tengah bersender di bahu Aiyla.
"Sebaiknya kamu buka mata kamu, lihat disekitar kamu banyak yang mencintai kamu," t**ermasuk saya Ai.
"Hm, akan ada waktunya kak, kalau kakak mau bantuin Ai, Ai bisa kok," Aiyla tersenyum jahil ke arah Rakara.
"Beneran?" mengecup leher Aiyla.
Aiyla yang menyadari hal tersebut, segera memandang ke arah Rakara, membuat Rakara tersenyum puas.
__ADS_1
"Ih kakak genit banget sih, main cium cium aja, geli tau, Ai aduin kakak sama mama," kesal Aiyla menjauhkan kepalanya dari Rakara.
"Hm, aduin aja biar langsung kakak bantuin untuk lupain mantan," Rakara kembali menegakkan kepalanya, dan memandang Aiyla.
"Apaan sih kak? Kakak itu mau ikut daftar?" Aiyla mencoba mencairkan suasana.
"Boleh," Rakara justru tersenyum memandang Aiyla, Rakara mendekatkan wajahnya ke wajah Aiyla. Dan untuk pertama kalinya Rakara mengecup bibir Aiyla, di saat gadis tersebut sadar.
"Salah mesum, genit, dasar duda," umpat Aiyla membuat Rakara semakin tersenyum gemas melihatnya.
"Kakak duda genitnya kamu," kata Rakara tersenyum ke arah Aiyla.
"Kak apaan sih? Ini pelecehan, Ai teriak ni," ancam Aiyla mencoba memberontak dari Rakara.
"Ai, Kamu itu gemesin kakak Ai," kata Rakara menggigit pipi Aiyla dengan gemas.
"Ih kakak jangan peluk peluk Ai," Aiyla semakin memberontak di dalam pelukan Rakara.
"Kakak nyaman meluk Ai," Rakara justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Ga apa apa Ai," Rakara kini kembali meletakkan kepalanya di bahu Aiyla.
"Tapi Ai malu kak," akhirnya Aiyla melemahkan perlawanannya.
"Ya udah sampai matahari tenggelam deh," tawar Rakara sembari memandang matahari yang akan tenggelam.
"Ngga di tolongin?" canda Aiyla memandang ke arah matahari tenggelam.
"Engga lah, kakak cuman mau nolongin hati kamu aja," Rakara segera mengangkat Aiyla ke dalam pangkuannya, bahkan Rakara kini sudah menggenggam tangan Aiyla, dan menakutkannya dengan jari jarinya. "Ai mau jawab jujur?"
"Apa kakak?" Aiyla segera memandang ke arah Rakara.
__ADS_1
"Ai nyaman ga kakak peluk? Atau aman ga dengan kakak," Rakara segera memandang lekat ke arah Aiyla, Rakara bahkan tersenyum ke arah Aiyla.
"Hm entah ya kak, Ai cuman ngerasa tenang dan aman aja kak, Ai ngerasa percaya sama kakak," Aiyla menjawab jujur sembari membalas pandangan Rakara.
"Itu bagus pertahankan, kalau perlu tingkatkan."
......................
Malam ini Rakara dan Aiyla tengah berada di restoran, sembari menunggu ikan bakar dan cumi goreng pesanannya. Mereka tampak duduk sambil tertawa, membahas berbagai hal, bahkan masalah rapat mereka tadi. Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang, dan membuat mereka menghentikan percakapannya. Saat di tengah tengah makan, tiba tiba dua orang bersenjata datang menghampiri restoran tersebut, Membuat Rakara dan Aiyla memandang mereka sejenak. Kemudian saling berpandangan.
"Kakak bawa pistol?" Aiyla memandang ke arah Rakara sembari tersenyum.
"Hm ini di saku celana kenapa? Kamu ga bawa?" Rakara mengerutkan keningnya memandang Aiyla.
"Bawak, tapi senjata mereka itu palsu kakak, imitasi, cuman yang super, kalau kata mama Ai sih kw super," jawab Aiyla cengengesan.
Tak lama kemudian dua orang bersenjata tersebut mendatangi Aiyla dan Rakara yang tampak tak terusik sama sekali, bahkan mereka melanjutkan makan mereka dengan enteng.
"Eh kalian angkat tangan, serahkan semua barang barang kalian, kalian tidak tahu kami ini siapa?" salah seorang di antaranya berteriak dengan kasar ke arah Aiyla dan Rakara. Aiyla dan Rakara tampaknya hanya mengangkat bahu mereka dengan acuh, bahkan Rakara tampak santai menyuapi Aiyla cumi bakar.
"Eh kalian mau saya tembak?" ancam salah satunya dengan meletakkan pistol di pelipis Aiyla.
Aiyla dan Rakara segera angkat tangan dan mengeluarkan dompet, serta pistol mereka, sembari dengan santainya mengecek peluru bahkan menghitung, jumlah peluru di dalam pistol tersebut.
"Berapa kak?" Aiyla memandang Rakara sembari tersenyum santai.
"Hm tiga, pas untuk kepala burung perkutut mereka. Kamu berapa?" Rakara memandang Aiyla dengan santai.
"Hm ini sih, cukup untuk nembak orang yang mencoba lari dari sini, kebetulan kan aku jago mbak dari sepuluh kilometer," jawab Aiyla santai, membuat kedua orang itu mematung.
Tak lama kemudian empat orang bodyguard yang khusus di berikan untuk Aiyla dan Rakara datang, mereka segera menangkap kedua orang tersebut. Sebenarnya tadi mereka sengaja tak ingin muncul duluan, karena Aiyla sudah memberikan kode kepada para bodyguard agar tidak bergerak terlebih dahulu.
__ADS_1
"Berapa tahun penjara?" Rakara segera menyuapi Aiyla kembali dengan cumi goreng, kemudian menyuapi dirinya sendiri.
"Entah minimal lima tahun penjara kali."