
Mendengar cerita dari dokter Aldi, Rayana dapat menyimpulkan bahwa bukan tak mau, tapi ia tak ingin keadaan Willi tertekan, di sini bukan hanya Willi korban dari ibunya, namun juga dokter Aldi. Rayana semakin salut saja dengan dokter Aldi, demi atas nama sahabat ia rela menikahi wanita yang telah berbadan dua, dan memberikan cinta kepada anaknya. Namun balasannya justru seperti itu sebuah perselingkuhan.
"Aku takut di tinggalkan oleh kalian," dokter Aldi bergumam saat menenggelamkan wajahnya di perut rata Rayana.
Rayana sedikit bingung kenapa ekspresi dokter Aldi benar benar seperti itu, entah ketakutan dari dokter Aldi tampak berlebihan di matanya. Atau dokter Aldi saat ini benar benar sangat menyayangi Willi, dan takut Willi akan hilang selamanya? Atau entah lah hanya saja ketakutan dokter Aldi sedikit berlebihan menurut Rayana.
"Kamu janji ya, ga akan ninggalin aku," kata dokter Aldi mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Rayana.
Bertambah lah kini keanehan dokter Aldi menurut Rayana, namun saat ini Rayana berfikir hanya perlu menenangkan dokter Aldi, Rayana kemudian tersenyum dan menyambut uluran jari kelingking dokter Aldi dengan melingkarkan jari kelingking mereka.
Dokter Aldi tersenyum senang kemudian kembali memeluk perut Rayana. "Terimakasih sayang," gumam dokter Aldi.
Tak lama kemudian terdengar nafas teratur dari dokter Aldi membuat Rayana tersenyum, dengan pelan Rayana melepas tangan kekar dokter Aldi yang melingkar di perutnya, kemudian segera bangkit dari duduknya.
Rayana mengangkat kepala dokter Aldi dengan pelan kemudian mengalasinya dengan bantal, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh dokter Aldi.
Rayana segera melangkah keluar meninggalkan dokter Aldi, dan mencari babysiter Willi, karena merasa sesuatu yang menjanggal dengan prilaku dokter Aldi.
Baru saja Rayana mencapai ambang pintu, tiba tiba dokter Aldi segera berlari dan mendekat ke arah Rayana, dokter Aldi memeluk Rayana erat dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kau sudah janji tidak akan meninggalkanku," kata dokter Aldi dengan wajah pias seolah akan kehilangan sesuatu.
"Aku hanya ke dapur, kamu kok tiba tiba bangun?" Rayana bingung sendiri dengan tingkah dokter Aldi.
"Karena tidak ada kamu di sampingku," kata dokter Aldi dengan memelas membuat Rayana tak tega melihatnya.
"Baiklah kita kembali tidur," kata Rayana melangkah bersama menuju tempat tidur.
__ADS_1
Mereka akhirnya kembali berbaring di tempat tidur dokter Aldi, dengan dokter Aldi yang terus mendekap Rayana ke dalam pelukannya.
"Eh sayang Willi kemana?" dokter Aldi tiba tiba terlihat panik karena teringat Willi. "Willi di mana? Willi."
Dokter Aldi berteriak memanggil Willi, membuat Rayana kesulitan untuk menenangkan nya. "Willi sedang tidur di kamarnya, biar minta babysiter nya untuk manggil."
"Willi sayang sini sama papa," teriak dokter Aldi membuat Rayana segera berdiri hendak memanggil Willi agar dokter Aldi tenang.
Saat melihat Rayana hendak keluar dokter Aldi semakin panik, ia berlari mengejar Rayana dan membawanya ke dalam pelukannya. Dokter Aldi tampak menangis sembari memeluk Rayana. "Jangan pergi, jangan pergi tetap di sini, kalau kalian pergi aku akan sendiri," guman dokter Aldi, membuat Rayana terkejut.
Sementara di luar saat mendengar tuannya memanggil nama Willi, babysiter yang mengerti keadaan tuannya segera membawa Willi ke kamar tuannya, saat pintu terbuka Willi segera masuk menghamburkan pelukannya ke arah Rayana dan juga dokter Aldi.
Dokter Aldi yang menyadari kehadiran Willi segera melonggarkan pelukannya dari Rayana, kemudian menggendong Willi.
Dokter Aldi membawa Willi menuju tempat tidur sembari menggandeng tangan Rayana, dokter Aldi duduk di sisi tempat tidur sembari memeluk erat tubuh Willi.
Dokter Aldi hanya menggeleng sembari tersenyum. "Willi janji ya ga akan ninggalin papa."
Rayana semakin bingung melihat tingkah dokter Aldi yang sangat aneh, jelas ada yang salah dengan dokter Aldi, ia seperti orang yang ketakutan membuat Rayana semakin yakin sesuatu ada yang salah.
"Ya sudah aku keluar dulu mau ngobrol dengan babysiter Willi," kata Rayana namun dokter Aldi secepat kilat menahannya.
Dokter Aldi menampakkan raut wajah tak suka nya, ketika Rayana akan keluar. Ia masih takut Rayana hanya berbohong dan meninggalkan dirinya.
Rayana hanya bisa pasrah dan duduk di samping dokter Aldi, dokter Aldi segera berbaring sembari memeluk Willi. Willi pun tampaknya sudah menutup matanya kembali untuk tertidur.
Sudah satu jam lamanya Rayana berbaring memandangi dokter Aldi yang berbaring, kini genggaman tangan dokter Aldi melemah, menandakan bahwa dokter Aldi telah terlelap. Rayana pun segera melangkah keluar, meninggalkan dokter Aldi dan Willi yang tengah tertidur.
__ADS_1
Rayana segera mencari babysiter Willi dan berencana menanyakan berbagai hal tentang dokter Aldi, karena menurut Rayana ketakutan dari dokter Aldi sangatlah berlebihan, membuatnya curiga akan keadaan dokter Aldi.
"Mbak," sapa Rayana kepada babysiter Willi ketika duduk di meja makan.
"Iya," babysiter Willi sedikit gugup ia tahu Rayana bukanlah orang yang bo*oh dan lugu, yang tidak akan curiga dengan tingkah berlebihan bosnya.
"Ada apa dengan dokter Aldi? Apa dia mengidap sesuatu sehingga memiliki ketakutan berlebihan," Rayana bertanya langsung pada intinya, ia bukan orang yang suka berbelit belit ketika menanyakan sesuatu hal yang penting menurutnya.
Babysiter Willi meneguk ludah nya kasar, bingung harus menjawab bagaiman, di satu sisi ia takut jika kekurangan bosnya ini, akan membuat Rayana meninggalkan bosnya itu.
"Tenang saja aku bukan orang yang seperti kamu fikirkan, jika bisa aku membantu, aku akan membantunya," kata Rayana meyakinkan, ia dapat melihat kekhawatiran di mata babysiter Willi.
Babysiter Willi menggigit bibirnya tak tahu bagaiman mengatakannya, ia bingung harus bercerita dari mana, ia juga masih ragu untuk berbicara.
Babysiter Willi memandang Rayana dengan lekat, tampak jelas keraguan wanita itu, apalagi saat ini wanita itu tengah meremas tangannya yang berada di bawah meja.
Rayana yang melihat ekspresi babysiter Willi tersebut, segera menghela nafasnya dengan kasar ia sangat mengerti apa yang di khawatirkan wanita tersebut.
"Mba saya janji tidak akan melakukan apa yang mba khawatir kan, tapi mohon bercerita dengan saya," Rayana berusaha meyakinkan wanita yang tengah berada di sebrang meja makan sana. "Apalagi mba tahu kan kalau saya ini adalah calon istrinya."
Tambak wanita itu menarik nafasnya dalam dalam bersiap untuk berbicara. "Sebenarnya tuan sedang sakit."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****Selamat berpuasa teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏****...
...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....