Duda Genit

Duda Genit
S3 (Makan siang)


__ADS_3

lki baru saja keluar dari ruangan Rakara, kebetulan saat Iki keluar waktunya untuk makan siang. Iki tersenyum melihat Aiyla yang baru saja membereskan mejanya, tampaknya Aiyla akan makan siang. Dengan sedikit ragu-ragu Iki mendekati meja Aiyla. Mencoba untuk mengajak Aiyla makan siang bersama.


"Ai udah makan siang?" Iki sedikit berbasa-basi kepada Aiyla, agar lebih mudah mengajak Aiyla.


"Kebetulan belum kak, kakak belum makan siang juga?" Aiyla tersenyum ke arah Iki, mencoba mengontrol perasaannya agar tidak begitu terlihat salah tingkah di depan Iki, karena baru saja ditanyain oleh lelaki pujaan hatinya.


^^^"Aduh jantung cuman diajak makan yang bareng doang kok, tolong kembalikan dirimu. Eh tapi kan belum diajak" Aiyla meremas sedikit berkas yang dipegangnya.^^^


Sidik yang melihat hal itu segera tersenyum, dapat sidik lihat bahwa Aiyla menyukai Iki, begitu pula sebaliknya, Iki juga tampaknya memiliki rasa dengan Aiyla.


"Iya Ai mau makan bareng?" Iki tampak sedikit gugup ketika menanyakan hal tersebut.


"Iya kak?" Ayla benar-benar Salah tingkah saat diajak iki untuk makan siang bersama, yang membuat jantung Aiyla semakin berdegup kencang, karena baru saja mengajaknya untuk makan siang bersama.


"Maksudnya mau atau ga mau?" Iki sedikit kecewa, karena mengira itu adalah penolakan dari Aiyla.


"Mau maksudnya mau kak," Aiyla segera menjawab cepat, takut Iki salah tangkap dengan sikapnya.


Mendengar jawaban dari Aiyla, Iki seperti mendapatkan angin segar, karena Aiyla menerima ajakannya.


"Semangat banget," kata Iki mencoba menyembunyikan perasaan bahagianya.


"Iya ini pertama kalinya," jujur Aiyla mencoba mengendalikan rona merah di pipinya.


"Lah kan kita kan sering makan bareng," kata Iki sedikit bingung, sembari membantu Aiyla membersihkan mejanya.

__ADS_1


"Ga berdua doang tapi, biasanya kita makan bareng yang lain," Iki tersenyum mendengar jawaban Aiyla, membuatnya semakin gemas saja. Saat ini ingin rasanya Iki menarik Aiyla dalam pelukannya, karena sangat merasa gemas dengan tingkah Aiyla.


"Bentar kak Ai mau nyari kunci mobil dulu kak," kata Aiyla segera mencari kunci mobilnya di dalam laci.


"Ya udah ayo, kita barengan aja, nanti kakak antar balik ke sini," kata iki, segera menggandeng tangan Aiyla.


"Iya kak, Ai ngambil tas dulu," Aiyla segera mengambil tasnya yang berada di meja kerjanya.


Mereka segera keluar dengan bergandengan, membuat Sidik tersenyum. Sebenarnya mereka adalah pasangan serasi, Namun Sidik sedikit kasihan dengan bosnya. Karena Sidik pernah mendengar bahwa bosnya ingin dijodohkan dengan Aiyla.


"Aduh bos, sebelum berperang saja sudah punya banyak saingan, mana selangkah lebih maju pula," gumam Sidik kembali mengerjakan berkas.


sesampainya di parkiran, Iki segera membukakan Aiyla pintu mobil. Aiyla sangat senang karena merasa diperlakukan istimewa dengan Iki.


Waktu tempuh dari kantor Aiyla hingga ke restoran hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Iki kembali turun dan membukakan pintu untuk Aliya, mereka turun dengan bergandengan tangan. Tampak seperti sepasang kekasih, yang sangat serasi. Satu tampan dan yang satunya cantik.


"kamu mau makan apa?" Iki tersenyum ketika membaca buku menu tersebut, setahu Iki Aiyla buka tipe wanita yang suka bilang terserah, setiap kali melihat menu makanan atau pun memilih tempat makan.


"Nasi kebuli, sama Ayam bakar madu, minumnya es jeruk hangat," kata Aiyla segera menutup buku menunya.


"Eh maksudnya apa mba?" Pelayan restoran tersebut bingung mendengarkan pesanan terakhir Aiyla yang memang sangat membangongkan.


"Es jeruk hangat," ulang Aiyla dengan dengan wajah polos tanpa dosa. Aiyla seolah tak tahu jika pesanannya benar benar membingungkan.


"Ai dingin atau hangat?" Iki tersenyum sembari menatap Aiyla yang memasang wajah polos dengan pesanannya yang membingungkan. Tak tahukah Iki bahwa dirinya tambah salah tingkah dengan tatapan matanya.

__ADS_1


"Es jeruk hangat," kata Aiyla salah tingkah membuat Iki tersenyum hangat.


"Ai," Iki segera menyentuh tangan Aiyla, membuat Aiyla tersadar dari keterkejutannya.


"Eh maksudnya jeruk hangat," kata Aiyla tersenyum tak enak ke arah pelayan restoran tersebut.


"Ai Ai ada ada aja kamu," Iki mengusap lembut kepala Aiyla.


......................


Sementara itu di kantor, Rakara baru saja keluar dari ruangannya segera memandang ke arah meja kedua anak buahnya. Saat ini Sidik tengah mengerjakan berkas berkas nya, sementara pegawai cerewet nya? Ah sepertinya tidak di tempat.


"Sidik, Aiyla ke mana?" Rakara segera memandang ke arah Sidik, dengan pandangan bingung. Karena tak biasanya pegawainya itu makan siang di luar, bahkan biasanya dia membawa bekal makan siang.


"Makan siang bersama pak Iki pak," Sidik tersenyum ketika mengatakan hal itu.


"Oh," hanya satu kalimat itu yang keluar dari bibir Rakara. Rakara segera berjalan menuju rak cemilan, biasanya Aiyla meletakkan makan siangnya di sana. Lumayan bisa memakan masakan koki di rumah Aiyla. Setelah itu Rakara segera membuka kulkas dan segera mengambil air minum untuk dirinya.


"Kamu makan siang juga gih," seru Rakara sebelum memasuki ruangan nya, dengan mengambil bekal Aiyla dan juga air mineral.


"Tumben," gumam Sidik, sedikit terdengar oleh Rakara namun tak jelas. Rakara segera menghentikan langkahnya dan memandang ke arah Sidik.


"kamu bilang apa?" Rakara tampak mengerutkan dahinya, penasaran dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Sidik.


"Terimakasih atas perhatiannya," bohong Sidik sembari tersenyum canggung.

__ADS_1


"Iya," Rakara segera melangkah kembali ke ruangannya.


__ADS_2