Duda Genit

Duda Genit
S3 (Duda Genit Bin Me*sum)


__ADS_3

Rakara tak kunjung bangun dari atas Aiyla, sontak saja membuat Aiyla hanya berdiam diri, di bawah kukungan Rakara.


"Kakak, kakak ada jadwal rapat kan hari ini?" Aiyla segera mengingatkan Rakara, berharap Rakara segera membebaskannya dari kukungan. Pasalnya sudah lima belas menit mereka tidak beranjak dari posisi yang sama. "Kakak udah lah kak bangun."


"Nanti ya, kakak masih mau gini," kata Rakara kini segera melepas jasnya, yang masih melekat. Rakara kemudian meraih ponselnya, dan menelfon seseorang.


"Halo Sidik, bisa kamu gantikan saya rapat hari ini? Ada sesuatu yang mendesak hari ini," kata Rakara sembari tersenyum ke arah Aiyla. Sontak saja Aiyla melotot di buatnya, bagaimana bos gila nya ini melakukan hal tersebut.


"Kakak minggir Ai mau kerja," kesal Aiyla kembali mendorong tubuh Rakara. Namun Rakara tak bergeming sama sekali. Justru Rakara segera mendekatkan wajahnya ke arah Aiyla.


"Kakak lepaskan tapi kamu harus beri kakak stempel di dada," Rakara berbisik sembari menggigit cuping Aiyla.


"Maksudnya apa? Kak Ai ga bgerti," elak Aiyla berusaha mendorong tubuh berat Rakara.


"Biar kakak ajari," Rakara segera mengecup bibir Aiyla singkat, kemudian memandang wajah Aiyla yang tampaknya sangat kesal kepadanya. Rakara terkekeh. Rakara kemudian diam diam menghidupkan camerannya, kemudian merekam kegiatan mereka.


"Ingat temukan kelemahannya, buat dia menyetujui hubungan kalian," kata kata Daniel terngiang di kepalanya.


Rakara kembali men*cium bibir Aiyla, kemudian me*lu*mat*nya perlahan, meskipun awalnya hal Aiyla memberontak, dan menolak, namun sentuhan Rakara di beberapa titik membuat Aiyla kehilangan kendali. Rakara secara perlahan membuka baju Aiyla perlahan, Rakara menjeda pa*ngu*tan bibir mereka sejenak. Rakara tersenyum melihat wajah memerah Aiyla.


"Buka baju kakak Ai, kalau kita sedang ber*ciu*man," pinta Rakara membuat kewarasan Aiyla kembali, gadis itu menggeleng, otaknya menolak, meski tubuhnya berkata lain.

__ADS_1


Rakara kembali melancarkan aksinya, namun tiba tiba sebuah ketukan di pintu Aiyla mengejutkan mereka, Aiyla tersenyum senang, karena bisa terbebas dari bos me*sumnya. Aiyla terkejut ketika melihat bajunya benar benar sudah terbuka, Aiyla segera berlari ke kamar mandi, sementara Rakara segera mengenakan jasnya, mengambil ponselnya dan membuka pintu kamar Aiyla.


"Tu kan negara api menyerang," gumam Rakara kesal melihat Ahmed.


"Apa lo bilang? Lo ngapain masuk ke kamar Ai? Lo mau mulai penggarapan sebelum waktunya penanaman?" Selidik Ahmed memandang Rakara dengan pandangan curiga.


"Kamu kira Ai sawah apa mau di garap garap segala," protes Rakara, sebenarnya dia baru saja ingin mulai pemanasan, namun ternyata benar pemikirannya bahwa negara api akan menyerang, yang di gambarkan dalam bentuk calon kakak iparnya.


"Nah Lo belum sah, main nyusup aja ke kamar adik gue," kata Ahmed segera masuk ke dalam kamar adiknya. "Kemana tu anak manusia?" tanya Ahmed ketika masuk ke kamar Aiyla.


"Mandi, baru bangun dia," jawab Rakara sekenanya.


"Iya keluar sana," Rakara segera mengusir Ahmed yang tampaknya melenggang ke kamar miliknya.


Rakara segera membereskan tempat tidur Aiyla, dan tersenyum ketika melihat baju Aiyla, uang tadi Aiyla kenakan, yang berhasil ia tanggal kan. "Setelah ini yang lain akan menyusul."


Rakara segera mengeluarkan ponselnya, dan melihat video yang siap untuk ia potong. Rakara pastikan itu dapat membuat Aiyla menyetujui pernikahan mereka di percepat.


Pintu kamar terbuka membuat Aiyla terkejut, dan kembali menutup pintu kamar mandi. "Kak keluar Ai mau pakai baju."


"Iya kamu di suruh turun ke bawah, untuk ketemu Ahmed," kata Rakara kemudian membuka pintu kamar Aiyla.

__ADS_1


Aiyla setelah mendengar pintu kamarnya tertutup segera keluar, dan menghampiri lemarinya untuk berganti pakaian, namun aktifitasnya terhenti ketika merasakan sebuah tangan kekar nan hangat melingkar di perutnya. Aiyla bersiap berteriak, namun saat Aiyla hendak berteriak, Rakara membekap mulut Aiyla.


"Sayang saya mau kita menikah dua Minggu lagi," pinta Rakara, kemudian membuka bekapannya dari mulut Aiyla, Rakara bahkan sedikit mengecup dan menghirup aroma Aiyla dalam dalam.


"Ngomong apaan sih kak," Aiyla mencoba melepaskan dirinya dari Rakara.


"Kalau kamu ga mau ga apa apa kok, nanti saya kirim video ini ke papa Chandra," kata Rakara mengeluarkan ponsel nya, dan memperlihatkan adegan panas dirinya dan Aiyla. Aiyla benar benar terkejut dan menutup mulutnya, mencoba untuk mencerna isi video tersebut.


"Kakak, kakak ngancam Ai?" Aiyla memutar tubuhnya menghadap Rakara. Rakara tersenyum dan mengecup bibir Aiyla.


"Saya cuman mencoba bernegosiasi dengan kamu," kata Rakara segera menyatukan kening mereka.


"Negosiasi apaan, jawabannya cuman satu," kesal Aiyla memandang Rakara dengan sengit.


"Ya karena saya tidak suka penolakan sayang," Rakara segera mengeratkan pelukannya. "Sudah berkali kali kamu membuat junior saya bangun sayang."


"Lah itu kan salah kakak," kesal Aiyla mencoba menjauhkan dirinya dari Rakara, karena merasakan sesuatu yang menjanggal di area perut bawahnya.


"Tapi ini semua karena kamu," jawab Rakara mengecup bibir Aiyla sejenak, mencoba menenangkan yang di bawah. Namun metodenya sepertinya salah, dirinya justru semakin terpancing Rakara segera menuntun tangan Aiyla untuk menyentuh miliknya. "Saya ga tahan Ai, bagaimana ini," kata Rakara saat pa*ngu*tan bibir mereka terlepas. "Saya pinjam kamar mandi kamu sayang."


Akhirnya Rakara masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Aiyla yang memandangnya dengan menggelengkan kepalanya. "Dasar duda genit bin me*sum."

__ADS_1


__ADS_2