
Hari ini jadwal rapat Daniel, Roni dan Wati. Bukan tanpa sebab ini karena Daniel ingin melihat kemajuan hubungan kedua anak buahnya. Daniel yang merasa Roni dan seperti sahabat dan saudaranya, merasa harus tahu tentang kemajuan hubungan Roni dan Wati.
Daniel mengajak Angel untuk melakukan rapat, Daniel mengatakan bahwa, Angel masih tercatat sebagai sekretaris pribadinya. Yah... sesuai perkiraan, itu hanya akal akalan Daniel untuk memanas manasi Roni dan Wati.
Angel setuju setuju saja membuatnya sangat bersemangat, Angel juga ingin menggoda Roni. Angel ingin melihat ekspresi sang gunung es jika bertemu dengan seseorang yang di sukai nya, ah tidak dengan video call.
Angel sejak pagi senyum senyum membuat Melisa sedikit bingung, melihat kelakuan anak menantunya. Bahkan saat mengambil makanan untuk suaminya dan juga mertuanya, Angel selalu memasang senyum manis, membuat Daniel ikut tersenyum.
Melisa yang melihat hal itu, ikut tersenyum. Melisa menyalah artikan senyum mengembang Angel.
"Kenapa sayang? Senyum senyum, permainan Daniel memuaskan ya semalam?" goda Melisa, yang mengartikan salah senyum menantu-nya.
Angel yang mendengar hal itu, sontak terkejut. Angel yang baru saja memasukkan minuman di mulutnya, kini harus keluar lagi, akibat tersedak.
Daniel yang melihat hal itu, sontak kaget dan panik. Daniel segera mengusap punggung Angel.
^^^Dasar ibu anak sama aja pemikirannya. Angel mendengus dalam hati.^^^
"Ibu kalau masalah itu jangan diragukan lagi," kata Daniel membuat Angel semakin salah tingkah.
Angel melototkan matanya ke arah Daniel, membuat Daniel bergidik ngeri, karena sorot mata Angel seolah mengatakan bahwa, Jika kau terus berbicara maka kau tak akan dapat jatah.
Melisa terkekeh melihat ketidak berdayaan anaknya terhadap pelototan Angel, ternyata Angel benar-benar jago dalam membuat Daniel terdiam hanya dengan pelototan-nya.
^^^Lihat saja si budak cinta tersebut, dipelototi saja langsung diam. Melisa seolah bersorak di dalam hatinya, seolah menertawai ketidak berdayaan dari anak semata wayangnya tersebut.^^^
Daniel meneguk ludahnya dengan kasar, kemudian kembali makan dengan diam tidak berani menyahut lagi kata-kata istrinya ataupun kata-kata ibunya. Jika perlu Deniel hanya perlu mengangguk ataupun menjawab sekenanya. Bukannya tak berani, hanya saja keselamatan si kapten akan terpengaruh.
setelah sarapan selesai, mereka bertiga segera menuju ke ruang keluarga. Melisa dan Angel segera menonton televisi, yang merupakan acara gosip. sementara Daniel sibuk dengan laptopnya, sembari mempersiapkan diri untuk melakukan rapat online dengan Roni dan Wati.
"Bu kecilin suara televisinya, saya sebentar lagi ada rapat," pinta Deniel tanpa melepas pandangannya dari arah laptop.
Melisa segera memelototi anaknya dengan kesal, kemudian mengeluarkan dengusan nya sehingga membuat Daniel kembali meneguk ludahnya. "Kamu yang pergi sana orang di sini tempatnya nonton tv bukan rapat," kata Melisa ultimate, sontak membuat hati si Malin Kundang menciut, seolah takut jika harus di kutuk kembali.
Bukannya membantu, Angel justru terkekeh mendengar suaminya dimarahi oleh mertuanya. Jarang-jarang sekali melihat Deniel terdiam hanya dengan sebuah kalimat. Karena biasanya jika dirinya ia harus berdebat panjang dulu dengan Daniel.
^^^Mampus itu azab jika suami suka menggoda istrinya. Angel terkekeh di dalam hatinya. Eh tidak boleh begitu, kalau begini aku tidak akan menjadi istri yang sholehah. Tepis Angel di dalam pikirannya.^^^
"Ya sudah, ayo bee kita ke kamar," ajak Deniel segera menarik tangan istrinya, mau tidak mau Angel harus mengikutinya ke atas.
Melihat hal itu sontak membuat Melisa kesal melihat anaknya. "Dasar suami dan anak tidak tahu diri, bagaimana mungkin kamu menarik menantu ibu naik ke atas," teriak Melisa kesal kepada anaknya.
__ADS_1
Bukannya berhenti, Daniel justru semakin mempercepat langkahnya. "Dada ibu kami pacaran dulu ya," balas Deniel kemudian membuka pintu kamarnya.
"Jangan lupa buat debay untuk ibu," teriak Melisa dari bawah.
"Siap bu, jangan khawatir," kali ini Angel yang menjawab, membuat Daniel terkekeh mendengarnya.
"Cie... mulai ketularan nih," goda Daniel sontak membuat Angel memutar bola matanya dengan malas.
"Kan gurunya kamu," celetuk Angel malas berdebat dengan Deniel.
Daniel mendengar hal itu sontak otak me*sum nya berjalan dengan sempurna, tiba-tiba ide gila muncul begitu saja di antara barisan para ide. Daniel menatap istrinya penuh arti.
Angel sendiri setelah mengatakan hal itu, segera menutup mulutnya. ternyata baru Angel sadari bahwa ia telah mengatakan hal yang salah, iya lupa bahwa suaminya ini adalah seorang pakar me*sum. Angel segera mengalihkan pandangannya kearah Deniel, dan bola mata mereka bertemu. Angel paham betul dengan tatapan penuh arti suaminya itu.
"Ya sudah nanti kita tes lagi ya," kata Daniel dengan nada suara seolah seorang dosen mencoba mengetes ulang mahasiswa nya, tentang pelajaran yang pernah ia ajarkan.
^^^Tu kan bener, pikiran dia ini memang tidak pernah lepas dari hal-hal yang seperti itu. Kesal Angel dalam hati.^^^
"Heh sunit, singkirin pikiran mesum kamu itu, lebih baik kamu mikirin masalah rapat kamu hari ini, kan sebentar lagi kalian bertiga akan rapat," kesal Angel, sembari mengalihkan perhatian suaminya ke arah lain.
"Hehehe, untung ada istriku yang pengertian ini, istri sekaligus sekretaris pribadiku ini sangat pandai," Daniel cengengesan sembari memuji istrinya.
Ah... mungkin sekarang Angel pun sudah mulai terbiasa dengan sistem pikiran Daniel, sehingga Angel pun kini sudah mulai ketularan dalam hal tersebut. Dan ah... itu hanya berlaku jika keluar dari kata-kata Daniel, namun berbeda jika itu keluar dari mulut orang lain.
"Otak kamu jangan mulai ya, sepertinya kamu jauh lebih me*sen dari pada saya bee," kekeh Daniel mengerti dari ekspresi wajah istrinya, Daniel memang hebat, ia dapat membaca isi hati istrinya hanya dari raut wajah yang ditampilkan Angel.
"Is... apa-apaan sih, aku nggak gitu ya," bantah Angel dengan lantang, meskipun wajahnya yang memerah berkata lain.
"Ah... masa? Buktinya wajah kamu mau merah," goda Daniel, sontak membuat wajah Angel semakin memerah.
Daniel sangat puas menggoda Angel, karena ketika melihat Angel malu-malu begitu, Angel semakin terlihat menggemaskan.
Angel membuang wajahnya ke segala arah, tak ingin memperlihatkan wajahnya yang sudah memerah kepada suaminya. "Sunit sudah ya, kamu sebentar lagi harus rapat."
Kata-kata Angel diakhiri dengan berdering-nya ponsel Daniel, sontak membuat Angel mengelus dada. Angel merasa selamat dengan berbunyinya ponsel tersebut.
^^^Sungguh penyelamat jiwa, jadi penasaran siapa sih yang nelpon. kata angel dalam hati, sembari sedikit tersenyum.^^^
"Halo..." kata Deniel ketika ponsel tersebut diangkat. Daniel mengangguk, sembari membuka laptopnya yang saat ini berada di atas atas tempat tidur.
Angel melihat itu, Iya yakin pasti itu dari Roni, yang meminta Deniel untuk segera ikut dalam rapat.
__ADS_1
Daniel segera mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, sembari menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Daniel menepuk bantal di sampingnya, memberi kode agar Angel ikut dengannya.
Angel segera ikut disamping Deniel, sembari memegang alat tulis. Biarpun Daniel ini adalah suaminya, namun ketika sedang rapat Angel harus melakukannya dengan profesional.
seperti kata Daniel yang di awal, rapat ini hanya dihadiri oleh sekretaris Daniel yaitu Roni, dan kepala bagian keuangan yaitu Wati.
Angel tersenyum melihat hal itu, tak sabar rasanya ingin segera meledak si gunung es Roni. Namun karena rapat, Angel tetap harus bersabar hingga rapat tersebut berakhir.
Rapat online berselang lama hingga satu setengah jam, karena yang mereka bahas memanglah sangat penting yang menyangkut perusahaan. Angel sibuk mencatat poin-poin dari rapat mereka, membuat Deniel sedikit menepuk kepala Angel dengan pelan.
"Baiklah, jadi semua laporan sudah selesai ya," kata Daniel tersenyum, membuat Angel segera meletakkan alat tulisnya.
Daniel dengan sengaja menarik Angel ke dalam pelukannya, padahal mereka belum benar-benar menyelesaikan video call tersebut.
Roni memutar bola matanya dengan malas, karena saat ini bosnya benar-benar ingin menunjukkan kemesraan di depannya dan juga Wati. Roni beralih memandang Wati, wanita yang membuatnya menjadi gila, karena selalu saja dihantui dengan rasa cemburu, dan takut kehilangan.
Roni ini baru mengerti dengan tingkah bosnya dulu, saat masih mengejar Angel. Ia seperti menjilat ludahnya sendiri, karena Roni dulu pernah mengamta ngatai bosnya, meski di dalam hati. Karena Roni menikai sikap bosnya yang terlalu melebih-lebihkan segalanya jika menyangkut Angel.
Namun ternyata itulah yang namanya jatuh cinta, merasa memiliki meskipun tidak ada ikatan sebenarnya, merasa takut kehilangan padahal belum memiliki.
Sementara Wati di ujung sana yang melihat tingkah bosnya dan juga Angel, menjadi bersemu merah ketika membayangkan dirinya dan juga Roni seperti itu. Ah... segera ia menggeleng dengan pemikiran tersebut. Meskipun saat ini Roni sangat baik dan perhatian kepadanya, namun ia tak dapat memastikan Apakah Roni mencintainya atau tidak.
Sikap Roni yang selalu berubah-ubah saat bersamanya, membuatnya bingung Apakah Roni benar-benar menyukainya atau hanya karena rasa bersalah.
"Kak Roni mau juga?" goda Angel, sontak membuat lamunan Roni dan Wati buyar.
Untuk urusan beginian, Angel dan Daniel memiliki kesamaan yang sangat haqiqi. Yaitu menggoda anak buahnya Roni yang sangat Thunders. Antara ucapan dan hati selalu berbeda-beda, sehingga terkadang menimbulkan kesalah pahaman.
"Angel, kakak kan singel," kata Roni di ujung sana.
mendengar kata-kata Roni, pikiran cepat Daniel tiba-tiba kembali bekerja. "Wati kamu juga single kan?" tanya Daniel kepada Wati, Sontak membuat Angel terkikik geli.
"I... iya pak ada apa?" tanya Wati di ujung sana dengan wajah yang sedikit salah tingkah, yang sudah bercampur dengan gugup.
"Nah tu kan jomblo, sama jomblo..." Angel seolah sangat bahagia. "Ya udah kita double date aja gimana!"
kedua insan yang memang saling menyukai tersebut terhentak kaget, Roni tahu bahwa Angel memang suka menggodanya, namun tidak se frontal ini. Kini Roni benar-benar malu, sehingga membuat Roni segera menutup sambungan video call-nya tanpa permisi.
Setelah melihat Roni keluar dari forum video call tersebut, Wati juga akhirnya minta izin keluar dan diangguki oleh Daniel. Tapi sebelum Wati benar-benar pergi, Deniel sempat mengatakan sesuatu hal. "Roni itu tipikal tidak bisa berterus terang, percayalah kau sudah mendapatkan hatinya," kata Deniel, diangguki dengan Angel.
Setelah video call benar-benar berakhir, Angel dan Deniel saat ini tertawa terbahak-bahak. Mereka membayangkan bagaimana kesalnya wajah Roni saat ini. Namun tak apalah, mereka melakukan ini karena Roni terlalu suka memendam perasaannya sendiri. Padahal mulutnya terkadang pedas.
__ADS_1