
Aiyla saat ini mengantar sang kekasih untuk ke bandara, Aiyla terus bergelayut manja di lengan Iki, membuat Iki semakin berat meninggalkan kekasih barunya. Entah kenapa rasanya akan sangat lama untuk berpisah dengan Aiyla.
"Kakak hati hati ya di sana," Iki segera memeluk Aiyla, ketika Aiyla mengatakan hal tersebut.
"Iya, kamu juga di sini jangan macam macam," Iki mengecup puncak kepala Aiyla ketika mengatakan hal tersebut.
"Iya," rengek Aiyla sembari menyembunyikan kepalanya di dada bidang Iki. Hal itu semakin membuat Iki mengeratkan pelukannya, dan mengusap lembut punggung Aiyla.
Di sela sela pelukan tersebut, Aiyla tanpa sengaja mendengar suara orang yang cukup familiar di telinganya. Aiyla segera melepaskan pelukannya dan memandang ke arah sumber suara, membuat Iki memandang ke arah pandangan Aiyla.
Ah, ternyata di situ ada Sidik dan Rakara, tampaknya Rakara mengantar Sidik, sembari membicarakan sesuatu yang penting, membuat Aiyla dan Iki segera mendekat.
"Eh kakak ngapain di sini? Nganterin kak Sidik ya?" Aiyla segera bersuara mengejutkan Rakara dan Sidik.
"Emang kenapa? Kamu sendiri ngapain di sini?" Rakara balik bertanya, terlebih melihat Aiyla tengah bersama dengan Iki. Rakara dapat menebak bahwa kini mereka menjalin hubungan yang spesial.
"Ya ngantarin pacar lah, emang kakak ke bandara kok ngantarin asisten, ah jangan jangan dia pacar kakak ya," Aiyla justru menggoda kakak sepupunya itu.
"Enak aja kamu, jangan asal ngomong ya," kesal Rakara. Entah kenapa menghadapi adik sepupunya ini membuat Rakara lebih mudah emosian, padahal sebelumnya Rakara bukanlah orang yang dengan mudah memperlihatkan emosinya, dan lebih memilih bersikap biasa saja cendrung dingin.
"Ye salah kakak sendiri," Aiyla memutar bola matanya melas. Iki hanya mengusap pundak Aiyla mencoba membuat Aiyla tenang. Iki faham betul sifat Aiyla yang suka menjahili orang, dan menggoda orang yang gampang tersulut emosi. Sementara Rakara? Menurut Iki Rakara itu adalah orang yang tak suka di singgung. Meskipun Iki tahu Rakara tak akan melakukan sesuatu terhadap Aiyla, karena Aiyla merupakan sepupu Rakara, meskipun hanya sepupu jauh.
__ADS_1
"Pak Raka nanti tolong jaga Ai ya, dia aga ceroboh soalnya," pinta Iki membuat Aiyla memandang Iki dengan pandangan tak suka. Menitipkan nya kepada Rakara? Itu bukan lah ide yang bagus, Rakara adalah salah satu manusia yang suka memerintah, dan mengatur dirinya. Sementara Aiyla merupakan orang yang tak suka menuruti sebuah aturan.
"Kakak kok ngomong gitu?" Aiyla cemberut ke arah Iki, membuat mencubit pipi Aiyla dengan gemas.
"Engga biar ada yang jagain kamu aja, kakak kan bisa tenang di sana," Iki kini mengatakan hal tersebut sembari mengusap lembut pipi Aiyla.
Ah, nasib orang jomblo, hanya menjadi penonton untuk adegan uwuw bagi Aiyla dan Iki. Diam diam Sidik melirik bosnya, ada sedikit pandangan tidak suka melihat adegan uwuw tersebut, entah mungkin karena malas melihatnya, atau karena apa, hanya Rakara yang tahu alasannya.
"Nah dengerin tuh omongan pacar," kata Rakara mengejek Aiyla.
"Apaan sih kak, ngomong sama kakak juga engga," kesal Aiyla memandang Rakara yang suka sekali menyela kata kata orang.
"Bodo amat," kesal Aiyla memandang sinis ke arah Rakara.
"Balik dari sini langsung pulang ya," Iki mengalihkan pertengkaran mereka, dengan mengusap lembut pundak Aiyla.
"Ok bos," Aiyla berkata dengan semangat, membuat Rakara berdecak kesal.
"Di gaji berapa?" Rakara bertanya dengan sinis.
Sidik menggeleng melihat tingkah bosnya yang aneh, mau mau saja bosnya itu mengurus urusan orang lain. Biasanya juga cuek bebek dengan urusan orang lain.
__ADS_1
"Dengan cinta," kesal Aiyla sembari berdecak kesal, Rakara selalu menyela momen kebersamaan dari dirinya dan juga Iki. "Makanya punya pacar baru ga ngiri ngeliat orang pacaran."
"Ai, jangan gitu sayang, dia juga kakak sepupu kamu," nasihat Iki, tersenyum canggung kepada Rakara, mereka memang tampak tidak
"Iya jauuuuuh banget," kata Aiyla, sembari merentangkan tangannya, memberikan isyarat bahawa hubungan mereka benar benar jauh.
"Iya, tapi dengerin kata dia, kakak nitipin kamu dengan dia loh," nasihat Iki, mengusap kepala Aiyla dengan lembut.
"Ga ah, bukannya dia jagain, tapi ngasih banyak kerjaan," adu Aiyla cemberut memandang Rakara.
"Ya iyalah, sesuai porsi jabatan kamu Ai," kesal Rakara karena terus di salahkan oleh Aiyla. "Kalau ga mau gitu, ya sudah ga usah jadi sekertaris, jadi ob aja."
"Tu kan dia nyebelin," Aiyla kembali mengadu sontak membuat Iki tersenyum lucu.
Tak lama kemudian pangumuman dari Jakarta ke Bandung terdengar membuat Iki dan Sidik harus segera berangkat.
"Kakak pamit dulu ya, jaga diri baik baik, pak Raka saya titip Ai ya," ucap Iki sembari mengecup puncak kepala Aiyla.
"Iya tenang aja," ucap Rakara tersenyum.
"Hati hati kak," Aiyla melambaikan tangannya ke arah Iki dan Sidik.
__ADS_1