
Hari ini adalah hari kepulangan Angel dan Daniel, mereka saat ini telah berada di bandara. Angel dan Daniel tak henti hentinya saling berpegangan tangan, mereka tampak begitu serasi. Hingga beberapa mata melirik ke arah Angel dan juga Daniel.
"Sayang kamu tunggu di sini dulu ya, ada telfon," kata Daniel ketika ponselnya berdering.
Angel hanya mengangguk sembari tersenyum, Angel memilih memainkan ipod Daniel, hanya untuk sekedar menonton YouTube atau mendengarkan musik. Beberapa laki laki memandang Angel dengan tatapan memuja, sembari tersenyum ke arah Angel. Angel yang tengaja melihat hal itu, membalas senyuman mereka.
Daniel yang melihat hal itu segera mendekati Angel, dan menutup wajah Angel dengan telapak tangannya. "Ga usah di balas senyum laki laki centil seperti mereka sayang," kesal Daniel, membuat Angel cekikikan.
Daniel mendudukkan kembali pantatnya di samping Angel, kemudian menarik Angel, dan menyembunyikan wajah Angel. "Wajahmu terlalu mencolok."
...****************...
Setalah sekian lama di dalam pesawat, akhirnya Angel dan Daniel sudah sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Mereka telah di jemput oleh supir Daniel, untuk mengantarkan mereka ke ke rumah. Pertama Daniel mengantar Angel ke rumahnya, sembari memeluk erat Angel.
Setelah sampai di rumah Angel, Daniel memeluk Angel dengan erat, kemudian mengecup kening, mata, pipi, dagu, dan terakhir bibi. Daniel tahu calon mertuanya saat ini berada di kediaman Pradana, Karena semalam Aska telah menghubungi nya, bahwa mereka telah kembali, dan telah sampai di rumah besar keluarga Pradana.
"Sayang nanti siang saya datang untuk menemui Daddy kamu," kata Daniel sembari tersenyum ke arah Angel.
Angel tersenyum, namun juga khawatir. "Kamu ga capek?"
"Tidak sayang, nanti kamu langsung istirahat ya, nanti siang dandan yang cantik, kalau saya sudah mau pergi saya hubungi kamu," jelas Daniel. "Oh ya jangan lupa charger ponsel kamu."
Angel mengangguk, kemudian membiarkan kekasihnya turun. Ya sekarang ia resmi menjadi kekasih, sekaligus calon suami Angel, yang telah Angel terima.
Daniel rasanya masih ingin berada di dekat kekasih barunya, yang telah lama ia harapkan. Namun apa daya, keluarga sang kekasih telah datang, dan pastinya akan melarangnya. Apalagi setelah foto yang ia kirimkan kepada Aska, namun hanya itu yang mampu membuatnya mempercepat pernikahan.
Daniel terus memandang punggung sang kekasih, hingga akhirnya punggung Angel tak terlihat lagi, setelah pagar tertutup.
Angel yang tak tahu perbuatan Daniel, masuk ke dalam rumah dengan santai. Angel juga tak mengetahui jika keluarganya telah kembali, untung saja saat itu Aldo dan Denny tengah ke kantor. Jika mereka ada, mungkin saja Angel akan menerima sidang dadak, seperti habis tertangkap basah mencuri ayam kampung yang ada di kandang tetangga.
Angel masuk sembari menarik kopernya, Angel terkejut melihat Aska berdiri di depan ruang tamu, seolah menunggu Angel.
"Aska..." seru Angel kegirangan, semabari berlari memeluk Aska.
"Hy by..." sapa Aska, menerima pelukan dari Angel. Aska tak menyangka adik kesayangannya tak lama lagi akan menjadi istri orang. "Ayo ke kamar," kata Aska menuntun Angel, sembari membawakan koper Angel.
Angel memegang pundak Aska dengan manja, Aska hanya memandang Angel dengan seksama. Ya seperti dugaan Aska, sepertinya Angel tidak tahu perbuatan calon suaminya itu. Bahkan mungkin Angel tidak tahu kalau Daniel, ingin menikahi Angel dalam waktu dekat ini.
"Lo istirahat dulu by, nanti siang baru gue bangunin," kata Aska meletakkan koper Angel di depan lemari, sementara Angel bersiap untuk masuk kamar mandi. "Jangan keluar kemana mana, tutup pintu, dan tidur pakai handsfree."
Angel hanya mangut mangut, mungkin mereka akan sibuk, karena setahu Angel nanti siang Daniel akan datang. Mungkin Aska tak ingin tidurnya terganggu, itu yang di pikiran Angel.
__ADS_1
Setelah Angel selesai mandi Angel segera mengunci kamarnya, kemudian tidur dengan menggunakan handsfree, sesuai dengan saran Daniel.
...****************...
Daniel saat ini tengah bersiap siap untuk pergi ke kediaman Pradana bersama ibunya. Sementara Melisa saat ini tengah berdandan secantik mungkin, karena akan mengantarkan putra tunggalnya untuk menemui calon besannya.
Daniel dan Melisa menaiki mobil yang akan di laju kan ke rumah keluarga besar Pradana. Di sepanjang perjalanan, Daniel sudah siap dengan seluruh arah dari calon mertuanya. Sebenarnya bukan itu yang ia takutkan, Dankel mencemaskan keadaan Angel. Daniel takut justru kekasih nya lah yang mendapatkan amarah dari calon mertua. Akibat dari sikap nekatnya.
Belum lagi sejak tadi Daniel mencoba menelfon Angel, namun justru tak aktif. Daniel semakin di buat cemas, atau mungkin Angel telah mengatakan yang sebenarnya, yang berakibat Daniel tak di restui oleh Aldo.
Ah apapun itu, tapi Daniel telah bertekad untuk menikah dengan Angel secepatnya. Meski harus menurunkan harga dirinya, maupun menggunakan cara yang licik, Daniel akan tetap melakukannya.
"Semua akan baik baik saja," kata Melisa mencoba menenangkan putranya.
"Hm terimakasih ibu," kata Daniel.
Daniel kemudian memandang ibunya, dan memegang tangan ibunya. "Ibu apapun yang terjadi nanti jangan ikut campur, biarlah saya yang menyelesaikannya."
Melisa mengangguk mendengarkan penuturan Daniel, sebenarnya Melisa bingung dengan maksud anaknya. Namun Melisa akan menuruti keinginan anaknya, meski sebenarnya perasaannya tidak enak.
Sesampainya di depan kediaman Pradana, jantung Daniel semakin memacu lebih kencang, baru pertama kali ia merasa segugup ini.
Daniel memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Pradana. Tak lama kemudian Aska membuka pintu, dan mempersilahkan Daniel untuk masuk.
Saat masuk ke dalam Aldo dan Denny sudah berada di tempat, mereka tampak tak sabar ingin menghajar Daniel.
Tania yang menghadiri pesta tersebut, segera meminta Melisa untuk ikut dengannya, ke dapur, dan menjelaskan situasi yang sebenarnya.
Sementara Daniel, tengah duduk di hadapan Aldo dan Denny. Daniel tampak tengah menunduk tak tahu harus berkata apa. Sementara Brian dan Aska tengah bersiap, jikalau Daniel di keroyok oleh kedua Aldo dan Denny.
Aldo maju pertama untuk melihat Daniel, dan menghadiahkan bogem mentah di perut Daniel. Emosinya tak dapat ia tahan lagi rasanya, sudah cukup ia menahan amarah, kini sudah harus ia tumpahkan.
"Maaf Dad..." ucap Daniel, membuat Aska dan juga Brian menggeleng, bagaiman tidak Daniel tetap berseikekeh dengan aktingnya.
"Kamu itu, berani sekali menodai anak saya..." teriak Aldo dengan nafas yang memburu, mencoba kembali mengontrol emosinya. Untung saja dirinya tidak memiliki penyakit riwayat sakit jantung.
"Maaf dad... saya datang ke sini berniat untuk melamar Angel," kata Daniel tetap mempertahankan aktingnya, sembari mengusap perut yang benar benar sakit itu.
"Bang sabar," kata Denny mencoba menenangkan Aldo, yang saat ini tengah emosi.
"Jadi kapan kamu akan menikahi Angel, apa Angel sudah mengandung?" tanya Denny mencoba untuk sesabar mungkin mencoba tak terpancing emosi.
__ADS_1
"Kalau bisa akhir bulan ini saya siap Pi," kata Daniel menyanggupi untuk menikahi Angel akhir bulan ini, yang artinya itu dua minggu lagi.
"Baikalah, kami akan menikahkan kalian," kesal Aldo masih dengan emosi yang meluap luap, namun tetap mencoba berfikir logis.
"Baik Dad, saya mohon Daddy tidak mencabut kata kata Daddy," kata Daniel tertunduk, dengan sedikit senyuman samar.
Tiba tiba Angel turun dari tangga, dan melihat Daniel yang tengah duduk di hadapan Daddy dan juga Papinya.
"Ada apa?" tanya Angel bingung, mebuat pandangan yang lain teralihkan ke arah Angel, yang baru saja turun dari lantai dua.
Daniel bernafas lega, karena melihat Angel baik baik saja, bahkan terkesan tidak tahu apa apa. Daniel tersenyum ke arah Angel, membuat Angel semakin bingung.
"Dua minggu lagi kalian akan menikah," ketus Aldo tak ingin memandang putrinya, ia telah kecewa dan terlah gagal pula menjaga putrinya.
"Hah cepat banget," tanya Angel semakin bingung.
"Sini sayang," kata Denny tersenyum ke arah Angel, membuat Angel mendekati Denny.
Angel berdiri di samping Denny, sembari tersenyum dan mengusap perut Angel. "Papi akan menjadi kakek ya?" kata Denny sembari tersenyum.
"Ya iyalah, kan kak Laura sebentar lagi melahirkan," kata Angel bingung. "Lagian ngapain coba papi ngusap perut Angel? Emang Angel hamil?" tanya Angel.
"Iya kamu hamil, lalu apa lagi? Sudah berapa lama kamu berhubungan badan dengan laki laki bere*ngsek itu?" tanya Aldo kesal.
"Maksud Daddy apa ngomong gitu? Angel bahkan belum ngapa ngapain," kata Angel dengan mata yang berkaca kaca.
"Lalu ini apa?" kesal Aldo, tak lagi sanggup memandang wajah putihnya.
"Dunit jelasin..." teriak Angel, segera masuk ke dalam kamar.
Angel benar benar terkejut dengan tuduhan tersebut, Angel memang pernah hampir kebablasan saat bermalam dengan Daniel, namun tak sampai melakukan hal lain.
"Jadi begini dad..._" Daniel menceritaka semua kejadian yang sesungguhnya. "Tapi Daddy sudah janji, jadi tetap harus di pegang janjinya."
Denny kali ini maju dan menghadiahkan bogem mentah di pipi Daniel, karena merasa tertipu dengan ulah Daniel. Namun Daniel tampak tak menghiraukan nya.
"Ya kau menang sekarang, dan temui lah Angel yang pasti sedang menangis," kata Denny segera duduk di samping abangnya.
"Nih..." kata Aska menyodorkan kota p3k kepada Daniel.
"Thanks," kata Daniel sembari mengambil obat tersebut, kemudian melangkah kan kaki ke kamar Angel.
__ADS_1