Duda Genit

Duda Genit
Pindah Rumah


__ADS_3

Angel dan Daniel kini telah pulang dari hotel, mereka langsung saja ke rumah baru mereka. Rumah mereka tak terlalu jauh dari rumah besar keluarga Pradana. Mereka memilih hunian yang berkonsep minimalis, namun tetap elegan.


Saat Angel melihat rumah baru mereka, Angel tampak bersemangat. Sungguh Daniel benar benar tahu yang di inginkan dirinya. Hunian yang minimalis dan elegan. Angel segera memeluk Daniel, apalagi setelah mereka turun dari mobil, tampaklah halaman yang luas, dan teras yang tampak elegan. Angel memang kurang suka dengan hal yang terlalu mewah. Simple dan elegan itu lebih baik menurut Angel.


Sejak memasuki rumah mereka Angel terlihat bahagia, tampak sejak tadi semangat membereskan barang barangnya. Daniel terpaksa ikut membantu Angel, takut istrinya kelelahan.


"Sayang jangan sampai kelelahan ya," kata Daniel penuh perhatian.


Angel mengangguk kemudian kembali lagi mengatur perabotan mereka. Daniel tersenyum melihat itu, kemudian segera mengangkat koper mereka ke lantai dua, tempat di mana kamar mereka berada.


Setelah sekian lama akhirnya Angel segera beristirahat, Angel segera naik ke kamar mereka.


"Bik tolong bawain minuman ke atas ya," kata Angel sembari melangkah ke lantai dua.


"Iya non," terdengar sahutan dari pembantu rumah tangga mereka.


Angel segera masuk dan membongkar isi kopernya, Angel mengambil satu baju untuknya. Setelah itu Angel segera masuk ke Kamar mandi.


Setelah tiga puluh menit Angel telah menyelesaikan mandinya, Angel pun segera keluar kamar mandi, dengan mengenakan baju yang lengkap. Ternyata di dalam kamar sudah terdapat air minum yang di pesan Angel. Angel segera menengak minuman tersebut hingga tandas.


Daniel tersenyum melihat Angel yang tengah minum, Daniel segera memeluk Angel dari belakang. Angel terkejut namun sudan bisa menebak bahwa itu adalah Daniel.


"Dasar sunit," kekeh Angel, Daniel kembali merngeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Kamu itu lama banget sih," kata Daniel sembari mengecup kepala Angel.


"Ya kan bantuin bibik, kasian sendirian nanti kecapean," terang Angel.


"Kasian tapi di suruh ngantar minuman juga," ejek Daniel, membuat Angel cengengesan.


"Udah ah... mau rapiin baju dulu di lemari," kata Angel mengalikan Pembicaraan.


Mendengar kan penuturan Angel, Daniel segera melepas pelukannya. Agel segera mengambil koper mereka, Angel segera meletakkan dan menyusun baju baju mereka di lemari.


Setelah itu Angel segera merebahkan badannya di tempat tidur. Daniel ikut merebahkan badannya di tempat tidur. Daniel segera memeluk Angel.


"Sayang kenapa sih kamu ga mau yang mewah, atau yang besar gitu? Kan lebih luas," tanya Daniel sembari memandang wajah cantik istrinya.


"Wah sayang ternyata kamu bijaksana ya... ga nyesal saya nikah sama kamu," kata Daniel menggoda sekaligus memuji Angel.


"Bukan bijaksana tapi logis, masa ia cuman dihuni dua orang tapi besar kayak istana," kata Angel tersenyum kepada Daniel. "Lagian kalau besar nanti seperti di film horor," kekeh Angel.


Daniel ikut terkeker mendengar penuturan Angel. "Ternyata kamu takut hantu ya?" goda Daniel membuat Angel menggeleng.


"Engga kok, aku berani," kata Angel sewot tak terima di bilang penakut. Meski pun sebenarnya memang penakut.


"Benarkah? kalau begitu mari kita nonton film horror," ajak Daniel, sontak membuat Angel cemberut.

__ADS_1


"Ngapain sih, ga perlu gitu juga kali," kata Angel mencoba mengelak.


Daniel masih ingat betul kemarin, saat Aska dan Al bercerita tentang Angel, yang pernah nonton film horor bersama dengan mereka. Angel bahkan takut untuk tidur sendirian, bahkan meminta Aska untuk menemaninya tidur. Mereka bahkan mencerita kan Angel yang tak berani menutup matanya, saat tengah mencuci wajah. Padahal jelas jelas akan perih jika sabun terkena mata.


"Alah bilang aja takut," Daniel sengaja menantang Angel, sembari terus menggoda Angel


"Engga ngapain takut itu cuman cerita kok, ga mungkin beneran," Angel terus berusaha membela diri.


"Kalau gitu ayo..." kata Daniel ingin memancing reaksi Angel.


Benar saja Angel terlihat sedikit pacat, karena ketakutan. Namun sekuat tenaga Anggel berusaha menyembunyi kannya. Membuat Daniel semakin senang menggoda Angel.


Akhirnya Daniel memutar film tersebut, membuat Angel bergidik ngeri. Daniel segera berbaring di tempat tidur, di samping Angel.


Angel segera berlindung di balik selimut, dan memeluk Daniel dengan erat. Ya sama seperti dulu, saat mereka menonton film horror. Namun Daniel tak pernah menyangka jika sebegitu takunya Angel. Pantas saja saat itu Angel selalu memeluk erat Daniel, dan menyelimuti dirinya hingga ke leher.


"Sunit temenin ke kamar mandi dong," pinta Angel, ketika tiba tiba ia ingin buang air kecil.


"Katanya berani?" goda Daniel membuat Angel memukul lengan Daniel. "Iya, iya, saya temani."


Daniel terkekeh sembari mengantar Angel ke kamar mandi, saat di kamar mandi otak jahil Daniel timbul. Daniel segera mematika lampu, membuat Angel berberiak kelakutan.


"Suuuniiitt... awas ya ga ku kasi jatah malam ini," ancam Angel, membuat Daniel segera menghidupkan lampu kembali, karena takut tak dapat jatah.

__ADS_1


Dan... benar saja malam ini Daniel benar benar tak mendapatkan jatah. Daniel mengeluh, dan menggerutuki kebodohannya. Namun maskipun marah Angel tetap memeluk Daniel, Karena takut. Ya Daniel akui ia tetap harus bersyakur, setidaknya ia tak mendapatkan punggung malam ini.


__ADS_2