
"Bee selamat, kamu hamil loh, ini anak pertama kita," kata Daniel semabari tersenyum bahagia ke arah Angel yang masih terpejam. "Bee bangun dong, jangan buat khawatir."
Daniel kembali lagi mengusap kepala Angel, kemudian mengecup kelapa Angel. Daniel lalu segera berdiri dan mengambil ponselnya sembari menelfon mertuanya. Untuk menyampaikan beritanya bahagia ini, sembari menunggu Angel sadar.
"Halo Dad..." sapa Daniel ketika ponselnya di angkat oleh orang yang di sebrang.
"Halo juga nak," sapa Aldo dari sebrang sana.
"Dad, Angel hamil dad, Alhamdulillah Daniel bentar lagi jadi seorang ayah," seru Daniel dengan semangat, membuat orang yang di seberang sana bersorak bahagia.
"Alhamdulillah nak, bisa ga Daddy video call sekarang, sayang banget ga bisa balik sekarang, soalnya semua lagi lockdown," seru Aldo tak kalah bahagia, namun dari nada suaranya juga tersirat nada penyesalan. Karena di saat kehamilan pertama anak bungsunya, ia tak dapat mengunjungi anaknya, di karenakan keadaan yang memaksa. Seandainya saat ini tidak terjadi penyebaran virus, ataupun lockdown besar besaran, sudah di pastikan Aldo akan segera terbang ke Indonesia, saat mendengarkan berita bahagia tersebut.
"Iya dad ga apa apa, Daddy doakan aja dari Belanda," kata Daniel mengerti keadaan Daddy mertuanya, Daniel tak ingin menampakkan nada menyesalnya, karena jelas ia tahu betapa sayangnya ayah mertuanya itu kepada putri bungsunya. Tapi apa mau di kata takdir berkata lain, keadaan memaksa mereka untuk tak bisa saling bertemu.
"Tapi yah maaf, Angel nya lagi tidur sekarang, nanti kalau sudah bangun, kita video call an deh," lanjut Daniel karena ia tak mungkin menyampaikan keadaan Angel saat ini, pasti akan membuat mertuanya itu sangat khawatir. Dan mungkin akan lebih khawatir lagi, karena saat ini ayah mertuanya tak dapat ke Indonesia. Pasti itu sangat menyiksa bagi seluruh orang tua, meskipun anaknya sudah menikah dan menjadi tanggungan orang lain.
"Ya sudah, nanti jangan lupa loh, Daddy mau sampaikan dulu ke papinya Angel ya di Australia," kata ada kemudian menutup sambungan teleponnya.
Daniel kembali meletakkan kembali ponselnya, lalu mengecup puncak kepala Angel dengan menitihkan air matanya, Daniel begitu bahagia, namun merasa khawatir dan prihatin dalam waktu yang bersamaan. Daniel sadar bagaimana pun Angel saat ini pasti butuh Daddy dan saudaranya di kehamilan pertamanya. Daniel kemudian naik ke samping Angel untuk memeluk Angel, berharap Angel akan terbangun.
Setelah sekian lama Daniel memeluk Angel akhirnya Daniel terlelap sembari memeluk tubuh Angel.
Sementara di bawah, Melisa memerintahkan para anak maid dan satpam untuk, melarang Vania masuk ke rumah mereka dengan alasan apapun. Setalah itu Melisa segera menuju ke kamar anaknya dan juga menantunya, sesampainya di kamar tersebut Melisa melihat anaknya, sedang tertidur sembari memeluk Angel. Melisa tersenyum kemudian kembali menutup kamar tersebut.
Bagaiman pun Melisa tak ingin kejadian seperti tadi terjadi lagi, Melisa tak ingin terjadi apa apa terhadap menantunya maupun cucunya. Melisa tak ingin melihat menantunya sedih, terlebih lagi anaknya sendiri. Karena itu Melisa berfikir dengan tidak di perbolehkannya Vania masuk ke kediaman mereka, maka menantunya dan calon cucu nya akan aman.
__ADS_1
Melisa kemudian mengingat perkataan dokter, agar menantunya makan lebih banyak makan bergizi. "Ayo beli beberapa buah buah untuk Angel," perintah Melisa membuat para maid mengangguk mengerti.
Sementara itu Angel sedikit terkejut karena berada di dalam kamarnya, seingatnya terakhir kali berada di ruang makan. Angel juga terakhir kali melihat wajah Daniel yang panik. Angel kemudian menyadari sebuah tangan kokoh tengah memeluknya dengan erat. Di lihat nya sang pelaku, yang ternyata adalah Daniel.
"Sunit... bangun..." kata Angel dengan suara yang melemah.
Daniel samar samar mendengar suara Angel, yang hanya seperti suara sayup. Daniel kembali terlelap.
"Sunit... bangun," sekali lagi Angel memanggil Daniel dengan suara yang sangat sayup, karena badannya masih lemah, dan tenggorokan nya terasa kering. "Sunit... bangun."
Setelah mendengar beberapa kali panggilan dari Angel, membuat Daniel sedikit mengenyit, kemudian membuka matanya dengan perlahan. Saat matanya terbuka dengan sempurna, Daniel begitu bahagia mendapati istrinya yang tengah memandanginya, dengan pandangan yang begitu sayu. Daniel segera mengusap wajah istrinya, yang masih terlihat begitu pucat dan lemah.
Daniel bangkit dari tidurnya, kemudian duduk memandangi wajah Angel dengan seksama. "Bee akhirnya kamu sadar," kata Daniel mengecup seluruh wajah Angel.
"Aku kenapa Sunit?" tanya Angel bingung, masih dengan suara yang sangat lemah.
Daniel tahu betul bahwa Angel saat ini masih belum terlalu sadar, namun ia juga merasa harus menyampaikan berita bahagia ini.
"Hamil..." beo Angel masih belum sadar sepenuhnya.
"Iya bee, bentar lagi kita jadi orang tua..." Daniel mengusap kepala Angel dengan lembut, sembari mengecup kembali kepada Angel.
"Kita? Orang tua? Maksudnya?" Angel masih terlihat bingung dengan semua yang Daniel tuturkan.
Melihat Angel yang belum sepenuhnya sadar, Daniel segera berinisiatif untuk mengambil air putih untuk Angel. "Bee ini kamu minum dulu deh," kata Daniel menyodorkan air putih.
__ADS_1
Angel hanya mengangguk, sembari menyambut air minum tersebut, dan meneguknya hingga tandas.
"Bee ada sakit tidak di bagian perut?" tanya Daniel sembari mengusap perut Angel dengan lembut. Daniel terlihat begitu perhatian dan juga khawatir terhadapnya, secara bersamaan.
"Engga sunit, ga ada yang sakit," kata Angel sembari tersenyum kearah suaminya.
Daniel kembali lagi mengusap perut Angel, kemudian membungkuk untuk mengecup Angel. "Cepat tumbuh ya sayang, Ayah ga sabar buat lihat kamu," kata Deniel seolah sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dalam perut Angel.
"Sunit kenapa?" Angel masih bingung.
"Bee kamu hamil, kita sebentar lagi akan menjadi orang tua," seru Daniel untuk yang kesekian kalinya kepada Angel, membuat Angel menganga tak percaya.
Angel yang mendengar hal itu matanya berkaca-kaca, menandakan ia sangat bahagia saat ini. Angel bahkan menitikkan air matanya, sembari mengusap perutnya sendiri.
"Sunit kamu ga bercanda kan?" tanya Angel memandang wajah suaminya dengan haru.
"Iya bee, makasih ya," kata Daniel sembari membawa Angel ke dalam pelukannya. "Bee sayang, terimakasih telah hadir di dalam kehidupanku, terimakasih telah hadir atas ini," kata denil mengusap perut istrinya.
Angel tak mampu berkata-kata, Angel hanya menangis sembari membalas pelukan Daniel. "Makasih Sunit," hanya kata itu yang mampu di keluarkan Angel, menandakan bahwa ia saat ini sangat bahagia.
"Bee I love you," seru Daniel, kemudian melonggarkan pelukan mereka. Daniel kemudian mengecup kepala Angel, kemudian turun ke bibir Angel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
__ADS_1
...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....