Duda Genit

Duda Genit
S3 (Saya Akan Selalu Buat Kamu Bahagia)


__ADS_3

"Ai Iki kecelakaan, dan tak dapat di selamat kan," bisik Ahmed memeluk Aiyla dengan erat, Ahmed jelas tahu bahwa adiknya ini menjalin kasih dengan sahabatnya itu, namun apa daya takdir berkata lain.


Aiyla terkejut, air matanya tak dapat tertahan, Chandra dan Aliya bingung memandang kedua anak mereka, tampaknya ada sesuatu yang terjadi, hingga Aiyla menangis di pelukan Ahmed. "Sekarang kita ke rumah keluarga ya, tadi subuh dia sudah di antar ke rumah duka."


Aiyla hanya tertunduk mengangguk. Add segera mendudukkan Aiyla di kursi, sembari memberinya air putih. Aiyla meraihnya dan meneguknya sedikit, rasanya sangat sulit untuk meminumnya.


"Kenapa?" Chandra penasaran memandang Ahmed secara seksama.


"Iki kecelakaan mah," jawab Ahmed sendu, semakin membuat air mata Aiyla mengalir deras.


"Mah kami berangkat dulu," ucap Aiyla sembari menyalami kedua orang tuanya.


"Tunggu mama sama papa ikut," ucap Aliya segera menggandeng tangan Chandra segera ke kamar.


......................


Mereka saat ini telah sampai di rumah duka, membuat Aiyla semakin menangis. Ahmed memeluk Aiyla dengan erat memberi adiknya kekuatan. Chandra dan Aliya segera mendekat ke arah keluarga Iki, untuk memberikan bela sungkawa, karena mereka cukup dekat dengan Iki.


Rakara yang melihat kedatangan Aiyla dan Ahmed segera mendekat, Rakara dapat melihat betapa terpukulnya Aiyla, ketika sampai di rumah duka. Rakara juga tak tega melihat wajah yang selama ini ceria, mata yang selam ini berbinar tiba tiba mengeluarkan air mata kesedihan.


Sesampainya di pemakaman Aiyla dan Ahmed, berdiri di samping orang tua dan saudara kandung Iki. Aiyla tak henti hentinya menitikan air matanya, dengan di dekap oleh Ahmed. Setelah pemakaman Aiyla segera di bawa pulang oleh Ahmed dan kedua orang tuanya. Rakara ikut bersamaan dengan Ahmed, sementara Sidik tampaknya tidak datang karena harus kembali melakukan perjalanan, untuk mewakili tuannya.


Rakara mendekati Aiyla ingin menyampaikan sebuah amanah dari Iki, yang di sampaikan melalui Sidik. Rakara mengikuti Aiyla hingga ke kamar. Rakara segera memeluk Aiyla, sembari mengusap lembut punggung Aiyla.


"Sabar ya, ini sudah jalannya," bisik Rakara, entah kenapa hatinya tak tega melihat wajah Aiyla yang berlinangan air mata. Entah dorongan dari mana Rakara mengecup kepala Aiyla, mencoba menenangkan Aiyla.


Karena terlalu lelah menangis, Aiyla tertidur di dalam pelukan Rakara, membuat Rakara menghela nafas kasar. Tak lama kemudian Ahmed yang baru saja kembali dari kantor karena harus mengurus berkas penting, bersamaan dengan Chandra. Akhirnya kembali, dengan Aliya yang datang dengan membawakan Aiyla air dan nasi goreng, karena Aiyla tadi pagi hanya minum air putih saja, itu pun tak sampai satu per empat.


"Raka udah tidur ya?" Aliya tiba tiba muncul dengan membawa nampan.


"Iya baru aja tan," jawab Rakara, mencoba melepaskan pelukan Aiyla dari perutnya, namun hasilnya nihil, bahkan sekarang pelukan itu semakin mengerat, membuat Rakara tak tega jika melepasnya dengan paksa.


"Erat banget ya pelukannya?" tanya Aliya membuat Rakara mengangguk. "Ai emang gitu orangnya, dulu dia punya sahabat, tapi harus meninggal melawan kangker, Ai sangat sedih hingga setiap malam akan mengigau memanggil nama temannya."

__ADS_1


Rakara hanya mengangguk mendengarkan penuturan Aliya yang memandang putrinya, yang tengah tertidur di pelukan Rakara. "Ai orangnya kalau sudah sayang sama orang, dia pasti akan sayang banget," jelas Aliya kembali. "Sebenarnya tante sedikit terkejut ketika mendengar Ai jadian sama Iki, selama ini tante sama bunda kamu berencana untuk menjodohkan kalian. Tapi kalau kalian tak cocok satu sama lain maka kami tak akan memaksa."


"Mah Ai nya gimana?" Ahmed tiba tiba muncul dari balik pintu.


"Ketiduran," jawab Aliya.


"Bro lo ga apa apa kan? Sorry ya adik gue ketiduran, kalau lo mau ke kantor, ga apa apa kok, ke kantor aja," Ahmed mendekat berusaha melepaskan pelukan Aiyla dari perut Rakara.


"Ga apa apa, kasian biarin aja di sini, lagian gue juga susah kerja kalau ga ada sekertaris gue," jelas Rakara, segera mengambil ponsel Aiyla dan kembali mengatur jadwal dirinya, serta menghubungi beberapa rekan kerja nya secara langsung, untuk di undur saja jadwal meeting mereka.


"Ya udah gue temenin ya," kata Ahmed segera mendudukkan diri di meja rias Aiyla. "Lo kalau mau baring baring aja, pegel kan kalau harus duduk mulu, dia kalau tidur lama."


Rakara segera berbaring meluruskan kembali badannya, yang sejak tadi duduk dengan menopang tubuh Aiyla. Meski sedikit merasa janggal karena tangan Aiyla yang melingkar, namun Rakara mencoba untuk menyesuaikan diri. Ahmed yang tiba tiba mendapat telfon penting segera keluar dari ruangan tersebut.


"Raka titip adek gue ya," kata Ahmed sebelum akhirnya keluar.


Rakara hanya mengangguk, mencoba melepaskan tangan Aiyla dari perutnya. Setelah terlepas Rakara tersenyum melihat wajah Aiyla. "Saya ga tau harus senang atau sedih, tapi sekarang yang terpenting saya akan selalu buat kamu bahagia Ai."


"Iki juga percaya kalau saya bisa menjaga kamu, saya sayang sama kamu Ai," ucap Rakara segera mengecup bibir Aiyla.


"Kak jangan tinggalin Ai," gumam Aiyla membuat tidur Rakara terasik. Rakara terbangun sejenak mendengarkan gumaman Aiyla yang terus meminta agar jangan di tinggalkan, membuat Rakara menghela nafas. "Kak Iki."


"Segitu sayang nya ya kamu?" Rakara segera mengusap lembut punggung Aiyla membuat Aiyla kembali terlelap.


......................


Aiyla terbangun dan merasakan tangan Rakara tengah memeluknya, Aiyla terdiam ketika mengingat berita yang menyedihkan. Rakara yang menyadari Aiyla baru saja terbangun, segera bangun dan memeluk Aiyla dari belakang. Rakara tersenyum sembari menyandarkan kepala Ayla di dada bidang nya.


"Kak, Ai harap ini cuman mimpi," kata Aiyla sembari menitikan air matanya.


"Ai ini namanya takdir, Ai harus menerimanya," Rakara segera menghapus air mata Aiyla yang meleleh.


"Sakit kak, sakit. Dulu sahabat Ai, sekarang pacar Ai. Apa Ai ga pantas bahagia?" Aiyla segera memeluk erat dada bidang Rakara.

__ADS_1


"Ai kamu ga boleh menyalahkan takdir, ini semua yang terbaik untuk Ai," jelas Rakara mengusap lembut punggung Aiyla. "Kalau kamu mau nangis, nangis aja yang banyak. Kakak siap jadi tempat kamu mengadu," lanjut Rakara.


"Makasih kak, ada di saat Ai butuh," jawab Aiyla semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang Rakara, seakan mencari kehangatan.


"Pasti, kamu butuh apa saja hubungi kakak," jawab Rakara segera menarik Aiyla ke dalam pangkuannya. "Senyum dong kan kakak sudah nasih garansi."


"Kakak kayak sales properti aja," Aiyla segera memandang Rakara.


Rakara segera mempererat plukannya. "Bukan superman," kata Rakara menekuk kaki Aiyla agar semakin mendekat.


"Kak kok kak Iki perginya cepet banget ya?" Aiyla tiba tiba teringat Alm Iki. Aiyla kembali terisak dalam pelukan Rakara.


"Sudah waktunya," jawab Rakara. "Oh ya, kakak ada titipan buat kamu."


Rakara segera mengeluarkan sebuah kotak kecil dari jaketnya. "Ini dari Iki, kemarin sebelum Sidik balik, Iki nitip ini. Soalnya katanya bakal telat baliknya."


Mendengar hal itu Aiyla terisak, bahkan kekasihnya itu masih sempat menyiapkan hadiah untuknya. Siapa sangka, itu adalah hadiah pertama dan juga terakhir untuk dirinya. Semakin pecah lah tangis Aiyla, terlebih saat dirinya menerima kotak kecil dari tangan Rakara. Tangan Aiyla bergetar hebat. Perlahan Aiyla membuka kotak kecil berwarna biru tersebut, pandangan Aiyla tertuju pada sebuah kertas berwarna merah muda.


...Kalung ini untuk kamu, nanti kalau aku sering pergi, atau perginya jauh, pulangnya lama. Dan itu buat kama kesel, karena ya pulang pulang. Kamu usap aja kalung itu, yakin kalau aku akan selalu merindukan dan mencintai kamu, sepenuh jiwa dan seumur hidupku. I love you Forever....


Isi Surat yang bertulis tangan dari Iki dengan kalung cantik, dengan liontin bertuliskan I&A begitu cartik. Aiyla semakin menangis sesegukan. Rakara hanya bisa memeluk Aiyla dengan erat, mencoba membuat Aiyla tenang. Rakara segera merain kalung tersebut, dan memasangkannya di leher Aiyla.


^^^"Kamu nitipin dia buat aku kan ki? Mulai sekarang aku yang akan menjaganya, dan menyayanginya," Rakara memandang Aiyla yang masih menangis di dalam pelukannya.^^^


"Kamu cantik pakai ini," puji Rakara, semakin membuat Aiyla menangis di dalam pelukannya. "Udan jangan nangis Iki bakalan jadi sedih kalau kamu nangis terus."


Aiyla tak menanggapi, Aiyla terus saja menangis di dalam pelukan Rakara. Rasanya Rakara ingin mengungkap kan perasiannya, tapi dirinya tahu ini tidak tepat. Biarlah pelan pelan perasaan itu pakara ungkap kan, diri nya tak mau egois.


"Udan yuk kamu pasti belum makan, ayo makan dulu," bujuk rakara, sembari tersenyum manis. Rakara segera memberikan secangkir susu, Air putih dan sarapan untuk Aiyla. Aiyla tak menara gapinya, Aiyla masih terus menangis.


"Makan dulu, kamu masih butuh tenaga."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hai give awey CEO Belok Vs Colonel cantik telah berakhir nih, mohon bersabar untuk menunggu pengumumannya ya, kalau ga ada halangan besok deh bakalan di umumin. Terima kasih atas parti sipasinya.


__ADS_2