
Kini mereka telah berada di sebuah hotel untuk resepsi pernikahan, memperkenalkan kepada masing masing rekan satu profesi. Aiyla menjadi ratu sehari lagi, yang sungguh melelahkan, namun juga berkesan. Rakara segera menggandeng Aiyla menuju ke salah satu rekan bisnisnya. Aiyla tampak tersenyum samar, menyembunyikan rasa ketidak nyamanan nya, bagaiman tidak hampir satu hari dirinya mengenakan sepatu berhak tinggi, dengan tumit yang menurut Aiyla sebesar lidi.
"Selamat tuan Raka atas pernikahannya, semoga langgeng hingga kakek nenek," sapa seorang pria yang tampak nya lebih muda dari Rakara dengan perawakan cukup tinggi, pria merupakan salah satu rekan kerja Rakara, yang kemarin di temui nya saat berada di Bali.
"Aamiin terimakasih atas do'a nya," kata Rakara tersenyum manis, jujur saja Rakara hari ini sangat bahagia, karena berhasil mempersunting wanita pujaannya, yang telah ia kejar beberapa bulan terakhir.
Aiyla tak terlalu banyak bicara kali ini, kakinya benar benar pegal, rasanya ia butuh tempat duduk. Jika saja ini bukan acara pernikahannya, maka ia sudah kabur menyewa salah satu hotel untuk segera tertidur, sembari mengistirahatkan kakinya. Belum lagi sejak tadi siang ia tidak tidur, dan terus saja berdiri membuatnya sangat lelah, dan mengantuk saat ini.
Rakara yang menyadari hal tersebut, segera mengusap lembut punggung isterinya. "Ini yang terakhir kok," bisik Rakara membuat Aiyla mengangguk kecil.
Pikiran Aiyla benar benar tak berada di tempat, Aiyla benar benar mengantuk, dan pegal di saat bersamaan. Sehingga hanya senyum tipis yang ia keluarkan.
__ADS_1
"Hm maaf ya kami tinggal dulu, karena istri saya sedikit kelelahan," kara Rakara kepada rekan kerjanya, karena melihat istrinya sudah terlalu lelah, dirinya juga tak tahan untuk tidak menggarap sawahnya. Jika istrinya itu ketiduran saat hendak bercocok tanam, akhirnya dirinya juga yang akan merana sendiri.
"Ah itu tidak apa apa, lagian kan pengantin baru, jadi wajarlah. Lagian tuan Raka harus mempersiapkan diri untuk siap tempur di atas ranjang kan," goda salah satu rekan kerja Rakara, sontak membuat Rakara sedikit tersipu malu.
Sementara Aiyla? Gadis itu tak mendengarkan lagi godaan tersebut, dirinya sudah cukup mengantuk, dan lelah. Sehingga bahkan saat ini jika saja Rakara tak memegang pinggangnya mungkin saja dirinya sudah terjatuh.
"Tuan ada ada saja," kata Rakara memegang erat pinggang Aliya yang tampaknya sangat mengantuk. "Baiklah saya permisi dulu."
Rakara hanya tersenyum menanggapinya, Rakara segera berjalan keluar dari ruangan tersebut, dan segera beranjak menuju kamar sweet room, khusus untuk pasangan yang berbulan madu. Rakara segera memeluk Aiyla, membuat Aiyla bersandar di bahu kekar Rakara. Aiyla segera melepas sendal Cinderella pembawa derita bagi dirinya. Aiyla segera menenteng sendalnya. Saat pintu lift terbuka, Rakara segera mengangkat tubuh Aiyla hingga ke ruangan mereka.
Setelah sampai, Rakara segera membaringkan Aiyla dengan hati hati. Rakara tak ingin gagal di malam pertamanya, Rakara memutar otak, agar Aiyla segera terbangun. Rakara segera ke kamar mandi, dan mempersiapkan air hangat untuk Aiyla. "Sayang, ayo bangun kamu mandi dulu baru tidur lagi."
__ADS_1
"Iya kakak," Aiyla segera bangun dan dengan susah payah melepaskan gaunnya. Rakara membantu Aiyla, sembari menelan salifa nya melihat punggung mulus Aiyla.
Rakara segera mengangkat tubuh Aiyla ke dalam kamar mandi, dan meletakkan Aiyla secara perlahan, Rakara segera ikut berendam. Rakara segera membersihkan rambut Aiyla membuat Aiyla tersenyum. Air hangat membuat tubuhnya rileks dan lelahnya sedikit terangkat.
Setelah mereka mandi, Rakara segera mengangkat Aiyla untuk duduk, dan membungkus tubuh Aiyla dengan handuk. Rakara segera mengangkat tubuh Aiyla untuk kembali duduk di meja rias. Rakara dengan tak tahu malunya, bertelanjang bulat, mengeringkan rambut Aiyla. Setelah sedikit lembab, Rakara menghentikan aktivitas nya. Rakara segera membalikkan tubuh Aiyla, sembari mengecup bibir Aiyla.
"Sayang aku mau," kata Rakara, sembari melepaskan handuk yang melilit tubuh Aiyla. Rakara mulai menarik tengkuk Aiyla dan meraup bibir Aiyla dengan rakus. Aiyla melingkarkan tangannya ke leher Rakara, sementara Rakara mulai mengangkat tubuh Aiyla ke tempat tidur, Rakara merebahkan tubuh Aiyla, tampa melepaskan pa*ngu*tan mereka.
Bibir Rakara segera turun ke daerah leher, dan berakhir pada si kembar imut, dan menggemaskan menurut Rakara. Rakara memberikan tanda di sana dengan sedikit gigitan gemas, sehingga membuat suara indah Aiyla menggema di ruangan tersebut.
"Kakak masuk ya," izin Rakara membuat Aiyla hanya bisa mengangguk mengiyakan. Rakara segera mengecup kembali puncak kepala Aiyla, kemudian membisikkan doa di telinga Aiyla, kemudian menggigit telinga Aiyla dengan pelan. Rakara segera menerobos, demi menanjak hingga ke nirwana, dengan membawa istri cantiknya.
__ADS_1
"I love you sayang Ai," erang Rakara ketika telah mecapai puncak nirwana nya, menempuh surga dunia, dengan segala kenikmatan, dan kelegahan.