Duda Genit

Duda Genit
S3 (Masa lalu Rakara)


__ADS_3

Sesampainya mereka mereka di salah satu gedung apartemen, di pusat kota. Rakara segera memarkirkan mobilnya, dan keluar. Di susul Aiyla, Rakara segera menggandeng tangan Aiyla dengan mesra. Sesampainya di dalam lift, Rakara segera menyudutkan Aiyla, kala menyadari sekelompok laki laki terus saja memandang Aiyla, sejak mereka memasuki ruangan bergerak tersebut. Rakara tak suka itu, bagi Rakara Aliya hanya miliknya, dan laki laki lain tak boleh menginginkannya, atau hanya sekedar melihatnya dengan pandangan memuji.


Sesampainya mereka di lantai yang Rakara tempati, Rakara segera menggandeng tangan Aiyla menuju unit yang ia tempati. Rakara menuntun Aiyla untuk duduk di sofa miliknya. "Mau minum apa sayang?"


"Hm air putih aja, tapi nanti di kasih gula sama teh celup gitu ya," kata Aiyla santai. "Ah lebih bagus di kasih es dikit deh."


Rakara terkekeh mendengar permintaan Aiyla yang sedikit berbelit belit, Rakara segera mengusap kepala Aiyla, dan sedikit mengacak rambutnya dengan gemas. "Bilang aja es teh sayang."


"Biar penyebutannya estetik kak, anti mainstream," Aiyla tersenyum, menampakkan gigi rapinya.


"Iya iya kakak buatin dulu," Rakara segera melangkah ke belakang. Namun tiba tiba langkahnya terhenti. "Sayang kalau kamu bosan, kamu ke kamar aja dulu, soalnya tv di sini belum saya atur."


"Kamarnya yang mana?" Aiyla segera memandang ke arah Rakara.


"Di lantai dua," jawab Rakara, kemudian melangkah ke dalam. Aiyla juga segera melangkah ke dalam kamar Rakara, kemudian mencomot remote tv, dan mencari saluran drama Korea yang ia gandrungi.


Sementara Rakara di bawah sana diam diam tersenyum, tidak percuma jika kemarin tv-nya sedikit mengalami masalah, sehingga baru kemarin di perbaiki, dan belum sempat Rakara atur setiap chanelnya.


Setelah dua gelas es teh manisnya jadi, Rakara segera menuju ke kamarnya. Rakara masuk dan melihat Aiyla tengah menonton drama Korea, Rakara mendekatkan dan segera memberikan kepada Aiyla segelas es teh. "Kamu mau makan apa? Soalnya disini ga ada makanan, biar kakak pesankan," Rakara menyesap es tehnya.

__ADS_1


"Hm, apa aja deh kak," Aiyla masih fokus melihat dramanya sembari minum.


"Ya udah ya, kakak pesan dulu," kata Rakara segera memesan makanan lewat ponselnya. Setelah di rasa cukup, Rakara segera meletakkan kembali es tehnya, dan memeluk tubuh Aiyla dari belakang. Rakara membisikkan sesuatu di telinga Aiyla. "Terima kasih."


Mendengar kata kata terima kasih dari Rakara, tiba tiba Aiyla teringat tujuan mereka ke apartemen. "Ah hutang penjelasan kan?" Aiyla segera meletakkan air nya, dan membalikkan tubuhnya.


Rakara tersenyum dan menyatukan kening mereka. "Masih ingat saja," Rakara segera memeluk pinggang Aiyla agar mereka lebih dekat. "Sebelum kakak cerita, kakak mau nanya sebesar apa sih sayang kamu ke kakak?"


"Maksudnya?" Aiyla bingung memandang ke arah Rakara.


"Kita sudah mengenal sejak kecil, mulai dekat sejak beberapa bulan lalu, dan kedekatan itu menimbulkan rasa di hati kakak, jujur saja. Jadi bagaimana dengan hati kamu?" Rakara menjauhkan wajahnya dari Aiyla ingin melihat raut wajah gadis itu.


Aiyla tampak berfikir, Aiyla juga tak tahu bagaiman perasaannya saat ini. Yang jelas setelah kepergian Iki, hanya Rakara yang dekat, dan membuatnya nyaman. Rakara mampu menghiburnya di kala kehilangan orang yang ia sayangi. Rakara yang melihat keraguan di wajah Aiyla tersenyum.


"Iya," Aiyla mengangguk mengiyakan. Rakara tersenyum senang mendengarkannya.


"Kamu senang tadi saat kakak bertemu dengan mantan istri Kakak?" Rakara mengusap lembut pipi Aiyla. Aiyla tak menjawab hanya menggeleng. "Kamu tak suka?" Lagi lagi hanya anggukan yang Aiyla berikan. Rakara segera menarik Aiyla ke dalam pelukannya. "Itu tandanya kamu memiliki rasa dengan kakak Ai, cuman belum menyadarinya."


Aiyla hanya menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan Rakara. Sontak hal tersebut membuat Rakara terkekeh senang. "Ok kakak akan cerita semuanya."

__ADS_1


Rakara mulai menceritakan kisah nya dengan kisah Rani, wanita yang dulu sangat di cintai nya, namun ternyata wanita itu lah otak dari setiap kekacauan di dalam keluarganya. Bahkan Rayana harus kehilangan anak saat itu. Tak lupa Rakara membicarakan tentang hal yang ia lakukan kepada Rani saat itu, biarlah Aiyla akan memandangnya dengan pandangan mengerikan, namun setidaknya ia jujur. Rakara tak ingin hal sebesar ini Aiyla ketahui dari orang lain, Rakara ingin Aiyla mendengarkan sendiri dari mulutnya. Agar Aiyla dapat mendengar sendiri alasannya. Dapat Rakara lihat Aiyla sedikit meneguk nafasnya kasar, mendengar cerita dari Rakara.


"Sayang saya sudah menceritakan semuanya, sekarang kamu sudah tahu masa lalu saya, Kakak berharap kamu mau menerima saya," Rakara sedikit menunduk ketika mengatakan hal tersebut, jujur saja Rakara takut Aiyla tak ingin menerimanya kembali. Bahkan cerita ini di simpan dari keluarga besarnya, hanya dokter Aldi yang mengetahui nya. Namun dengan segala resiko Rakara menceritakan kepada Aiyla.


"Lalu perasaan kakak sekarang dengan kak Rani gimana?" Justru pertanyaan itu yang di tanyakan Aiyla kepada Rakara. Rakara segera mengangkat kepalanya, memandang Aiyla semabri tersenyum.


"Sudah tidak ada lagi," Rakara menggeleng sembari memeluk tubuh Aiyla. "Kamu mau nanya apa lagi?"


"Ga, cuman Ai mau bilang kalau kakak itu kuat ya, bisa menahan kesedihan itu. Kalau Ai pasti ga bisa," Aiyla mengusap punggung Rakara sembari sedikit menepuknya pelan.


"Terimakasih sayang, setelah mendengar cerita kakak, kamu tetap mau ya buka hati kamu untuk kakak," Rakara semakin mengeratkan pelukannya.


"Hm, kakak itu sebenarnya penyayang orangnya, cuman karena masal lalu aja jadinya gini," kata Aiyla tersenyum.


Rakara melepaskan pelukannya dan memandang Aiyla. "Emangnya kakak kenapa?"


"Kakak itu jutek."


Rakara segera menggelitik Aiyla, hingga Aiyla terbaring di tempat tidur. Rakara masih asyik menggelitik badan Aiyla, dengan tanpa sengaja memegang sesuatu yang seharusnya tak iya pegang. Rakara tertegun, begitupun Aiyla. Rakara memandang Aiyla dengan pandnagan tak biasa, begitupun sebaliknya. Rakara segera mendekatkan wajahnya ke wajah Aiyla, Aiyla menutup matanya menunggu selanjutnya yang akan di lakukan Rakara.

__ADS_1


Rakara mendaratkan bibirnya, dan sedikit menggerakkan bibirnya, hingga mereka saling me*lu*mat satu sama lain. Hingga tiba tiba bell apartemen Rakara berbunyi, tampaknya pesanannya telah datang.


Nungguin ya? Et tunggu dulu, jangan sampai kebablasan. Kawal terus sampai sah.


__ADS_2