
Willi dan dokter Aldi bangun terlebih dahulu, menyisahkan Rayana yang masih tertidur di alam mimpinya.
"Sayang maaf ya pasti semalam kamu ketakutan ya?" Willi menggeleng mendengar pertanyaan papanya, membuat dokter Aldi tersenyum sembari mengusap kepala Willi. "Kamu pergi mandi gih sama mba," kata dokter Aldi mengecup puncak kepala Willi yang tengah terduduk.
"Iya Pah,"Kata Willi segera turun dari tempat tidur, meninggalkan Rayana dan juga dokter Aldi.
Setelah Willi keluar dokter Aldi kembali berbaring di samping Rayana, ingatan kejadian semalam membekas di kepalanya, membuatnya takut Rayana akan meninggalkannya.
Dokter Aldi segera menarik Rayana ke dalam dekapannya, membuat Rayana sedikit melenguh merasakan hangatnya pelukan dokter Aldi.
"Sayang maafin aku semalam pasti kamu repot banget ya," dokter Aldi bergumam sembari mengusap kepala Rayana.
Segudang ketakutan kini menghantui pikiran dokter Aldi, ia takut jikalau Rayana takut dan menjauhinya karena kekurangan dirinya.
"Hm, ga apa apa kok," tiba tiba suara dari dalam pelukannya membuat dokter Aldi terkejut.
"Kamu udah bangun?" tanya dokter Aldi segera melonggarkan pelukannya, guna melihat wajah Rayana.
Namun Rayana segera memeluk dokter Aldi kembali dengan erat, sehingga dokter Aldi menarik sudut bibirnya. Namun tiba tiba bayangan Rayana akan pergi karena kejadian semalam kembali lagi, membuat senyum dokter Aldi kembali luntur.
"Sayang semalam itu pasti nakutin kamu banget ya," dokter Aldi mencoba bertanya dengan hati hati.
Jujur saja dokter Aldi benar benar ketakutan akan di tinggalkan Rayana dan Willi, memang begitu lah keadaannya ketika penyakitnya kambuh.
Rayana dapat merasakan detak jantung dokter Aldi yang berpacu dengan cepat, Rayana dapat pastikan saat ini dokter Aldi tengah tertekan dan dalam keadaan takut, sehingga Rayana semakin mengeratkan pelukannya.
"Engga kok," Rayana berkata sembari di iringi gelengan kecil, sehingga membuat dokter Aldi mengecup lama puncak kepala Rayana. "Kamu ga mau cerita gitu?"
Dokter Aldi cemas takut menceritakan penyakitnya kepada Rayana, tapi Rayana juga telah melihat keadaan dirinya, membuat dokter Aldi semakin takut.
Menyadari keraguan dokter Aldi membuat Rayana tersenyum, sepertinya laki laki itu belum siap untuk bercerita.
"Ya sudah kalau belum siap bercerita, nanti aja aku nunggu kamu siap aja," kata Rayana sembari menepuk nepuk lembut punggung kokoh yang kini terlihat rapuh tersebut.
__ADS_1
Dokter Aldi mengecup puncak kepala Rayana memejamkan matanya, takut menjatuhkan air matanya, padahal telah memanas sejak tadi.
"Sayang jangan tinggalin aku ya, aku takut gila kalau kamu ninggalin aku," kata dokter Aldi tiba tiba dengan suara yang bergetar dan sedikit parau, seperti tangah menahan tangis sontak membuat Rayana mengangguk mengerti.
"Hm, kan semalam aku udah janji loh," kata Rayana mengingatkan.
Rayana segera melonggarkan pelukannya kemudian memandang manik mata dokter Aldi yang tampak sedikit memerah, Rayana jelas tahu itu bukan efek baru bangun tidur.
"Ya kan pagi ini belum," kata dokter Aldi mencoba tersenyum di hadapan Rayana.
Rayana yang melihat hal itu sedikit menyunggingkan senyumnya. "Kalau di depan orang lain kamu pura pura senyum mungkin boleh, tapi kalau di depan aku jangan deh, kalau di depan aku kamu ga usah pura pura."
Dokter Aldi semakin tersenyum, namun kali ini senyumnya mengandung seribu arti, bukan seperti tadi senyum yang hambar.
"Kalau mau nangis nangis aja, kalau mau cerita cerita aja, aku ini calon istrimu loh," lanjut Rayana membuat dokter Aldi semakin tertegun.
Ah sepertinya Rayana mulai mengakui keberadaannya saat ini. Ah, entah ini kebahagiaan atau apa, namun dokter Aldi benar benar bersyukur akhirnya Rayana menyatakan hal itu dengan mulutnya sendiri, tanpa paksaan dari apapun.
Dokter Aldi kembali mengeratkan pelukannya kemudian sedikit mengangkat wajah Rayana agar menghadap ke arahnya.
"Iya aku tunggu janji kamu," kata Rayana menenggelamkan kepalanya di dada bidang dokter Aldi.
Dokter Aldi tersenyum kemudian mengecup lama puncak kepala Rayana, setelah merasa puas dokter Aldi akhirnya segera bangkit, dan membiarkan Rayana bermalas malasan di atas tempat tidur.
Dokter Aldi terkekeh geli melihat tingkah Rayana yang mengambil bantal guling untuk di peluk, dokter Aldi kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Hanya butuh lima belas menit dokter Aldi telah selesai mandi, saat dokter Aldi membuka pintu kamar mandi dengan menggunakan handuk untuk menutupi pinggang hingga lututnya, dokter Aldi dapat melihat Rayana yang masih tertidur dengan memeluk bantal guling, dokter Aldi segera mendekati Rayana dan mengecup puncak kepala Rayana.
"Sayang bangun mandi, habis itu sarapan," kata dokter Aldi sembari mengusap lembut kepala Rayana.
Rayana membuka sedikit matanya dan terkejut ketika melihat perut berotot dokter Aldi tepat di depan matanya.
Ah, sepertinya mata Rayana sarapan dengan roti sobek yang di suguhkan oleh dokter Aldi, sontak membuat wajah Rayana merah sendiri.
__ADS_1
"Kenapa sayang hm?" dokter Aldi pura pura tak tahu pandangan mata Rayana. "Masih mau tidur?"
"Eng... engga i...ini mau bangun," Rayana sedikit gugup ketika berbicara sambil memandang pemandangan yang tersaji.
Ah, berdosakah Rayana ketika mengagumi perut berotot yang di sajikan oleh dokter Aldi? Hah, rasanya tidak, karena dokter Aldi lah yang menyuguhkannya.
"Oh ya?" dokter Aldi sengaja memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Rayana.
Glub.
Rayana susah payah menelan air liur nya yang rasanya meronta ronta ingin di keluarkan.
Dokter Aldi bahkan kini dengan sengaja membaringkan tubuhnya di samping Rayana, menempatkan wajah Rayana di depan dada bidang dokter Aldi.
Aaaa... rasanya Rayana ingin berteriak frustasi, antara kegirangan mendapat pemandangan indah di pagi hari, atau mendapat cobaan karena mereka belum sah menjadi sepasang suami istri.
"Kenapa? Mau megang? Pegang aja aku ga apa apa kok," dokter Aldi kini semakin menggoda Rayana.
"Iya kamunya ga apa apa, tapi aku nya yang apa apa," gumam Rayana dengan nada yang kecil, namun ternyata masih bisa di dengar jelas oleh dokter Aldi.
"Makanya kita cepetan nikah dong, biar bisa sama sama ngapa ngapain," kata dokter Aldi menggoda Rayana.
"Ih itu maunya kamu, dasar genit," kata Rayana memalingkan wajahnya ke segala arah, asal jangan bertemu mata dengan dokter Aldi.
"Emang kamu ga mau? Aku denger kalau mereka sudah ngapa ngapain itu ketagihan loh sayang," kata dokter Aldi semakin menggoda Rayana.
"Ih diam, aku mau ke kamar mandi," kata Rayana segera bangun dan meninggalkan dokter Aldi sendirian di tempat tidur.
Dokter Aldi terkekeh kemudian bangun dari tempat tidur, dan segera mengenakan pakaiannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****Selamat berpuasa teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏****...
__ADS_1
...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....