
Hari ini Daniel, Angel, Rakara dan Rayana tengah bersiap untuk berkumpul di rumah Aska, rumah yang dulu Angel tinggali, kini menjadi milik Aska. sementara rumah yang ada di Belanda di tinggali oleh Brian. Meskipun begitu, mereka tetap bebas masuk dan keluar di setiap rumah mereka. Keluarga besar Pradana memang menarik, karena tak satupun di antara mereka yang meributkan masalah harta, karena telah di bagi sesuai porsinya. Aska dengan profesinya sebagai seorang dokter, juga ikut memimpin sebagian perusahaan, sementara Brian yang memang sejak awal terjun di dunia bisnis, kini menjadi direktur utama, dan Angel selain sebagai ibu rumah tangga, tentunya juga ikut memimpin dan mengawasi perusahaan mereka.
Daniel memang menginginkan Angel menjadi ibu rumah tangga, agar mengurusi anak mereka dengan tangannya sendiri, tampa bantuan seorang baby sister. Namun berusaha tetap membiarkan Angel menjalankan pekerjaan kantor.
Mereka kini sampai di rumah Aska, di sana sudah terdapat beberapa orang. Rayana terlihat bersemangat untuk bertemu para sepupunya yang tampan, Rayana tak sabar untuk melakukan selfi ria, dan memamerkannya di sosial media. Ah... bukan karena sepupunya juga, melainkan para teman om Aska yang tampan dan tidak ketulungan.
Ah... life ria akan menambah followers nya, sudah dapat Rayana bayangkan.
Sementara Rakara sebagai sepupu tertua setelah Maxim di keluarga besar Pradana, sudah mengetahui isi kepala adiknya, kini bersiap siap untuk mengamankan adiknya, jika sikap bar bar adiknya, yang suka menggombali teman teman om Aska mereka.
Rayana segera menghamburkan pelukannya ke arah Bram sepupunya. Yang hanya berbeda tiga bulan dari dirinya.
"Braaamm..." teriak heboh Rayana, yang membuat seluruh perhatian teralih ke arahnya. Bram segera memeluk Rayana, yang sangat ia sayangi. Meski umur mereka sama namun Bram menganggap Rayana seperti adik nya, karena sikap Rayana yang sangat manja padanya.
Bram segera melepas pelukan Rayana, kemudian menariknya untuk menunjukkan sesuatu. "Sini Raya, di sini banyak orang orang kepo," kata Bram segera menarik tangan Rayana untuk ikut dengannya.
"Dasar pelit kalian," kata Maxim memandang ke arah adik adiknya.
Rayana dan Bram memutar bola matanya dengan malas, kemudian berniat pergi mengacuhkan Maxim.
Maxim yang tak terima segera menggendong adiknya, seperti mengangkat karung beras, membuat Bram terkejut. Bram seolah kehilangan pengantin wanitanya di sat saat terakhir, itu lah yang di pikirkan Malvin ketika melihat kakaknya menggendong Rayana, dan menjauhkannya dari Bram.
"Ah... tolong..." teriak Rayana membuat semua orang terkekeh geli, ini lah yang paling seru ketika mereka kumpul. Kehebohan para anak anak dari keluarga besar Pradana.
Saat Rayana di gendong, tak sengaja Rayana memandang seorang lelaki tampan yang tengah memandangnya juga, sepertinya laki laki itu dokter baru, baru atau ia tak pernah melihat lelaki tersebut di rumah sakit. Sepertinya benar laki laki itu adalah dokter, karena memang laki laki itu berada di antara para dokter tampan yang sering Rayana goda.
"Kak Maxim turunnin, Raya malu, memangnya Raya ini karung beras apa?" kesal Rayana berusaha melepaskan diri dari gendongan Maxim. "Braaamm, bantuin tolong Dewi Sinta dari Brahma yang jahanam."
Mendengar penuturan dari Rayana, karena bukan cuman lucu melihat ekspresi nya, namun juga salah menyemburkan namanya.
"Rahwana Dewi Sinta, kok salah sih ngenalin penjahatnya," kekeh Malvin.
Raya yang mendengar hal itu, terdiam untuk sementara. "Ah iya... tolong Dewi Sinta dari Rahwana kejam dan tak berprike-adikan."
"Diam, Rahwana juga bakalan mikir seratus kali untuk menculik Dewi Sinta, kalau Dewi Sinta nya somplak plus bar bar seperti kamu," kata Maxim, membuat Rayana diam.
"Kak Raka, tolongin adik tercinta dan ter cantik kamu dong," rengek Rayana ke arah Rakara.
__ADS_1
Rakara hanya mengangkat bahu tak peduli, kemudian mengajak para adik adiknya yang lain, untuk ikut dengannya, malas dengan pertengkaran aneh yang akan terjadi dengan kedua orang yang tengah bersitegang tersebut.
"Kakak Maxim mau apa sih? Kan Raya kasihan," kata Rayana sembari melirik Bram yang bersiap untuk menolongnya.
"Kakak mau minta..." belum sempat ia menyelesaikan kata kata nya Bram sudah menarik tangan Rayana untuk menjauh.
Mereka kembali berkejar kejaran membuat yang lain menggeleng melihat mereka.
Maxim adalah anak pertama dari Brian dan Jessica, sementara Malvin merupakan anak kedua mereka. Sementara Bram merupakan merupakan anak tunggal dari Aska dan Vania.
Bram dan Rayana bersembunyi di balik meja yang di duduki para dokter. Untung saja mereka kenal dengan para dokter, karena itu mereka biasa saja jika berada di lingkungan mereka.
"Hai kak Ian ganteng, permisi ya, jangan bilang sama si Rahwana, nih kasian si Hanuman ngejagain Dewi Sinta mencari Sri Rama," kata Rayana tampa merasa bersalah dengan Bram yang kini memandangnya dengan pandangan kesal.
"Enak aja gue ganteng gini lo panggil Hanuman, yang ada gue lebih cocok jadi Sri Rama lah," protes Bram. "Lagian nih ya, yang bener itu Sri Rama yang mencari Dewi Sinta."
"Lo hidup tahun berapa sih? Sekarang itu bebas mau cewek mau cowok yang ngejar udah lumrah," kata Rayana mengintip ke arah Maxim yang telah mengejarnya, sepertinya ia aman, dan dari sang Rahwana yang tengah mengejar Dewi Sinta untuk diajak berfoto.
"Rahwana..." teriak Bram segera melarikan diri, sepertinya ia lupa akan misi pengawalannya kepada Dewi Sinta.
"Hah mana? Beneran ada?" tanya Rayana masih gagal paham dengan maksud dari Bram.
"Kak nanti Raya jomblo seumur hidup gi mana dong?" tanya Rayana tak terima.
"Itu sudah takdir, bahkan KTP kamu aja single," kata Maxim segera mengambil beberapa foto. "Lagian kan KTP kamu seumur hidup."
Setelah mengatakan kata kata yang membuat Rayana terdiam, Maxim segera meninggalkan Rayana, dan bergabung dengan Rakara.
"Om... ganti KTP jadi KTM bisa ga ya? biar jadi pelajar seumur hidup," keluh Rayana ke arah Aska yang segera mencubit kedua pipinya.
"Aduh ini benar benar anak Daniel ini," kekeh Aska mengusap lembut kepala Rayana.
"Aska gue mau ke toilet, toilet di mana ya?" tanya laki laki yang tadi bertemu mata dengan Rayana, saat Rayana di gendong.
"Oh... Raya tolong antar dokter Aldi ke kamar mandi," kata Aska kepada keponakan terheboh yaitu.
"Nah iya, tolong bantu Rama mu ini Dewi Sinta," kata dokter Ian menggoda Rayana.
__ADS_1
"Wah kalau ganteng gini mah jangankan di temani ke kamar mandi, di temani sampai pelaminan pun adek ikhlas bang," kata Rayana sembari menaik turunkan alisnya, sementara yang lain terkekeh dengan kata kata ajaib yang keluar dari mulut Rayana.
Rayana melenggang sambil menggandeng tangan kokoh Aldi ke kamar mandi.
"Ayo Om di sini," kata Rayana sembari mempersilahkan Aldi masuk ke kamar mandi.
Aldi kemudian masuk, sementara Rayana segera memainkan ponselnya.
"Ayo," suara bas Aldi mengejutkan Rayana.
"Iya om," kata Rayana masih fokus dengan ponselnya.
Tiba tiba ponsel Rayana berdering, membuat Rayana segera mengangkatnya. "Halo calon kakak ipar, kangen ya sama incess," kata Rayana kepada seseorang di seberang sana.
Sepertinya itu adalah seorang wanita, dapat Aldi dengar meskipun hanya sedikit saja. Wanita itu sepertinya tengah mencari Rakara.
"Iya kak Raka, sedang di depan," kata Rayana segera berlari ke arah Rakara.
"Kak Raka ini ada calon makmum," kata Rayana menaik turunkan alisnya. Kemudian menyerahkan ponsel ke arah Rakara.
"Ya halo..." kata Rakara segera menjauh dari Rayana, Maxim, Malvin, dan Bram.
"Suap..." pinta Rayana ke arah Maxim. Ya... begitu lah mereka meski bertengkar, namun pada akhirnya akan baik pula.
Sementara itu di tempat lain. "Halo Ran, maaf tadi Raya cuman bercanda kok, jangan di masukkan ke dalam hati," kata Rakara seolah merasa menyesal. Padahal di dalam hatinya sungguh sangat berdebar, bagaimana mungkin adiknya yang bermulut comel, dengan titisan lambe tura itu dengan seenak jidatnya mengatakan bahwa Rani, sahabatnya. Adalah calon makmumnya.
Ya... memang benar Raka jatuh hati kepada sahabat masa kecilnya itu, padahal ia ingat betul bagaimana ia mengejek wanita itu. Dan kini ia jatuh hati kepada wanita yang dulu senang sekali ia jahili, dan ejek ejek itu.
Rani merupakan wanita penuh perhatian, bahkan di saat ia butuh seseorang, Rani lah yang pertama datang untuk mengulurkan tangannya. Seorang wanita yatim piatu dari panti, yang kini bekerja sebagai asisten pribadi nya di kantor. Rakara secara pribadi mengangkat Rani sebagai asisten pribadi nya, karena tahu akan kejujuran, dan ketekunan Rani.
Yah... setidaknya dua tiga pulau akan terlampaui, pendekatan secara halus, dan sekaligus mengawasi kalau kalau ada lelaki yang sedang mendekatinya.
Si bucin yang menutupi belangnya, dengan berkedok sebagai atasan tegas itu, dan ingin di ikuti seluruh kemauannya itu, kini mampu menguasai Rani, sahabatnya. Namun dalam waktu yang bersamaan Rakara juga memperkenalkan Rani kepada keluarganya, meskipun saat ini hanya sebagai asisten pribadi.
Namun entah kenapa, rahasia besarnya itu terbongkar oleh adik ember jebolnya sendiri. Ya 'ember jebol' adalah panggilan khusus dari Rakara untuk Rayana. Bagaimana tidak setiap kali Rani berada di rumah Rayana selalu saja memanggil Rani sebagai calon kakak ipar. Padahal Rakara tak tahu saja bahwa Rayana tengah mengamankan statusnya kelak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....