
Rakara saat ini tengah bersantai di balik tirai buatan Aiyla, Rakara menikmati siangnya tampa gangguan apa pun, meskipun dengan wajah cemberut dari Aiyla, karena sejujurnya Aiyla juga ingin beristirahat di tempatnya.
"Bos udah belum, Ai juga pingin," Aiyla sudah mengeluh untuk kesekian kalinya, sembari memakan bekalnya.
"Ai kenapa dari tadi ngedumel," Sidik baru saja datang dari makan siang di buat bingung.
"Tu si penjajah ngambil tempat istirahat Ai," kesal Aiyla menunjuk ke arah gorden istirahat yang kemarin di buat Aiyla.
"Sabar aja, nanti setelah bos istirahat kamu lagi," Sidik tersenyum ke arah Aiyla sembari membawa beberapa minuman dan makanan ke rak khusus mereka.
Pintu tiba tiba terbuka, membuat Aiyla dan Sidik memandang ke arah pintu, ternyata itu adalah Angel dan Daniel. Sidik segera berdiri tegap, menyapa Daniel dan Angel, sementara Aiyla segera menyapa dan menyalami mereka berdua.
"Wah ada yang baru nih," Angel melihat sekeliling nya.
"Iya biar lebih enak di sini," Aiyla tersenyum ketika mengatakan hal tersebut.
"Iya lebih betah, lebih banyak jajanan nya kan?" Angel terkekeh melihat tingkah Aiyla yang sangat mirip Aliya. "Mirip banget kayak Aliya, hobi ngemil."
"Tante tau tauan aja," Aiyla terkekeh.
"Si Raka di dalam kan?" Angel memandang kepada kedua bawahan Rakara.
"Engga Tan, dia lagi ngejajah tempat istirahat Ai."
Ah, tampak nya jurus pamungkas Aiyla kini berjalan kembali, Aiyla kini telah mengadukan Rakara. Daniel dan Angel yang sedikit bingung maksud dari Aiyla hanya mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?" Daniel belum mengerti maksud dari Aiyla.
"Ni," Aiyla segera membuka tirai dan menampakkan Rakara yang tengah tertidur dengan buku di atas dadanya. "Pangeran tidur."
Daniel dan Angel benar benar bingung, perasaan mereka barang seperti itu tidak ada di ruangan itu kemarin.
__ADS_1
"Itu baru Ai?" Daniel segera mendekat ke arah tempat Rakara beristirahat.
"Iya dong, Aiyla punya idenya," kata Aiyla dengan segala kesombongannya.
"Wah keren juga kamu," kata Daniel segera menarik buku dari atas Rakara. "Rak bangun."
"Kebo om," Aliya segera berucap sembari menarik rambut yang ada di pelipis Rakara.
"Auh," Rakata segera mengaduh kesakitan, Rakara ingin sekali memarahi si pelaku.
Aiyla segera bersikap seolah terkejut dengan teriakan Rakara, membuat Angel menahan tawanya. Ya, sikap jahilnya ini lah yang menyamakan dirinya dengan Aliya.
"Papah, papah di sini? Sejak kapan? Papa yang narik rambut Raka ya?" tuduh Rakara membuat Daniel segera memukul kepala Rakara.
"Udah ga di sambut, eh sekarang di tuduh lagi," Daniel memandang Rakara dengan kesal.
"Ya habisnya siapa lagi yang berani," Rakara sedikit meringis. "Ah jangan jangan kamu ya," kesal Rakara memandang ke arah Aiyla.
"Idih bos mimpi kali, mana ada yang berani macam macam sama bos, orang ga salah aja di hukum, apalagi salah paling udah di suruh loncat dari lantai sepuluh," Aiyla sedikit melebih lebihkan kata katanya.
"Idih aneh apaan emang bener kok," Aiyla segera mencibir Rakara dari belakang, namun setelah Rakara menghilang ke dalam ruangannya Aiyla tersenyum kemenangan. "Rasain lo ini belum seberapa. Da kak Sidik inces mau bosican dulu ya."
"Bosican?" Aiyla kebingungan dengan bahasa baru dari mulut Aiyla.
"Bobi siang cantik," kata Aiyla sebelum akhirnya menyetel musik di telinganya menggunakan headphone.
......................
Setelah setengah jam Daniel segera keluar dari ruangan Rakara bersama dengan Angel, Daniel sudah tau kalau Aiyla saat ini sedang beristirahat. Ya, Aiyla memang karyawan istimewa, apapun bisa ia lakukan di kantor ini, bahkan berdebat dengan sang bos saja bisa dia lakukan.
Rakara segera mengecek cctv karena Rakara yakin bahwa tadi itu nyata ia tidak bermimpi. Saat Rakara mengecek cctv benar saja tadi adalah perbuatan Aiyla, gadis jahil itu.
__ADS_1
Rakara segera keluar dari ruangannya dan mendapati Aiyla tidak di kursinya. Rakara menduga bahwa Aiyla sedang berada di balik tirai untuk beristirahat. Rakara membuka tirai dan melihat Aiyla tengah terlelap, Rakara segera mendorong Aiyla hingga terjatuh.
"Auh," Aiyla berteriak antara kaget dan kesakitan ketika bokongnya mengenai lantai keras tersebut.
"Enak saja kamu tidur, lihat semua karyawan tengah mengerjakan tugasnya," Rakara memandang Aiyla dengan sinis.
"Is lagian siapa tadi yang merampas tempat gue," Aiyla bergumam namun Rakara masih bisa mendengarkannya.
"Kamu ngomong apa barusan?" Rakara memandang Aiyla dengan sengit.
"Siap pak bos," Aiyla segera memberi penghormatan kepada Rakara.
"Cepat kerjakan semua tugas itu, saya mau besok pagi sudah ada semua di meja saya," Rakara segera menunjuk berkas yang telah tergeletak dengan rapi di atas meja Aiyla.
"Semua pak?" Aiyla tak habis pikir.
"Masih kurang?" Rakara memandang Aiyla dengan pandangan remeh.
"Udah pak, itu kebanyakan malah," kata Aiyla sedikit memaksakan senyum.
"Ingat besok pagi pagi sekali sudah harus di meja saya," kata Rakara tegas.
"Tega benget sih," gumam Aiyla protes.
"Kamu kalau ngedumel lagi saya tambah lagi," kesal Rakara membuat Aiyla segera bungkam dan mengerjakan tugasnya.
"Eh engga pak pis," Aiyla segera membuka berkas untuk di kerjakan.
"Bagus," Rakara kembali masuk ke dalam ruangannya dengan tersenyum kemenangan.
"Dasar bos penindas, penjajah, gue sumpahin susah dapat jodoh lo, sekali dapat calon lo super cerewet dan buat lo pusing tujuh keliling," Aiyla memandang ke arah pintu ruangan Rakara dengan pandangan sengit, dan sinis.
__ADS_1
"Sabar, udah kerjain aja," Sidik segera menyemangati Aiyla. "Nanti kalau kakak udah kakak bantuin deh."
"Iya kak siap," Aiyla tersenyum lesu memandang ke arah berkas berkas yang akan di kerjakannya. "Semangat Ai orang sabar jodohnya ganteng kayak Zyan Malik, atau Ronaldo."