Duda Genit

Duda Genit
S2 (Kemarahan Rakara)


__ADS_3

Rakara di tuntun oleh Ardian segera masuk ke dalam sebuah lorong, ruangan yang akan mereka masuki sepertinya sangat rahasia di rumah adik iparnya. Orang orang memasuki ruangan ini sangat terpilih, sontak membuat Rakara menyeringai, membayangkan apa yang akan di lakukannya kepada istrinya.


"Ini ruangan khusus biasanya kami berdiskusi tentang hal penting di sini dengan para pengawal kepercayaan," kata Ardian tersenyum ke arah Rakara.


"Kalian benar benar pintar membawa wanita ular itu ke sini," Rakara menyeringai penuh arti, sebenarnya Ardian sedikit bergidik ketika melihat seringai jahat muncul di bibir Rakara. Tak pernah Ardian melihat hal semengerikan itu muncul dari bibir Rakara.


Ardian tak dapat membayangkan siksaan apa yang akan di dapati oleh wanita itu, namun bisa di pastikan dirinya akan jauh lebih baik dari pada apa yang akan Rakara lakukan.


"Silahkan masuk tuan," Ardian segera mempersilahkan Rakara untuk masuk.


Tampak di sana tiga orang wanita dan dua orang laki laki tengah tak sadarkan diri, dengan tangan dan kaki terikat. Rakara berdecik tak suka pemandangan itu.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat bangunkan mereka semua, enak saja mereka tidur enak enak sementara adikku dan suaminya tengah berbaring lemah di rumah sakit," Rakara menyunggingkan senyuman manisnya kala mengatakan hal tersebut.


Ah, benar saja ini baru permulaan namun Rakara sudah sangat mengerikan di mata Ardian. Anak buah mereka segera menyiram kelima orang itu dengan air, sontak membuat ke lima orang itu terbangun dengan keadaan terkejut.


Mata Rani membulat ketika melihat Rakara tengah tersenyum ke arahnya. Rani justru tersenyum kemenangan karena telah menghancurkan keluarga dari Mark Rosyid, Rani yakin bahwa Rayana dan dokter Aldi telah meninggal.


"Ah kenapa kalian sangat kasar kepada istri ku? Kasihan dirinya, cepat lepaskan," Rakara tersenyum memandang Rani.

__ADS_1


Rani sedikit bergidik ngeri ketika Rakara mengatakan hal tersebut, entah apa yang akan Rakara lakukan tapi ini sungguh menakutkan. Jika sebelumnya melihat senyum Rakara sangat menawan, namun kali ini senyum Rakara justru terlihat mengerikan.


Para bodyguard segera melepaskan Rani, membuat Rakara tersenyum puas dengan kerja para bodyguard milik adik iparnya. Rani yang melihat senyum Rakara hanya terdiam, Rani tak berkutik, seketika takut menghantui dirinya.


"Kenapa hanya diam ha sayang? Kenapa tak kesini seperti saat kau melemparkan dirimu ke keluarga kami," Rakara membuat Rani semakin terdiam. "Kenapa kau diam jika aku memintamu ke sini maka ke sini."


Rani menuruti perintah Rakara, Rani berjalan mendekat membuat Rakara tersenyum. "Berlutut," Rakara tersenyum sembari mengenakan sarung tangan tekstil miliknya.


"Kau yang memerintahkan mereka?" Rakara memandang mata Rani dengan tajam.


Rani masih terpaku melihat sorot mata Rakara, sorot mata yang dulu mencintainya dengan pandangan teduh, kini memandangnya dengan sorot mata kebencian. Namun Rani tak dapat berbuat apa apa ia hanya mampu menelan ludahnya sendiri dengan kasar.


"Diam aku anggap iya," Rakara menyeringai. "Dengan siapa kau bekerja sama dan apa motif mu?"


"Kau punya pilihan kau mau pergi dengan mudah atau menyakitkan?" Rakara benar benar tampak seperti iblis di mata Rani, sungguh Rani tak pernah menyangka akan melihat hal semengerikan ini, sisi yang tersembunyi di balik sikap lembut dan dinginnya.


Saat pisau hendak mendekat di wajah mulus Rani. "Mas," Rakara menghentikan pergerakannya sembari memandang Rani dengan pandangan sinis.


"Kau mau mengatakannya sekarang?" Rani menggeleng enggan mengatakannya, sebenarnya Rani tadi ingin memohon pengampunan, dengan berharap sisa sisa dari rasa sayang Rakara.

__ADS_1


Rakara kembali mendekatkan pisau di pipi kanan Rani, membuat Rani terdiam seribu bahasa, dengan menelan ludah susah payah.


Kring, suara ponsel Rakara menghentikan pergerakannya untuk yang kedua kalinya, Rakara kembali melipat pisau dan mengantonginya, Rani dapat bernafas lega untuk sesaat. Rakara segera berdiri di hadapan Rani membuat Rani mendongak ke arahnya.


"Bawa wanita tua itu ke rumah adik ipar ku," Rakara tersenyum memandang Rani, semakin membuat Rani bergidik ngeri di buatnya.


Rani meneteskan air matanya, sungguh Rani tahu siapa yang di maksud oleh lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya.


"Ibu," Rani bergumam tak menyangka keberadaan ibunya tercium oleh anak buah Rakara.


Rakara tersenyum melihat air mata yang jatuh di pipi mulus Rani. "He wanita ular, aku tak sudi sepatu ku terkena air matamu, cepat hapus atau wanita tua itu hanya tinggal badannya saja di hadapan mu."


Dengan sigap Rani menghapus air matanya yang meleleh, dan juga menghapus air matanya yang terjatuh di sepatu Rakara.


"Jangan sentuh aku dengan tangan menjijikkan mu itu," sergah Rakara, membuat Rani terpaku kembali. Rakara sungguh sangat tidak bisa hanya di bilang mengerikan saat ini, dengan Rani saja yang baru saja ia nikahi beberapa bulan yang lalu.


Ardian hanya menjadi penonton setia melihat pertunjukan menarik itu, sudah Ardian duga bahwa Rakara lebih mengerikan dibanding dirinya. Ardian sangat tahu ini bukan akhir, karena bahkan awalan saja belum Rakara mulai.


Hi semua novel baru author udah ada nih, judulnya CEO Belok Vs Colonel cantik, jangan lupa di baca dan di like ya, di tunggu kedatangannya di novel baru author.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


__ADS_2