
Sesampainya mereka di penginapan, seorang resepsionis segera mengantar mereka ke kamar penginapan yang telah di pesan oleh Rakara. Setelah mereka
"Kak ini kamar nya?" Aiyla segera berlari menuju balkon kamar ruangan tersebut, yang tepat menghadap ke arah pantai Kuta Bali.
"Iya itu kamar kita," jawab Rakara enteng, sembari meletakkan koper mereka ke dalam lemari kamar.
"Kita?" Aiyla segera memandang ke arah Rakara, dengan kening yang berkerut. Aiyla bingung kenapa mereka harus berada satu kamar.
"Iya, kenapa?" Rakara terlihat cuek, menanyakan hal tersebut.
"Kok satu kamar?" Aiyla memandang ke arah tempat tidur, di mana mereka lebih terlihat sedang berbulan madu, di mana terdapat handuk berbentuk sepasang angsa yang membentuk simbol cinta, belum lagi taburan kelopak bunga mawar, yang juga berlambang simbol cinta. Lengkap sudah keromantisan kamar tersebut, hanya saja pasangan yang di dalam yang belum romantis.
"Kan ada dua tempat tidur, terlalu banyak bajet kalau beda kamar," seloroh Rakara berpura pura polos.
"Ih kakak coba liat mana ada singel bad," Aiyla menunjuk ke arah tempat tidur yang terlihat sangat romantis, dan cocok untuk yang berbulan madu.
"Iya ga ada, yang ada double bad, nanti kakak tidur di sofa, atau di tepat tidurnya kita kasi pembatas. Lagian kakak juga ga akan macam macam kok," jelas Rakara segera memberi sebuah penawaran. Sesungguhnya Rakara memang sengaja menyewa kamar tersebut agar lebih bisa berdekatan dengan gadis pujaan hatinya.
Menurut pengalaman Daniel dan dokter Aldi, kebersamaan adalah kunci utama untuk mendapatkan hati sang wanita, kebersamaan adalah kuncinya, agar lebih terbiasa, dan membuat sang wanita ketergantungan.
"Tapi kak," Aiyla tampaknya sedikit keberatan dengan hal tersebut.
"Udah ga apa apa kok," Rakara tersenyum berjalan ke arah Aiyla, Rakara segera memegang kedua bahu Aliya.
^^^"Pertama perbanyak waktu berdua, kedua perbanyak kontak fisik agar mereka merasa nyaman," pesan dari kedua seniornya yang selalu terngiang di kepala Rakara.^^^
"Percaya sama kakak ok," yakinkan dia. Rakara tersenyum manis ke arah Aiyla, berusaha meyakinkan Aiyla.
"Iya deh kak," ucap Aiyla, sembari tersenyum membalas senyu
Rakara.
^^^"Yeh berhasil," Rakara bersorak gembira di dalam hatinya.^^^
"Ya udah kamu bersihin badan dulu, baru istirahat. Soalnya besok kita ada rapat bareng client, kakak mau mesan makanan dulu untuk nanti malam," Rakara segera melepaskan genggamannya dari pundak Aiyla.
"Siap bos," kata Aiyla bersemangat ketika mendengar kata kata makan malam.
Rakara hanya terkekeh melihat tingkah Aiyla, kemudian duduk di sofa sembari merenggangkan otot ototnya, dengan memejamkan matanya.
Butuh tiga puluh lima menit Aiyla membersihkan tubuhnya, dan segera keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Aiyla kemudian mendekati Rakara sembari menyiratkan sedikit air di wajah Rakara, sontak membuat tidur Rakara terganggu.
"Ayo bangun kak," kata Aiyla tersenyum ke arah Rakara yang tampaknya masih sangat mengantuk.
__ADS_1
Rakara meneguk ludahnya, melihat wajah Aiyla yang tersenyum ke arahnya dengan wajah yang basah karena air, hal itu membuat wajah Aiyla semakin mempesona di matanya. Ah baru begini saja iman Rakara rasanya sangat goyah.
"Kak, kakak ga mandi?" Aiyla mengejutkan Rakara yang sejak tadi terbengong memandang nya.
"Eh iya, kamu sudah?" Rakara yang tersentak dari lamunannya segera bertanya sesuatu yang sebenarnya tidak perlu di tanyakan.
"Sudah dong," jawab Aiyla sembari memutar tubuhnya. "Lihat kan sudah harum dan cantik."
"Iya banget," gumam Rakara sembari menelan ludah ya kesasar. Meskipun Aiyla tidak mengenakan pakaian seksi, namun Aiyla mengenakan pakaian tidur yang cukup imut. Aiyla saat ini mengenakan baju tidur karakter kelinci, dengan lengan panjang dan celana panjang, jauh dari kata seksi, dan menawan. Tapi entah kenapa di mata Rakara Aiyla tampak sangat cantik dan seksi, dengan pakaian tersebut.
"Ya sudah saya mandi dulu ya," Rakara segera mengalihkan perhatiannya, kemudian segera beranjak dari sofa, sedikit terburu buru, karena harus menidurkan sesuatu dengan air dingin.
Setelah dua puluh menit akhirnya Rakara keluar dengan hanya mengenakan handuk, yang melilit di perutnya. Rakara rencananya akan membuat Aiyla takjub dengan pemandangan perutnya, namun apalah daya rencana hanya tinggal rencana, karena ternyata Aiyla sudah terlelap di dalam mimpi nya.
Rakara menghela nafas panjang, kemudian mendekat ke arah Aiyla. "Eh Ai kamu udah tidur ya? Kamu kecapean ya?" mengusap lembut kepala Aiyla.
Rakara segera berjalan ke arah lemari, dan mengganti pakaiannya, ternyata pakaiannya telah di siapkan Aiyla di dalam lemari, dengan meletakkan pakaian baru di atas kopernya.
"Calon istri yang baik," gumam Rakara sembari memandang ke arah Aiyla. Rakara segera mengenakan pakaiannya, kemudian berjalan ke arah Aliya.
"Nanti kalau kamu udah benar benar jadi istri saya, kita sama sama ke tempat yang lebih cantik dari ini," kata Rakara mengecup puncak kepala Aiyla, kemudian mengecup bibir Aiyla. Bahkan Rakara sedikit **********. "Ah manis."
Rakara segera merebahkan badannya memandang Aiyla dari sisi lain tempat tidur tersebut, jujur saja ia tak berani mendekat, takut tak akan bisa mengontrol dirinya. Bahkan saat ini ia sudah menahan dirinya, yang sudah terpancing melihat Aiyla tertidur begitu pulsanya.
Tiba tiba Aiyla berguling, hingga memeluk Rakara, membuat Rakara semakin gelisah. Bayangkan saja wanita yang ia cintai kini berada di kamar yang sama dengannya, hanya berdua saja dengan nya. Dan kini memeluk dirinya hingga membuat Rakara mengerang, karena merasakan sesuatu yang berdiri di bawah sana.
Rakara bahkan memijat kepalanya mencoba mendorong Aiyla, ini merupakan keadaan bahaya untuk dirinya. Rakara segera memandang ke arah Aiyla lampu yang temaram membuat wajah itu semakin cantik di matanya. Rakara menelan ludahnya kasar, mencoba menenangkan hasratnya, Rakara bahkan menghembuskan nafas kasar berkali kali. Ah betapa frustasinya duda keren itu.
Rakara kembali berusaha melepaskan pelukan Aiyla, membuat Aiyla semakin memeluknya erat, bahkan kini menindih setengah badannya, bak memeluk sebuah guling. Sungguh semakin membuat Rakara frustasi, Rakara bahkan menggigit bibir bawahnya.
"Ai, Ai minggir dikit, Ai," Rakara berusaha membangunkan Aiyla agar sedikit menjauhi dirinya. "Ai bangun dulu Ai."
"Hm," Aiyla sedikit bergumam dan mengerutkan pelukannya lagi.
Sungguh posisi yang membuat Rakara frustasi dengan hal tersebut. "Sh ah," Rakara mendesah di sela frustasinya kala Aiyla sedikit bergerak dan menyentuh sesuatu yang di bawah tersebut.
"Gimana ini," Rakara menggaruk kepalanya.
^^^"Tapi ayah sama Aldi tak menyebutkan ini, bagaiman ini?" Rakara sedikit bingung dengan kondisinya saat ini.^^^
Bahakan saat ini Rakara tak bisa tidur, hingga akhirnya terdengar ketukan pintu di luar kamarnya. Rakara segera mendorong Aiyla namun pelukan Aiyla yang erat membuatnya tak bisa terbebas.
"Ai sayang bangunan dong," pinta Rakara sembari terus mendorong tubuh Aiyla. "Ai sayang," Rakara menepuk nepuk pelan pipi Aiyla.
__ADS_1
"Hm," Aiyla segera membalikkan tubuhnya, menjauh dari Rakara.
"Huh," nafas lega Rakara berkumandan, membuat Rakara buru buru berdiri, dan membuka pintu kamarnya.
"Tuan makan malamnya bagaiman?" Seorang pelayan menanyakan makan malam yang di pesan oleh Rakara.
"Eh iya jadi, tadi saya ketiduran," jawab Rakara tersenyum.
"Jadi di dalam tuan?"
"Iya masuk aja," Rakara mempersilahkan orang orang itu untuk masuk, dan mempersiapkan makan malam romantis untuk Aiyla.
Rakara segera masuk dan menutupi tubuh Aiyla hingga ke leher dengan selimut tebal, membuat Aiyla semakin nyenyak. Rakara tak rela berbagi pose indah Aiyla saat tertidur dengan orang lain.
Sementara itu pelayan tersebut tersenyum, mengira Aiyla dan Rakara baru saja melakukan sesuatu yang iya iya. Mereka tersenyum malu malu, kemudian menyiapkan makan dengan cepat, agar kedua pasangan tersebut dapat makan, tanpa menunggu kelaparan menghampiri.
Setelah hidangan makan malam romantis selesai, para pelayan hotel tersebut segera keluar dari kamar Rakara, sementara Rakara segera menutup pintu kamarnya, agar tidak ada gangguan dari pihak lain. Rakara segera merangkak ke atas tempat tidur, dan mencoba membangunkan Aiyla.
"Ai bangun dong, makan malamnya udah datang nih," Rakara segera membangun Aiyla dengan menggoyang goyangkan tubuh Aiyla. Memang benar Aiyla benar benar kebo, susah di bangunkan persis kata Ahmed tempo hari lalu, tentang kebiasaan Aiyla yang sulit untuk di bangunkan. "Ai bangun," dengan makanlah Rakara menggigit hidung mancung Aiyla.
Sontak saja tidur indah Aiyla terganggu, dan segera perlahan lahan membuka matanya, dan mendapati Rakara tepat berada di atasnya. "Ah," Aiyla refleks terbangun sembari memegang selimutnya. "Kakak ngapain?"
Rakara terkekeh geli melihat wajah terkejut Aiyla. Rakara segera berdiri dari tempat tidur. "Kakak dari tadi bangunin kebo, yang susah bangun, sampai saya guncang guncang badannya," jawab Rakara segera memasukkan tangannya di kantung bokernya, sesungguhnya Rakara saat ini tengah menahan diri untuk tidak memeluk gadis wajah bantal tersebut.
"Kakak lagian malam malam gini ngapain bangunin Ai," perogies Aiyla. Ah, tampaknya gadis itu kini menjadi gadis cerewet kembali, dengan segala macam protes yang ia layangkan.
"Kamu mau makan malam tidak?" Rakara segera mendekatkan wajahnya ke arah Aiyla, sembari menghembuskan nafasnya hingga menerpa wajah Aiyla.
Aiyla yang mendapat perlakuan tersebut menjadi malu sendiri dan memerah, sungguh ini sangat dekat dan Aiyla tak pernah sedekat ini dengan Rakara. yang kini jarak wajah mereka hanya setengah Senti meter saja, bahkan hidung mancung Rakara juga kini sedikit tersentuh dengan hidungnya.
^^^Rakara tersenyum ketiak melihat rona merah di wajah Aiyla. "Misi ketiga mendekatkan wajah hingga nafas kita menerpa wajah wanita, kemudian jika wajahnya memerah berarti wanita itu sedang salah tingkah," Rakara tersenyum puas.^^^
Rakara segera menjauhkan wajahnya sebelum dirinya lah yang lepas kontrol, dan terjadilah yang mampu membuat Aiyla menghindarinya, dan lebih menakutkan membenci dirinya.
Aiyla segera bangun dan ergi mencuci wajahnya, menetralkan perasaannya, agar rona wajahnya tak tampak lagi. Aiyla bahkan kini menepuk nepuk pipinya agar rona merah segera terusir.
"Kak kok kita memakan malam di kamar ya?" Aiyla memandang wajah Rakara dengan pandnagan bingung. "Bukannya harusnya kita makan malam di luar ya?"
^^^"Ini untuk kita sayang, saya sengaja mempersiapkan nya," Ingin rasanya Rakara berteriak semacam itu kepada Aiyla.^^^
"Oh ini pelayanan dari pihak hotelnya, jadi ya kakak terima aja, biar hemat," jawab itu yang keluar dari bibir Rakara yang penuh dengan kebohongan dan padahal dirinya lah yang meminta pelayanan tersebut.
"Wih kakak benar benar keren," ucap Aiyla segera mengacungkan kedua koilnya ke arah Aiyla.
__ADS_1
"Makasih kamu juga cantik," Gumam Rakara.