Duda Genit

Duda Genit
S3 (Aiyla yang anti-mainstream)


__ADS_3

Aiyla siang ini kembali ke kantor bersama dengan Rakara, namun bedanya adalah kali ini Ahmed ikut bersamanya. Aiyla yang berjalan di tengah tengah membuat semua pandangan tertuju kepada Aiyla, terlebih lagi saat ini Aiyla tengah di memegang berbagai makanan yang memang harus selalu stand by di tempatnya, di bantu oleh Ahmed.


Jika di lihat dari kacamata orang awam, kedua kakak beradik yang mukanya sangat mirip itu selalu akur, dan berdamai. Bahkan tak jarang mereka saling melempar candaan jika sedang berada di depan kamera.


Begitu pula saat ini, Ahmed dan Aiyla terlihat sangat kompak, membuat para karyawan kagum. Mereka mulai mengerti kenapa Aiyla berani membantah bos mereka, ini karena Aiyla adalah adik dari Ahmed, salah satu CEO dan pengusaha muda yang terkenal. Wajah mereka yang sangat mirip, membuat orang orang mudah mengetahui hubungan mereka. Di tambah lagi saat ini Aiyla tengah melingkarkan tangannya manja di lengan Ahmed.


Namun kemesraan itu hanya bertahan ketika mereka sampai di ruangan Sidik dan Aiyla. Bahkan saat ini Ahmed sengaja mengibas ngibaskan tangannya di hadapan Aiyla, agar Aiyla tahu betapa lelahnya dirinya membawa belanjaan Aiyla.


"Dasar tukang makan," Ahmed kembali merutuki kebiasaan adiknya yang suka sekali membeli makanan, sebagai bahan cemilannya. Padahal dia sendiri tidak sadar, bahwa dia lah yang suka menghabiskan makanan adiknya secara diam diam.


"Dasar tukang ngabisin makanan," balas Aiyla seketika mendapat plototan tajam dari Ahmed. "Apa? Emang bener kan?"


Rakara hanya menghela nafas ketika melihat pertengkaran tersebut, benar benar seperti kucing dan tikus. Padahal baru saja tadi di sepanjang parkiran, hingga lobi, dan berakhir di dalam ruangan asisten dan sekertaris. Mereka berbaikan, dan kini mereka kembali bertengkar hebat, hanya karena jajanan ringan yang di bawa Aiyla.


Ahmed segera menarik satu dua renteng jajanan ringan dan dua botol minuman yang mengandung caffein. "Gaji karena gue udah berbaik hati bawain makanan lo."


"Ih dasar pelit, lo tu udah kaya, harusnya ga usah gitu ya," kesal Aiyla, namun tetap berjalan ke arah rak rak yang masih kosong, sepertinya kemarin Aiyla yang membawanya. Karena jujur saja ini pertama kalinya Rakara melihat hal tersebut.


"Loh itu bukannya rak rak yang sering ada di mini market ya?" Rakara menunjuk rak yang asing di matanya.


"Hehehe iya pak, buat meletakkan jajanan," kata Aiyla segera meletakkan beberapa jajanan yang akan menemaninya dalam bekerja.

__ADS_1


"Lalu itu kulkas?" Rakara kembali menunjuk kulkas kecil di samping rak jajanan tersebut.


"Hehehe tepat sekali," Aiyla mengacungkan ibu jarinya ke arah Rakara.


"Dek lo pindah kosan ya? Kenapa ga nambah kasur sekalian?" Ahmed memandang heran ke arah Aiyla. Adiknya itu memang penuh kejutan seperti mamanya, sehingga terkadang membuat Ahmed dan Chandra terdiam karena kehebatan mereka.


"Udah ada nih," Aiyla segera membuka tirai tambahan yang ada di belakang tempat duduknya, sembari tersenyum. Di balik tirai tersebut terdapat sofa malas, yang menghadao langsung ke arah jendela, yang juga tertutup gorden besar. Ruangan tertutup tirai besar tersebut terletak di sudut ruangan.


"Waw impresif," Ahmed sekali lagi speechless melihat kehebatan adiknya.


"Ya lah, biar nanti kalau kak Sidik harus lembur, dia bisa tidur di situ, terus ga usah bolak balik buat nyari jajanan atau makanan, nah kalau siang hari, Ai kan kadang butuh istirahat, jadi mungkin bisa istirahat di situ, dan ga usah bolak balik pantri buat makan siang, Ai tinggal bawa bekal," Aiyla bertepuk tangan bangga di hadapan ketiga orang yang memandang nya dengan pandangan sulit di artikan. "Hebat kan Ai."


"Ah," Rakara benar benar tak menyangka dengan pemikiran gadis ini.


Rakara hanya menggeleng melihat tingkah gadis tersebut, sungguh memang selalu di luar dugaan. "Bapak ga punya kan yang seperti ini di dalam ruangan bapak? Nah bapak mulai hari ini bisa beristirahat di sini."


"Iya terimakasih," Rakara hanya mampu mengatakan hal tersebut, tak pernah sekalipun terfikir akan hal itu, sepertinya ia harus mulai banyak bertanya kepada wanita tersebut. Wanita itu bagus untuk sebuah ide gila, yang tak akan pernah terpikirkan.


"Dek kakak juga mau di buatin ini dek," sepertinya Ahmed kini ingin memiliki tempat seperti itu juga, sungguh sangat keren baginya. Bisa bersembunyi di balik ruangan rahasia, di dalam ruangannya.


"Mau? Wani piro," Aiyla membuat Ahmed mendecik kesal kemudian mengajak Rakara yang masih terlihat kagum dengan ide gila adiknya.

__ADS_1


"Ayo jangan kagum m, entar lo suka lagi."


Setelah kedua orang itu masuk ke dalam ruangan Rakara, dengan dua renteng makanan ringan, dan dua minuman ber_coffein, Aiyla segera memandang ke arah Sidik.


"Ide gue mantul kan?" Aiyla meminta pendapat dari Sidik, membuat Sidik mengangguk dengan pasti.


Ah, seandainya sejak dulu Aiyla hadir di kantornya, mungkin saja ide sebagus itu ada di dalam ruangan tersebut. Sidik memandang sebuah minuman favoritnya yang akan di masukkan oleh Aiyla. "Ai boleh kakak minta itu?" Sidik sedikit berhati hati meminta hal tersebut.


"Iya lah, ini kan emang buat kakak, soalnya Ai kemarin kiat kakak mesan ini terus, jadi Ai kepikiran buat beli ini tadi," Aiyla tersenyum ke arah Sidik, membuat Sidik tersenyum senang.


"Makasih Ai, baik banget sih kamu," Sidik segera mengambil minuman tersebut dan mengambil beberapa makanan untuk menemaninya bekerja.


"Sip sama sama kak," Aiyla tersenyum kemudian kembali memasukkan sisa belanjaan yang belum di masukkan ke dalam tempatnya.


......................


Tampaknya sore ini Sidik sedikit bersemangat untuk bekerja, karena tadi setelah menyelesaikan berkasnya, Sidik menyempatkan diri untuk beristirahat, memang Sidik semalam ini membutuhkan hal tersebut, membuat Sidik mampu memulihkan kembali tenaganya, mem_refresh_kan isi kepalanya untuk sejenak.


Rakara yang melihat hal tersebut sungguh puas dengan hasil kerja, dan ide gila dari Aiyla, selain untuk kedua karyawannya itu istirahat, ini juga bagus untuknya jika harus lembur, dirinya bisa beristirahat di situ, tampa harus tertidur di kursi kebesaran lagi, atau di sofa ruangannya itu, yang justru semakin membuatnya tidak nyaman, atau tubuhnya pegal pegal.


Bahkan kedua orang tersebut, terlihat tak pernah beranjak dari ruangannya, hanya sekali kali beranjak dari tempat duduknya, untuk mengambil minuman, atau jajanan ringan dari rak yang telah di siapkan.

__ADS_1


Rakara melihat aktifitas tersebut tak lepas dari bantuan cctv yang terletak di ruangan sekertaris dan juga asisten. Bahkan Rakara juga tadi sempat beristirahat, dan meminum minuman kesukaannya di dalam tempat tersebut.


"Ah, strategi untuk lembur cocok di tempat anak itu."


__ADS_2