
Bram baru selesai dari mengenakan kaus abu abunya, kini Bram akan turun menemui sepupunya yang cerewet itu. Bram segera mendudukkan badannya di samping Rayana.
Rayana dan Bram saling berpandangan, kemudian memandang ke arah Aska, mereka berencana mengusir halus tuan rumah, namun jika ia sadar. Merasakan pandangan anak anaknya, membuat Aska sadar diri tentang urusan anak muda.
"Ya udah deh papi ke kamar dulu, mau istirahat," kata Aska meninggalkan kedua anak muda itu, yang ingin curhat curhatan.
"Kenapa sih?" tanya Bram penasaran.
"Gue bego banget tau ga," kata Rayana memutuskan pembicaraannya. "Gue ngegombali laki orang, mana udah punya anak lagi."
Bram terkekeh mendengarkan penuturan dari Rayana, sungguh geli ia mendengarkan curhatan adiknya itu. Rayana benar benar kena batunya, akibat suka sekali menggombali semua orang.
"Makanya jangan suka ngegombali orang sembarangan, ini kadang tukang siomay lah yang di gombali," kata Bram sembari mengusap lembut kepala adiknya.
"Ya udah bentar ya tunggu di sini, gue buatin minum dulu," kata Bram meninggalkan Rayana.
Lumayan lama Rayana menunggu Bram, hingga membuat gadis itu segera membuka ponselnya, dan memutar beberapa video kucing lucu kesukaannya. Rayana terkikik melihat video tersebut, dan tampak larut dalam menikmati video tersebut.
Hingga akhirnya Bram kembali dan mengejutkan Rayana dengan coklat hangat. "Hai enak banget lo nonton video nya."
"Lagian nungguin lo lama banget sih," kata Rayana sembari menyambar coklat hangat tersebut. "Hm... thanks."
Setelah sekian lama mengobrol menceritakan berbagai hal. "Lusa kayaknya gue ke luar negeri deh, tolong titip kak Raka ya."
Bram terkikik mendengar penuturan Rayana. "Yang harusnya di jagain tu lo, liat aja baru aja lo ngegombalin suami sekaligus bapak orang."
Rayana cemberut mendengarkan kata kata Bram, itu adalah insiden yang tak ingin di ingatnya, sungguh memalukan.
"Gue ga tau, kalau tahu juga ga mungkin gue gitu," kasal Rayana memandang Bram yang masih tertawa. "Diam."
__ADS_1
Rayana mulai kesal dengan tawa menjengkelkan tersebut, Rayana segera membekap mulut ember Bram. "Braaamm, diaaam."
Bram semakin tertawa geli melihat wajah kesal sepupunya, ada sensasi terbaru ketika melihat Rayana kesal.
"Braammm, sudahlah aku pulang," kata Rayana segera berdiri meninggalkan Bram yang sedang menertawainya.
Rayana dengan kesal meninggalkan Bram, si sepupu minim hiburan itu. "Raya tukang ambek sekarang ya."
Semakin kesal saja Rayana mendengar teriakan dari Bram, membuatnya segera meninggalkan Rumah mewah tersebut.
Rayana memacu kendaraannya menuju kediamannya, dimana di sana sudah ada ayah, dan bundanya yang sedang menanti mereka pulang. Sembari menikmati hari tua mereka.
Di rumah Daniel dan Angel tengah duduk di taman belakang, dekat dengan kolam berang. Mereka saat ini berada di kursi ayunan. Daniel membawa kepala Angel untuk bersender di dadanya, sembari bercerita banyak hal tentang masalalu mereka, dan masa masa indah mereka, ketika masih muda dulu.
Ah, bahkan saat ini Angel masih muda, ia masih tampak seperti ibu muda. Sehingga membuat Daniel semakin protektif kepadanya, dan meminta Angel selalu berada di sampingnya kemanapun ia berada.
Angel mengangguk kemudian memandang ke arah Daniel, di matanya Daniel tetap lah Daniel yang gagah. Ah... cinta, memang terkadang buta, namun sangat baik untuk hubungan agar bertahan sangat lama.
"Kenapa bee, aku tahu kok aku masih sangat ganteng," kata Daniel terkekeh.
Daniel masih Daniel yang lama, yang dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Daniel terkekeh ketika melihat istrinya mencibirnya. Daniel sudah dapat membaca semua ekspresi wajahnya, karena sudah lama hidup bersama.
Sementara itu di atas balkon Rakara tersenyum melihat kemesraan ayah dan bundanya. Sungguh Rakara menginginkan hal itu hingga tua nanti. Rakara sangat mengagumi kisah cinta antara ayah dan bundanya, kepercayaan, dan keterbukaan antara satu sama lain sangatlah bisa di ajungi jempol.
Rakara terkekeh ketika membayangkan itu adalah dirinya dan Rani. Rakara segera mengambil telfon genggam nya, dan segera menelfon Rani. Ah... baru memang jika di mabuk asmara semuanya sangat indah, selalu merindukan satu sama lain.
"Halo," kata Rani dari ujung telfon sana.
Rakara tersenyum ketika melihat wajah Rani melalui sambungan telepon video call, Rani ikut tersenyum melihat senyum menawan yang selama ini di rindukannya.
__ADS_1
"Halo Ran, kamu lagi ngapain?" tanya Rakara semabari menikmati senyum yang di lontarkan Rani, melalui senyum onlinenya.
"Ini baru istirahat, lagi nonton tv, ga banyak yang mau di kerjakan, nanti pesan online aja," kata Rani seraya tersenyum manis ke arah Rakara. "Kamu lagi apa?"
Rakara tersenyum mendengar penuturan kekasihnya itu, sungguh sangat cantik saat ia tersenyum. "Ini lagi liat ayah dan bunda, mereka lagi pacaran, lihat deh mesra banget."
Rakara mengarahkan kameranya ke arah Daniel dan Angel, yang saat ini masih sibuk berduaan di bawah. Rani tersenyum ketika melihat Daniel memeluk Angel dengan sangat mesra.
Daniel terlihat sesekali mengecup bibir Angel, sembari menautkan tangan mereka. "Mesra banget ya, pingin deh punya masa tua seperti itu, langgeng samapai kakek nenek."
"Iya tinggal tunggu cucu aja lagi mereka, jadi ga sabar pingin cepet cepet lamar kamu," kata Rakara, sembari tersenyum melihat ke arah Rani, yang saat ini masih sibuk menikmati kemesraan calon mertuanya.
"Ha kamu bilang apa?" Rani mencoba memastikan pendengarannya, takutnya ia salah dengar.
"Ya ampun kakak Rakara Mark Rosyid, orang kalau ngelamar itu yang romantis dong," tiba tiba suara Rayana menggema di samping Rakara, sembari terkekeh melihat ke arah ponsel Rakara.
"Apaan sih deh, udah kayak makhluk halus aja kamu, di mana mana muncul, mana tiba tiba lagi," kesal Rakara sembari memandangi wajah Rayana dengan kesal. "Ngapain kamu ke sini?"
"Ya mau ketemu kakak lah, masa ketemu bunda sama ayah, entar ganggu orang lagi mesra mesraan lagi," kata Rayana tersenyum menggoda ke arah Rakara. "Kak Rani, calon kakak ipar tercantik. Kalau mau nikahan tunggu Raya di Indonesia ya, biar bisa nyari jodoh di nikahan kalian."
Rakara menggeleng mendengarkan kata kata dari adiknya, sungguh permintaan yang aneh. Padahal tanpa melakukan hal itu, Rayana sudah pasti mendapatkan pendamping, karena banyak yang diam diam jatuh hati kepadanya.
"Aneh kamh dek, nih mending kamu pergi nyari Sri Rama kamu lagi gih, ketimbang gangguin kakak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....
__ADS_1