
Saat ini Rakara dan Aiyla baru saja sampai di rumah keluarga besar Mark Rosyid. Di sana sudah ada keluarga Aiyla yang menunggu dengan was was. Aiyla turun dengan santainya menggunakan kacamata hitam, seolah mereka tengah di sambut. Aduh Aiyla, ini nih terlalu banyak nonton drama, dan film. Orang orang yang menunggunya dengan wajah cemas, sementara dirinya turun dengan santai bak bintang baru saja memenangkan penghargaan piala Oscar.
Aiyla melambaikan tangan mendekat ke arah keluarganya yang sudah shock mendengarkan kabar tentangnya. Sementara Rakara turun dengan wajah sedikit pucat, karena baru mengalami sesuatu hal yang mengejutkan. Aiyla menurunkan sedikit kacamatanya ketika memandang wajah Rakara yang sedikit pucat.
"Ga usah di temenin dia cupu," gumam Aiyla menggeleng kan kepalanya heran. "Yo guys, ayo masuk."
Ketika mereka masuk Ahmed memandang Aiyla dengan pandangan haru. "Lo ga apa apa kan dek?" Ahmed segera memegang dan memutar tubuh Aiyla. Kemudian memeluknya.
Sungguh meskipun dirinya suka sekali menjahili Aiyla, namun Ahmed tak akan tinggal diam jika mendengar adiknya dalam bahaya, mungkin dirinya adalah orang pertama yang akan menghadapi orang orang tersebut, meskipun dirinya yakin bahwa adiknya bisa menjaga diri.
"Ga ini bisa berdiri," Aiyla segera melepaskan pelukan Ahmed yang menyesakkan dada, dalam artian yang sebenarnya.
"Ma lengkap, sehat walafiat, hidup pula," Ahmed mengatakan hal tersebut, dengan berlonjak girang, membuat orang memandang ke arahnya.
Aiyla memicingkan matanya mendengar dua kata terakhir Ahmed. Hidup pula? Bagaiman nih maksudnya? Aiyla tampak berpikir keras, walaupun malas.
"Eh maksud lo apa?" Aiyla sangat kesal ketika mengingat dua kata terakhir Ahmed. "Lo do'a in gue mati ya? Sumpah lo."
"Ih enak aja ga, ga ada gue ngomong gitu ya, lo tu sukanya dzu'uzon sama gue," Ahmed tak terima, karena maksudnya bukan itu, hanya saja pemilihan katanya yang kurang tepat, membuat Aiyla ingin sekali memukul kepala Ahmed.
"Lah muka lo keliatan," Aiyla kini memandang wajah Ahmed dengan sinis, Aiyla bahkan menaikkan volumenya.
"Idih emang ada bacaannya?" Ahmed sangat sewot, dia merasa tak bersalah sama sekali.
"Ada hati lo bisa gue denger," kini si cenayang Aiyla mulai timbul, mantra membaca pikirannya kini telah kambuh.
"Emang lo peramal? Bukan kan?" Ahmed ngotot tak ingin disalahkan.
"Idih nyolot lo?" Aiyla kini mulai menantang Ahmed, bahkan kini Aiyla berkacak pinggang, memandang sinis ke arah Ahmed."
__ADS_1
"Lo yang nyolot," Ahmed menantang balik aiyla, Ahmed tak ingin kalah, Ahmed memilih bersidekap dengan pandangan yang tak kalah sinis. Kini kedua orang itu seperti mengukur kekuatan dari sorot mata mereka.
"Idih ngebantah aja lo, gue aduin sama pacar lo," Aiyla mulai mengeluarkan jurus ancamannya.
"Pacar gue yang mana?" Ahmed yang memang notabennya playboy kini bingung dengan siapa yang di maksud kan.
"Yang mana aja, pokoknya gue ngadu," Aiyla hampir menepuk jidatnya sendiri, karena lupa bahwa kakak nya ini memang playboy cap kaki dua. Belum selesai dengan amarahnya, tiba tiba Aiyla mencium sesuatu yang tak asing dari tubuh Ahmed. "Eh dulu deh, lo pakai parfum gue ya?"
"Ya elah tinggal dikit doang ini," Ahmed juga ikut mencium pakaiannya, jujur saja parfum yang ia curi kali ini benar benar wangi, pantas saja Aiyla menyimpannya dalam dalam. "Lagian baunya enak, lo juga ngapain pakai parfum cowok."
"Eh lo tau ga? Ini itu limited edition keluaran dari parfum CR7 mahal," Aiyla benar benar kesal, bahkan ini parfum yang sulit untuk di dapatkan, dan hanya ada beberapa di dunia. "Mamah," Aiyla benar benar berteriak mengadukan kakaknya.
"Eh nanti dulu itu, entar gue ganti," Ahmed menahan Aiyla dan segera membawanya duduk. "Masalahnya kok muka dia masih ada sisa pucatnya gitu ya? Kayak nasi basi tiga hari."
Kini mereka akan mulai bergosip tentang Rakara, bahkan tak tanggung tanggung mereka sengaja membesarkan suaranya, agar Rakara dapat mendengarkannya dengan jelas. Bahkan yang lain memandang mereka dengan pandangan heran, bercampur ingin tertawa. Ekspresi Aiyla dan Rakara sangat terbalik, Rakara yang masih pucat pasi, sementara Aiyla yang dengan wajah super santai.
"Nah itu dia, dia ga usah di temenin, ketimbang mainin pistol aja ga bisa," Aiyla memandang ke arah Rakara dengan pandangan mengejek. "Tadi ya dia langsung gelagapan."
Orang orang sudah menahan tawa melihat tingkah mereka, baru saja bertengkar, tiba tiba kembali berbaikan dan menyerang Rakara habis habisan.
Rakara? Jangan di tanya lagi, wajahnya memerah menahan malu, dan kesal melihat kedua sepupunya yang mengejeknya habis habisan.
"Nah itu dia, cupu banget tau ga," Aiyla benar benar pintar dalam hal meledek.
"Iya ga pernah nonton film action kali," Ahmed kini berpura pura berfikir, memancing amarah Rakara.
"Kali mana?" Aiyla tiba tiba merubah haluan pembicaraan.
"Kalibata," Ahmed benar benar nyambung dengan hal yang nyeleneh dari adiknya.
__ADS_1
"Boleh tu kita main lempar lemparan, kali aja ada yang benjol," Aiyla membuat semua orang cengong.
"Eh iya kemarin gue ngelempar dan ada yang kena."
Ah, sepertinya kini lebih menarik sesi curhat dari pada sesi kekhawatiran.
"Dapat apa? Nomor cewek ga?" Aiyla membuat wajah pemasaran. "Punya kakak cowok ga?"
"Kayaknya engga deh," Ahmed berpura pura berpikir keras.
"Eh mah anak om Erick sama om Alex ganteng ya, bisa di deketin dong," Aiyla tiba tiba mengingat wajah om om tampan yang dulu saat kecil sering datang ke rumah nya.
"Eh udah gede, satu spesies kayak kita," Ahmed tiba tiba teringat dengan yang di maksud Aiyla.
"Seriusan?" Aiyla tampakanya sangat tertarik.
"Iya hebat main kartu," Ahmed kembali mengungkit kehebatan mereka dalam bermain kartu.
"Bisa dong kita ajak main judi," Aiyla memberikan ide yang membuat Aliya mendekat dan menjewer telinga kedua anaknya.
"Main judi? Coba saja, mama orang pertama yang akan menjebloskan kalian ke penjara," Aliya kini menggeram dengan arah omongan kedua anaknya yang tak pernah bisa diam.
"Iya iya, mama ga asyik banget sih," Aiyla protes kesal.
"Kak kayaknya lo bakal banyak pesaing, calon istri lo idola banget kayaknya," Rayana segera berbisik di samping Rakara membuat Rakara memandangnya dengan tajam.
"Sayang jangan gitu sama kak Raka, kasih semangat aja terus do'a in supaya jodoh," dokter Aldi segera menarik Rayana ke dalam pangkuannya, agar tak banyak bergerak.
"Aaa cie sweet, ayo kak kita coba juga, boar sweet gitu," tawar Aiyla.
__ADS_1
"Ah ga ah, sana nah sama calon suami lo," Ahmed menunjuk ke arah Rakara.
"Ah ga ah, masih pucat. Akibat efek samping terlalu banyak nge-gym, kuat otot doang."