
"Sayang ayah sama bunda repot ga ya?" Dokter Aldi tampak tak rela meninggalkan Willi, sehingga mencari berbagai alasan.
Rayana menyadari hal itu segera tersenyum, ia kemudian memandang ke arah dokter Aldi, Rayana segera meraih dan mengusap lengan dokter Aldi.
"Sayang ga ada nenek yang merasa terganggu oleh cucunya, justru mereka senang jika ditemani oleh cucunya, sama seperti orang tua," kata Rayana mencoba meyakinkan dokter Aldi. "Lagian kan di rumah banyak asisten rumah tangga, penjaga juga ada, orang sembarangan ga boleh masuk."
Dokter Aldi menganggu sedikit pasrah sejujurnya ia takut meninggalkan Willi, sehingga saat ia kembali ia tak melihat keberadaan Willi lagi, karena di ambil oleh ibu kandungnya.
"Sayang aku tahu apa yang kamu khawatirkan, ingat kita kesana juga untuk mengecoh mantan istri kamu," Rayana kembali meyakinkan dokter Aldi. "Percaya kita akan menang, Om Brian akan membantu, om Aska juga, papa apalagi. Willi akan tetap menjadi Willi kita, ga akan ada yang berubah."
Dokter Aldi tersenyum mendengar pernyataan dari Rayana. "Terimakasih sayang."
Rayana mengangguk tersenyum kemudian segera minum, karena telah selesai makan. Dokter Aldi pun melakukan hal yang sama.
"Loh udah kenyang? Aku tungguin kok," kata Rayana tersenyum manis.
"Engga kok ini udah kenyang," kata dokter Aldi segera berdiri.
Rayana dan dokter Aldi segera berjalan menuju ruang keluarga untuk melihat semua persiapan mereka, bersamaan dengan koper yang tersusun rapi.
"Udah siap semua ya?" dokter Aldi melihat semua barang bawaan yang sedang di periksa Rayana.
"Udah, alat untuk manasin air, alat untuk roti panggang, selai buat sarapan, alat pancing, umpan, pemanggang, korek api, kompor kecil, daging ham, selimut, baju baju, sendok, piring, sikat gigi, pasta gigi, sabun, handuk kecil, sun cream, masker wajah, handbody, skin care," kata Rayana menghitung satu satu barang yang akan ia bawa.
"Harus ya bawa skin care, handbody, sama masker wajah?" dokter Aldi sedikit bingung dengan hal itu.
"Harus dong, biar pulang badan tetap kinclong ga kusam," kata Rayana sembari tersenyum manis.
"Iya iya, yaudah bentar lagi mobil datang ni sayang, langsung di masukin ke mobil atau gimana?" dokter Aldi memandang Rayana.
"Langsung aja biar besok ga repot, oh ya habis itu kita jemput Willi atau ngantar barang aja? Kalau ngantar barang, sebaiknya kita tidur di sana aja, biar Willi ga merasa di tinggalkan," kata Rayana.
__ADS_1
"Iya sih bagus juga, ya udah kita kesana aja yuk," dokter Aldi menyetujui apa yang di rencanakan Rayana.
Dokter Aldi dan Rayana di bantu para pelayan, akhirnya mengangkat semua keperluannya untuk di bawa ke acara bulan madu mereka, tanpa ada yang ketinggalan.
Setelah itu Rayana dan dokter Aldi segera masuk ke dalam mobil, dan segera melajukan mobilnya ke rumah besar Mark Rosyid.
......................
Tepat jam delapan pagi Rayan dan dokter Aldi telah bersiap untuk berangkat, dan dengan berat hati dokter Aldi melepas Willi bersama dengan Daniel dan Angel.
Namun Daniel juga telah meyakinkannya agar dokter Aldi tak merasa khawatir lagi, Daniel menjanjikan kemenangan bagi dokter Aldi, agar dokter Aldi merasa tenang di dalam menjalankan bulan madu uniknya. Sementara Rakara dan istri? Mereka sudah sejak lusa kemarin berangkat ke Paris untuk bulan madu, yah mereka menjalani bulan madu normal, seperti para laki orang kaya lainnya.
Setelah berpamitan sepasang insan manusia ini segera masuk dan menyalakan mobil mereka, minyak mobil mereka juga telah full. Mereka berdua segera melambaikan tangan di susul dengan melajunya mobil yang mereka tumpangi.
Rayana yang masih melihat keraguan di wajah suaminya, segera menggenggam erat tangan dokter Aldi. Agar dokter Aldi merasa aman dan percaya Willi akan baik baik saja dengan kedua orang tuanya.
Dokter Aldi tersenyum dan menghentikan laju mobilnya, kemudian mengecup kepala Rayana. Di sela sela kecupan itu, klakson bersahut sahutan seolah menjadi musik keduanya.
Aduh, padahal di dalam film Hollywood ini tak terjadi, tapi ya sudah lah mungkin mereka akan merindukan moment ini, karena ini memang rutinitas dari Jakarta jika pagi hari.
Rayana segera merangkak ke belakang, mengambil beberapa chiki untuk mereka makan.
"Mungkin selama kita di perjalanan nanti ini yang akan kita rindukan," kata Rayana terkekeh geli sembari membuka bungkusan chiki.
"Hm, mungkin saja," kata dokter Aldi kembali mengecup singkat bibir Rayana, mumpung masih macet, jika tidak ia harus berhenti dulu bukan? Meskipun itu tak akan merugikannya.
Rayana tersenyum segera menyuapi dokter Aldi, kemudian dirinya sendiri. "Kamu kalau capek Istirahat ya, soalnya aku ga bisa bawa mobil sih," cicit Rayana sontak membuat dokter Aldi terkekeh.
"Bagus deh kalau kamu ga bisa naik mobil, aku bisa jadi suami sekaligus supir pribadi kamu," kata dokter Aldi menerima suapan dari Rayana.
"Haduh, kan supir ada di rumah ngapain coba pakai kamu segala, kamu itu sibuk," kata Rayana terkekeh.
__ADS_1
"Sayang, sesibuk sibuknya suami, jika benar ia menyayangi istrinya maka akan tetap memprioritaskan istrinya, karena istrinya akan menjadi ibu bagi anak anaknya," dokter Aldi segera menggenggam tangan Rayana.
Namun pada saat tangan dokter Aldi menggenggam tangan Rayana, tiba tiba gas alam berbunyi dari dokter Aldi, membuat Rayana tertawa geli, karena bunyi itu terdengar sangat jelas.
"Ah, kamu kentut ya," kata Rayana terkekeh geli. "Ih bau."
"Mana ada bau, nih coba cium, ga ada bau baunya sama sekali, nih cium," kata dokter Aldi tak terima kentutnya di bilang bau.
Tak lama kemudian mobil pun berjalan, dokter Aldi segera membawa mobil mereka setidaknya menjauh dari kerumunan macet.
"Ga ada sayang, ga bau kentut ku," kasal dokter Aldi karena Rayana masih saja tertawa, kali ini dokter Aldi mengatakan laju mobilnya kembali, karena ternyata macet belum usai, sepertinya mereka berada dalam asal mula macet.
Saat Rayana tampa sengaja melihat ke luar jendela, dan melihat mobil yang tak asing di matanya.
"Sayang kayaknya aku kenal deh mobil itu," jata Rayana mencuil dokter Aldi.
Mendengar suara Rayana yang terdengar sangat serius, membuat dokter Aldi segera memandang ke arah pandangan Rayana.
"Eh itu kan mobil Agnes?" kata dokter Aldi yang tahu betul pemilik mobil itu.
Rayana segera mengambil ponselnya dan memotret mobil tersebut, yang kebetulan plat mobilnya terlihat, karena saat ini mereka hanya berjarak oleh petugas kepolisian dan garis polisi, serta beberapa warga sekitar yang ikut membantu.
"Pak ini kenapa ya?" Rayana bertanya kepada salah satu warga tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****Selamat berpuasa teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏****...
...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
__ADS_1