Duda Genit

Duda Genit
S2 (Kemarahan Rakara3)


__ADS_3

Zen baskara adalah ayah kandung Rani, ia merupakan rekan kerja Daniel lima belas tahun lalu, namun karena ketahuan melakukan kecurangan dalam bisnis, dan melakukan penggelapan dana, hal itu bocor kepada pihak perusahaan Daniel, membuat Daniel segera menarik dananya, dan membocorkan kepada media, dan sempat hendak menuntut Zen. Namun Angel mencegah nya karena Zen dulu merupakan sahabat Angel saat berkuliah.


Siapa sangka akibat hal tersebut Zen mulai jatuh bangkrut, hingga akhirnya jatuh miskin. Karena tak tahan akhirnya Zen memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Disitulah mulainya dendam Rani, Rani memanfaatkan pertemanan masa kecil mereka, saat mendekati Rakara di bangku kuliah, hingga Rani di terima menjadi asisten pribadi Rakara.


Pada pertengahan kuliah Rani sempat menikah dengan seorang pengusaha, namun Rani tetap mendekati Rakara hanya untuk balas dendamnya, namun suami Rani meninggal dunia akibat depresi karena bangkrut, dan kalah tender dari orang tua dokter Aldi. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Bertambah lah kini sakit hati Rani, porsi balas dendamnya bertambah, membuat Rani semakin menggila. Rani mendapatkan seluruh aset dari suaminya yang tersisa kemudian mencelakai kedua orang tua dokter Aldi.


Misinya berhasil, Rani kemudian menjual beberapa aset miliknya, dan memulai bisnis eksploitasi anak, hingga jual organ tubuh serta prostitusi, mereka berkedok kan panti asuhan, agar tak terhendus warga dan pihak berwajib.


Rakara terkekeh mendengarkan penuturan dari Rani, Rakara kemudian mencengkram leher Rani. "Kau akan mendapat yang setimpal dengan apa yang kau lakukan keluargaku, itu semua kesalahan keluarga mu sendiri, dan tidak ada sangkut pautnya dengan keluargaku."


"Dasar kau kira kau siapa? Jangan kira kau hebat telah menangkap ku, adik mu, adik ipar mu dan anaknya pasti telah mati, bahkan kau tertipu oleh ku," entah dari mana Rani mendapat keberanian itu. "Jika aku mati saat ini, maka itu tak akan masalah, kalian sudah kalah."


Rani terkekeh melihat wajah Rakara yang sudah menegang, tampak jelas bahwa Rakara tengah menekan emosinya.


"Sayang sekali mereka selamat, cuman yah anak mereka tak mampu selamat, tapi dari pada mengkhawatirkan mereka lebih baik kalian mengkhawatirkan diri sendiri," Rakara terkekeh melihat hal tersebut.


Rakara kembali mendekati Rani dan menggores lengan Rani, Rani meringis merasakan goresan pisau lipat yang sangat tajam di kulitnya.


"Sakit mas," Rani berucap menahan sakit.


"Mas? Bahkan bibir wanita sepertimu tak pantas memanggilku seperti itu," Rakara segera menggores bibir Rani dengan pisau lipat. "Wanita murahan yang suka mengorbankan dirinya untuk hal yang tidak mungkin, tak pantas untukku, mengerti?"

__ADS_1


Rani hanya mengangguk mendengarkan lelaki yang berstatus sebagai suaminya. Benar kata Rakara jika dulu Rani di limpahi kasih sayang, kini dirinya akan di limpahi segala kebencian.


"Akh sakit," Rani berteriak kesakitan ketika Rakara mengeluarkan keahliannya dalam membuat tato di lengan kiri rani.


Rakara seakan tuli mendengarkan teriakan Rani, kemudian Rakara segera membuka resleting belakang baju Rani. Kemudian membuka ponselnya seperti mencari sesuatu, benar saja Rakara sepertinya mendapatkan sebuah gambar yang unik, dan banyak detailnya.


Seakan mengeluarkan bakat terpendamnya, Rakara segera menggambar di atas kulit punggung Rani yang mulus, dengan menggunakan pisau lipat.


"Ah, ampun," teriakan Rani tak di hiraukan Rakara. "Ampun Raka."


Raka menghentikan aksinya kemudian memandang ke arah Rani, Raka kembali menggoreskan pisau di atas bibir Aliya. "Jangan sebut namaku dengan mulutmu."


Rani kini hanya memilih untuk diam dan menangis ketika Rakara menggoreskan pisau di atas kulitnya.


Anak buah dokter Aldi kembali benar benar akan mengambilkan alkohol namun segera di hentikan oleh anak buah Rakara. Anak buah Rakara segera memberikan Rakara sebuah botol.


Rakara segera menyiram tubuh istrinya itu dengan air tersebut, kemudian tersenyum mengerikan.


"Ah..." Rani berteriak kesakitan, tubuhnya perih menerima air tersebut.


Rakara tersenyum mendengar teriakan Rani, seperti sebuah alunan musik di telinganya. "Ah kalian bagaiman itu bukan alkohol tapi air perasan jeruk nipis."


"Ah ini bukan alkohol bagaiman kalian ini?" Rakara berpura pura marah kepada anak buahnya.

__ADS_1


"Maaf tuan," kata anak buah Rakara yang menyeringai ke arah Rani. Ia kemudian kembali memberikan botol botol ke arah Rakara, namun ini sedikit lebih besar.


Rakara segera menyiram tubuh Rani dengan air dalam botol. Seketika Rani berteriak karena merasa kesakitan di sekitar tubuhnya.


"Ah sakit, panas! Ibu tolong," Rani berteriak ketika merasakan seakan kulitnya meleleh, dan mendidih. Ibu Rani meringis mengiba sekaligus bersedih dalam waktu bersaman.


Ya, kulit Rani mulai meleleh, karena yang di siramkan kali ini oleh Rakara adalah air keras, bukan alkohol.


Dengan segala ke keberanian yang tersisah ibu Rani memandang Rakara dengan pandangan benci, kemudian mendorong tubuh Rakara, seketika sisa Air keras tertumpah di bagian leher dan juga wajah ibu Rani.


"Akh, panas, sakit," kini giliran ibu Rani yang berteriak kesakitan. Ibu Rani meringis merasakan sekitar wajah dan lehernya yang memanas.


"Ah itu bukan kesalahan ku, salah mu sendiri yang mendorongku dan sisa air nya mengenalimu," Rakara berkata dengan enteng melihat ibu Rani menutupi wajahnya.


Ardian hanya menelan ludah ngeri sendiri melihat kekejaman dari kakak ipar bosnya, Ardian tak menyangka seorang pendiam benar benar mengerikan.


"Ah sekarang giliran kalian berempat, sudah baik kami menampung kalian, dan membantu kalian, namun kalian justru mencelakai keluargaku."


Hi semua novel baru author udah ada nih, judulnya CEO Belok Vs Colonel cantik, jangan lupa di baca dan di like ya, di tunggu kedatangannya di novel baru author.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....

__ADS_1


__ADS_2