
Roni segera ber sender di jok kursi mobil, dan menutup kaca jendelanya. Membuat Daniel tertawa, melihat tingkah Roni.
Bagi Daniel Roni bukan hanya seorang asisten untuknya, namun Roni seperti sahabat. Tempatnya bercerita akan banyak hal, yang mengerti keinginannya.
....
Malam ini Daniel dan Roni keluar untuk melaksanan meeting. Daniel segera menelfon Angel, dan berencana untuk meminta izin, sekaligus menanyakan pendapat berpakaiannya.
Ya bagi Daniel, Angel adalah calon istrinya, yang harus tahu seluruh kegiatannya. Agar tidak terjadi kesalah fahaman. Begitu juga yang ia harapkan dari Angel, adanya kejujuran dalam diri Angel, kepada dirinya.
Wajar saja Daniel bersikap begini, karena Daniel kehancuran rumah tangganya, di landasi dengan adanya ketidak jujuran satu sama lain, serta kesalah fahaman yang membuat semua menjadi berantakan.
"Halo sayang." sapa Daniel ketika telfon di angkat, oleh Angel yang berada di ujung sana.
"Halo Dunit." sapa Angel sembari tersenyum.
"Kamu lagi belajar ya?" tanya Daniel, sembari tersenyum melihat buku, yang bertumpuk di samping Angel.
"Hm... siang besok harus ngirim melalui email." kata Angel sembari menunjukkan buku tebal miliknya.
"Ya sudah... jangan di paksakan, besok saja saat di kantor." kata Daniel, sembari tersenyum, guna menghibur Angel.
"Dunit lo mau kemana?" tanya Angel penasaran, melihat pakaian rapi dari Daniel.
Pasalnya saat ini Daniel tengah mengenakan pakaian casual, dengan jas biru tua, kaus putih, dan celana levis biru tua. Begitu sempurna melekat di badan, atletis Daniel.
"Oh saya akan keluar, saya akan ada meeting dengan client sayang." Kata Daniel sembari tersenyum.
"Bagaiman menurut kamu pakaian saya?" tanya Daniel menunjukkan pakaian yang ia kenakan.
"Hm... bagus kok, sama kak Roni?" tanya Angel.
"Clientnya penting banget ya?" tanya Angel lagi, membuat Daniel tersenyum.
Mendengar pertanyaan Angel, membuat Daniel berfikir Angel mulai mengkhawatirkan nya, dan mulai protektif terhadapnya.
Sementara Angel hanya penasaran dengan client Daniel, sehingga Daniel berdandan seperti tadi, Daniel malam ini berdandan sangat rapi.
"Iya sayang, tidak apa apa kan?" tanya Daniel tersenyum lembut, ke arah ponselnya.
__ADS_1
"Ya tidak apa apa kok, hati hati ya." kata Angel membalas senyum Daniel.
Daniel bersemangat mendengar penuturan dari Angel, membuatnya hampir saja melompat kegirangan. Jika saja tidak mempertahankan wibawanya di depan Angel.
"Ya sudah aku matiin ya Dunit." kata Angel sembari tersenyum bersiap mematikan sambungan teleponnya.
"Et no no no." kata Daniel membuat Angel menghentikan tangannya.
"Tetap di hidupkan, nanti kamu ketiduran, terus kita ga bisa video call-nya." lanjut Daniel membuat Angel tersenyum kecut.
"Ya ya ya terserah." kata Angel mengalah, memilih melanjutkan tugasnya.
"Iya sayang aku berangkat dulu ya." kata Daniel seolah pamit dengan istrinya.
"Pergi ya pergi aja Dunit, soalnya mau pergi atau ga pergi, video call-nya tetap jalan." kata Angel jengah.
"Hehehe latihan sayang." kata Daniel cengengesan, sembari mengedipkan matanya.
"Ha latihan buat apa?" tanya Angel penasaran.
"Latihan buat jadi calon suami yang baik." kata Daniel, sukses membuat wajah Angel memerah.
"Ya sudah sayang, aku berangkat." kata Daniel, sembari tersenyum, sembari membawa ponselnya tampa mematikan sambungannya.
"Iya iya... hati hati." kata Angel.
Angel melanjutkan mengerjakan tugas nya, sembari mengulum senyum, ketika mengingat tingkah Daniel, apalagi ketika Daniel tengah menggodanya.
"Bos, telponnya sibuk terus bos." kata Roni ketika mereka berada di dalam mobil, membuat Daniel segera mengalihkan pandangannya ke arah Roni.
Roni yang melihat ekspresi Daniel, dari kaca spion. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, jadi Roni memutuskan untuk mengatupkan bibirnya saja, sembari tersenyum pahit.
Seperti biasa, Daniel duduk di bangku penumpang bagian belakang, sementara Roni di bangku pengemudi. Karena supir mereka sudah kembali ke rumahnya, maka dari itu Roni lah yang menjadi supirnya.
"Saya lagi telponan dengan calon istri saya." kata Daniel sontak membuat Roni tercengang.
"Angel bos?" tanya Roni, yang pura pura bertanya, meski sebenarnya sudah mengetahuinya.
"Iya, ni." kata Daniel menyodorkan ponselnya sembari tersenyum kemenangan.
__ADS_1
Melihat tingkah bosnya, membuat ekspresi Roni semakin masam. Sungguh pemuda yang sangat malang, hingga saat ini tidak pernah berpacaran sekali pun. Padahal jika di lihat dari segi keuangan, dan paras. Roni sangatlah di atas rata rata, di bandingkan dengan lelaki lainnya.
Kalau kata anak muda jaman sekarang, Roni itu termasuk ganjir atau cogan tajir. Apalagi gaji Roni yang juga merangkak sebagai wakil CEO, sangatlah banyak. Apalagi dirinya juga sebagai orang kepercayaan dari Daniel, dan juga ibu Daniel.
Bahkan semenjak Daniel jatuh cinta kepada Angel, Roni banyak mendapatkan percikan, baik dari Daniel maupun ibu Daniel yang selalu penasaran, dengan segala sesuatu tentang calon istri anaknya.
Namun sikap acuh tak acuhnya, serta sikapnya yang sangat galak kepada wanita yang menyukainya. Membuat beberapa wanita memilih untuk mundur. Namun tak sedikit yang bertahan, dan memilih tetap jatuh cinta dengan Roni.
Salah satu nya Wati, karyawati bagian keuangan, yang menjabat sebagai kepala keuangan.
Namun semenjak pertemuan terakhir mereka, Wati memutuskan untuk melupakan Roni.
"Bos kita sudah sampai." kata Roni, ketika menghentikan mobilnys, membuat Daniel berdecak kesal, kerena obrolan nya menjadi terhenti.
Mereka segera turun dari mobil, dan masuk ke restoran tersebut. Mereka segera duduk di salah satu kursi, yang telah mereka pesan. Mereka memang memilih tempat yang sedikit terbuka, karena permintaan clientnya.
Tak lama kemudian client yang mereka tunggu segera datang. Roni segera memanggil pelayan, untuk melakukan pemesanan.
Mereka tak menyia-nyiakan waktu, mereka segera melakukan perbincangan mengenai kerja sama mereka, yang di tawarkan oleh Daniel.
Saat selesai melakukan meeting, kini client segera meninggalkan tempat mereka. Client tersebut meninggalkan mereka terlebih dahulu. Sementara Daniel dan Roni memutuskan untuk makan bersama.
Roni segera memanggil pelayan untuk melakukan pemesanan, seorang pelayan segera datang, dan melakukan pemesanan. Setelah mencatat semua pesanan Roni dan Daniel, pelayan tersebut segera meninggalkan meja mereka.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang, mereka segera memakan pesanan mereka.
Saat sedang makan, Roni mengedarkan pandangannya. Tampa sengaja Roni melihat Wati tengah, makan malam bersama dengan seorang pria. Saat melihat hal itu, tiba tiba Roni menjadi gelisah, dan tidak selera makan.
"Lah kenapa Ron?" tanya Daniel, saat melihat tingkah Roni yang tiba tiba berubah. Daniel segera mengikuti pandangan mata Roni.
Daniel tertuju pada Wati yang tengah, berbincang dengan seorang pria. Mambuat Daniel menggeleng.
"Kalau suka bilang dong." kata Daniel, sembari menunjukkan, video call-nya bersama Angel, yang saat ini tengah tertidur pulas.
...
Hi terimakasih untuk.
__ADS_1
Untuk pengapresiasian nya, dan semua orang yang telah membaca, comment, dan like. I love you all.