Duda Genit

Duda Genit
Pagi yang heboh.


__ADS_3

Angel bangun mendapati Daniel yang tengah memeluknya dengan erat, Angel terkekeh melihat tingkah Daniel yang begitu menggemaskan sepanjang hari kemarin. Ah... bukan menggemaskan, tapi lebih menjurus kepada mengesalkan. Angel sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat perban di jari telunjuknya, semalam ia tak mengingat apa apa, melainkan mengupas kulit buah apel untuk suaminya, yang sedang asik menonton drama Korea.


"Sunit... bangun," kata Angel sembari menusuk nusuk pipi Daniel, yang saat ini masih asyik di dunia mimpinya. "Sunit!!!" kali ini Angel setengah berteriak, membuat Daniel terbangun seketika.


"Hm... bee?" Daniel masih dalam keadaan bingung, dengan suara istrinya yang membangunkan nya.


"Tangan aku kenapa?" tanya Angel bingung.


"Hah? Tangan?" Daniel pun sepertinya belum sadar sepenuhnya, sehingga lupa dengan tangan Angel.


"Iya jari aku kok di perban?" tanya Angel lagi. Saat mendengarkan kata jari dan perban, ingatannya kembali kejadian semalam, bagaiman Angel bisa terluka, dan Daniel segera mengobati luka Angel.


Daniel memandang wajah istrinya dengan seksama, terlihat bahwa istri cantiknya saat ini tengah memasang wajah bingung. Daniel selalu saja tak bisa menahan rasa ketertarikannya, ketika melihat istri cantiknya baru bangun tidur, rasanya beribu ribu kali lebih cantik dari biasanya. "Cantik," celetuk Daniel membuat Angel bingung.


"Iya tahu, semua orang juga tahu, ini yang ga tahu, kok jari aku di perban," tutur Angel sembari menunjukkan jari telunjuknya di hadapan Daniel.


Ingatan Daniel kembali berputar, kali ini Daniel memandang ke arah kasur mereka, ternyata ada bekas noda darah yang tertinggal di sana, cukup banyak untuk noda kecil. "Semalam kena pisau buah bee, untung pisau buahnya aga tumpul."


Mendengar hal tersebut, ingatan Angel menerawang, meraba ke kejadian tadi malam. Ah... rupanya itu bukan mimpi, Angel kira itu hanya mimpi, rupanya nyata. "Ya sudah aku mau bang..." kata kata Angel terputus ketika Daniel memeluknya kembali dengan erat.


"Nanti ya... masih mau meluk," kata Daniel sembari mengecup leher Angel. Daniel sedikit membuka kancing piama Angel membuat Angel terkejut.


"Sunit ini masih pagi loh, ada ada aja," sewot Angel.


"Ih pikiran kamu ya lama lama me*sum, orang aku cuman mau nyium kamu, soalnya kamu harum banget," terang Daniel membuat wajah Angel memerah, bagaiman tidak tadi pikirannya sudah macam macam kepada suaminya.


^^^Gimana ga mikir macam macam coba? Orang kamu biasanya gitu. Kata Angel dalam hati, sembari memandang suaminya dengan yang terus mengecup dan menghirup udara di sekitar lehernya.^^^


"Bee harum banget sih," puji Daniel membuat Angel terkekeh. Kini Daniel menjadi lebih leluasa mengirup dan mengecup semuanya, karena Angel telah memasrahkan. "Bee pingin lebih."


Angel hanya menganga tak percaya, Angel tahu maksudnya, apa lagi sekarang Daniel tengah memasang tampang me*sum di hadapannya.


Dan akhirnya terjadilah pergulatan pagi, di kamar mereka. Menimbulkan peluh dan keringat di pagi hari. Setelah melakukan pelpasan, akhirnya Daniel ambruk di sisi Angel, yang tengah berbaring lemas.


Daniel kembali menghirup aroma tubuh Angel, yang semakin enak di hidungnya, setelah berkeringat. Daniel bahkan kini memeluk erat Angel dan menghirup rakus tubuh Angel, yang beraroma keringat.


"Sunit minggir ah mau mandi," kesal Angel, karena melihat suaminya lebih seperti an*jing pelacak yang mengendus bau narkoba di tubuh tersangka.


"Ga gaus usah mandi bee, kamu harum kalau gini," kata Daniel, sontak membuat Angel terkejut.


"Harum dari mana?" kesal Angel. "Orang ini bau asem keringat kok di bilang harum."


Daniel tak peduli ocehan istrinya, masih saja membaui istrinya. Daniel bahkan kini menenggelamkan wajahnya di tubuh Angel, kemudian menutup kepalanya dengan selimut. Seolah tak ingin berbagi aroma dengan yang lain, atau tak ingin aroma itu cepat cepat menghilang.


"Harum bee, kamu ga usah mandi ya, soalnya harum banget ini," pinta Daniel, membuat Angel membuka selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke leher. Dan mendapati Daniel masih dengan aktifitas yang sama, dengan membaui tubuhnya.


Ah... sangat syahdu, dan memabukkan. Sungguh aroma yang sangat enak dan nyaman ketika masuk ke rongga hidung. Membuatnya tak ingin berhenti meski hanya sebentar. Jika ada parfum yang baunya seperti ini, mungkin akan Daniel beli semuanya.


"Sunit mandi ya, nanti lagi cium ciumnya, habis mandi tambah harum ok," kata Angel mencoba membujuk suaminya, yang memiliki kelakuan aneh bin ajaib.


Daniel cemberut mendengar hal itu, kemudian kembali menghirup rakus aroma tubuh istrinya, yang di penuhi keringat. "Lima menit lagi," tawar Daniel, membuat Angel mengangguk pasrah.


Setelah sekian lama, akhirnya Daniel selesai menghirup tubuh istrinya, dan mengangkatnya ke dalam kamar mandi. Daniel bahkan kembali membaui istrinya yang tengah mandi, dan kembali dan meraup rakus aroma sabun di tubuh istrinya.

__ADS_1


"Sunit... cium bau sendiri, sama kok, ga ada beda satupun," kesal Angel karena terus saja di endus oleh suaminya.


"Ga bee baunya beda," kata Daniel dan kembali meraup aroma tubuh istrinya.


"Ya udah nanti ya, habis mandi, kamu mau ngelonin sepanjang hari ga apa apa, yang penting mandi dulu," tawar Angel membuat Daniel mengehentikan aktivitas nya.


Setelah acara mandi yang penuh dramatis, akhirnya Angel berhasil mengenakan pakaiannya, dan segera turun untuk sarapan dengan cepat, sebelum akhirnya di hentikan kembali oleh suaminya yang super aneh.


"Pagi bu..." sapa Angel ketika melihat ibu mertuanya masuk ke dalam rumah, dengan keadaan yang berkeringat. "Habis joging Bu?"


"Iya biar tetap bugar walaupun di rumah," kata Melisa tersenyum ke arah Angel.


Tak lama kemudian Daniel datang menyusul Angel, membuat penciuman Daniel yang tiba tiba menajam terganggu. Daniel langsung saja merasakan mual di perutnya ketika menghirup aroma tubuh ibunya.


"Eh Bu, kok dia muntah Bu..." panik Angel melihat keadaan suaminya.


Melisa ikut panik segera menyusul anaknya yang tengah muntah di kamar mandi dapur. Saat Melisa masuk semakin kuat Daniel mencium aroma tubuh Melisa, membuat Daniel semakin mual dan akhirnya kembali muntah muntah.


"Ibu keluar... ibu bau banget, bikin muntah," tutur Daniel membuat semua orang melongo, akhirnya Melisa menghirup aroma keringat tubuhnya, dan mundur secara perlahan. Melisa memasuki kamar nya dan segera bersih bersih.


Setelah di rasa baikan akhirnya Daniel duduk di meja makan berdempetan dengan Angel. Daniel terus saja membaui tubuh istrinya, membuat Angel kewalahan.


"Sunit mau di ambilin makanan ga?" Tanya Angel kepada suaminya, ketika mertuanya sudah duduk di hadapan menantu dan anaknya.


"Ga usah kan ada maid," kata Daniel serius saja membaui istrinya.


"Bentar doang kok cuman berdiri," kata Angel, membuat Daniel melepaskan pelukannya, kemudian kembali memeluk perut Angel. Sontak membuat Angel dan Melisa memutar bola matanya malas.


Angel akhirnya mengambilkan makanan untuk mertuanya, namun segera dihentikan mertuanya. "Sayang ga usah, kamu ambilin punya si perangko aja," sinis Melisa.


"Bee suap ya," kata Daniel sontak membuat Angel melongo. "Bee... ya ya ya," bujuk Daniel dengan mata berbinar penuh harap, membuat Angel mau tidak mau menurut.


"Dasar manja," guman Melisa melihat tingkah anaknya.


Daniel hanya mendengus mendengarkan kata kata dari ibunya, memilih bersikap sok manis dan manja kepada Angel, membuat Angel mencubit pipi Daniel dengan gemas. Semakin membuat Melisa memutar bola matanya untuk kesekian kalinya, untuk pagi ini.


Tiba tiba satpam masuk dan memberitahukan bahwa ada tamu yang datang.


"Tuan, nyonya nona Vania datang, dia ing..." belum selesai kata kata dari satpam tersebut, tiba tiba Vania masuk terlebih dahulu menyapa penghuni rumah.


"Selamat pagi Tante, Daniel..." sapa Vania mengabaikan Angel.


Melihat kedatangan Vania, membuat ketiga penghuni rumah tersebut mendengus, apalagi Angel yang tidak suka dengan tingkah wanita ini yang suka menggoda suaminya.


^^^Apa dia rabun ya? Kok aku yang cantik dan imut ini tak terlihat dengan dia? Dasar Tante gatal, ular sanca berujud kera burik. Kesal Angel merasa tidak di anggap oleh Vania^^^


"Angel sayang, kamu jangan suapin suami kamu terus dong, kamu juga harus makan," kata Melisa memberi kode kepada Angel agar tak menganggap tamu yang tak di harapkan itu.


Sementara Daniel tak memperdulikan hal tersebut, malah lebih memilih bersikap manja dengan Angel. "Bee suap lagi..." kata Daniel kemudian menganga meminta untuk di suapi Angel.


Angel terkekeh kemudian menyuapi Daniel sembari tersenyum. Angel terkekeh melihat tingkah lucu menggemaskan suaminya.


"Bee kamu makan juga dong, nanti kamu sakit ha... saya keloni terus kamu, biar bisa sering sering cium kamu bee," kata Daniel mengecup dagu Angel.

__ADS_1


Vania melihat hal itu sangat kesal, sudah tidak di anggap, kini Daniel malah bermesraan di depannya. Vania tak peduli memilih untuk duduk di samping Daniel, dengan parfum yang semerbak.


Saat Vania duduk di samping Daniel, Daniel merasakan sebuah bau yang sangat menyengat, sehingga menyebabkan Daniel sangat mual. Daniel segera berlari ke kamar mandi, dan di susul oleh Angel.


"Aish... lihat bahkan anakku mencium bau mu saja tidak sanggup, lalu punya keberanian apa kau mau mendekatinya?" kesal Melisa melihat Vania yang saat ini berdiri di depan kamar mandi.


"Tante, saya sejak dulu menyukai kak Daniel, tapi kenapa dia tak memberikan saya kesempatan?" isak Vania, membuat Melisa memutar bola matanya dengan malas. "Apa kelebihan Angel di banding saya, sehingga dia berhak mendampingi kak Daniel?"


"Ya jelas lah, lebih segalanya," kesal Melisa melihat Vania yang terisak. "Yang pasti dia itu anaknya jujur, dan tulus. Tidak seperti seseorang yang sangat licik."


Vania yang kesal mendengar hal itu, di tambah lagi melihat Daniel yang memandangnya dengan jijik, dan Angel yang di rangkul Daniel dengan mesra, semakin membuat Vania kesal.


Dengan segala kekesalan, Vania segera mendorong Angel, saat Angel dan Daniel melewatinya. Angel yang terdorong, terhuyung ke belakang, sehingga menyebabkan tubuhnya terhempas ke lantai.


"A..." erang Angel ketika merasakan rasa sakit di perutnya, Angel hanya mampu menangis mengekspresikan sakitnya.


Daniel yang panik segera meminta Melisa untuk menelfon dokter. "Bu cepat panggil dokter," kata Daniel sangat panik, sembari memapah Angel menuju kamar mereka.


Belum sempat Daniel memapahnya, tiba tiba Angel pingsan, hingga membuat Daniel semakin panik. "Jika terjadi sesuatu pada Angel, saya pastikan anda akan menyesalinya seumur hidup," Daniel memperingati Vania yang diam mematung di tempatnya.


Setelah Melisa menelfon dokter, Melisa mendekati Vania yang masih mematung. "Kau tunggu apa lagi, keluar dari rumahku, jika sesuatu terjadi pada menantuku aku akan menuntut mu."


"Aku yakin tak akan terjadi apa apa, dia hanya pura pura, aku mendorongnya tak kencang," cicit Melisa.


"Heh... sudah lah," sinis Melisa. "Pak Jul... cepat bawa wanita ular ini keluar dari rumah ku."


Mendengar panggilan dari nyonya-nya, satpam tersebut segera masuk, dan meminta Vania keluar dari rumah besar tersebut.


Setelah sekian lama, akhirnya dokter datang, dan segera memeriksa Angel yang tengah tak sadarkan diri. Dokter tersebut menghembuskan nafas, kemudian memandang ke arah Daniel dengan senyum yang mengembang.


"Tenang saja, nyonya muda Angel tak apa, lebih baik kalian memanggil dokter kandungan, karena menurut pemeriksaan ku kemungkinan nyonya muda Angel hamil," kata dokter tersebut, membuat Daniel terkejut, bahagia, sekaligus khawatir.


Daniel terkejut ternyata istrinya hamil, namun juga sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi ayah, tapi juga khawatir karena tadi Angel terjatuh di lantai.


"Bu tolong panggilkan dokter kandungan," kata Daniel sembari mengantar dokter tersebut keluar dari rumah mereka.


Setelah mengantar dokter tersebut, kemudian Daniel segera kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan Angel. Daniel masih sedikit panik, ketika melihat istrinya masih tak sadarkan diri sejak tadi.


"Bee kamu kuat, kamu baik baik saja, anak kita juga akan baik baik saja," kata Daniel mengecup punggung tangan Angel.


"Sayang, nak tenang lah, semua akan baik baik saja," kata Melisa berusaha menangkan anaknya. "Angel orangnya kuat kok, selama ini Angel tak pernah mengeluh, sebentar lagi dokter kandungan akan datang, karena itu kamu tidak usah terlalu khawatir nak."


Daniel hanya mengangguk, kemudian menggenggam tangan Angel dengan lembut, sembari menunggu dokter. "Sayang saya tahu kamu baik baik saja," kata Daniel mengecup puncak kepala Angel.


Tak lama kemudian dokter datang, dengan di antar oleh kepala maid mereka. "Permisi tuan dan nyonya, ini ada dokter kandungannya," Setelah dokter tersebut masuk, kepala maid segera keluar dari kamar tersebut.


Dokter itu segera memeriksa kandungan Angel, dan tersenyum ke arah Daniel dan juga Melisa, yang tampak begitu khawatir. "Nyonya muda baik baik saja, ia hanya syok dan terkejut tadi, bainya juga tidak apa apa, tapi karena ini kehamilan pertama bagi nyonya muda, maka makanan dan minuman harus di perhatikan, terlebih lagi kandungannya sangat muda, masih sekitar satu minggu."


Daniel tersenyum mendengar penuturan dokter tersebut, kemudian segera mendekati Angel yang masih tak sadarkan diri. "Tapi dok , kok tidak ada ya tanda tanda istri saya hamil, biasanya kan muntah muntah gitu atau ngidam."


"Tidak ada masalah apa apa tuan, muntah muntah dan ngidam memang itu hal lazim, yang terjadi dengan ibu hamil. Namun terkadang juga tidak seperti itu, sehingga kehamilan tidak terdeteksi," kata dokter tersebut sembari tersenyum. "Ini obatnya, kemudian ini tolong jangan biarkan nyonya muda terlalu kelelahan."


Setelah menyampaikan hal itu, dokter tersebut segera keluar dari rumah mereka, dengan di antar-kan oleh Melisa.

__ADS_1


"Bee selamat, kamu hamil loh, ini anak pertama kita," kata Daniel semabari tersenyum bahagia ke arah Angel yang masih terpejam.


__ADS_2