Duda Genit

Duda Genit
S3 (Keberangkatan ke Bali)


__ADS_3

Siang itu Rakara segera bersiap siap untuk segera packing, Rakara tampak sangat sibuk memasukkan berkas dan juga pakaiannya. Rakara yang asyik memasukkan pakaiannya ke dalam koper, tidak menyadari kehadiran Daniel dan Rayana, yang tengah mengintai dirinya. Memandang curiga ke arah Rakara, yang tampak seperti akan pergi sedikit lama.


"Kamu mau ke mana Raka? Kok packing baju segala?" Daniel segera bertanya kepada Rakara, sontak membuat Rakara terkejut, dan memandang ke arah Daniel, ternyata di samping Daniel juga ada adiknya, Rayana. Si ratu rubah licik itu, pastinya akan mencari informasi tentang tujuannya.


"Mau ke Bali pa," jawab Rakara mencoba untuk menetralkan keterkejutan nya.


Rakara mencoba bersikap biasa saja, dan tersenyum ke arah Daniel dan Rayana, mencoba membuat mereka berdua yakin.


"Ngapain?" Daniel merasa ada sesuatu yang janggal dari sikap anaknya, Daniel bahkan melihat gelagat aneh di sana.


"Mau ketemu client di sana," jawab Rakara sedikit berbohong, Rakara bahkan sedikit ragu ketika mengatakan hal tersebut, Rakara sedikit takut jika rencana yang sebenarnya bukanlah untuk bertemu client.


"Ketemu client atau liburan?" Rayana kini membuka suara memandang ke arah Rakara. Rayana juga dapat mencium bau bau aneh dari kakaknya.


"Ketemu client Raya," jelas Rakara malas di tanyai oleh Rayana, yang pastinya akan mengorek ngorek informasi sedalam dalamnya dari Rakara.


"Client mana? Berapa lama?" Rayana kembali memberi rentetan pertanyaan kepada Rakara, membaut Rakara bingung sendiri harus menjawabnya.


"Client yang tinggal di Bali, paling tiga harian," jawab Rakara sedikit mengusap tengkuknya, Rakara bahkan mengalihkan perhatiannya kembali untuk memeriksa berkas, yang sebenarnya sudah ia periksa.


"Lama banget, biasanya langsung pulang hari," Rayana memandang Rakara dengan pandangan curiga, Rayana bahkan memandang Rakara dengan pandangan sinis.


"Ga bisa Raya, kakak memang ada kerjaan," kesal Rakara yang terus merasa di pojokan. "Aldi mana?" Rakara segera mengalihkan fokus Rayana, agar tak memojokkannya lagi.


"Di kamar, lagi ngerjain berkas kayaknya," jawab Rayana memandang ke arah Rakara.


"Oh, kakak mau ketemu bentar," Rakara segera keluar menuju kamar Rayana.


Rayana memang tinggal di rumah keluarga besarnya sekarang, disebabkan karena Rayana saat ini tengah mengandung lagi. Maka dari itu mereka benar benar ekstra menjaga Rayana.


Rakara segera berjalan menuju kamar Rayana berencana untuk menemui dokter Aldi, sesampainya di depan pintu Rakara segera mengetuk pintu kamar Rayana. Rakara faham betul bahwa Rayana saat ini sudah memiliki suami, jadi tak bisa masuk dengan sesuka hati ke kamar adiknya itu.


"Masuk aja kak, ngapain sih pakai ketuk ketuk segala?" Rayana segera membuka pintu kamarnya, dan menampakkan dokter Aldi yang tengah berkutat dengan berkas berkas nya.


"Sopan Raya, biar kamu adik kakak, tapi sekarang kamu punya suami, jadi tetap harus ketuk sebelum memasuki daerah pribadi kalian," jelas Rakara, pusing melihat kelakuan adiknya yang memang sesuka hati. Bahkan Rakara masih ingat bagaimana Rayana kemarin melihat kedua orang tuanya sedang beradegan uwuw dan bersiap untuk beradegan panas, hanya karena tidak terbiasa mengetuk pintu, meminta izin sebelum masuk ke kamar orang lain.


"Aldi, bisa kita bicara?" Rakara segera meminta dokter Aldi untuk berbicara dengan dirinya.


"Bisa mau ngomong apa Rak?" dokter Aldi terkekeh melihat Rakara yang sepertinya rmebutuhkan bantuannya.


"Di tempat lain aja ya, di sini ada ember bocor," kata Rakara segera mengajak dokter Aldi keluar dari kamar tersebut.


"Apaan sih kak, kalau ga ada apa apa, jangan sok sok rahasiaan deh," protes Rayana, karena menurutnya kakaknya itu terlalu banyak menyembunyikan rahasia saat ini.


"Engga ini soal urusan kantor," Rakara beralasan mencoba terus mencar jawaban.


"Masa?" Rayana masih memandang Rakara dengan pandangan tak percaya.


"Iya Raya kakak cuman malas ngomong di kamar, kamu kayak mau ngintilin terus," jelas Rakara semakin membuat


"Ya kan kepo," jawab Rayana sembari mengerucutkan bibirnya.


"Apaan sih dek," geram Rakara melihat tingkah adiknya.


"Apaan?" Rayana justru bertanya kembali membuat Rakara menghela nafas kasar.


Rakara sadar, jika Rayana di turuti maka akan lama dan bisa terlambat dirinya.


"Tau ah, ayo Aldi," Rakara segera mengalihkan fokus mereka ke awal, dan segera meminta dokter Aldi untuk ikut dengan nya.


Sesampainya mereka di ruang kerja Rakara, Rakara segera duduk dan mengambil beberapa dokumen, dan menyerahkan nya kepada dokter Aldi.


"Kenapa Rak?" Dokter Aldi yang melihat semua itu menjadi bingung, dokter Aldi mengerutkan keningnya. Dokter Aldi sebenarnya tak tahu jika Rakara akan pergi ke Bali.


"Mau nitip perusahaan sebentar selama Sidik ga ada, dia pulang paling besok pagi," jawab Rakara membuat dokter Aldi mangut mangut mengerti maksud Rakara.


"Memang kamu mau kemana?" Pertanyaan yang dokter Aldi lontarkan membuat Rakara tiba tiba tersenyum.


"Saya mau ke Bali ada urusan dengan client," jawab Rakara, sembari tersenyum senang, karena mengingat akan bersama selama beberapa hari ke depan bersama Aiyla, gadis pujaannya.


"Dengan Aiyla?" Tebak dokter Aldi berhasil membuat Rakara memerah malu.


"Eh," Rakara hanya mampu mengatakan hal tersebut secara refleks.

__ADS_1


"Kenapa? Kok bisa tahu?" Dokter Aldi segera menebak isi kepala Rakara yang pastinya menanyakan tentang hal tersebut.


"Eh iya," jawab Rakara membuat dokter Aldi tersenyum.


"Nebak aja, kamu suka sama Aiyla?" Dokter Aldi kembali bertanya membuat wajah Rakara semakin memerah, ternyata dokter Aldi menebaknya dengan tepat sasaran.


"Jangan bilang bilang sama yang lain," pinta Rakara sembari mengusap tengkuknya, menetralkan pikirannya.


"Saya dengar pacarnya baru saja meninggal," dokter Aldi segera mengingat berita kemarin yang menghebohkan, dokter Aldi juga terkejut mendengar rumor tentang Aiyla, yang ternyata kekasih dari Iki.


"Iya dan pacarnya nitipin Ai ke saya," jawab Rakara sembari tersenyum kikuk. Ternyata saudara iparnya itu tahu banyak tentang rahasianya.


"Semoga sukses deh untuk naklukin Aiyla, sepertinya dia orang yang hampir sama dengan Raya," kata dokter Aldi memberi semangat Agara Rakara bersemangat memperjuangkan Aiyla.


"Iya, susah banget suka sama orang, sekali suka susah banget muve on nya," Rakara tak lagi merasa pusing jika harus bercerita, Rakara pikir mungkin butuh teman curhat sehingga dokter Aldi adalah orang yang tepat.


"Berjuang aja, semoga bisa menaklukkan dalam waktu dekat, banyak banyak berdoa," dokter Aldi kembali memberi wejangan agar saudara iparnya itu semangat untuk mendapatkan Aiyla.


"Makasih atas dukungannya," jawab Rakara, sembari tersenyum hangat.


"Nanti kalau butuh bantuan bilang saja," tawar dokter Aldi semakin membuat Rakara tersenyum senang.


"Iya ke ayah juga bisa," suara itu tiba tiba muncul dari balik pintu, yang ternyata sejak awal mencuri dengar perbincangan mereka. Daniel sejak memang sudah curiga dengan gerak gerik Rakara.


"Ayah?" Rakara sungguh terkejut melihat sosok ayah yang segera masuk ke dalam ruangan tersebut. "Kok bisa di sini?"


"Bisa lah ini masih lingkungan rumah," Daniel menjawab dengan entengnya segera mendudukkan dirinya di sofa baca di samping buku buku Rakara.


"Maksudnya kok bisa di ruangan Raka?" Rakara meralat pertanyaannya, membuat Daniel menukik senyum nya melihat deretan buku buku tebal milik Rakara.


"Kamu kira papa ga curiga kamu mau pergi lama? Padahal biasanya kan gila kerja, tumbenan aja," jawab Daniel mengalihkan perhatiannya ke arah Rakara. "Lagian kemarin papa ketemu Ahmed, terus Ahmed bilang kamu lagi di rumah nya, nemenin Aiyla," lanjut Daniel sembari tersenyum menggoda ke arah Rakara.


"Papah diam diam aja ya," pinta Rakara dengan wajah yang telah memerah Semerah kepiting rebus.


"Ah iya siap, semoga berhasil," Daniel ikutan memberi semangat kepada Rakara, sontak membuat senyum Rakara semakin mengembang.


Pak Ujang memarkirkan mobilnya di depan rumah keluarga Kostak, Rakara hari ini menjemput Aiyla, untuk sama sama berangkat ke bandara. Rakara segera masuk, membuatnya bertemu dengan Chandra. Jujur saja Rakara jika biasanya dia percaya diri ketika berbicara dengan Chandra. Maka sekarang Rakara kehilangan nyalinya. Posisinya sebagai calon menantu, membuat lidah Rakara tiba tiba keluh, otak Rakara tiba tiba bingung ingin mencari topik pembicaraan mereka.


"Eh Raka udah datang? Ai masih di atas," jawab Chandra santai, sembari mempersilahkan Chandra duduk, dengan isyarat menepuk nepuk sofa. "Bi tolong panggil Ai, bilang Raka nya udah datang," Chandra meminta seorang maid untuk memanggil anaknya. "Tunggu ya."


"Iya om ga papa," jelas Rakara, membuat Chandra tersenyum geli, melihat tingkah tegang dari Aiyla.


"Ayah kamu apa kabar?" pancing Chandra yang sejak tadi hanya mendapat senyuman kaku dari Rakara.


"Baik om," jawab Rakara semakin tegang saja, Jika bisa memilih Rakara akan memilih untuk menyusul Aiyla di atas, sembar menunggunya bersiap siap.


"Jangan kaku gitu dong kalau ngomong, anggap saja saya ini ayah kamu," pinta Chandra yang semakin tidak suka dengan suana tersebut.


"Iya om," jawab Rakara yang sejak tadi hanya mengatakan iya Om membuat Chandra bingung sendiri harus berbuat apa. Padahal perasaan Chandra, dia tak pernah menakut nakuti Rakara.


"Iya mulu dari tadi, ga ada kata kata lain apa?" Chandra menjadi kesal di buatnya, karena iya om Rakara sejak tadi.


"Iya om," kembali lagi jawaban yang sma kembali.


"Saya baik, kamu jelek," seroloh Chandra ingin mengerjai iya om dari Rakara.


"Iya om," jawab Rakara dengan rfleks. "Eh." Rakara segera tersadar dari iya omnya dengan perasaan malu.


"Makanya, jangan iya om, iya om mulu," protes Chandra membuat Rakara mengangguk mengerti.


"Maaf om," kata iya om, kini berganti maaf om.


"Kamu ga ada bahan ya?" tanya Chandra menebak isi kepala Rakara.


"Iya om," ah, kembali lagi jawaban yang membuat dokter Aldi kesal.


"Bosan saya dengan kamu, ga bisa di ajak berantem," ucap dokter Aldi membuat Rakara sedikit tidak enak.


"Maaf om," Rakara sedikit tertunduk, rasanya waktu saat ini berhenti berdecak.


"Udah lah, ngomong ngomong perusahaan kamu gimana? Om dengar kemarin kamu menang tender, gimana caranya?" Candra segera mengalihkan perhatiannya agar Rakara segera bercerita banyak tentang dirinya.


"Oh itu om, kemarin Raka nyiapin silabus, sama tempatnya sudah ada, yang penting sih perinciannya tepat, sama lokasinya harus tepat," Rakara sepertinya sudah terpancing dengan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Tepat strategis gitu?" Chandra kanbalj bertanya karena penasaran.


"Iya om, biar client tertarik Raka juga membuat perencanaan perencanaan, lengkap dengan kemungkinan yang akan di lalui, serta cara mengatasinya, agar mereka lebih tertarik," jelas Rakara membuat Chandra mengangguk mengerti.


"Wah kamu benar benar hebat, salut om sama kamu," puji Chandra membuat Rakara sedikit malu malu kucing.


"Makasih om," jawab Rakara.


Aiyla baru turun dari lantai dua, melihat kedua laki laki berbeda usia tersebut sepertinya sedangan menunggu dirinya yang tengah bersiap siap.


"Hai maaf udah lama ya nunggu?" siapa Aiyla sedikit tidak enak kepada Rakara.


"Ga juga," jawab Rakara, membuat Chandra berdecik kesal.


"Ga juga apaan hampir setengah jam, entar ketinggalan pesawat, papa doain kamu cuman kesisahan kelas ekonomi," ejek Chandra, melihat iya yang baru saja turun dari lantai dua.


"Apaan sih pah, ga apa apa kok," Aiyla hanyab tersenyum santai.


"Kamu sih lama banget," kata Chandra bingung melihat anaknya yang sangat lama dalam bersiap siap.


"Iya maaf ya kak," kata Aiyla merasa tidak enak.


"Iya ga apa apa, ayo berangkat, waktunya tinggal dua puluh menit lagi," jawab Rakara, segera berdiri bersiap untuk pamit. "Ayo pak Ujang udah nungguin."


"Iya kak, pamit pah," Aiyla segera mangalami tangan Chandra. "Mama di mana pa?"


"Mama kamu lagi ke pasar bentar," jawab Chandra santai.


"Oh ya udah pamit dulu pah, assalamualaikum," Aiyla segera menuju mobil Rakara, dengan koper yang di seret oleh bosnya.


"Pamit om, assalamualaikum," Rakara pun berjalan menuju mobil.


"Walaikum salam, Raka titip Ai ya," pesan Chandra hanya di tanggapi senyuman oleh Rakara.


Sesampainya di bandara, mereka segera meminta pak Ujang untuk kembali, karena merek juga sebentar lagi akan berangkat. Pak Ujang menurut saja, segera meninggalkan bandara.


"Wah untung ga telat kita kak," kata Aiyla menggandeng tangan Rakara, sembari berdiri mengantri untuk segera masuk ke dalam pesawat.


"Iya untung aja, ya udah langsung ceckin kita," Rakara tersenyum ke arah Aiyla.


"Iya kak."


Di dalam pesawat, Aiyla terus melihat di sekitaran. Ternyata Rakara mengambil jalur business class, membuat Aiyla menggeleng. Menurut Aiyla mereka benar benar buang duit hanya untuk dua jam perjalanan.


"Pakai business class kita kak?" Aiyla membuka suaranya.


"Iya business class, emang kenapa?" Rakara memandang ke arah Aiyla dengan bingung.


"Ga bingung aja, lagian ngapain sih kak pakai business class? Kan cuman dua jaman doang," kata Aiyla membuat Rakara terkejut, ia pikir gadis itu akan suka, karena biasanya para wanita sekelas Aiyla akan kesal jika di ajak kelas ekonomi.


"Kalau kakak sih ga apa apa, takutnya dengan kamu, kamu ga nyaman," jawab Rakara mengambil kesempatan dengan menggenggam tangan Aiyla.


"Engga kok kak, aku nyaman aja kok, kakak jangan lebai deh," Aiyla terkekeh ketika mengatakan hal itu.


"Iya maaf baliknya kita pakai kelas ekonomi deh," kata Rakara sembari tersenyum.


"Terserah kakak lah, kan yang bayar kakak," Aiyla terkekeh ketika mengatakan hal tersebut.


"Ada ada aja kamu Ai," jawab Rakara segera mengusap kepala Aiyla ketika mengatakan hal tersebut.


Selama di perjalanan, Aiyla tertidur. Tanpa sengaja Rakara melihat wajah Aiyla, sedang tidur. Rakara mengusap lembut wajah Aiyla, kemudian menarik kepala Aiyla untuk bersandar ke dada bidang Rakara.


"Ai ayo bangun kita udah sampai," Rakara menjepit hidung Aiyla yang tampak asyik tertidur.


"Kak, jangan di pencet hidung Ai, ga bisa nafas," jawab Aiyl menepis tangan Rakara.


"Makanya jangan ngebo," kekeh Rakara, membuat Aiyla mengerucutkan bibirnya.


"Maaf namanya ketiduran," jawab Aiyla lesu.


"Ya udah ayo," Rakara kembali menggandeng tangan Aiyla untuk keluar dari pesawat.


"Iya bawel," Aiyla hanya menurut saja sembari terseret keluar.

__ADS_1


__ADS_2