
Melisa baru saja bangun dari istirahat nya, badannya sudah segar dari kepenatan acara penyambutan kepulangan Angel dan baby Rakara. Tubuhnya yang tua renta tak menggoyahkan dirinya untuk melakukan penyambutan tersebut, terlebih lagi Melisa bisa di katakan tak ingat usia, karena terlalu semangat.
"Bi... anak anak kemana? Istirahat?" tanya Melisa kepada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Angel dan Daniel, ketika tidak melihat anak dan menantunya.
"Iya tadi nyonya dan tuan mau langsung istirahat katanya jangan di ganggu Bu," kata asisten rumah tangga tersebut.
Asisten rumah tangga tersebut menjawab dengan polosnya, tanpa tahu jalan pikiran dari nyonya besar itu sungguh suka traveling. Sepertinya saat ini, terlihat raut wajah dari Melisa menambah keriput di wajah tuanya, namun tetap terbilang awet muda. Melisa sedang mencoba mencerna maksud dari tak mau di ganggu, Melisa mencernanya sesuai dengan jalan pikiran-nya.
Saat mengikuti alur jalan pikiran-nya, sesuai dengan kata kata asisten rumah tangga tersebut, tentang 'tak mau di ganggu' Melisa langsung melonjak. Melisa mulai berfikir yang tidak tidak.
"Dasar anak yang tak tahu di untung, memangnya dia tidak kasihan dengan istrinya? Kan baru melahirkan, awas saja dia," gumam Melisa, segera naik kelantai dua, mencoba mengentikan aktivitas anaknya, dari apa yang ia khawatirkan.
Melisa mengetuk pintu dengan pelan, namun tak ada yang menjawabnya, setelah mengetuk hingga dua kali. Akhirnya Melisa membuka pintu tersebut, yang ternyata tidak di kunci.
Melisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Daniel tengah menindih Angel, dan mencoba menciumi seluruh wajah menantunya, di atas tempat tidur. Sementara Angel yang berada di bawah Daniel berusaha memberontak.
"Astagfirullah.... Daniel istri kamu belum bisa," kata Melisa setengah terpekik, karena takut cucunya terbangun oleh teriakannya.
Angel dan Daniel terperanjak mendengar teriakan dari Melisa, terlebih lagi posisi mereka cukup akan membuat mereka salah paham. Daniel ingin rasanya mengutuk ibunya, yang terkadang suka menerobos tampa mengetuk dulu, namun ia tak tahu kalau ibunya telah mengetuk hingga dua kali.
"Astaghfirullah... Bu..." kata Daniel frustrasi, kini masih tak dapat bermesraan dengan istrinya, meski rumah mereka, padahal baby Rakara telah tertidur.
"Kamu itu yang astaghfirullah, istri kamu itu baru lahiran, masa sudah kamu ajak main kuda kudaan," kata Melisa mendekat, dengan rasa tak percaya.
Melisa segera naik keatas tempat tidur yang berantakan, kemudian menjewer telinga Daniel. Daniel hanya bisa meringis menerima hadiah jeweran tersebut.
__ADS_1
"Ibu... sakit..." kata Daniel sembari memegang telinga nya yang terkena jeweran.
"Ini sakit? Kamu kira istri kamu itu tidak sakit? Dia lebih sakit tahu, malah kamu ajak main kuda kudaan," kesal Melisa.
Sepertinya Melisa benar benar dalam keadaan salah faham, ia tak perduli dengan ringisan anaknya. Melisa terus menjewer telinga anaknya, karena ia kira Daniel memaksa Angel untuk menjalankan tugasnya.
"Ibu ibu salah faham lagi nih... coba lihat semua masih pakai baju, lagian tadi cuman peluk pelukan dan cium ciuman," kata Daniel mencoba menjelaskan.
Melisa masih tak percaya dengan apa yang di katakan anaknya, Melisa kemudian memandang ke arah Angel, Angel pun mengangguk menyetujui perkataan dari Daniel. Sungguh Melisa di buat malu sendiri dengan pemikirannya, kemudian mulai melepas jewerannya terhadap anaknya.
Saat jeweran sang ibu terlepas, Daniel segera memegangi telinganya yang memanas. Daniel kemudian meringkus ke arah Angel, meminta untuk di peluk Angel, dengan merentangkan tangannya. "Bee peluk, telinga aku sakit," kata Daniel manja, seperti seorang baby boy.
Melisa mendengus melihat tingkah anaknya, ia tiba tiba lupa dengan kesalah pahaman yang di buat oleh dirinya. "Dasar manja, maunya yang seperti itu istri kamu, bukannya kamu."
Daniel yang mendengarkan omelan ibunya menjadi cemberut. "Lagian ibu kenapa datang datang langsung ngejewer? Ga ada pakai tanya tanya lagi, langsung jleb... kan sakit," kesal Daniel.
"Iya iya... undang undang ibu ibu itu. Pasal satu ibu ibu itu tidak pernah salah. Pasal dua kalau salah maka akan kembali ke pasal satu," cibir Daniel membuat Melisa semakin kesal.
Melisa segera menarik telinga anaknya, yang terbilang lancang, mencibir dirinya dengan pasal, yang memang telah terpatenkan, meski tampa tertulis. "Cibir ibu ya..." kata Melisa kembali menjewer telinga anaknya yang satu lagi.
Daniel yang mendapatkan jeweran tersebut, segera memegang telinganya karena perih. "Bee tolong, ibu tiri bawang putih beraksi lagi," keluh Daniel segera mengeratkan pelukannya ke arah Angel.
Melisa yang jengah melihat tingkah anaknya segera keluar, sebelum anaknya mendapatkan kewarasan untuk mengembalikan posisinya. Karena Melisa sadar bahwa dirinya lah yang salah di sini, namun egonya untuk mengalah, dan mengakui kesalahannya sangat besar sehingga memilih untuk keluar saja.
"Dasar manja... tidak terbalik tu posisi," cibir Melisa membuat Daniel semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Melisa keluar dengan menggelengkan kepalanya, sungguh sikap manja Daniel, turunan dengan sikap manja suaminya. Sungguh sikap Daniel saat ini mengingatkannya kepada almarmum suaminya, ayah dari Daniel.
Sementara di dalam kamar, Daniel terus saja meminta untuk di peluk Angel. Angel hanya tersenyum, sungguh kelakuan suami dan mertuanya, seperti Tom and Jerry di dunia nyata. Tak pernah akur namun saling menyayangi dan membutuhkan. Angel terus mengusap lembut telinga suaminya, yang baru saja di cubit oleh mertuanya.
...----------------...
Sudah tiga bulan pertumbuhan baby Rakara, ia tampak semakin menggemaskan, Baby Rakara terlihat begitu sehat. Hari ini Daniel dan Angel melakukan melakukan imunisasi untuk baby Rakara. Angel dan Daniel saat ini telah selesai melakukan imunisasi. Angel dan baby Rakara menemani Daniel, untuk masuk ke kantor. Kebetulan kemarin baru saja di lakukan penyemprotan disinfektan, jadi Daniel merasa percaya diri untuk membawa anaknya. Daniel segera menaiki ruang CEO, sementara karyawan yang sudah mulai kembali masuk, Karen lockdown sudah berakhir, dan PSBB yang kini di perlakukan. Akhirnya Daniel memutuskan agar karyawan segera mulai beraktifitas, meskipun dengan berbagai aturan, namun Daniel merasa tak masalah.
Karyawan masuk secara bergantian, sesuai dengan yang di jadwalkan, agar aktivitas kantor kembali berjalan. Sementara Roni dan Wati tetap harus masuk, karena mereka memang orang orang kepercayaan dari Daniel.
"Bunda ini pertama kalinya kamu masuk sebagai istri ayah loh," kata Daniel mengedipkan matanya, bermaksud menggoda Angel.
Saat pintu akan tertutup, tiba tiba Roni memasuk, dan berdiri di samping Angel. "Eh ada baby Rakara, apa kabar?" tanya Roni ke arah baby Rakara.
Angel tersenyum mendengar sapaan dari Roni. "Baik Om... Om apa kabar?" jawan Angel, menirukan suara anak kecil.
"Baik baby Rakara, tambah ganteng..." puji Roni. "Dari mana?" tanya Roni antusias kepada baby Rakara.
"Dari imunisasi om," jawab Angel membuat Roni terkekeh.
Sementara Daniel, saat ini merasa menjadi obat nyamuk, antara istrinya, anaknya, dan anak buahnya. Daniel melirik ke arah baby Rakara, Daniel berharap baby Rakara menangis, namun harapan tinggallah harapan, justru baby Rakara tampak senang dengan menanggapi setiap perkataan dari Roni dengan cengiran, yang memperlihatkan gigi nya yang belum tumbuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
__ADS_1
...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....