Duda Genit

Duda Genit
Melahirkan II


__ADS_3

"Bee... bangun bee," kata Daniel panik bukan main. "Bu istri saya kenapa?" Daniel yang melihat istrinya tak berdaya, setelah melahirkan anak mereka menjadi sangat panik. "Bee bangun bee."


Daniel benar benar panik, kini ia sudah mulai kembali menangis di samping tubuh istrinya. Di tambah lagi saat dokter tersebut menggeleng, saat memeriksa denyut nadi istrinya.


"Pak tenang lah, istri anda hanya pingsan karena kelelahan," jelas dokter tersebut, sedikit tersenyum melihat tingkah panik Daniel.


Daniel hanya mengangguk, tak menghiraukan lagi penampilannya yang berhasil acak acakan. Yang terpenting adalah anak dan istrinya selamat. "Terimakasih bee," bisik Daniel.


"Pak silahkan azankan kan dulu pak," kata suster yang baru saja membersihkan anak Daniel junior tersebut.


Daniel mengambil alih anaknya, kemudian segera mengazankan anaknya, dengan air mata yang meleleh di di matanya. Daniel merasa sangat bersyukur di umurnya yang ke empat puluh satu akhirnya ia memiliki anak dari anak, dari istri yang begitu ia sayangi. Setelah selesai mengadzani anaknya, suster segera mengambil alih anak mereka. Suster juga telah membawa Angel ke ruang rawat inap, sementara Daniel keluar dengan rambut yang sedikit acak.


"Daniel bagaimana?" tanya Melisa penasaran kepada anaknya.


"Alhamdulillah dua duanya selamat, cuman sekarang Angel masih pingsan," jelas Daniel segera memeluk Melisa, dengan air mata yang masih bercucuran. "Ibu Daniel udah jadi ayah."


Tania yang melihat hal itu, ikut menangis haru, Tania mengusap lembut punggung kokoh menantunya. Daniel tak henti hentinya memeluk sang ibu, hingga pundak ibunya juga ikut basah.


Kini mereka memasuki ruang rawat Angel, yang masih tak sadarkan diri. Daniel mengusap lembut tangan istrinya, dan mendudukkan diri di samping Angel. Daniel masih dapat merasakan sisa sisa dingin dan keringat di tangan istrinya, akibat pertarungan hidup dan mati tadi.


Sementara Melisa dan Tania sibuk melihat cucu mereka di keranjang bayi, mereka tampak takjub melihat bayi laki laki yang tampak begitu menggemaskan.

__ADS_1


"Aku rasa cucu kita ini akan sangat tampan, ayahnya mungkin akan kalah tampan," kekeh Melisa melirik anaknya.


Tania terkekeh mendengarkannya, memang di akui oleh dirinya bahwa cucunya akan menjadi pria tamban ketika dewasa nanti.


Ponsel Tania tiba tiba berdering. Ah... ia lupa mengabari keluarganya, karena terlalu asyik melihat cucu pertamanya. Tania seger mengangkat telfonnya, dan mengabari keluarganya bahwa bayi tampan kini telah hadir.


Daniel terus saja menggenggam tangan istrinya, berharap istrinya segera bangun. Benra saja tak lama kemudian Angel mengernyit, dan berusaha membuka matanya, sembari berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangannya.


Daniel yang melihat hal tersebut, langsung saja menekan tombol emergency untuk memanggil suster. "Bee kau ga papa kan?" tanya Daniel sembari menekan tombol emergency hingga beberapa kali.


Angel masih tak menanggapi rasanya masih sangat berat untuk hanya sekedar merespon suaminya, meski hanya anggukan. Hanya jari jemarinya yang terus saja menggenggam tangan suaminya, meski hanya dengan sedikit tenaga. Namun Daniel terus saja menggenggam tangan Angel yang sedikit meresponnya.


Tak lama kemudian dokter dan suster datang, untuk melihat keadaan Angel. Dokter mendekati Angel sembari tersenyum ke arah Angel. "Ibu bagaiman keadaan ibu? Apa sudah merasa baikan?" tanya dokter tersebut ramah, sembari memeriksa Angel.


Daniel sedikit kesal ketika melihat dokter tersebut memandang Angel, dan Angel sedikit membalas senyum dokter tersebut. Ya... penyakit bucin itu kembali datang, justru mungkin tak kenal tempat sekarang. Karena saat ini justru Angel tengah sakit, masih sempat ia mencemburui istrinya.


Melisa yang hapal betul gelagat anaknya, hanya menggeleng. Anaknya benar benar aneh, sungguh di saat istrinya sakit masih sempat mencemburui istrinya, yang tengah di periksa dokter. "Ais... lama lama dia yang kumasukkan ke dalam pasien rumah sakit," geram Melisa melihat tingkah anaknya.


"Lah untuk apa?" tanya Tania bingung. Tania menang Taka tahu kelakuan menantunya, meskipun Aska sering mengolok olok Daniel dengan sebutan raja bucin, namun Tania tak terlalu memperhatikan nya.


"Iya biar rasa cemburunya sedikit kurang, lihat tuh mulai Kambu lagi, tu cemburu sudah semacam hobby aja buat dia, betah banget di dada. Orang wajar dokternya ramah, ngadapin orang yang baru lahiran masa cemberut," kelas Melisa panjang kali lebar, membuat Tania terkekeh.

__ADS_1


Tania kemudian ikut memperhatikan wajah menantunya yang memang terlihat cemburu. membuat Tania semakin terkekeh, Tania sedikit mengkerut bingung, bagaiman ada orang yang semacam itu, istrinya hanya di periksa, namun dianya sudah cemburu buta.


Dokter pun baru saja selesai memeriksa Angel, kemudian beralih kepada Daniel dengan senyuman ramah, yang tak pernah luntur dari wajahnya. "Pak istri anda hanya tinggal istirahat saja, semuanya akan baik baik saja kok, tapi jangan terlalu banyak bergerak," kata dokter tersebut, hanya di balas anggukan oleh Daniel, yang memasang senyum palsu, meskipun hatinya tengah panas. "Baiklah pak buk, kalau begitu saya tinggal, Angel tolong rajin minum obat, dan jangan banyak bergerak dulu ya," kata dokter itu sebelum kemudian berlalu meninggalkan keluarga besar tersebut.


Daniel berjalan ke arah Angel, kemudian mengusap lembut wajah istrinya. Entah kenapa kedongkolannya tadi tiba tiba sirnah, setelah melihat wajah istrinya yang tersenyum ke arahnya, Daniel dapat melihat sisah sisah lelah di wajah cantik istrinya. Daniel segera mengecup puncak kepala istrinya, menyalurkan rasa terimakasih nya, atas pengorbanan istrinya.


Melisa dan Tania yang menyadari hal itu, mereka segera bergegas keluar dan segera menuju kantin, demi mengisi perut tua mereka.


"Sayang ibu sama mami keluar dulu ya, soalnya lapar mau ke kantin," seru Melisa sembari melambaikan tangannya. Nenek gaul tersebut juga melayangkan kiss bay untuk anak dan menatunya, di sambut dengan kekehan Angel dan Tania. Sementara Daniel bergidik ngeri merasa bahwa wajahnya yang tampan telah ternodai oleh ibunya, yang melayangkan kiss bay, tampa mengingat umurnya.


"Ibu sudah lah ingat umur, jangan merasa muda terus," kata Daniel mencoba mengusir ibunya, yang lupa usia itu.


Melisa mendengus kesal mendengarkan kata kata anaknya, Melisa sedikit kesal, namun memilih untuk tetap diam membiarkan Daniel, karena ini memang hari bahagia untuk anaknya karena telah berhasil menjadi seorang laki laki yang seutuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hi guys maaf banget aku ga bisa up banyak malam ini, karena harus bantu tugas adik yang di suruh buat kaligrafi, aduh kepalaku Atut guys, entah bagaiman membuatnya. Jadinya tengah malam baru selesai, dan aku pun kelelahan, sehingga hanya mampu meng-Update sedikit. Hanya 1000 kata guys maaf keun....


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....

__ADS_1


__ADS_2