Duda Genit

Duda Genit
S3 (Rencana Ke Bali)


__ADS_3

"Makan dulu, kamu masih butuh tenaga," Rakara segera menyapi Aiyla selangkir air putih, Aiyla hanya menerima sembari bersandar di bahu Rakara. Rasanya tak ada tenaga, entah hilang kemana tenaga energik yang ia miliki selama ini.


Setelah selesai makan, Aiyla segera berbaring kembali di tempat tidur, Rakara segera berbaring di tempat tidur Aiyla, Rakara memandang Aiyla yang kini memejamkan matanya dengan wajah sembab tanda wanita itu baru saja menangis.


"Do'akan saja semoga dia di tempatkan di sisi yang terbaik," jelas Rakara, air mata Aiyla kini kembali lagi turun, Rakara segera mengusap lembut pipi Aiyla. "Minggu depan kita pergi ke Bali mau?"


"Untuk apa? Tumben ngajak Ai," jawab Aiyla enggan membuka matanya, takut air matanya akan turun kembali. Bahkan suaranya saja masih terlalu serak, dan bergetar ketika mengucapakan kata kata tersebut.


"Coba tebak buat apa?" Rakara mengusap lembut surai indah milik Aiyla. Aiyla hanya menggeleng, rasanya terlalu enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut. "Hm buat liburan sekertaris yang sedang galau."


"Tumben," satu kata yang kembali mengiris hati Rakara, rasanya sangat sakit ketika mendengar suara Aiyla bergetar, karena menangisi kepergian Iki.


"Sekalian buat kerja juga," jawab Rakara mencoba menghibur diri sendiri.


"Ya elah kirain beneran," Aiyla sedikit mencubit perut Rakara. "Kak boleh minta tolong ga?"


Rakara sedikit mengerutkan keningnya mendengarkan permintaan Aiyla. Rakara sedikit memandang lekat wajah sembab itu.


"Minta tolong apa?" Rakara bertanya sedikit lembut kepada Aiyla, mencoba memberi kekuatan kepada Aiyla.


"Dengerin cerita Ai, sambil peluk boleh," pinta Aiyla dengan nada memohon.


Rakara tersenyum, kemudian memandang wajah Aiyla. "Iya peluk aja," kata Rakara. "Saya selalu ada kok, kalau tenaga malam pun kamu meluk saya, saya datang langsung ke kamar kamu."


Aiyla sedikit terkekeh di balik tangisannya meski kekehan Aiyla masih terdengar sedikit bergetar. Aiyla pikir itu merupakan salah satu bentuk dari Rakara yang menghibur dirinya. Tak tahu saja Aiyla bahwa Rakara tengah mengatakan hal yang sejujur jujurnya, sebenarnya tanpa Aiyla minta saja, Rakara akan dengan senang hati memeluk Aiyla, meskipun itu akan terjadi saat Aiyla tertidur.


"Ada ada aja kakak," kata Aliya mencubit perut Rakara.


"Auh sakit Ai," keluh Rakara merasakan capitan panas di perutnya. "Katanya tadi kamu mau cerita," Rakara segera menyingkirkan tangan Aliya dari perutnya, untuk memeluk dirinya.


"Iya kak, malam tadi entah ada kaitannya atau belum, kak Iki nemuin Aiyla di dalam mimpi Ai," kata Aiyla sembari sedikit meremas ujung baju Rakara. Aiyla berusaha sebisa mungkin tak kembali menangis, meskipun itu sulit untuknya.


"Mimpinya gimana?" Rakara tampaknya benar benar penasaran dengan mimpi Aiyla. Bahkan Rakara sedikit melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Aiyla.


"Mimpinya itu Ai kan lagi berdiri di tengah pemandangan bunga, jujur aja Ai baru lihat tempat itu pas di dalam mimpi, tiba tiba kak Iki datang dari belakang meluk Ai..." tangisan kembali pecah. Rakara kembali mengusap lembut air mata Aiyla yang mengalir di pipi mulus tersebut.


"Udah ga apa apa, cerita aja semua, kakak siap kok dengerinnya," Rakara mengecup puncak kepala Aiyla untuk menenangkan gadis tersebut.


"Jadi kak Iki meluk sama nyium Ai," kata Aiyla membuat Rakara segera mengerutkan keningnya tak suka.


"Nyium bagian mananya?" Aduh Chandra masih di dalam mimpi saja masih cemburu. Rakara segera memandang ke arah bibir Aiyla, takut takut hal yang tidak di inginkan terjadi.


"Kening, mata, pipi, sama dagu," jawab Aiyla kembali mengingat pertemuan terakhir tersebut, meskipun hanya di dalam mimpi.


"Bibir?" rakara sangat penasaran dengan hal tersebut.


"Enak aja, masih pe*ra*wan nih," kesal Aiyla, meskipun sedang menangis Aiyla tetap tak terima mendengar pertanyaan Rakara.


"Oh masih pe*ra*wan bibir nya, jadi tadi saya yang me*ra*wa*nin," gumam Chandra, membuat Aiyla segera mendongak untuk memandang Chandra.


"Kakak ngomong apa?" Aiyla hanya mendengarkan nya sekilas. Hingga penasaran dengan apa yang di ungkapkan oleh Rakara


"Ga kamu lanjut aja," jawab Rakara sedikit tergugup dan lebih memilih memeluk Aiyla.


"Hm," Aiyla mengangguk di dalam pelukan Rakara. "Jadi itu tiba tiba kak Iki nyatain perasaannya lagi, tapi pas Ai jawab eh Kaili manggil orang, Ai do titipkan sama orang itu, terus kak Iki pergi," tangisan Aiyla menangis kembali pecah saat mengingat mimpinya tersebut, meskipun hanya mimpi tapi semua terasa nyata, terlebih ketika menerima kenyataan bahwa dirinya telah di tinggal selama lamanya oleh kekasih. "Jauhin Ai, Ai manggil manggil malah cuman di senyumin, habis itu dia dada dada gitu."


"Ai, itu artinya Iki ga mau kamu sedih gini, dia sudah nemuin orang yang tepat yang akan jagain kamu saat dia ga ada," Rakara menjauhkan melonggarkan kembali pelukan Aiyla. "Yang terpenting sekarang kamu jangan sedih lagi, jangan banyak pikiran, jangan suka mikir macam macam ya," Rakara menghapus air mata Aiyla. "Nangis sebanyak yang kamu mau, tapi jangan pernah berlarut larut, yakin lah sesudah badai pasti ada pelangi."


Aiyla mengangguk mengerti maksud Rakara, Aiyla segera memeluk erat Rakara, dan mencoba mencari kenyamanan di sama. Lambat laun tangis Aiyla sedikit meredup.


Rakara segera mengeratkan pelukannya, mata Rakara terpejam mengingat isi pesan dari Iki tadi malam. Diam-diam rakara segera mengambil ponselnya di dalam saku, kemudian kembali membaca isi pesan tersebut.

__ADS_1


..."Halo Pak Rakara selamat malam, maaf mengganggu waktu bapak. Tetapi saya ingin meminta tolong kepada bapak lagi untuk menjaga Aiyla, soalnya hanya bapak yang bisa saya percaya untuk menjaga Ayla. Terlebih lagi Om Chandra dan Ahmed akhir-akhir ini masih sibuk dengan pekerjaannya, jadi terkadang Ayla hanya ditemani dengan tante Alia, jadi mohon maaf saya merepotkan Bapak lagi untuk menjaga Ayla."...


Rakara tersenyum melihat pesan tersebut, jika begini Rakara semakin yakin untuk mendekati Aiyla, berdasarkan mimpi Aiyla, maka dirinya akan memiliki peluang besar. Karena mimpi Aiyla memiliki kesinambungan yang sangat besar dengan isi pesan dari alm Iki.


"Saya akan menjaganya dengan sepenuh hati, karena saya juga menyayanginya, mungkin lebih menyayanginya dari pada kamu," ucap Rakara mengecup lama puncak kepala Aiyla. "Tunggu saja saya akan membuat kamu jatuh cinta Ai."


Rakara segera memejamkan matanya, saat ini masih jam dua siang, jadi dirinya masih punya waktu untuk berlama lama di sini, Rakara akan pulang ketika sore hari. Rakara akan memuaskan diri dulu untuk memeluk Aiyla hari ini, sebelum akhirnya gadis itu menolak untuk di peluk oleh Rakara.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Rakara ternyata ikut terlelap sembari memeluk tubuh Aiyla. Ahmed kembali lagi masuk karena baru menyelesaikan pekerjaan kantornya. jujur saja bila bisa di tunda maka dengan senang hati Ahmed akan menundanya. Ahmed tersenyum melihat Rakara yang memeluk Aiyla, Ahmed akan sangat beruntung jika Rakara dan Aiyla memiliki hubungan. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Aiyla, selain Iki hanya Rakara lah yang Ahmed percaya untuk menjaga adiknya.


Ahmed memilih duduk memainkan ponselnya, dan Rakara sedikit membuka matanya secara perlahan, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.


"Eh Raka udah bangun," tampak Ahmed tengah duduk di sofa yang menghadap ke arah balkon.


"Eh iya, kamu dari tadi di sini? Kenapa tidak membangunkan saya?" Rakara sebenarnya sedikit tidak enak, karena dirinya tadi memeluk Aiyla.


"Ga papa kok," jawab Ahmed mengerti, Ahmed jelas tahu jika keadaan adiknya begitu pastinya adiknya itu akan meminta di peluk, hingga tertidur. "Gimana? Masih tidur? Udah pernah bangun?" Ahmed melirik Aiyla yang masih terlelap di dalam mimpinya.


"Tadi udah bangun tapi cuman buat makan aja," jelas Rakara sembari tersenyum memandang Aiyla.


Ahmed dapat melihat jelas pandangan mata Rakara yang berbeda saat melihat Aiyla, Ahmed sedikit tersenyum ternyata dirinya tak salah menilai untuk adik tunggalnya.


"Oh, iya makasih ya, udah mau di repotkan. Ai anaknya jarang nangis, tapi sekali nangis susah berhentinya. Kayak sekarang, sekali sedih maka akan berlarut larut, nangis sampai mata bengkak," Ahmed memandang ke arah Rakara, membuat Rakara mengangguk mengerti maksud dari Ahmed. Memang benar apa yang di katakan oleh Ahmed, bahkan selama ini Rakara tak pernah melihat Aiyla menangis, bahkan saat insiden tebakan tersebut, Aiyla justru santai menghadapinya.


"Ga papa kok," jawab Rakara segera memandang ke arah Ahmed, sembari mengeluarkan ponselnya dari saku.


Rakara segera bangkit dari tempat tidur, karena sadar sudah sore. Rakara tersenyum ternyata lama juga dirinya tertidur di samping Aiyla.


"Oh ya boleh ga ya saya ngajak dia kembali, sekalian buat kerja dan liburan, biar dia bisa lupain masalahnya," pinta Rakara penuh pengharapan.


"Kalau dengan lo gue percaya kok, tinggal lo tanyain aja anaknya," Ahmed tersenyum melihat wajah penuh harapan Rakara, Ahmed kini tahu bahwa Rakara memiliki rasa kepada Aiyla, meski Ahmed tak tahu seberapa besar itu.


"Hm, kapan kira kira kalian akan berangkatnya?" Ahmed tampaknya sangat penasaran dengan hal tersebut, segera menanyakan keberangkatan yang akan di rencanakan Rakara.


"Kira kira lusa lah, soalnya besok harus ngehadirin rapat," jawab Rakara sembari mengingat jadwal untuk besok pagi lumayan banyak, karena tadi membatalkan janji untuk menemani Aiyla. "Sekalian juga mau ketemu klien di Bali."


Ahmed tersenyum mendengar nya, sepertinya dia punya alasan yang kuat, untuk menghindari kecurigaan orang orang, tentang dirinya yang mencoba mendekati Aiyla di pulau Bali.


"Oh tanya sama dia aja, awasi saja si Ai, jangan biarin sendirian," kata Ahmed sembari terkekeh geli berencana untuk mengerjai sepupunya ini, yang mungkin saja tengah di mabuk asmara.


"Emang dia...?" Rakara sedikit tidak meneruskan kata katanya, terkejut dengan hal yang di bayangkan nya. Rakara sungguh takut jikalau Aiyla nekat, maka lebih baik tak membawanya ke Bali.


"Engga, cuman minta awasi aja," kata Ahmed terkekeh geli melihat wajah panik Rakara.


"Dasar saya kira kenapa," kata Rakara sedikit lega, takut takut akan terjadi sesuatu dengan Aiyla. Rakara bahkan sudah membayangkannya.


"Ya ga mungkin lah," sargah Ahmed, membuyarkan lamunan seram Rakara. "Takutnya dia di sana pakai baju bi*ki*ni, terus kecantol sama bule cogan ala Ai," Ahmed sedikit menahan tawanya ketika melihat wajah memerah Rakara, akibat menahan kesal. Sungguh hal itu sangat tidak meng enakkan, bahkan hanya membayangkannya saja membuat Rakara frustasi.


"Emang dasar kamu, pantas Iki nitip Ai dengan saya," Rakara mengalihkan pembicaraan nya, dan mencoba menetralkan emosinya.


"Jangan pakai kamu dengan gue, entar dikira deket lagi," Ahmed tiba tiba geli mendengarkan Rakara berbicara kamu, padahal selama ini Rakara memang begitu gaya bicaranya.


"Saya normal Med," kata Rakara mengalihkan pandangannya memandang Ahmed, yang saat ini memandangnya dengan jijik.


"Iya tau, yang bilang lo belok siapa?" Ahmed kembali lagi mengejek Rakara.


"Siapa yang belok? Kamu Med?" Chandra tiba tiba muncul dari balik pintu, membuat kedua orang itu segera memandang ke arah Chandra.


Chandra sungguh takut masa lalunya terulang kepada anaknya, karena itu Chandra selalu mengawasi Ahmed dengan ketat, bahkan membekalinya dengan ilmu bela diri, agar tak sama seperti dirinya.


"Engga pa, ganteng ganteng gini masa iya," elak Ahmed, sungguh tak terima jika dirinya di tuding pencinta terong balado.

__ADS_1


"Awas kamu, papa bawa ke tempat tante Juwita kamu," ancam Chandra memandang anaknya dengan pandangan seram.


"Buat ketemu anaknya ok juga sih pa, lagian anaknya cantik banget," kata Ahmed menanggapi tatapan mematikan dari sang papa. "Langsung lamar juga ok, Med siap segera melangkah ke pelaminan bersama anak perempuan tante Juwita dan om Brayen."


"Ha cewek aja, cepet banget," kesal Chandra memandang anaknya, yang memang selalu populer di antara lelangan para perempuan.


"Ya kan pencinta wanita, tapi ku bukan buaya," kata Ahmed menyanyikan bait Allah satu.


"Terserah," kesal Chandra memandang anaknya, yang memang memiliki sifat seperti mamanya, yang jahil dan pintar dalam hal menjawab kata kata orang lain.


"Oh ya om, Raka balik dulu ya," Rakara segera pamit, karena hari semakin sore.


"Makam malam dulu Rak," tawar Chandra kepada keponakannya itu.


"Ga bisa om, soalnya udah sore," Rakara sedikit tidak enak menolak tawaran dari Chandra. "Oh ya om bisa ga lusa Ai ikut Raka ke Bali."


Rakara tiba tiba teringat akan perjalannya ke Bali, dan segera meminta izin kepada Chandra, selaku ayah dari gadis yang saat ini masih terlelap di balik selimut.


"Ha? Ngapain?" Chandra terkejut mendengar penuturan Rakara, yang ingin membawa anak perempuan tunggalnya ke Bali.


"Liburan sekalian meeting client di sana," kata Rakara jujur, karena takut tak di izinkan.


"Oh tapi tolong awasi ya," pesan Chandra.


"Iya Om," Rakara mengangguk pasti. "Tante Al mana om? Mau pamit," Rakara sedikit celingak celinguk mencari keberadaan Aliya.


"Dia lagi mandi, kalau siap siap lama tu, maklum tua," ejek Chandra, karena merasa Aliya tidak ada di sekitarnya. Padahal tak tahu saja dia, kalau Aliya baru saja berhenti tepat di belakangnya, tepat setelah Rakara menanyakan keberadaan Aliya.


"Siapa yang tua?" Aliya segera bersuara, membaut Chandra terkejut. Namun bukannya takut, Chandra justru berbalik memandang ke arah Aliya.


"Lah emang tua kan?" Chandra benar benar kini menantang Aliya.


Ah, sudah tua tak tahu diri, masih saja suka mencari gara gara kepada istrinya, padahal umur sudah hampir berkepala lima.


"Hah ga sadar diri," ejek Aliya tak terima di sebut tua oleh suaminya.


Dan di mulai lah pertengkaran yang akan memakan waktu lama, namun sekalipun mereka bertengkar, tak akan ada waktu untuk meliburkan diri dalam hal olahraga bersama. Bahkan mereka terkesan langgeng, karena sejak awal pernikahan tak ada isu orang ketiga.


Cup.


"Masih cerewet?" Kini pertengkaran mereka tidak kepada kekerasan pisik, tapi ketika Aliya cerewet dan membuat Chandra kesal, maka Chandra akan mengecupnya, untuk menghentikan ocehan dari Aliya.


"Udah gue antar ya, mereka ga akan sebentar," kata Ahmed segera menarik sepupunya, takut sepupunya akan pusing dan tercemari dengan keajaiban kedua orang tuanya.


"Emang biasa ya mereka gitu?" Rakara tampak sangat penasaran dengan hal tersebut. Pasalnya orang tuanya adalah sepasang suami istri, ya g bahkan tak pernah terlihat ribut di depan kedua anaknya, bahkan menjadi panutan bagi Rakara. Namun baru kali ini Rakara melihat pasangan suami istri yang suka sekali bertengkar namun tetap langgeng.


"Biasa lah," jawab Ahmed santai, sembari mengibaskan tangannya di depan wajahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Yu hu giveaway announcement...



Senja berwarna jingga silahkan follback ya, biar bisa chant tentang hadiahnya.



Yus Neni silakan follback ya, biar bisa chant tentang hadiahnya.


Nah kedua orang itulah guys pemenang give away kali ini, bagi yang belum menang jangan sedih, nanti ada kok othor buat give away lagi, rajin like komentar dan kasih dukungan atau vote aja, biar nanti ketika ada ngadain giveaway lagi, punya kesempatan menang. Terimakasih yang telah berpartisipasi, walaupun hadiahnya sedikit tapi melihat partisipasi kalian otot sungguh senang.

__ADS_1


__ADS_2