
"Kayak lo gitu? Yang video call in Angel tiap malam?" tanya Aska kini mendekati Daniel.
Daniel mengangguk setuju dengan kata kata Aska. "Salah satu nya ya gitu," kata Daniel tersenyum ke arah Angel. "Dulu itu, jangankan suka, dia nganggap saja tidak, dia itu dulu kalau liatin saya, eh aku ga suka banget," kata Daniel tiba tiba merubah nama panggilan dirinya.
"Aku? Kapan berubahnya? Tiba tiba? Idih udah kayak powerangger aja tu panggilan," kata Aska heran dengan panggilan Daniel kepada dirinya sendiri.
"Atas permintaan istri, tercinta. Dia suka marah kalau aku manggil pakai saya," jelas Daniel sembari memandang istrinya.
"Ya iya lah, kamu kira aku itu client kamu apa," kata Angel memandang Daniel kesal.
Aska terkekeh mendengar protes dari Angel, memang aneh sih sepasang suami istri pakai kata 'saya.' seolah mereka itu tidak memiliki keakraban, atau mungkin orang lain akan mengira mereka adalah hasil perjodohan orang tua.
"Iya panggil aa' aja kalau gitu, biar gemes gemes gimana gitu. Ya ga bunda," kata Aska menaik turunkan alisnya.
"Jangan berisik Aska... nanti sunit ga mau ngajarin baru tau rasa lo," kata Angel memandang Aska dengan kesal.
"Ih masih sunit aja, kan bukan sekedar suami lagi, ya ga yah," kata Aska memandang wajah Daniel.
Daniel terkekeh mendengarkan kata kata dari kakak iparnya, padahal dirinya jauh lebih tua dari Aska. Daniel kemudian mengupas buah jeruk dan berjalan menuju tempat tidur Angel. Daniel mengecup puncak kepala Angel dan menyuapi istrinya dengan sepotong jeruk.
"Angel, lo ngedukun di mana sih? Sampai sampai laki lo bisa segitunya sama lo," kata Aska sembari memandang kemesraan yang begitu nyata di matanya.
"Di gunung Bromo, puas lo," kesal Angel mendelik ke arah Aska. Angel tak terima dirinya di bilang bermain dengan dukun, ala jampi jampi ilmu hitam. Dengan menggunakan berbagai macam kemenyan dan air dari berbagai mata air. Membayangkan nya saja Angel tidak pernah, apalagi melakukannya. Sungguh semua di luar bayangannya, atau lebih tepatnya tak pernah bisa terbayangkan oleh dirinya.
"Bee buka mulut lagi," kata Daniel menyodorkan buah jeruk ke bibir Angel. Daniel sedikit mengerutkan keningnya ketika mendapati Angel tengah terbengong.
Mendengar kata kata Daniel Angel sedikit tersentak, tiba tiba seluruh lamunannya buyar, kabur dan bercerai berai entah kemana. Angel segera memandang jeruk yang sudah menempel di bibirnya, siap untuk meluncur ke dalam. Angel segera mengalihkan pandangannya ke arah suaminya, sembari membuka mulutnya. Setelah jeruk meluncur, Angel mengunyah sembari tersenyum ke arah suaminya.
Aska yang tengah duduk di sofa rumah sakit, hanya memutar bola matanya dengan malas. Entah kenapa ia merasa tiba tiba menjadi kambing conge, atau hanya sekedar penghias atau semacam piguran ruangan yang bercat putih semua. Ah... piguran segagah dirinya berapa ya? Mungkin sangat mahal, apalagi tidak ada duanya, dan sudah pasti sangat menawan untuk para wanita. Tentu saja itu yang di fikirkan Aska.
Aska sudah bisa membayangkan betapa dirinya diperebutkan oleh wanita wanita kaya, cantik nan seksi, jika ia menjadi sebuah piguran, dan tentu saja perawatan eksklusif setiap hari. Namun lamunannya buyar, ketika bayangan sang pasien favorit, alias sang pujaan hati tiba tiba melintas. Aska tiba tiba berfikir bahwa dirinya tidak akan bertemu sang kekasih. Aska menggeleng mengingat hal itu, tidak tidak akan ia biarkan.
Kita kembali lagi bersama dunia nyata Angel dan Daniel. Yang saat ini Daniel tengah menyuapi Angel. "Udah jangan di bayangin bee, kamu juga cuman liatnya di film film horor kan? Mana kamu penakut lagi bee." kata Daniel sembari mengusap kepala Angel dengan lembut.
"Jadi bagaimana caranya biar bisa deketin dia?" tanya Aska membuyarkan kemesraan sepasang suami istri itu.
Daniel tersenyum kemudian kembali menyuapkan Angel makanan. "Perlakukan ia dengan sangat istimewa, jangan tunjukkan sikap itu kepada orang lain, banyak banyak bilang sayang ke dia," kata Daniel kemudian kembali mengalihkan pandangannya kepada Angel. "Yaa kan bee ku sayang?" kata Daniel mengecup puncak kepala Angel.
Angel terkekeh, kemudian memandang ke arah Aska yang tengah menjadi penonton drama Korea versi real life. "Dia itu kesemua cewek bilang sayang sunit," kata Angel memandang Aska dengan sengit.
Aska menghela nafas kasar mendengar perkataan sepupunya, mau membantah pun dia tak akan bisa. Sepupunya itu salah satu saksi dan penolong dirinya, ketika akan beraksi. "Iya iya... jangan melotot ngapa? Ntar mata lo keluar."
"Sunit kamu harus tahu, kalau tadi dia dua kali godain suster yang tugasnya ngerawat aku loh," kata Angel mengadukan hal itu kepada suaminya.
Sontak saja Asal mendelik tak percaya dengan apa yang di dengar sekaligus di lihatnya, Angel kini tak hanya mengadukannya kepada maminya, Tania. Namun Angel kini mengadukannya juga kepada adik iparnya, yang notabennya lebih tua darinya.
"Sekarang lo ga cuman ngaduin gue ke mami ya, sekarang lo juga ngaduin gue ke suami lo," kata Aska berdecak kesal.
Angel hanya menjulurkan lidahnya, mengejek Aska yang tengah memandang nya dengan kesal. Sementara Daniel terkekeh mendengarkan pertengkaran antara Angel dan juga kakak iparnya. Ah... kakak ipar, itulah resiko ketika menikah dengan anak paling bungsu, mau lebih tua dari saudara sang istri pun, tetap saja posisinya sebagai adik ipar, tak bisa menjadi kakak ipar.
"Jadi gimana nih? Dan... lo pasti punya seribu satu ide kan?" tanya Aska penasaran.
__ADS_1
Daniel menghela nafas beratnya, sebenarnya berat bagi Aska untuk hal ini, belum lagi reputasinya sebagai playboy sudah tidak dapat di ragukan lagi. Daniel memandang Aska secara seksama.
"Dia masih jadi pasien mu?" tanya Daniel seraya memandang serius ke arah Aska.
Aska mengangguk wajahnya tampak begitu sungguh sungguh, benar benar ingin mengetahui saran dari Daniel.
"Berikan dia perhatian lebih, misalkan belikan dia sesuatu," kata Daniel. "Bukannya kamu itu playboy ya? Kok ga tau sih? Aneh banget, saya... auh," kata kata Daniel terpotong dengan suara ringisan, ketika Angel mencubit pinggang nya.
"Aih... iya aku, Ah sampai di mana tadi?" Daniel melupakan kata katanya, ketika Angel mencubit pinggang nya.
"Kok ga tau sih? Aneh banget," kata Aska melakukan pengulangan di dua kalimat akhir.
"Ah iya, aku aja yang bukan playboy bisa sangat baik mencurahkan perhatian sa... eh, aku kepada kamu kan bee," kata Daniel seolah meminta persetujuan dengan Angel.
Angel mengangguk setuju dengan kata kata Daniel, karena Angel juga tahu, sebelumnya Daniel tak pernah mengenal cinta antar lawan jenis, bahkan ketika ia menikah.
"Lo mah enak, semua orang tau kelakuan lo, jadi mudah banget," kata Aska menghela nafas frustasi. "Lah gue? Semua orang tahu kalau gue itu playboy."
"Karena itu berhenti jadi playboy, terus tunjukkan kalau kamu benar benar suka dengan dia," kata Angel menjawab pertanyaan dari Aska.
Aska sedikit berfikir, dan segera memandang ke arah Angel. Aska sedikit setuju, namun tidak sepenuhnya percaya. Aska tetap tak yakin akan hal itu. Ah... tiba tiba penyesalannya akan gelar playboy tersebut muncul. Aska sedikit menyesal kenapa ia dulu menjadi pria playboy di usia muda, dan sekarang bukan hanya gelar playboy yang di sandangnya, namun juga Casanova di usia muda.
"Sudahlah, masalalu aku tidak lebih baik dari pada kamu, semua orang bisa berubah, dan menjadi lebih baik," kata Daniel melihat keraguan di wajah Aska. "Semua orang berhak untuk kesempatan kedua," kata Daniel lagi.
Aska tersenyum mendengarkan pernyataan dari Daniel, sungguh sebuah pencerahan yang luar bisa. Aska seolah mendapat semangatnya lagi untuk mendekati pasien favorit nya lagi.
Aska kemudian berdiri sembari merapikan jasnya. "Ah... waktu tugas gue lima menit lagi, gue harus ke ruangan gue," kata Aska tersenyum.
"Iya semangat mengejar pujaan hatinya," kata Daniel menyemangati.
"Sip thanks ya," kata Aska sebelum meninggalkan ruanagan Angel.
"Seneng deh akhirnya dia bisa berubah juga sunit, jadi seneng banget," kata Angel memeluk Daniel, merasa senang atas perubahan Aska. "Kayaknya dia benar benar suka deh sunit soalnya matanya berbinar gitu," kata Angel membuat Daniel tersenyum.
"Iya bee," kata Daniel memandangi wajah istrinya.
"Bee kangen," kata Daniel memonyongkan bibirnya.
Angel melihat hal itu, tersenyum. Ia tahu maksud dari suaminya. Angel segera mengecup bibir suaminya.
Daniel segera memegang dagu Angel, kemudian mendekatkan wajahnya. Angel telah siap untuk menutup matanya, sembari menunggu kelanjutan berikutnya. Daniel semakin mengikis jarak di antar mereka, dan tak lama kemudian.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu terketuk, membuat Angel dan Daniel segera memandang ke arah pintu. Daniel berdecak kesal karena kemesraannya terganggu oleh ketukan pintu.
"Selamat siang ibu, bapak. Maaf menggangu istirahatnya, tapi ibu Angel waktunya periksa, dan minum obat," kata dokter tersebut sembari tersenyum ke arah Angel dan Daniel. Dokter tersebut masuk bersama dengan seorang pengantar makanan rumah sakit dan seorang suster, yang tadi di goda Aska.
__ADS_1
"Siang dok, terimakasih," kata Angel berbasa basi kepada dokter tersebut.
"Bagaiman Bu perasaannya saat ini?" tanya dokter tersebut sembari memeriksa keadaan Angel.
Bahkan Angel sudah tahu jawabannya, dan apa yang akan di tanyakan lelah dokter tersebut. Sepertinya itu adalah pertanyaan wajib, karena setiap kali memeriksa keadaan dirinya, dokter tersebut selalu bertanya tentang perasaan sirinya saat ini.
"Baik dok, terimakasih banya ya dok," kata Angel sembari tersenyum.
Suster yang tadi sepertinya celingak celinguk mencari keberadaan seseorang. Angel sudah dapat menebaknya, bahwa suster cantik ini tengah mencari keberadaan Aska. Ya... sepertinya jurus Aska benar benar berfungsi dan manjur, kepada suster cantik ini.
Angel tak tahu bagaimana rasa sedih yang akan di terima suster ini, ketika mengetahui bahwa dirinya hanyalah salah satu korban dari Aska, bahwa Aska tidak benar benar serius kepadanya. Bahkan Aska saat ini sudah memiliki pujaan hatinya tersendiri.
Angel sedikit menghela nafas dengan kasar, membuat dokter yang tengah memeriksanya memandang ke arah Angel.
"Ibu Angel... kenap? Ada masalah?" tanya dokter tersebut khawatir dengan keadaan Angel.
"Tidak apa apa, saya hanya merasa bosan saja," ini bukanlah sebuah kilahan, Angel memang bosan di sini hanya berada di dalam ruangan serba putih tersebut. Yah... walaupun helaan nafas tadi adalah tanda jengah terhadap sikap sepupunya, sekaligus rasa simpati nya kepada suster cantik, yang tengah berdiri di hadapannya itu.
Mendengar jawaban dari Angel, dokter tersebut tersenyum. "Sabar Bu kan besok pagi ibu sudah bisa pulang," kata dokter tersebut sembari tersenyum.
Mendengar berita terbaru tersebut dari mulut dokter tersebut, otak Daniel mendeteksi kata besok bisa pulang, membuat Daniel berbinar seketika. Kekesalannya akibat batal ciuman tadi kini telah tertutupi oleh kata besok pagi sudah bisa pulang.
"Beneran dok bisa pulang?" tanya Daniel penuh semangat.
Dokter tersebut tersenyum mendengarkan penuturan dari Daniel. "Iya pak besok pagi sudah bisa pulang," dokter tersebut mengulang kembali kata katanya.
"Makasih dok," kata Angel tersenyum ke arah dokter tersebut.
"Sama sama Bu, yasudah saya permisi dulu Bu," kata dokter tersebut sopan. Angel dan Daniel tersenyum mempersilahkan dokter tersebut keluar.
Setelah dokter tersebut keluar, Daniel segera menggenggam tangan Angel, dan tersenyum ke arah Angel. "Bee kamu udah boleh pulang loh, aku seneng banget bee," kata Daniel mengungkapkan perasaannya, semabari memandang wajah Angel, dengan pandangan berbinar.
"Iya sunit... besok kita udah di rumah lagi," kata Angel terkekeh ke arah Daniel. "Tapi sunit, kalau kita pulang kita ke rumah kita atau ke rumah mami atau ibu?" tanya Angel bingung. sembari memandang ke arah Daniel.
"Kita ke rumah kita sayang, sudah terlalu lama kita ninggalin rumah, lagian sudah di bersihkan juga, dan sudah ada perlengkapan bayi juga di rumah kita," kata Daniel menjelaskan dengan kalimat panjang kali lebar, yang bisa di cerna oleh otak Angel.
"Iya sunit, makasih ya... selalu ada, dan selalu sayang sama aku, walaupun badanku sekarang melar," kata Angel sembari menampakkan badannya yang sedikit melar akibat mengandung.
"Bee itu sudah kewajiba aku, dan lagi... kamu itu wajar, karena baru saja melahirkan. Jadi ga perlu khawatir bee," kata Daniel menenangkan. "Lagian apapun kamu, bagaimanapun keadaan kamu, aku akan tetap cinta dan sayang dengan kamu, kamu tahu itu kan bee ku."
Angel tersenyum mendengar penuturan Daniel yang begitu menyentuh qalbu. Hingga membuat Angel tersenyum sembari meneteskan air matanya.
Daniel menghapus air mata istrinya dengan jari jemarinya. Kemudian mengecup puncak kepala, kemudian turun ke mata, dan kini ke hidung Angel.
"I love you bee," kata Daniel kemudian mendekatkan bibir mereka, baru saja mereka akan berhasil menyatukan bibir mereka, tiba tiba saja baby Rakara menangis kencang.
"Ais... gagal lagi," kesal Daniel, namun tetap menggendong baby Rakara dan memberikannya kepada Angel. Angel memberikan asi langsung kepada Baby Rakara, karena saat ini di kamar rawat inap tersebut hanya ada mereka bertiga saja.
"Sayang... lain kali jangan gini ya? Nangisnya setelah bunda dan ayah melaksanakan tugas kisse wakanda," kata Daniel, dengan nada dua kata terakhir seperti pengucapan dalam kartun Naruto, ketika akan mengeluarkan jurusnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....