Duda Genit

Duda Genit
DUNIT 26 (Roni dan Wati)


__ADS_3

"Bilang aja lu cemburu, lu kan suka sama ibu Wati," kata salah satu karyawati, membuat semua orang bersorak.


"Terserah, paling hari ini ada pemecatan besar besaran gara gara gosip," kata laki laki itu, membuat kerumunan segera bubar.


...


Sementara itu, Roni yang sejak tadi mendengarkan gosip mereka, menjadi sedikit geram. Bagaiman tidak para karyawati malah bergosip saat bekerja, belum lagi yang di gosip kan itu adalah dirinya.


Roni yang awalnya ingin masuk, menjadi mengurungkan niatnya. Roni memilih untuk kembali ke ruangannya, dan menenangkan pikiran. Entah kenapa sejak dari kantin tadi pikiran nya sedikit kacau.


Roni menyibukkan dirinya dengan mengerjakan semua berkas berkas yang ada, namun pikiran Roni tetap tak bisa tenang.


^^^Aduh aku ini kenapa sih. Kesal Roni sembari mengusap kasar wajahnya, sesekali mengacak rambutnya dengan frustasi.^^^


Tiba tiba ketukan pintu membuyarkan lamunan Roni. Roni segera memperbaiki posisi badannya, dan menata kembali rambutnya yang telah ia hancurkan.


"Masuk," kata Roni sembari memandang ke arah pintu.


Pintu terbuka, memperlihatkan wajah cantik seorang wanita, dengan rambut ikal nya. Wanita itu adalah Wati, dari kepala devisi keuangan. Wati masuk dengan senyum yang sedikit canggung, Wati tampak membawa beberapa berkas, untuk laporan bulanan perusahaan mereka.


"Maaf pak, mau menyampaikan laporan keuangan bulanan kantor pak," kata Wati menyerahkan laporan keuangan kepada Roni.


Jika biasanya Wati duduk, dan sedikit suka menggoda, dan menggombal Roni. Tapi kali ini Wati hanya berdiri di tempat, dan menunggu di persilahkan keluar.


"Ya..." kata Roni memandang wajah cantik Wati.


"Kalau begitu saya permisi pak," kata Wati mengundurkan diri.


Wati segera melangkah menuju pintu, membuat Roni sedikit tak enak. Apalagi Roni sudah mulai terbiasa dengan sikap Wati, terhadap nya.


"Hm... Wati, saya mau minta maaf," Kata Roni, membuat Wati menghentikan langkahnya.


Wati segera membalikkan badannya, menghadap ke arah Roni, kemudian tersenyum manis, membuat Roni membalas senyum Wati.


"Tak apa pak, setidaknya saya tahu perasaan bapak, dan mulai belajar berhenti menyukai bapak," kata Wati tersenyum semanis mungkin ke arah Roni, membuat Roni mengangguk kan kepalanya.


"Hm... bagus kalau kamu tidak tersinggung, sebaiknya begitu," kata Roni sembari mengangguk.


Wati tersenyum mendengar kata kata Roni, ingin rasanya Wati menangis di hadapan Roni. Namun harga dirinya menahan itu semua. Wati tersenyum pahit, kemudian memutar kenop pintu, lalu melangkahkan kakinya. Wati segera beranjak menuju toilet, dan menangis dalam diam.

__ADS_1


Sepertinya ini lah saat nya melepas perasaan nya kepada Roni. Roni tak akan tersentuh dengan semua tindakannya. Sampai kapanpun Roni tak akan bisa membuka hatinya.


Setelah menguatkan dirinya, Wati segera keluar, dan memperbaiki make up nya. Setelah di rasa rapi, akhirnya Wati keluar dengan senyum yang mengembang, menyapa semua bawahannya.


Setelah masuk ke dalam kantor, Wati segera berkutat dengan pekerjaannya, ada rasa lega di hatinya. Setelah menangis dan mengungkapkan perasaannya, Wati merasa seakan semua beban terangkat.


Setelah selesai dengan semua pekerjaan nya, Wati merapikan kembali tempat nya, dan segera memeriksa kembali laporan dari bawahannya.


Sementara di sisi lain, Angel benar benar tertidur, di pangkuan Daniel. Daniel kemudian tersenyum melihat wajah Angel, entah kenapa wajah Angel benar benar membuatnya begini. Tangan Daniel terulur untuk membelai wajah Angel.


Setelah hampir setengah jam, Angel terbangun dari tidurnya. Daniel tersenyum melihat wajah bantal Angel.


"Sudah bangun sayang?" tanya Daniel sembari tersenyum, membuat Angel bersemu merah.


Daniel terkekeh melihat semu merah Angel, Daniel menyukai ekspresi ini. Ekspresi malu dari wajah Angel.


Tampa menjawab pertanyaan Daniel, Angel segera turun dari pangkuan Daniel, dengan wajah yang memerah.


Melihat Angel turun dari pangkuannya, Daniel membiarkan nya, sembari tersenyum. Namun saat Angel hendak berjalan menjauhi Daniel, Daniel dengan segera menarik tangan Angel. Saat Angel menghadap ke arahnya, Daniel segera mengecup bibir Angel.


Angel yang mendapat kecupan dari Daniel, terkejut sekaligus malu bercampur menjadi satu. Membuat wajah Angel semakin memerah, sementara Daniel semakin terkekeh. Karena berhasil menggoda Angel.


"Kenapa begitu malu ha?" tanya Daniel menggoda Angel. "Apa kamu lupa sayang, apa yang pernah saya katakan?" tanya Daniel membuat Angel mengangguk.


"Benarkah?" tanya Deniel ikut turun dari kursinya, membuat Angel memundurkan langkahnya.


"Kenapa mundur? Sini biar ku ingatkan," kata Daniel tersenyum ke arah Angel.


Angel semakin memundurkan langkahnya, saat Angel terpentok sesuatu di belakangnya, Angel sangat panik.


"Hei Dunit mau apa?" tanya Angel panik.


"Kenapa sayang..." kata Daniel semakin mendekat.


Angel yang panik memegang sesuatu, membuat ide timbul di kepalanya. Sementara Daniel semakin dekat, dan mengurung Angel.


Saat Daniel sudah semakin mendekat, Angel segera membuka pintu tersebut, yang ternyata adalah kamar mandi. Angel segera masuk dan mengunci diri di dalam, Angel segera mencuci wajahnya. Membuang fikiran negatifnya, karena mengingat perbuatan Daniel tadi.


Sementara Daniel berdecak kesal, kenapa ia harus meletakkan kamar mandi di situ.

__ADS_1


"Aghhhh... Angel..." geram Daniel yang masih bisa terdengar oleh Angel, membuat Angel cekikikan mendengarkannya.


Angel sengaja berlama lama, ia takut jika membukanya sekarang, Daniel masih ada di luar. Tak lama kemudian Angel mendengar suara orang yang masuk ke dalam ruangan tersebut, kemudian mendengar suara Roni, yang telah mengobrol dengan Daniel. Barulah Angel berani keluar dari toilet tersebut.


Daniel melihat Angel dari balik ekor matanya, yang saat ini tengah berjalan menuju meja nya. Angel segera duduk, dan menunggu kembali berkas berkas, yang di tugaskan untuknya.


^^^Aduh enak banget sih Angel, dasar bos modus, bilang aja mau terus dekat dengan Angel, buktinya semua pekerjaan tetap saya mengerjakan, sama sekali ga ada keringanan. Kata Roni dalam hati, sembari mengembuskan nafas kasarnya.^^^


"Kamu jangan suka menghina saya dalam hati ya," kata Daniel tiba tiba ketika melihat ekspresi wajah Roni.


"Wah sepertinya bos benar benar pandai menebak ya," ejek Roni sembari memutar bola matanya dengan malas.


Melihat itu Daniel sontak di buat kesal, bagaiman tidak Roni benar benar mengatainya, tadinya Daniel fikir itu hanya firasatnya saja.


Roni bisa di katakan karyawan kesayangan Daniel, tangan kanan Daniel. Untuk urusan mengatai bosnya, hanya Roni yang berani berterus terang kepada bosnya. Daniel terkadang memegang kesal dengan tingkah Roni, namun biar bagaimanapun kejujuran dan kemampuan Roni, memang bisa di ajukan jempol. Roni ahli dalam berbagai hal, terkecuali urusan perempuan, buktinya hingga sekarang Roni tak memiliki kekasih.


Setelah selesai menyampaikan berkas, dan laporan laporan yang di butuhkan. Roni segera keluar, dan menuju ke ruangannya.


Setelah jam menunjukkan pukul lima sore, semua pegawai kantoran akan pulang. begitupun Daniel, Angel dan Roni, mereka berhamburan keluar dari kantor.


Roni, Angel dan Daniel sengaja pulang sedikit terlambat, karena malas berlama lama di tempat parkir. Sementara Roni tahu betul bosnya sengaja berlama lama, agar bisa lebih banya waktu dengan Angel, si mahasiswi magang, satu satunya di kantor Daniel.


Setelah setengah jam, akhirnya kantor mereka sepi, membuat ketiga orang itu segera keluar dari kantor. Angel segera berjalan menuju mobilnya, begitupun Daniel dan Roni.


Daniel dengan berat hati membiarkan Angel pulang sendirian, sementara dirinya dan Roni menaiki mobil mereka sendiri.


Roni saat ini duduk di bangku penumpang bagian depan, sedangkan Daniel duduk di bangku penumpang bagian belakang.


Saat mereka akan menjalankan mobilnya, Roni tampa sengaja melihat Wati yang di jemput oleh seorang pria. Laki laki itu membukakan pintu untuk Wati, kemudian masuk ke dalam tempat khusus pengemudi. Wati bahkan tersenyum mendapatkan perlakuan itu.


^^^Dasar... kemarin saja bilang suka dengan ku, sekarang sudah dengan yang lain. Kata Roni kesal melihat penampakan tersebut.^^^


Daniel yang menyadari pandangan Roni, segera menyunggingkan senyumnya.


"Wah tuan galak sepertinya sedang jatuh cinta," goda Daniel, sontak membuat Roni memerah.


"Tidak bos, saya hanya merasa tidak enak," sangkal Roni, membuat Daniel tertawa.


"Ha... benar kah? Aku kira tadi si Wati dari ruangan mu," kekeh Daniel membuat Roni semakin kesal.

__ADS_1


Roni segera ber sender di jok kursi mobil, dan menutup kaca jendelanya. Membuat Daniel tertawa, melihat tingkah Roni.


Bagi Daniel Roni bukan hanya seorang asisten untuknya, namun Roni seperti sahabat. Tempatnya bercerita akan banyak hal, yang mengerti keinginannya.


__ADS_2