
Aiyla saat ini baru saja melakukan tugas kantornya, Aiyla segera mengantar ke ruangan Rakara. Rakara mengangguk setelah melihat berkas yang di antar Aiyla, jika di lihat lihat pekerjaan Aiyla lumayan bagus.
Gadis yang saat ini tengah berada di hadapannya, sembari tersenyum ringan membuat Rakara memicingkan matanya.
"Kamu sedang apa di sini?" Rakara sedikit bingung melihat tingkah gadis tersebut.
"Hm lagi nunggu perintah selanjutnya?" Aiyla menampakkan senyum cerianya.
"Sudah sana kembali ke tempat duduk mu, coba lihat apa yang di butuhkan Sidik," Rakara mengusir Aiyla tak suka melihat gadis tersebut tersenyum.
Aiyla mengangguk paham, langsung keluar dari ruangan tersebut, sembari sedikit berdendang, tidak mendengar ocehan bos nya. Setelah keluar Aiyla segera menutup pintu, agar tak melihat wajah dingin es kutub tersebut. Kemudian berjalan ke arah Sidik.
"Kak tugas untuk Ai apa lagi?" Aiyla mendekat ke arah Sidik, sembari melihat tumpukan berkas yang sudah di selesaikan Sidik.
"Hm antar tolong ke ruangan bos," Sidik memandang wajah Aiyla dengan pandangan polos tak berdosa.
"Idih ga ya, enak aja, malas liat bos yang dingin kek kutub, yang lain aja gi mana?" Aiyla meminta hal lainnya.
"Engga ada kayaknya Ai, cuman berkas ini aja yang mau di antar ke bos," Sidik mengalihkan pandangan ke arah berkas berkas yang sudah ada.
"Ya sudah," akhirnya Aiyla mengalah, dan memilih untuk mengantarkan berkas tersebut.
Aiyla menarik nafasnya ketika hendak membuka pintu ruangan bosnya. "Ya Allah, dengarkan lah permintaan hambah Mu ini, hambah meminta agar penyakit marah marah bos di singkirkan ketika hambah masuk, hambah juga memohon agar dinginnya bos hambah tidak menjangkit ke hambah, aamiin," Aiyla segera mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya, sebelum akhirnya membuka pintu ruangan tersebut.
Sidik hanya menggeleng melihat tingkah gadis tersebut, yang terkesan tak ingin mendekat dengan bosnya.
"Hm apa lagi?" Rakara memandnag wajah Aiyla dengan dingin ketika Aiyla baru saja memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
^^^"Ya Allah kuatkan hambah dengan dinginnya kutub Utara ini," Aiyla hanya tersenyum manis, seolah tatapan bosnya itu tak ada apa apa nya.^^^
"Ini mau ngantar berkas lagi bos," Aiyla berkata sembari terkekeh kecil. "Kan bos yang nyuruh bantuin kak Sidik."
"Hm," Rakara hanya berkata sekedarnya.
"Hm bos," jawab Aiyla dengan ringannya.
Rakara sontak memandnag wajah Aiyla dengan seksama, gadis itu berani menjawabnya, bahkan sama persis dengan apa yang di ucapkannya. Bahkan Sidik saja tak berani melakukan hal tersebut.
^^^"Kutub Utara mau runtuh lagi kah ya Allah? Dingin amat tampaknya, apa akan terjadi bencana alam?" Aiyla mempertahankan senyumnya di hadapan Rakara.^^^
"Ada apa ya bos? Ada yang kurang?" Aiyla tak mengerti maksud dari tatapan Rakara.
"Berani ya," Rakara hanya menyatakan hal tersebut.
"Boleh juga, setelah kamu menyelesaikan hukuman dari ku," Rakara tersenyum ke arah Aiyla dengan licik.
"Hah? Salah saya apa bos?" Aiyla bertanya dengan bingung.
"Masih nanya? Sekarang kamu push up selama setengah jam, jangan pakai berhenti," Rakara berhasil membuat Aliya menganga tak percaya.
"Bos saya ini cewek loh," Aiyla tak terima.
"Tapi bukannya Tante Aliya itu orang militer ya? Berarti bisa juga kan?" Rakata terus tersenyum senang.
"Agh beda lah kakak," Aiyla keceplosan memanggil Rakara dengan panggilan kakak.
__ADS_1
"Tambah menjadi empat puluh lima menit, kalau masih membantah menjadi satu jam," Rakara mengatakan hal tersebut sembari tersenyum kemenangan.
Aiyla segera melakukan tugasnya, di temani dengan ocehan dari mulut Rakara ayang terus saja memarahinya dengan kata kata tajam. Setelah empat puluh lima menit Aiyla segera berdiri dengan wajah kesal.
"Ingat buatin kopi di bawah," Rakara kembali berfokus kepada berkas berkasnya.
Aiyla berjalan dengan kesal, sembari menghentak-hentakkan kakinya. "Dasar bos tak punya hati nurani, hati batu."
Mendengar keluhan dari Aiyla, yang lebih tepatnya seperti sumpah serapah. Sidik yakin Aiyla habis terkena hukuman oleh bos-nya tersebut.
Sesampainya di pantry, Aiyla segera membuatkan kopi untuk bosnya. Namun saat hendak menambahkan gulanya, Aiyla melihat tempat garam. Aiyla tersenyum melihat hal tersebut, terbesit di otaknya untuk membalaskan dendam kepada Rakara.
"Kena kau cecungut penindas makhluk imut sepertiku, dasar es kutub Utara, penindas, dan orang yang paling menyebalkan," Aiyla mengaduk kopi tersebut dengan segala sumpah serapah Nya kepada Rakara
Setelah selesai membuat kopi racikannya, Aiyla segera berjalan menuju ruangan rakara sembari membawa kopi tersebut. Setelah mengantarkan kopi tersebut, Aiyla segera izin untuk kembali lebih cepat hari ini. Rakara mengizinkannya.
Saat berada di luar, Aiyla segera mengambil tasnya dan bergegas turun ke bawah, setelah sampainya Aiyla di parkiran, Aiyla segera berlari menuju ke mobilnya, dan menancapkan gas meninggalkan gedung tersebut.
Sementara itu rakara saat ini hendak mencoba meminum kopi buatan Aiyla, dengan santainya rakara menyeruput kopi tersebut. Namun setelah mencobanya Rakara segera menyemburkan kembali kopi tersebut.
"Aiyla," suara rakara menggema di dalam ruangan tersebut terdengar hingga ke ruangan Sidik.
Bagaiman tidak, kopi buatan Aiyla membuat lidahnya mati rasa. kopi Aiyla terasa seperti kombinasi antara gula dan garam, membuat kopi tersebut benar-benar memiliki rasa yang aneh.
Aiyla yang saat ini di dalam perjalanan, merasa sedikit merinding seketika. Aiyla hanya bergidik menghilangkan rasa tersebut.
"Apa karena sekarang sudah mulai canggih ya? Jadi sore-sore begini setan ada yang muncul ya?" Aiyla bergidik, namun tetap memacu mobilnya.
__ADS_1