Duda Genit

Duda Genit
S2 (Hari pernikahan II)


__ADS_3

Sudah setengah hari lamanya mereka berdiri, Rayana yang sudah lelah akhirnya duduk terlebih dahulu, membuat Rakara dan dokter Aldi segera memandang Rayana.


"Raya masih ada tamu," kata Rakara jengah melihat kelakuan adiknya.


"Suruh makan dulu mereka, kaki Raya capek, pokoknya Raya cuman mau nikah sekali, capek banget soalnya," celetuk Rayana mengeluh sontak membuat dokter Aldi segera menjongkok, melepaskan sepatu hak tinggi dari kaki Rayana.


"Bentar lagi kok, kamu ga usah pakai sendal," kata dokter Aldi, mencoba menuntun Rayana untuk berdiri.


"Suruh mereka main game atau foto foto dulu deh, ah atau paus dulu deh salam salamannya, capek," Rayana masih malas untuk berdiri.


"Ya Ray, bentar lagi deh mereka juga udah mau habis, ga enak sama para tamu," bujuk Rakara yang tahu adiknya memang tak suka dengan hal yang terlalu merepotkan.


"Iya iya," Rayana bersungut, kemudian kembali lagi memasang senyum penuh kepalsuannya.


Setelah hampir satu jam mereka bersalaman akhirnya tamu tamu telah bubar, membuat Rayana segera mendudukkan dirinya di tempat duduk yang di sediakan.


"Ayo pengantin ke kamar dulu istirahat, soalnya nanti malam masih ada acara," kata Daniel sontak membuat Rayana menganga tak percaya.


"Nanti malam? Ga capek tamunya datang?" Rayana bersungut kesal.


"Udah namanya sekali seumur hidup sayang," bujuk dokter Aldi.


"Nah dengar kata suami," timpal Brian membuat Rayana kesal.


"Kalau lo nikah gue suruh acara nya tujuh hari tujuh malam, biar capek tu kaki bediri mulu," kesal Rayana, namun segera di tarik oleh dokter Aldi menuju lift.


Dokter Aldi juga sudah lelah untuk siang ini,


terlebih lagi ia sangat merindukan istri cerewet nya ini. Setelah berada di dalam kamar, dokter Aldi segera melepaskan pakaiannya dan hanya menyisahkan bokser dan baju kaus putihnya, sementara Rayana segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan mencuci wajahnya.


Setelah beberapa saat akhirnya Rayana keluar, dan menampakkan wajah polos tampa make-up nya.


Rayana segera berjalan menuju tempat tidur dimana di sana sudah ada dokter Aldi yang menunggunya. Dokter Aldi yang melibat Rayana telah keluar dari kamarnya segera berdiri dan memeluk Rayana.


"Kangen tau," kata dokter Aldi segera mengecup seluruh wajah Rayana.

__ADS_1


"Nanti aja kangen kangennya aku mau baring dulu," kata Rayana memberi senyum mengembang di wajahnya.


Mereka segera berjalan menuju tempat tidur, Rayana dan dokter Aldi segera membaringkan tubuhnya. Dokter Aldi memeluk Rayana dengan erat sembari menciumnya. Rayana yang sedang lelah hanya memandang wajah tampan dokter Aldi dengan malas.


"Kenapa? Udah sah kan?" dokter Aldi tersenyum melihat ke arah Rayana.


"Iya udah sah di hadapan agama dan negara," balas Rayana segera menutup matanya.


Dokter Aldi terkekeh mendengar perkataan dari Rayana, ia memandang lekat wajah yang tengah terpejam itu.


"Jadi ga apa apa kan?" tanya dokter Aldi membuat Rayana kembali membuka matanya.


"Kenapa harus ngapa ngapa?" Tanya Rayana.


"Iya kamu ga marah kan?" dokter Aldi berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Rayana sedikit bingung dengan pertanyaan dari suaminya ini, bagaiman mungkin ia menanyakan hal itu sekarang, bukankah dari kemarin ia selalu melakukan hal itu? Lantas sekarang kenapa harus marah.


"Kenapa harus marah coba, orang sebelum bayar tunai sah aja di sosor mulu, apalagi sudah bayar tunai sah di depan ayah," kata Rayana memonyongkan bibirnya.


"Hm, aku mau tidur dulu nanti malam bakalan rame dan pastinya begadang," kata Rayana menutup matanya.


"Iya siapin tenaga buat nanti malam sayang," kata dokter Aldi dengan sumringah.


"Iya malas banget deh di suruh berdiri mulu," keluh Rayana.


"Habis itu baring mulu kok," timpal dokter Aldi, "tapi penuh tenaga dan berpeluh, apakah itu?"


Rayana tahu kemana maksud suaminya, sungguh malas mendengarkan pembicaraan yang ternyata tingkat mesum_annya bertambah berkali kali lipat.


"Cacing lagi nge gym," jawab Rayana asal membuat dokter Aldi terkekeh.


"Iya sayang tapi yang di bawah bukan cacing loh," goda dokter Aldi membuat Rayana menggerbikkan bibirnya.


"Udah ya sayang ganteng ku, ngantuk mau tidur," kata Rayana membuat dokter Aldi kembali memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Rayana akhirnya dapat tidur dengan tenang, tampa celotehan dari bibir suaminya itu. Lain di sini lain jua di kamar pengantin yang satunya, Rakata tampak selalu mengembangkan senyumnya, yang sukses membuat Rani tersipu malu.


Rani masih tidak menyangka akan menjadi istri dari orang seperti Rakara, di indolakan oleh banyak wanita.


"Kenapa sayang? Malu sama mas?" Rakara menggoda Rani, sontak membuat Rani semakin tersipu.


"Udah ah mas jangan di godain Mulu," kata Rani memukul pelan lengan laki laki yang sekarang berstatus menjadi suaminya.


"Ya sudah sini peluk dulu," kata Rakara segera menarik Rani kedalam pelukannya. "Kita harus beristirahat buat nanti malam, mungkin tamunya akan lebih banyak lagi sayang."


Lain kamar lain pula penghuninya, maka lain pula gaya bicara dan arah pembicaraannya. Jika di kamar Rakara dan Rani mereka membicarakan tentang tamu nanti malam, maka kamar sebelah kebalikannya, lihat saja, sejak tadi dokter Aldi terus saja membicarakan tentang urusan ranjang mereka.


"Iya banyak banget, jujur tadi aku capek banget loh mas, apalagi para tamu yang ga ada putusnya," kata Rani menenggelamkan kepalanya di dada bidang Rakara.


"Ya namanya juga nikahan sayang," kata Rakara tersenyum mendengar keluhan istrinya.


"Iya ingat ga tadi Raya bilang apa?" Rani segera mendongak menghadap ke suaminya.


"Ngomong apa emang?" sepertinya Rakara memang melupakan perkataan dari sang adik cerewetnya.


"Kaki Raya capek, pokoknya Raya cuman mau nikah sekali, capek banget soalnya," Rani mengulang kata kata penuh protes dari Rayana, sang adik ipar.


"Hahaha ada ada aja tu anak, yah kalau bisa nikah emang harus sekali se umur hidup sayang, kayak bunda dan ayah," kata Rakara kembali teringat kemesraan dari Daniel dan Angel, yang sering di perlihatkan kepada anak anaknya.


"Iya Mas, semoga langgeng seperti ayah dan ibu," kata Rani penuh harap. "Mas jangan lirik cewek cewek lain ya."


Rakara terkekeh mendengar permintaan Rani, sungguh menggemaskan, terlebih lagi jika melihat mimik wajah Rani saat ini. "Iya sayang, mas ga akan lirik cewek lain kok, mas sayangnya cuman dengan kamu."


Mendengar perkataan Rakara sontak membuat Rani semakin memeluk erat tubuh suaminya itu. "Makasih mas."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****Selamat berpuasa teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏****...


...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


__ADS_2