
Saat ini Rayana dan dokter Aldi telah kembali ke kediaman mereka, mereka telah bersiap untuk bertemu dengan mantan istri dokter Aldi, Rayana sendiri telah mewanti wanti agar dokter Aldi tak terpancing emosi.
"All is well," Rayana terus menggenggam tangan dokter Aldi.
Dokter Aldi sungguh bersyukur mendapat wanita seperti istrinya, bahkan sebelum menikah saja Rayana telah tahu apa saja yang akan di hadapinya, dan bahkan kesulitan apa yang akan ia hadapi.
Tak lama kemudian sebuah mobil terdengar berasal dari luar, dokter Aldi segera berdiri melihat keluar di temani oleh Rayana. Dokter Aldi terus saja menggenggam tangan rayana, demi menetralisir emosinya.
Rayana yang merasakan genggaman dokter Aldi terus mengerat, membuat Rayana sedikit khawatir dengan emosi dokter Aldi.
Mantan istri dokter Aldi segera keluar dari mobil dengan pakaian yang terbuka, membuat dokter Aldi menggeleng kasihan, bukan kasihan kepada mantan istrinya, namun ia kasihan dengan Willi jika tahun bahwa wanita itulah ibu kandungnya.
"Silahkan masuk," kata Rayana tersenyum ramah kepada wanita itu.
Dan dengan arogannya wanita itu segera masuk, dan mendudukkan diri di sofa ruang tamu. Rayana hanya menggeleng, tak percaya dengan kelakuan aneh wanita itu.
"Masih sama seperti dulu," kata mantan istri dari dokter Aldi, memandang sekeliling. Seolah ia telah mengetahui setiap sudut dari ruang tersebut. "Hanya fotonya saja yang berubah."
Wanita itu mengarahkan tangannya ke arah figuran yang cukup besar, dengan gambar keluarga kecil Rayana dan dokter Aldi, disertai dengan Willi terlihat di sana.
"Tergambar seperti keluarga yang harmonis," katanya lagi sembari mengalihkan perhatian nya ke arah Rayana dan dokter Aldi yang masih berdiri.
Sepasang suami istri itu memandang ke arah wanita itu, dengan sorot mata bingung.
"Kalian kenapa berdiri? Ayo duduk, kalian ini sungguh aneh," wanita itu terkekeh, seolah ia adalah tuan rumah di rumah itu.
"Ehm," Rayana mengembalikan fokus mereka segera. "Oh ya kamu perlu apa kemari?"
__ADS_1
Wanita itu cemberut sebentar kemudian tersenyum penuh arti. "Kenapa buru buru? Kalian seolah mengusir ku."
Rayana tahu maksudnya segera tersenyum miring, sungguh wanita itu tak tahu siapa yang di hadapinya.
"Ah maafkan aku, aku tidak bermaksud, kami hanya sedikit canggung," Rayana tersenyum sembari mengusap lembut tangan dokter Aldi yang terus saja menggenggamnya sejak tadi.
Wanita itu melihat genggaman tangan dokter Aldi tahu betul, bahwa laki laki itu sedikit ketakutan. Ia akan memiliki kesempatan untuk menjatuhkan laki laki itu.
"Ah tak apa apa, wajar karena kita hanya bertemu beberapa kali," kata wanita itu tersenyum penuh arti. "Ah langsung saja ini tentang hak asuh Willi."
Dokter Aldi tamapak menegang, rasanya ingin sekali ia mengusir wanita itu, namun usapan lembut tangan Rayana membuatnya segera tersadar, dan kembali tenang.
"Ah atas dasar apa? Bahkan dari segi hukum saja Willi masih harus dalam tanggungan kami," kata Rayana masih mempertahankan senyum ramahnya.
"Atas dasar sebagai orang tua kandung, sementara kalian bukanlah kandungnya," kata wanita itu terkekeh, sembari memandang wajah dokter Aldi yang semakin menegang.
"Ah, orang tua kandung? Bukankah banyak di dunia ini yang bertumbuh dengan baik karena tinggal dengan orang tua angkatnya?" Rayana segera terkekeh memandang rendah mantan istri suaminya itu.
"Inilah yang membuatku sangat yakin, bahkan saat ini kau menganggap Willi hanya sebagai barang saja, dengan mudahnya kau melakukan penawaran, ibu macam apa?" Rayana kembali menunjukkan taringnya. Ya memang wanita licik harus di lawan dengan cara yang licik pula.
Wanita itu mendengus mendengarkan kata kata dari Rayana, sungguh ia tak menyangka jika istri dari mantan suaminya itu terlihat lugu di luar, namun licik juga jika dilihat dari dekat.
"Bukankah itu yang dilakukan ibu untuk mendapatkan dan memperjuangkan hak asuh?" wanita itu tampak kekeh, seolah berdiri di jalur kebenaran.
"Begitu caramu menginginkannya? Menginginkan dengan cara menganggapnya seolah sebuah benda?" Rayana kembali tersenyum miring, sembari mengusap lengan suaminya. "Bahkan dalam hubungan percintaan saja tidak boleh egois, kita harus melepaskan agar orang itu bahagia."
Wanita itu semakin kesal saja, belum ada setengah jam ia menginjakkan kaki di sini, Rayana sudah beberapa kali memojokkannya
__ADS_1
"Aku hanya memberikan penawaran, jika tidak mau ya sudah tinggal tunggu gugatan dari pihak kami," kata wanita tersebut segera berdiri dari tempat duduknya.
Rayana dan dokter Aldi hanya memandang wanita itu keluar, Rayana tersenyum kemenangan bahkan ia baru mulai wanita itu telah kesal sehingga memilih meninggalkan rumah tersebut.
"See all is well," kata Rayana mengecup puncak kepala dokter Aldi.
Dokter Aldi hanya mengangguk kemudian segera menggendong Rayana menuju ruang makan. "Kamu pasti lapar kan sayang?"
Rayana mengalungkan tangannya di leher dokter Aldi, kakinya telah melingkar di pinggang dokter Aldi, sementara kepalanya bersender di bahu dokter Aldi. "Tahu tahuan aja suami ini, makin sayang lah," Rayana mengecup singkat leher dokter Aldi.
Saat samapai di dapur beberapa asisten rumah tangga sedikit tersenyum melihat kemesraan tuannya. Selama pernikahan pertama dokter Aldi, ia bahkan jarang berada di rumah, setelah perceraiannya hanya Willi yang menjadi alasannya untuk kembali, namun sekarang dokter Aldi terlihat sangat bahagia dengan kehadiran Rayana di sisinya, apalagi ketika mantan istrinya datang kembali, dan berencana merebut hak asuh Willi. Rayana lah yang mampu menenangkan dokter Aldi, hingga seperti sekarang ini.
"Sudah sampai ratu ku," kata dokter Aldi segera mendudukkan Rayana di bangku meja makan.
Dokter Aldi segera mengambilkan makanan untuk Rayana, baru kemudian untuk dirinya. Dokter Aldi tahu betul dengan keadaan dirinya, ia sadar diri bahwa Rayana mau menerimanya saja merupakan hal yang sangat bagus, bahkan setelah mengetahui penyakitnya. Jadi dokter Aldi berjanji akan selalu memanjakan Rayana, meski sebenarnya Rayana tak pernah memintanya.
"Sayang mobil kita udah di modifikasi, besok pagi kita berangkat nah Willi dengan ayah sama bunda," kata dokter Aldi di sela makannya.
"Iya sayang," kata Rayana tersenyum senang.
Sebenarnya ini bukan hanya sekedar sebuah bulan madu, namun ia juga ingin melakukan terapi kepada dokter Aldi dengan pendekatan, dan membangun rasa percaya diri dari dokter Aldi, dengan membangun hubungan mereka selama di perjalanan dan menikmati alam sekitar.
"Sayang ayah sama bunda repot ga ya?" Dokter Aldi tampak tak rela meninggalkan Willi, sehingga mencari berbagai alasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****Selamat berpuasa teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏****...
__ADS_1
...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....