Duda Genit

Duda Genit
Hadiah ulang tahun


__ADS_3

Daniel tersenyum kemudian mengecup bibir Angel, sekali lagi, Angel terlihat malu malu dengan wajah yang memerah. "Thanks bee," bisik Daniel semabari terkekeh ke arah Angel.


Angel tersenyum tak membalas ucapan Daniel, yah hal yang cukup untuk si bucin, membuat Daniel tersenyum jua. Mereka bertiga menghampiri kue yang telah siap untuk di tiup lilinnya, kemudian orang orang menyerukan untuk meniup lilin berangka empat puluh satu, yang terletak di atas kue ulang tahun tersebut.


"Tiup, tiup, tiup," seru mereka serentak membuat Daniel segera meniup lilinnya, kemudian memeluk kedua wanita yang sangat ia cintai. Daniel segera mengecup pipi kedua wanita itu dengan bergantian.


Setelah acara pemotongan kue selesai, kini acara foto foto pun di mulai, Angel dan Daniel kini mengenakan baju yang couple, membuat mereka tampak kompak. Daniel dengan tak tahu malunya mencium pipi Angel, di depan para maid mereka dan kamera yang memotret mereka, membuat semburat merah di wajah Angel.


Setelah usai melakukan sesi pemotretan, akhirnya semua bubar. Daniel dan Angel segera masuk ke dalam kamar mereka, Angel segera mengunggah beberapa foto mereka di sosial media, sembari memberi ucapan selamat ulangtahun.


Daniel yang melihat hal itu segera menggendong istrinya untuk membersihkan dirinya, karena merasa lengket di sekitar tubuhnya. Setelah acara bersih bersih selesai, mereka segera menuju kamar tidur.


"Bee waktunya buka kado," kata Daniel tersenyum penuh arti. Daniel seketika menciumi pipi, mata, hidung dan jangan lupa bagian favoritnya, bibir. Angel terkekeh melihat tingkah suaminya, Angel tahu betul apa yang di inginkan suaminya.


"Sunit pelan pelan ya, hati hati nanti baby-nya ga kuat," kata Angel memperingati.


Daniel hanya mengangguk, kemudian melakukan kewajibannya malam itu. Daniel terkekeh sembari mengusap lembut wajah Angel.


"Bee I love you," kata kata itu terucap di bibirnya, sebelum akhirnya benar benar menyatukan cinta mereka kembali.


......................


Pagi tiba, Angel terbangun mendapati wajah Daniel yang terus menatapnya dengan sendu. Daniel terlihat sedang memainkan rambut Angel, Daniel memilin, menggulung, dan melilitkan rambut Angel di jari jarinya, sesekali mencium rambut Angel.


Angel melihat hal itu tersenyum, kemudian memegang tangan Daniel, dan mencoba melepaskan rambutnya. Angel saat ini ingin ke kamar mandi.


"Bee mau ke mana?" tanya Daniel menahan Angel.


"Mau pipis sunit," kata Angel berusaha melepaskan tangan Daniel yang tengah menahannya.


Mendengar hal itu Daniel segera bangkit, dan menyerahkan sebuah kaus oblong miliknya, yang pastinya ke besaran di Angel.


Angel memakai kaus tersebut, kemudian segera berdiri, dan berjalan di ikuti suaminya. Angel memandang suaminya dengan tatapan bingung.


"Sunit aku mau pipis loh," kata Angel kembali berjalan menuju kamar mandi.


Bukannya berhenti Daniel justru masih mengikuti istrinya. Sejujurnya Daniel tak ingin istrinya mandi, ia masih ingin menikmati aroma tubuh, penuh keringat istrinya.

__ADS_1


"Aku mau pipis ini, suer," kata Angel kali ini memandang wajah suaminya dengan pandangan jengah.


"Pipis aja, saya kan cuman ngikut," kata Daniel masih mengekori Angel.


Angel menghela nafas kesal melihat tingkah suaminya, sungguh mengesalkan. Namun mau bagaimana lagi, bak ibarat lagu 'mau di katakan apa lagi' suaminya memang begitu, tak bisa di bantah, juga tak mau mengalah. Jika itu keinginannya ya sudah ikuti saja, toh Angel hanya akan buang air kecil bukan besar.


Tapi bagus juga jika aku buang air besar, apa dia akan tetap menyukainya? Angel terkikik geli dengan pemikirannya sendiri.


"Kamu ngapain cekikikan? Kamu jangan jangan punya rencana yang ga bagus ya? Jangan jangan kamu mau ngebom ya?" selidik Daniel ketika melihat istrinya cekikikan.


"Ga aku ga mau nge-bom kok, aku cuman bayangin aja," kata Angel kemudian mendudukkan dirinya di kloset. "Ngadap sana, jangan ngadap ke sini."


Daniel tak bergeming, Daniel tetap memandang ke arah Angel, tampa berniat mengalihkan pandangannya.


"Ih... jangan ngadap sini," kesal Angel melihat suaminya yang enggan mendengarkan permintaannya. "Aku nge bom ni," ancam Angel.


"Dosa kamu, kalau gitu dengan suami," balas Daniel terus memandang istrinya, sembari tersenyum kemenangan. "Ingat jadilah istri yang solehah, karena surga kamu adalah suami tampan kamu ini."


"Iya tampan, tapi mesum," desis Angel memandang suaminya.


Sementara yang dipandang hanya tersenyum geli melihat ke arah Angel. Angel mendelik, melihat senyum suaminya, Angel segera berdiri, dan berjalan kembali menuju tempat tidurnya. Angel masih merasa mengantuk, karena aktifitas semalam membuatnya tak bisa tidur.


Angel hanya memandangnya acuh, malas membalas. Karena menurutnya itu tidaklah penting. "Memangnya ke mana lagi ia akan pergi, jika belum mandi dan berbau keringat? Ya pasti kembali ke tempat tidurlah," Angel bergumam namun masih bisa di dengar oleh Daniel.


Daniel terkikik geli melihat tingkah istrinya, Daniel segera memperbaiki tempat tidur untuk mereka tiduri, mengatur suhu ruangan mereka. Kemudian menuntun Angel untuk segera berbaring.


Angel mendecik tau apa yang di inginkan suaminya, pastinya suaminya ingin membauinya lagi. Apalagi alasannya melakukan kebaikan sebesar ini? Angel jelas tahu, suaminya melakukan sesuatu karena menginginkan sesuatu pula. Karena bagi suaminya tak ada yang gratis di dunia ini.


Daniel segera masuk ke dalam selimut kembali dan menciumi tubuh istrinya, bahkan kaus yang istrinya kenakan kini telah tersingkap ke atas.


Angel merasa geli di sekitar tubuhnya, akibat beberapa kali hidung dan bibir Daniel mengenai kulitnya, jangan di hitung benturan nafas hangat yang menerpa kulit Angel.


Daniel tiba tiba berhenti membaui istrinya, kini selimutnya ia singkap, dan baju kaus yang istrinya kenalan sudah kembali menutupi bagian dadanya. Daniel segera memeluk Angel, kini menarik kembali selimutnya, hingga ke dada bagian perut istrinya.


"Bee kamu tau ga hadiah terbesar tahun ini?" tanya Daniel membuat Angel segera memandang suaminya dengan lekat.


Angel sebenarnya tahu maksud dari suaminya, namun ia ingin mendengar langsung dari mulut sang suami. Jadi Angel memutuskan untuk pura pura tak tahu. Angel mengangkat alisnya, menandakan ia tak mengerti maksud dari Daniel.

__ADS_1


"Bee jangan pura pura ga tahu, saya tahu kok kamu tahu maksud saya," kata Daniel menciumi rambut istrinya yang berantakan, entah kenapa rambut Angel adalah sesuatu yang paling membuatnya jatuh cinta sejak dulu.


"Kenapa coba?" Angel tersenyum miring, sembari terkekeh mendengarkannya. Membuat Daniel sekali lagi mengecup bibir istirnya, yang cerewet, namun sangat menggodanya.


"Karena di ulang tahun saya yang ke empat puluh satu tahun, saya tak lagi sendirian di kamar, saya sekarang memiliki istri yang sangat saya cintai, saya akan menjadi seorang ayah juga," kata Daniel sembari mengusap lembut wajah Angel, mata Daniel memancarkan pandangan teduh penuh kasih sayang, senyumnya terukir sangat menawan memancarkan penuh kebahagiaan.


Angel membalas senyum menawan sang suami dengan senyuman yang sangat manis, mungkin inilah salah satu ungkapan sayang Angel kepada suaminya. Sementara tangannya menyentuh tangan suaminya yang begitu lembut, mengusap wajahnya.


Pagi ini adalah pagi yang penuh kemesraan bagi kedua pasangan ini, mereka bak seorang remaja yang kembali memadu kasih. Daniel dengan sikapnya yang posesif kepada istrinya, tetap masih sanggup menahan emosinya, agar tak membuat sang istri merasa tertekan. Sementara Angel dengan sikapnya yang manja, namun terkadang cuek, selalu berusaha memperhatikan suaminya, dan menenangkan suaminya. Ya... itulah inti dari pernikahan, saling menutupi kekurangan, menekan sikap ego masing masing, dan mencoba menjadi pakaian satu sama lain.


"Bee bisa kamu berjanji dengan saya?" tanya Daniel sembari terus mengusap wajah istrinya.


Angel tersenyum kemudian mengangguk dengan pasti. "Janji apa? Selama bisa aku tepati maka akan ku lakukan," kata Angel mantap.


"Saya yakin kamu bisa, selama kamu menginginkannya," kata Daniel meyakinkan Angel dengan apa yang akan di ia minta.


Angel kembali mengangguk mantap, semabari menyatukan jari jemarinya dengan milik suaminya. "Iya sunit, kalau kata kamu aku bisa, aku akan berusaha menyanggupinya," kata Angel sembari tersenyum.


Daniel tersenyum mendengar penuturan istrinya, kemudian menelusup ke dalam pelukan istrinya, Daniel menenggelamkan wajahnya di dada Angel. "Bee berjanjilah, hanya maut yang bisa memisahkan kita."


Meski suara Daniel teredam, karena Daniel menenggelamkan wajahnya di dada Angel. Namun Angel tetap mampu mendengarkannya, baginya itu adalah kata kata terindah, dari semua kata kata yang di ucapkan suami genitnya ini. Tak terasa air mata Angel turun, tampa permisi dari pemilik badan. Angel sungguh terharu mendengar kata kata suaminya.


Daniel yang tak mendapat jawaban dari Angel, segera memeluk Angel lebih erat lagi, namun Daniel justru sadar bahwa tubuh istrinya bergetar. Daniel mulai berfikir jangan jangan istrinya menangis? Lalu manangis karena apa? Karena ucapannya? Terharu? Atau sebenarnya tak suka mendengarkan perkataan miliknya? Ah... masa bo*doh yang penting sekarang melihat wajah menangis istrinya, dan mencoba menenangkan istrinya. Urusan yang lain bisa nanti.


Daniel mensejajarkan wajahnya dengan wajah istrinya. "Bee kamu kenapa? Tidak senang?" hanya gelengan yang di dapat Daniel dari pertanyaannya tersebut, menandakan bahwa Angel tidak masalah dengan kata katanya. "Ada yang sakit? Perut kamu keram?" kembali lagi Daniel bertanya ke arah Angel.


Bukannya menjawab, Angel justru memeluk tubuh suaminya. Angel tambah sesegukan di buatnya. Membuat Daniel semakin panik di buatnya. "Bee kamu kenapa? Ada yang sakit? Saya meluk kamu tadi kekencangan ya?" Daniel semakin panik di buatnya.


"Makasih..." kata Angel akhirnya bersuara, bersamaan dengan meredahnya tangisan yang terdengar.


"Buat?" Daniel semakin bingung, tadi Angel menangis kini mengatakan terimakasih, sebenarnya ada apa? Setidaknya itu lah yang di pikirkan Daniel.


"Terimakasih telah hadir untukku, telah datang di hidupku, telah mengistimewakan ku.." Angel memberi jeda kepada kata katanya. "Terimakasih telah menerima setiap kekurangan ku," ucap Angel dengan suara yang sedikit melemah.


Daniel tersenyum mendengarkan kata kata istrinya, yang bak madu, memang tak salah dirinya memanggil Angel bee, memang dirinya semanis madu, dan kini kata kata nya juga semanis madu. Ah... melebihi manis madu di telinga Daniel. "Bee yang seharusnya berterimakasih itu saya, kamu menerima saya dengan apa adanya saya, kamu menerima saya dengan usia kita yang terpaut jauh, kamu menerima saya dengan status saya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....


__ADS_2