Duda Genit

Duda Genit
S2 (Kilas masalalu)


__ADS_3

"Sebenarnya tuan sedang sakit."


Rayana terkejut mendengarkan kata kata dari babysiter Willi, ia tahu maksud dari babysiter Willi.


"Sakit apa?" Rayana penasaran.


"Prolonged grief disorder, penyakit mental akibat kehilangan seseorang," jawab babysiter Willi dengan terbata bata.


"Mantan istrinya?" tanya Rayana penasaran.


"Bukan tapi semenjak nyonya besar dan tuan besar meninggal satu tahun lalu, mereka mengalami kecelakaan mobil yang di sinyalir dari para pesaing bisnis," babysiter Willi tampak sedikit menarik nafasnya lebih dalam.


Rayana tercengang mendengar penjelasan dari babysiter Willi, sungguh sepertinya ia tahu banyak tentang dokter Aldi. Namun bukan itu pokok permasalahan sekarang, yang menjadi masalah sekarang ini adalah dokter Aldi, bagaiman mungkin orang yang selama ini terlihat baik baik saja ternyata menyimpan sebuah rahasia sebesar ini?


"Tuan muda mengalami guncangan yang sangat besar, belum lagi masalah kantor di tambah masalah lainnya, tuan muda akhirnya mengalami tekanan batin, di tambah tuan muda selalu mengira dialah penyebab kehilangan kedua orangtuanya, tuan muda juga selalu berfikir bahwa ia tak memiliki siapapun lagi kecuali den Willi," lanjut babysiter Willi.


"Jadi hingga saat ini masih sakit?" Rayana semakin penasaran.


"Sebenarnya sudah sembuh, namun tiba tiba kedatangan mantan istri tuan muda yang berencana merebut Willi membuat tuan muda kembali terguncang lagi," babysiter Willi tampak sedikit mendesah ketika mengatakan hal tersebut. "Saya rasa hanya kehadiran nona dan den Willi yang mampu menjadi penyembuh ampuh untuk tuan muda."


Rayana mencoba mencerna semua perkataan dari babysiter Willi, ia tampak mengerutkan keningnya mengingat setiap kata kata dari mulut babysiter Willi tersebut. Tiba tiba ia teringat salah satu kata kata yang menjanggal menurutnya.


"Tunggu sebentar pesaing bisnis? Aku rasa tadi mba ngomongin pesaing bisnis, apa keluarga Aldi merupakan pebisnis?" Rayana menampakkan wajah penasarannya.


"Iya, se..."


"Sayang, di mana?"


Belum sempat babysiter Willi menyelesaikan kata katanya, terdengar suara teriakan dari kamar dokter Aldi yang memanggil Rayana. Sontak saja Rayana dan baby siter Willi terkejut mendengarkan teriakan tersebut.


"Ya sebentar," jawab Rayana berteriak jua menggema di sekeliling ruangan tersebut.

__ADS_1


"Raya, kamu di mana? Raya sini jangan pergi, sayang?!" Kembali lagi terdengar suara dari kamar dokter Aldi menggema.


Rayana yang mendengar hal tersebut segera beranjak dari duduknya, dan segera menuju kamar dokter Aldi. Rayana segera membuka pintu kamar dengan pintu bercat putih tersebut.


"Sayang kamu kemana? Jangan tinggalin aku lagi," suara dokter Aldi terdengar panik dari dalam sana, di warnai dengan suara tangisan Willi yang terkejut dan juga takut di buatnya.


"Kenapa? Kamu ada apa? Ada yang sakit?" tanya Rayana berpura pura tak tahu, meski sebenarnya Rayana tahu penyebab berteriak nya dokter Aldi.


Rayana sedikit prihatin melihat dokter Aldi yang memeluk Willi, yang saat ini tengah terbangun dan menangis dalam dekapan dokter Aldi.


"Kamu dari mana sayang?" dokter Aldi tampak begitu panik ketika menanyakan hal tersebut terhadap Rayana. "Kamu ngapain ninggalin aku?"


"Aku habis dari dapur, baru selesai minum," kata Rayana segera melangkah menuju tempat tidur. "Sudah lihat kasihan Willi, liat dia nangis."


Mendengar kata kata dari Rayana, dokter Aldi tersadar kemudian mengalihkan pandangan ke arah Willi yang berada di dalam dekapannya. "Maaf sayang papa ga sengaja."


Willi mengangguk kemudian menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan dokter Aldi. Rayana segera menepuk punggung Willi sembari mengecup puncak kepala Willi.


"Sudah ya jangan nangis lagi, mama minta maaf," Rayana mencoba menenangkan Willi.


Dapat Rayana rasakan pundaknya basah, dan dapat Rayana tebak itu adalah air mata dokter Aldi. Ya, tampaknya laki laki itu tengah menangis di pundak Rayana.


"Sudah aku di sini kok, ga bakalan ninggalin kamu," Rayana mencoba menenangkan dokter Aldi. "Bagaimana kalau kita baring saja?" Rayana memberi saran agar dapat berbaring saja.


Dokter Aldi segera mengangguk kemudian membaringkan tubuhnya, di susul oleh Rayana yang tengah memeluk Willi, dokter Aldi kemudian memeluk Rayana dari belakang.


"Sayang jangan tinggalin aku ya," kata dokter Aldi berbisik, membuat Rayana segera menggenggam tangan dokter Aldi dengan erat.


"Hm," hanya kata tersebut yang mampu Rayana keluarkan.


"Janji?" Dokter Aldi kembali meminta janji kepada Rayana.

__ADS_1


"Iya," kata Rayana segera. "Tidur lagi ya, biar besok segaran."


"Iya sayang," kata dokter Aldi segera mengeratkan pelukannya dan segera menutup matanya rapat rapat.


Setelah di rasa Willi tertidur dengan pulas, Rayana segera membalik tubuhnya menjadi terlentang, membuat dokter Aldi kembali membuka matanya.


Dokter Aldi segera mengusap wajah Rayana dan mengecup pipinya. "I love you sayang."


"Eh belum tidur?" tanya Rayana tampa menjawab pertanyaan dari dokter Aldi.


"Belum, takut kamu nya ngilang," jujur dokter Aldi.


"Engga, aku ga akan ke mana mana, tidur ya," kata Rayana segera mengusap wajah dokter Aldi dengan lembut, dengan sebelah satu tangan kanannya.


"I love you sayang," kembali lagi pernyataan cinta terdengar, Rayana bingung harus menjawabnya. Rayana hanya melemparkan senyum ke arah dokter Aldi, membuat kening dokter Aldi mengerut, karena ucapannya tak di balas Rayana.


Rayana yang mengerti ekspresi dari dokter Aldi hanya tersenyum menggeleng. "Too."


Hanya mendengar satu kata itu membuat dokter Aldi tersenyum senang, di tutupnya matanya kemudian segera menutup matanya.


Rayana memandangi wajah dokter Aldi dengan seksama, ingatannya kembali melayang dengan setiap kata dari babysiter Willi, ada satu hal yang menjanggal menurutnya yaitu tentang bisnis orang tua dokter Aldi.


Sedikitpun mata Rayana tak bisa terpejam ketika mengingat semua nya, Rayana segera bangkit dari tidurnya kemudian mengambil ponselnya. Rayana segera menghubungi kakaknya Rakara.


"Kak bilang sama ayah sama bunda kalau Raya malam ini di tidur di rumah Aldi, soalnya Aldinya lagi sakit," kata Rayana ketika sambungan telfon terhubung. "Oh ya kak tolong selidiki masalah keluarga Aldi."


Setelah selesai menelfon Rakara, Rayana segera menutup telfonnya, kembali berbaring di samping Willi. Rayana memandang lekat wajah dokter Aldi, Rayana memikirkan bagaimana dokter Aldi selama ini menjalani hidupnya? Bagaiman ia menjalankan tugasnya jika menderita trauma? Banyak lagi pertanyaan pertanyaan yang tercetak di benaknya, yang ingin sekali ia ketahui jawabannya, hingga akhirnya kantuknya pun datang, dan Rayana pun terlelap menyusul mimpi dokter Aldi dan Willi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****Selamat berpuasa teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏****...

__ADS_1


...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


__ADS_2