GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 100


__ADS_3

"Lo ngapain disini Mil?" tanya orang itu.


"Kamu kenal dengan Mila, nak?" tanya Lena pada putra sulungnya yang baru saja pulang bekerja dan masih mengenakan seragam kerjanya.


"Iya Satria kenal sama Mila, dia temanku, Bun." Ya, dia adalah Satria Adikarya, anak sulung dari Lena dan Hardi. Pria yang disukai Mila secara diam-diam.


'What? Jadi mas Satria itu anaknya bunda Lena, kebetulan macam apaan ini?' ucap Mila dalam hati.


"Oh pantas saja, tadi nak Mila udah bantuin Bunda pas mobil Bunda mogok di jalan, terus dia yang nganterin Bunda jemput adik kamu ke tempat les, terus sekalian aja Bunda ajak ke rumah untuk makan malam bersama" jelas Lena. Lena dan Wildan memiliki 3 orang anak, anak pertamanya adalah Satria, anak kedua mereka perempuan bernama Intan tapi sudah menikah dan kini tinggal bersama suaminya, serta anak terakhir mereka yakni Rifqi.


"Kenapa nggak telpon aku, kalau mobil Bunda mogok? Kan aku bisa kesana bantuin Bunda."


"Bunda cuma nggak mau ganggu yang lagi kerja nak," balas Lena.


"Astaga ya mungkin lah Bunda, ya sudah aku mau mandi dulu Bun," izin Satria dan diangguki oleh Lena.


Tak lama datang seorang pria paruh baya yang masih gagah di umurnya yang sudah 55 tahun, berseragam sama dengan Satria tapi yang membedakan hanya pangkat dan jabatannya, beliau adalah Wildan Adikarya, ayah dari Satria, Indah dan Rifqi.


"Assalamualaikum Bunda."


"Waalaikumsalam, eh Ayah pulang." Lena menghampiri Wildan dan mencium tangannya. Wilda menatap ke arah Mila.


"Gadis itu siapa Bun?"


"Oh nama dia Mila, Yah. Dia tadi nganterin Bunda jemput Rifqi karena tadi mobilnya Bunda mogok di jalan dan Bunda ajak nak Mila kesini," jelas Lena. Wildan tersenyum ke arah Mila.


"Makasih ya nak Mila udah bantuin istri saya."


"Iya sama-sama Om," balas Mila tersenyum.


Setelah selesai makan malam dan ngobrol ringan di ruang tamu, Mila pun berpamitan untuk pulang.


"Bunda, Om, saya pamit pulang, takut Mama dan Papa nyariin."


"Oh ya sudah sekali makasih ya udah bantuin Bunda tadi," balas Lena.


"Sama-sama Bunda, makasih juga atas jamuan makan malamnya," timpal Mila ramah.


"Iya sama-sama nak. Satria, kamu antar nak Mila pulang gih! Nggak baik anak perempuan pulang sendiri," suruh Lena pada Satria.


"Nggak usah Bun, kan saya juga bawa motor," tolak Mila yang tak enak jika Satria mengantarkannya pulang.


"Gapapa nak, kamu diantar pulang Satria aja. Sekarang lagi meraja rela tindakan pelecehan, untuk motor kamu biar ajudan Om yang bawakan ke rumah kamu," sahut Wildan. Tiba-tiba saja terlintas dipikiran Satria tentang trauma yang dimiliki oleh Mila, karena tak ingin Mila kenapa-napa nantinya, Satria pun menyetujui ucapan orang tuanya untuk mengantar Mila pulang.


"Iya Mil, biar gue antar lo pulang."


"Memangnya gapapa Mas?" tanya Mila sungkan.


"Iya gapapa, ayo," ajak Satria berdiri dari sofa.


"Iya Mas. Bunda, Om, Mila pulang dulu." Mila menyalami Lena dan Wildan.


"Iya nak, kalian hati-hati di jalan." Satria dan Mila mengangguk, setelah itu mereka keluar menuju ke halaman dan masuk ke dalam mobil, Satria pun mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah Mila.


"Ayah," panggil Lena.


"Kenapa Bun?"


"Mila cocok ya jadi calon mantu kita? Udah cantik, baik, mana sopan lagi," ucap Lena memuji Mila.


"Iya Bun, Ayah ta. Tapi kita juga tidak boleh memaksakan Satria, biarlah dia sendiri yang mencari wanita pilihannya," balas Wildan yang tidak suka menjodoh-jodohkan anaknya.


"Ya juga sih Pa, tapi Bunda berharap Satria dan Mila berjodoh." Wildan hanya mengaminkan ucapan istrinya itu, karena ia juga suka dengan sifat Mila yang baik, ramah dan sopan.


...****************...


Entah kenapa Vania tak bisa tertidur padahal sedari tadi ia menguap, tubuhnya terus bolak-balik. Vania pun memutuskan untuk keluar ke teras depan mess tersebut.

__ADS_1


"Seger banget udara malam disini, nggak kayak di kota," gumam Vania.


"Vania," panggil seseorang yang sangat familiar di telinga Vania. Sang empu yang di panggil langsung menghadap ke belakang.


"Katak gurun!" seru Vania. Aji memutar matanya jengah.


"Jangan panggil aku seperti itu jika kita sedang berduaan," ucap Aji dengan nada yang serius, tatapan mata sangat dalam penuh dengan arti, bahkan Aji merubah cara panggilannya bukan menggunakan lo-gue lagi.


"Maaf kak," balas Vania lirih sambil menunduk.


"Aku kangen kamu, Van," ucap Aji tiba-tiba membuat Vania terkesiap dan langsung mendongak menatap Aji.


"Aku kangen kamu, Vania Chandramaya." Lagi dan lagi Aji mengucapkan kata itu.


"Kamu yang membuat aku menjomblo selama lima tahun ini, kamu yang membuat aku menunggu dan kamu yang telah membuat aku menolak perempuan-perempuan yang mencoba mendekatiku," sambung Aji membuat Vania merasa terharu sekaligus bersalah karena telah membuat Aji menunggu terlalu lama.


"Maafkan aku udah membuat kakak menunggu," ucap Vania lagi dan mulai terisak.


"Hei jangan menangis, aku nggak suka itu." Aji menangkup pipi Vania dan menghapus air matanya.


"Sampai 10 tahun pun aku akan setia untuk menunggumu," ucap Aji dengan lembut sambil menatap dalam mata Vania.


"Kok kakak belum tidur?" tanya Vania mengalihkan pembicaraan.


"Aku belum ngantuk, kalau kamu?" tanya Aji balik.


"Sama kak, aku belum ngantuk."


"Kamu kesini untuk liburan?" tanya Aji lagi


Vania menganggukkan kepalanya, "Iya kak, aku liburan disini hanya satu bulan."


"Kamu kuliah di Aussie tinggal berapa lama?"


"Tinggal satu tahun kurang kak." Untuk beberapa terjadi keheningan disana sebelum Vania kembali mengeluarkan suara.


"Kenapa Vania?"


"Aku mau nagih janji kakak yang dulu," ucap Vania malu-malu.


"Janji yang mana ya?" tanya Aji pura-pura tidak tau.


"Kak Aji ih! Tau ah nyebelin banget," kesal Vania sambil memukul dada Aji dengan pelan membuat Aji tertawa.


"Iya maaf." Aji langsung merubah raut wajahnya menjadi serius, ia mengambil tangan Vania untuk digenggamnya.


"Vania aku janji setelah aku pulang dari sini, aku akan datang ke rumahmu untuk datang melamar, aku ingin mengikatmu walaupun hanya dengan bertunangan dulu sebelum kamu pergi ke Aussie lagi," ucap Aji sungguh-sungguh.


"Kakak serius?" tanya Vania.


"Apa wajah aku terlihat bercanda?" Vania melihat tidak ada kebohongan di wajah Aji.


"Kalau kakak serius dengan ucapan kakak tadi, aku tunggu kedatangan kak Aji dan keluarga kakak untuk datang ke rumah," papar Vania tersenyum. Seketika mata Aji berbinar-binar mendengar ucapan Vania.


"Beneran?" Vania mengangguk cepat, saat Aji akan memeluk Vania langsung ia urungkan karena suara sang sahabat yang bentar akan jadi kakak iparnya itu mengejutkannya.


"Ekhem! Belum jadi mahram, nikah dulu baru boleh pelukan!" sindir Irsyan sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Aji langsung kikuk dan menggaruk tengkuknya. Ternyata sedari tadi Irsyan dan Aurora mengintip mereka berdua.


"Cie ada yang bentar lagi nggak jomblo," goda Aurora membuat Aji dan Vania salah tingkah sampai wajah hingga telinga mereka memerah.


"Apaan sih Ra!" ucap Vania malu.


"Sejak kapan lo dekat sama adek gue?" tanya Irsyan selidik.


"Dari enam tahun yang lalu, waktu Vania masih kelas 3 SMA," jelas Aji.


"Kok gue nggak tau sih? Pinter banget ya kalian backstreet, sampai gue yang jadi kakak bahkan sahabat pun nggak tau kalau sebenarnya kalian itu dekat," ucap Irsyan masih tak percaya jika sang adik sepupu dekat dengan sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Ya mau gimana Syan, adek lo tuh yang mau hubungan kami disembunyikan dari publik," timpal Aji yang membongkar alasan kenapa hubungan dia dan Vania disembunyikan. Irsyan menatap tajam Vania.


"Ya mau gimana lagi kak, kalau ketahuan pasti kakak dan sahabat-sahabat kakak yang lain menggoda dan mengejek kita," kilah Vania sambil mengerucutkan bibirnya.


Irsyan menghela napas panjang, "Oke kakak terima alasanmu."


"Dan untuk lo Ji." Aji langsung menatap Irsyan.


"Kenapa Syan?"


"Kalau lo bener-bener serius sama adek gue, lo harus janji untuk menjaga, melindungi dan menyayangi dia sepenuh hati lo, jangan pernah lo sakiti dia. Kalau lo berani sakiti dia, lo akan berhadapan dengan gue!" pesan Irsyan dengan wajah serius. Mata Vania kembali berkaca-kaca, ia terharu mendengar ucapan dari kakak sepupunya itu.


"Gue janji Syan. Gue bakal jaga, melindungi dan menyayangi dia sepenuh hati gue. Kalau gue berani nyakitin Vania bunuh gue Syan, gue ikhlas. Tapi jika gue bener menyakiti Vania, berarti gue orang terbodoh dunia ini," balas Aji dengan wajah tak kalah seriusnya. Tangis Vania seketika pecah mendengar ucapan Aji tadi, dengan cepat Aurora memeluk dan menenangkan Vania. Irsyan tersenyum, ia melihat keseriusan di dalam diri sahabatnya itu.


"Gue percaya sama lo untuk menjaga adik gue, gue restuin lo," ujar Irsyan sambil menepuk-nepuk pundak Aji.


"Thanks Syan," balas Aji bernapas lega. Satu orang sudah merestui nya, tinggal menunggu restu dari keluarganya dan keluarga Vania yang lain.


Setelah cukup lama berbincang-bincang luar, mereka berempat pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam, karena suhu diluar semakin dingin.


"Tidur yang nyenyak ya calon istri," ucap Aji yang mengantar Vania sampai di depan pintu kamar. Tangannya sambil mengelus pipi Vania.


"Kak Aji juga tidur yang nyenyak," balas Vania tersipu malu, semburat merah kembali muncul di pipinya membuat Aji gemas melihatnya.


"Iya, sekarang kamu masuk gih ke kamar."


"Iya kak." Vania masuk ke kamarnya, setelah Vania menutup pintu kamar kini giliran Aji masuk ke dalam kamarnya yang memang bersebelahan dengan kamar Vania.


"Mas," panggil Aurora yang berada di dekapan Irsyan.


"Hem?" Mata Irsyan yang tadinya sudah terpejam kembali terbuka mendengar panggilan sang istri.


"Aku pengen makan stroberi," pinta Aurora.


"Hah? Stroberi? Mana ada disini sayang." Irsyan mulai kelimpungan jika istrinya sudah mengidamkan sesuatu.


"Ada kok Mas, orang aku pernah searching katanya disini ada kebun stroberi kok," imbuh Aurora.


"Oh ya?"


Aurora menganggukkan kepala, "Iya Mas, makanya aku dan adek bayinya pengen," pinta Aurora sambil mengelus perut.


"Tapi besok ya sayang? Sekarang kan kebunnya udah tutup," ujar Irsyan memberi pengertian.


"Oke Mas, janji ya besok beliin aku langsung dari kebunnya?"


"Aku nggak bisa janji sayang, kamu tau kan besok itu aku kerja." Raut wajah Aurora langsung berubah dari girang menjadi cemberut. Ia melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangi Irsyan.


"Ya sudah gapapa." Irsyan menghela napas kasar, ia tau jika istrinya itu sedang merajuk.


"Sayang kok malah membelakangi Mas sih? Hadap sini dong!" Irsyan ingin membalikkan tubuh Aurora, tapi Aurora malah menghempaskan tangan Irsyan dari lengannya.


"Jangan pegang-pegang!"


"Yah jangan ngambek dong sayang, Mas kan nggak bisa pergi belikan kamu itu karena Mas kerjanya jam 8 sedangkan pasti kebun stroberi itu bukanya juga di jam segitu. Gimana kalau kamu dan Vania saja yang pergi kesana?" usul Irsyan.


Aurora memikirkan apa yang di ucapkan Irsyan tadi memang benar dan ia tidak boleh egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Aurora kembali menghadap ke arah suaminya.


"Iya Mas besok biar aku dan Vania aja yang pergi kesana, maaf ya selalu merepotkan Mas."


"Nggak sayang, Mas yang minta maaf karena nggak bisa nurutin kemauan kamu," balas Irsyan sambil menyingkirkan rambut Aurora yang menutupi mata. Aurora memeluk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Irsyan.


"Nggak kok Mas. Mas itu selalu menjadi suami yang siaga untuk aku, makasih untuk perhatian dan kasih sayang Mas selama ini, i love you Mas," ucap Aurora membuat Irsyan tersenyum mendengarnya.


"I love you too my wife and my life," balas Irsyan sambil mencium puncak kepala Aurora dengan berkali-kali.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2